
Dax Kennedy sudah sangat lama tidak menginjakkan kaki nya di Club Ekslusif. Pria itu sibuk mencari adiknya yang hilang saat kebakaran Mansion terjadi.
Kini setelah ia menemukannya, Dax mulai menjalani hidup dan menata kembali hati nya yang hampa dan kosong.
Dax tumbuh tanpa memiliki hasrat untuk menikah atau hanya sekedar menjalin hubungan, tentu saja banyak wanita yang selalu menggodanya, namun setiap wanita yang berusaha menggodanya, mereka justru berakhir mengenaskan.
Pria dewasa itu keluar dari mobil Limosin mewahnya dan melangkah kan kaki nya yang lebar memasuki pintu yang berwarna keemasan, dengan dua pengawal yang berjaga di pintu tersebut.
Dax termasuk tamu VVIP dan para pengawal membuka pintu tersebut. Ruangan yang cukup besar dengan kursi dan meja-meja bundar yang cukup mewah.
Dax duduk di paling belakang, mengangkat kaki kanannya dan menaruhnya di atas kaki kiri. Mengamati, dan memandang seluruh ruangan, kemudian menyandarkan punggungnya, pria itu duduk dengan santai.
Berbagai jenis minuman mahal ada di sana, Dax memilih The Dalmore 62, minuman termahal yang hanya diproduksi 12 botol di dunia, dan kini Whiskey nya telah di siapkan oleh seorang pelayan.
Dax menyesap sedikit demi sedikit sembari memperhatikan lelangan demi lelangan yang ada di atas panggung. Para pebisnis saling melelang dan saling menawar.
Tak berapa lama seorang gadis naik ke atas panggung, Dax memperkirakan gadis itu seumuran dengan keponakannya Evashya, dan seketika membuatnya mengernyitkan alis, pria itu menaruh gelasnya di atas meja.
"Tuan... Tuan... Semuanya inilah dia, kami mempersembahkan gadis perawan yang paling cantik, sebut saja dia "Lady Night" , siapa yang akan membelinya paling tinggi!" Kata sang pembawa acara.
"Kita akan bertanya dengan gadis ini, berapa harga yang akan dia buka untuk menjual keperawanannya." Kata sang pembawa acara lagi dan mengarahkan mic itu agar sang gadis menyebutkan nominalnya.
Gadis itu gemetar dan kaku, sesekali ia menurunkan rok mininya, meski ia tahu walaupun rok itu berulang kali ia tarik ke bawah tetap saja tidak akan melar dan menjadi panjang.
Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, berkulit putih dan tubuhnya juga tidak terlalu kecil namun cukup berisi untuk usia remajanya, dan juga cukup menggoda dengan pakaian minim itu, Lady Night memakai topeng yang menutupi matanya.
"100... 100 juta..." Kata Lady Night dengan gemetar, kerongkongannya sangat kering hingga ia kesusahan mengeluarkan suaranya.
"Oke... Lady Night membuka harga untuk keperawanannya 100juta... Untuk pria bisnis kelas atas angka ini pasti tidak akan sulit bukan? Ada yang akan menawar?" Kata sang pembawa acara memprovokasi.
"Bid di mulai sekarang!" Teriak sang pembawa acara.
"150 juta..." Kata pria yang duduk di depan panggung.
"200 juta..." Pria di ujung mengangkat papan tanda peserta lelangnya.
__ADS_1
"250 juta..." Seorang pria lagi mengatakannya.
Lady Night menelan ludahnya berkali-kali meski sangat kering. Gadis itu pasti akan segera pingsan jika tawar-menawar ini tidak kunjung selesai.
"300 juta..." Kata seorang pria paruh baya yang sudah botak dan bertubuh gemuk dengan seringainya.
Lady Night benar-benar akan jatuh pingsan saat melihat pria tua itu menawarnya, apalagi jika tidak ada lagi yang menawar ia membayangkan tubuh gemuk itu akan menimpanya.
"Oke 350 juta... Ada yang akan menambahkan nya lagi?" Tanya sang pembawa acara.
Lady Night benar-benar cemas.
"375 juta..."
"Akhirnya..." Batin Lady Night.
"Oke... 375 juta... Apakah ada lagi?"
Cukup lama semua pria bisnis itu hanya saling berbisik, dan sebagian menggeleng tanda tidak akan meneruskan nya.
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut mendengar angka 500 juta keluar dari seorang pelayan yang sedang membawa cek dan mengangkatnya.
Mereka saling berbisik mengapa harus membayar dan merogoh uang untuk seorang gadis perawan, sedangkan mereka bisa bersenang-senang dengan wanita mana saja.
Apalagi sekarang yang membeli nya justru seorang pelayan Club dengan memegang cek 500 juta.
Lady Nighy melihat seorang pria yang membelinya dengan masih memakai seragam Club, pria itu cukup tampan meski tubuh nya kurus.
"Setidaknya bukan pria tua yang gemuk tadi..." Kata Lady Night dalam hati sembari tumbuhnya masih gemetar.
"Baiklah, Closing di harga 500 juta Bid di tutup!" Kata sang pembawa acara.
Setelah itu Lady Night berada di belakang panggung dan sudah mengantongi cek untuk dirinya sendiri, 85% untuk dirinya dan 15% untuk Club yang telah membantunya mempromosikan.
"Sekarang saatnya bukan..." Kata Lady Night dalam hati.
__ADS_1
Sang pria pelayan masih menunggu, dan juga cukup gemetar. Kemudian berbisik pada Lady Night.
"Bukan saya yang membeli anda, seseorang hanya menyuruh saya..." Kata sang pelayan.
"Katanya anda cukup menunggu dan akan ada yang menjemput anda." Kemudian sang pelayan itu pergi meninggalkan Lady Night.
Tak berapa lama beberapa pengawal datang dengan sopan dan mempersilahkan Lady Night mengikutinya, gadis itu masih memakai topengnya, perjalanan tak begitu lama dan mereka sudah sampai di sebuah bangunan yang menjulang tinggi, bangunan yang sangat kuat dan megah.
Lady Night di bawa ke lantai paling tertinggi, dan terlihat seorang pria sedang duduk di sofa menikmati alkoholnya.
"Apa kau hanya akan berdiri di sana?" Kata Sang pria pembeli.
"Maafkan saya tuan." Lady Night kemudian duduk di samping pria itu.
"Siapa namamu..." Tanya sang pria.
"Is... Isyana." Jawab Gadis itu dengan tergagap.
"Buka topeng mu." Perintah sang pria.
Gadis itu membuka nya dengan perlahan, meski dengan dandanan yang sedikit tebal, namun kecantikan naturalnya masih cukup terlihat.
"Bersihkan wajah mu dari riasan, aku tidak mau menciummu dengan keadaan bibirmu yang tebal dengan pewarna merah itu!" Kata pria itu memperlihatkan ketidaksukaannya dengan lipstik merah.
Isyana beranjak dari sofa dan menuju kamar mandi setelah pria itu mengatakan dimana letak kamar mandi dengan hanya menunjuk menggunakan telunjuknya, dan tak berapa lama Isyana datang dengan wajah yang tanpa riasan.
Wajah yang bersinar karena sorot lampu dan wajah seorang remaja yang bahkan belum genap berusia 17tahun, Isyana kemudian duduk lagi di sofa tepat di samping pria itu.
"Namaku Dax dan aku tidak akan berhubungan denganmu, mengingat usia mu masih di bawah umur, aku tidak ingin di cap sebagai pria pedofil. Kenapa kau menjual diri mu di Club itu, kau terlihat seperti gadis polos." Kata Dax menatap penuh tanda tanya.
"Sa.. Saya... Butuh uang untuk pengobatan ibu saya..." Kata Isyana menunduk kan pandangannya merasa aura pria yang ada di depannya sangat kuat dan ia juga berfikir bahwa Dax adalah pria tampan.
Pria yang penuh dengan daya tarik, tanpa hatus merayu pria itu sudah lihai menguasai keadaan.
~bersambung~
__ADS_1