
Laura terbangun tengah malam dan mendapati dirinya tidur begitu lama, membuatnya merasa sedikit bersalah.
Namun ranjang di sebelahnya masih kosong, menandakan bahwa Zafran belum naik ke dalam kamar, atau ia masih berada di ruang kerjanya, "mungkin saja" itu prasangkanya saja.
Laura menuju pintu penghubung untuk melihat Zack, barangkali Zafran tidur menemani Zack, namun yang terlihat anaknya sudah tidur dengan pulas, dan Jully berada di samping Zack, tidur di ranjang khusus menemani Zack.
Kemudian Laura turun ke bawah, menuju ruang kerja Zafran, berharap ia menemukan suaminya di sana, namun ruang kerja itu juga kosong, Laura mengernyitkan dahinya.
"Kenapa tidak ada, kemana Zafran?"
Katanya dalam hati.
Laura mengelilingi Mansion yang luas dengan gaun tidurnya, beberapa saat lalu langkahnya santai namun setelah beberapa menit kemudian pencariannya tidak membuahkan hasil langkahnya kian cepat, membuat gaun malam itu melambai karena angin dari langkahnya sendiri.
Ketika Laura menelusuri lorong koridor, terlihat ruangan yang bercahaya, samar-samar Laura mendengar suara perapian.
Laura berjalan pelan, langkahnya benar-benar tidak bersuara, dan melihat suaminya sedang duduk di depan perapian, terlihat juga tangan yang sebelah memegangi gelas alkoholnya. Kursi itu cukup besar sehingga Laura tidak melihat seluruh tubuh Zafran.
Senyuman Laura mengembang, perlahan ia terus berjalan maju, namun langkahnya kemudian terhenti secara mendadak, tubuhnya gemetaran, ketakutan dan kekalutan kini mengelilingi pikirannya.
Di tangan kanannya, Zafran sedang memainkan sebuah cincin, tentu saja Laura tahu cincin siapa itu.
"Cincin itu... Ada pada Zafran."
Ingatannya kemudian kembali ke hari saat ia pulang dan tergesa-gesa mengganti pakaiannya, Laura lupa untuk menyembunyikan cincin itu dan masih ada di saku mantel.
Dada Laura naik dan turun dengan cepat, pertanda nafasnya kian memburu karena takut Zafran akan memarahinya, kakinya pun lemas, jantungnya seakan akan ingin terlepas dari tubuhnya, perutnya mulas.
Zafran meminum alkoholnya lagi, masih duduk memandangi cincin itu, namun tak berapa lama Zafran membuang cincin tersebut ke dalam perapian dengan melemparnya kesal, gerakan itu jelas terlihat nyata di depan mata Laura. Gerakan amarah.
Laura perlahan mundur, meninggalkan Zafran, dengan hati-hati namun matanya masih tidak bisa berpaling dari Zafran, ia ketakutan.
Setelah keluar dari ruangan itu Laura berbalik dan berlari, ia menuju kembali ke dalam kamar dan menutup pintu, berpura-pura tidur dan menutupi dirinya dengan selimut.
Hingga pagi Zafran tidak tidur di kamar yang sama dengan istrinya, Laura pun semalam tidak bisa menutup matanya, perasaan dan tubuhnya terus gemetar.
"Zafran tidak ke kamar. Apa dia marah padaku?"
Katanya dalam hati.
Laura kemudian beranjak turun, mencari Zafran seolah tidak tahu apa-apa dan tidak terjadi apa-apa. Namun Zafran tidak ada.
"Jully kemana suamiku?"
Tanya Laura.
Jully sedang bermain dan menyuapi Zack.
"Tuan Zafran sudah berangkat ke kantor Nyonya."
Kata Jully.
"Syukurlah."
Kata Laura bernafa lega.
Hari ini Laura memilih untuk tetap di Mansion mengingat tadi malam bagaimana Zafran membuang cincin itu ke perapian dengan gerakan amarah.
"Biar aku yang menyuapi Zack."
Kata Laura.
"Tapi anda belum sarapan Nyonya."
Kata Jully.
"Tidak apa-apa, aku sedang tidak selera makan."
Akhirnya seharian Laura bermain dengan Zack hingga Zafran pulang di sore hari dan seperti biasa Laura menyambut Zafran dengan menggendong Zack di depan Mansion.
Zafran mencium bibir dan kening istrinya dan mencium Zack.
"Apa kau merindukan ayah?"
__ADS_1
Tanya Zafran pada Zack sembari mengendong anak itu.
"Iyaa... A..yah..."
Kata Zack terbata, Zack anak yang pintar sekarang ia sudah bisa berbicara dan berjalan. Kelak kejeniusannya bahkan akan mengalahkan Zafran.
"Baiklah, kau harus bersama Jully biarkan Ayah dan ibu mengobrol okay?"
Kata Zafran pada Zack dan menciumnya, kemudian Zafran memberikan Zack pada Jully.
Laura menggigit bibirnya dan kemudian tubuhnya gemetar.
Zafran dengan santai naik ke atas kamarnya, di ikuti Laura yang masih diam membisu.
Di dalam kamar Zafran mengganti pakaiannya dengan t-shirt. Laura membereskan kemeja dan meletakkan di keranjang.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku?"
Kata Zafran memancing, dengan menyedekapkan tangannya dan bersandar di almari yang besar.
Laura tahu Zafran sedang menguji nya, apakah Laura akan berbohong atau berkata jujur.
"Aku...
Kata Laura tercekat.
"Penginapan di garap oleh perusahaan Dax Kennedy, dia memenangkan Tendernya, aku tidak tahu kenapa Dax dan perusahaan besar itu mengikuti tender, dan aku juga tidak menyangka saat ulang tahunku kemarin dia memberiku sebuah cincin berlian, aku menyimpannya di saku mantel."
Kata Laura.
"Kenapa kau tidak menolaknya?"
Tanya Zafran.
"Aku sudah menolaknya, tapi kata Dax itu bukan hanya hadiah ulang tahunku tapi hadiah persahabatan, dan sebuah hadiah karena 2 perusahaan saling bekerja sama."
Kata Laura berterus terang tanpa mengurangi dan menambah kalimat.
"Persahabatan?"
"Persahabatan macam apa! Kekonyolan dan lelucon apa yang sedang dia mainkan!"
Kata Zafran sembari tertawa sinis.
"Apa kau marah padaku?"
Tanya Laura.
"Apa aku terlihat marah padamu?"
Zafran balik bertanya.
Laura menelan ludahnya kasar, dan meremas jemarinya.
"Kau terlihat kesal padaku."
Mata Laura sesekali memandang Zafran dan sesekali merunduk.
"Benarkah?"
Tanya Zafran.
"Kau juga tidak tidur di kamar semalam."
Kata Laura.
"Kau tahu aku di ruangan itu dan membuang cincin itu bukan?"
Kata Zafran lugas dan tanpa basa-basi.
Laura menatap Zafran dengan keterkejutan yang luar biasa.
"Ba-bagaimana... Kau bisa tahu?"
Kata Laura terbata.
__ADS_1
"Aku melihat mu dari pantulan guci."
Kata Zafran.
Sialnya Zafran melihat Laura malam itu, melalui pantulan guci emas yang terpajang, dan pantulan itu hanya terlihat pada posisi duduknya.
"A-aku..."
Laura kebingungan.
"Kenapa kau lari?"
Tanya Zafran mendekati istrinya dan mendongakkan wajah Laura untuk memandangnya saat mereka berbicara.
"Akuu... Aku takut."
Kata Laura.
"Apa kau berbuat salah sehingga ketakutan seperti itu?"
Kata Zafran.
"Bu-bukan begitu, aku tidak tahu aku hanya takut saja. Aku takut kau akan marah."
Laura kebingungan.
"Tentu saja aku marah, jelas-jelas seorang pria sedang mendambakan istriku dan berniat ingin merebutnya dariku!!!"
Teriak Zafran.
"Tapi... Dax tidak seperti itu."
Kata Laura, tanpa sadar dan dengan cepat ia menggigit bibirnya sendiri.
"Apa yang sudah ku katakan! Aku sedang menyiram Api dengan minyak!"
"APA!!!"
Kata Zafran berteriak.
"Maksudku adalah, aku menganggap Dax tidak lebih dari rekan bisnis yang akan mengurus penginapanku, dan dia juga seperti itu, kami hanya berbicara tentang penginapan, dan tidak lebih, lagi pula kau hanya memberiku waktu kurang dari 1 jam berada di sana tidak mungkin aku menyeleweng atau sebagainnya."
Bantah Laura penuh dengan pembelaan diri.
"Bahkan jika hanya 1 menit jika orang itu punya niat yang lain semua akan terlaksana."
Kata Zafran tepat di depan wajah Laura.
"Apa kau sedang menuduhku berselingkuh Zafran?"
Kata Laura dan kini tatapan takut itu berubah menjadi kekesalan.
"Mulai besok pagi kau tidak di perbolehkan keluar Mansion!!!"
Kata Zafran sembari meninggalkan Laura di dalam ruang ganti.
"Apa?"
Laura terkejut dan terperangah.
"Zafran!!! Kau tidak boleh melakukan ini padaku!!!"
Kata Laura berteriak dan melihat Zafran sudah pergi meninggalkannya.
"Zafran!!!"
Teriak Laura.
Tubuh Laura terkulai lemas dan duduk di atas lantai, dada nya seolah runtuh, ia menangis dan tak percaya Zafran menuduhnya telah berselingkuh.
.
.
.
__ADS_1
~bersambung~