Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Luwis Halbert


Pria yang mencintai dan mengagumi Laura sejak mereka bertemu menjadi siswa satu angkatan di sebuah sekolah. Luwis melakukan beberapa cara dari belakang menggunakan kekuasaan yang keluarganya miliki.


Dari mengucilkan Zafran di sekolah, menggerakkan siswa-siswi dengan senyap untuk melakukan bullying pada Zafran, dan membentuk grup anti anak buangan dan anak jalanan di sekolah. Mengakibatkan Zafran menjadi siswa perundungan. Hingga Zafran tak jarang harus menahan emosi dan ego nya untuk tidak berkelahi agar beasiswanya tidak terancam di cabut.


Kemudian menyewa beberapa preman untuk selalu mengganggu Zafran dan memukuli Zafran ketika pria itu bekerja menjadi kuli bangunan selepas sekolah, lalu ketika Zafran bekerja menjadi loper koran, atau ketika Zafran dan Laura sedang berkencan. Zafran di pukuli oleh preman-preman sewaan Luwis.


Lalu setelah kelulusan Luwis masih berusaha untuk menyelinap masuk ke dalam keluarga Laura sebagai orang lain untuk meminang Laura melalui perjodohan dan berniat menggagalkan pernikahan Zafran dengan Laura.




Luwis duduk bersama Laura di mistar dekat dengan parkiran mobil. Mereka hanya saling diam dan Laura menggengam kedua tangan yang ada di atas pahanya sendiri.


"Aku melarikan diri dari semua masalah yang ada di sini, dari dulu aku adalah pria pengecut." Kata Luwis memecah keheningan.


"Itu sudah lama Luwis dan sudah berlalu..."


"Tapi tidak bisa kita lupakan begitu saja bukan? Apalagi untuk Zafran atas segala perilaku yang ku berikan padanya ketika masih di sekolah."


Laura mendongak pada Luwis.


"Aku dengar kau sekarang memiliki 2 anak yang hebat." Luwis tersenyum.


"Ya... Mereka anak-anak yang hebat, meski terkadang bisa membuatku pusing juga, tapi aku sangat bahagia memiliki mereka berdua."


"Bagaimana kabar suamimu..." Tanya Luwis kemudian dan terlihat cukup canggung.


"Dia baik..."


"Dia menjadi pria hebat, dari dulu aku memang tidak bisa mengalahkannya." Sahut Luwis lagi.


"Ku rasa saatnya aku pergi Luwis, Zafran sebentar lagi pulang." Laura berdiri.


Namun dengan cepat Luwis juga berdiri dan menarik tangan Laura untuk menatapnya.


"Maafkan aku Laura, melarikan diri dari mu dan mencoba melupakanmu ternyata hanya membuatku semakin ingin melihatmu, maafkan aku yang benar-benar tidak bisa melupakanmu." Sahut Luwis.

__ADS_1


"Luwis, aku mohon... Jangan memulai pertengkaran lagi. Aku sudah bahagia jika kau ingin melihatku bahagia, sudah cukup melakukan hal-hal bodoh." Kata Laura dengan tegas dan pergi meninggalkan Luwis yang hanya berdiri mematung.


Mobil Laura melesat meninggalkan pemakaman dan menuju ke Mansion. Laura menyentir dengan penuh lamunan, hingga traffic light membuyarkan lamunannya dan dengan cepat kakinya menginjak rem.


Saat itu juga Laura melihat sebuah gedung yang memiliki layar lebar, terpajang foto besar suaminya bersama seorang wanita yang berdiri di samping Zafran dengan pakaian seksi dan sangat dekat.


Zafran memasukkan kedua tangannya di saku celananya, dan di sampingnya wanita seksi dengan rambut pendek menempel di tubuh besar Zafran.


Laura menginjak gas dengan kesal ketika lampu sudah berganti hijau. Melesat dengan cepat menerjang angin dan cahaya matahari sore untuk kembali ke Mansion.


Ternyata di sepanjang jalan juga terpampang reklame foto suaminya, sepanjang layar monitor gedung juga tak luput.


Laura menghentikan mobilnya hingga berbunyi decitan yang cukup keras.


Di dalam Mansion Zack dan Evashya juga baru tiba, mereka menoleh ketika ibunya tiba di Mansion.


Zack melihat wajah kesal ibunya. Sedangkan Laura hanya mencium kening anak-anaknya tanpa sepatah kata.


"Apa Daddy dan Mommy akan bertengkar?" Tanya Evashya pada kakaknya.


Zack hanya diam dan mengajak adiknya naik ke atas. Dalam perjalanan pulang mereka pun juga melihat foto-foto tersebut. Zack sudah menduganya jika ibunya pasti akan murka.


Dengan gerakan kasar Laura membuka pintu ruang kerja Zafran hingga terbanting dan menimbulkan bunyi yang cukup keras. Terlihat Stark juga berdiri di sana tepat di samping meja Zafran.


"Itu kesalahanku sayang, aku bisa jelaskan." Zafran berdiri dari kursinya menghampiri Laura. Pria itu memegang kedua lengan Laura ingin memeluk namun di tepis oleh Laura.


Stark kemudian tanggap dan meninggalkan ruangan.


"Siapa dia!"


"Dia teman lama, kita sama-sama dari jalur beasiswa saat kuliah."


"Karena kalian teman lama, jadi kalian menganggap hal semacam ini pantas?"


"Dia akan masuk ke industri intertain, dan meminta bantuanku agar namanya naik. Aku hanya sekedar membantunya karena dulu kami sama-sama merasakan menjadi orang buangan."


Laura seolah tertohok dan tak percaya dengan kalimat Zafran.


"Jadi kalian merasa saling cocok dan senasib? Ku pikir kalian juga pasti sangat akrab. Apa dia juga salah satu wanita yang tidur dengan mu."

__ADS_1


"Dia wanita baik-baik Laura."


"Wanita baik-baik tidak akan berpakaian seperti itu Zafran!"


Zafran membuang nafasnya, ia tahu keputusannya akan membawa pertikaian dalam keluarganya, namun ia juga tidak dapat menolak permintaan sahabatnya yang melalui masa-masa berat saat menjadi orang buangan di universitas.


"Aku hanya membantunya naik daun, dan sudah selesai, foto-foto itu akan turun dari layar atau reklame setelah seminggu dan semua akan melupakannya."


"Dan aku tidak akan pernah melupakannya!"


"Aku minta maaf sayang."


"Tidak perlu Zafran, kalian saling merasa senasib kan? Seharus nya aku yang meminta maaf karena sepertinya aku lah orang asing di sini." Sahut Laura, ia meraih tas nya dengan kasar kemudian keluar dari ruangan Zafran dengan membanting pintu.


Dengan cepat pula Zafran mengejar istrinya dan menahan lengan Laura yang hendak menaiki anak tangga.


"Jangan katakan kalimat yang tidak-tidak..."


"Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Kalian merasa cocok satu sama lain, dan aku seperti orang asing yang ada di tengah-tengah kalian."


"Kau salah paham Laura."


"Apa yang membuatku salah paham? Jelaskan." Kata Laura mengibaskan tangan Zafran dan menyedekapkan tangannya, kemudian ia naik ke anak tangga satu lagi agar sejajar pandangannya dengan mata Zafran.


"Seperti yang sudah ku jelaskan tadi."


"Ya... Kalian satu nasib sebagai orang buangan dari jalur beasiswa bukan? Kau membantunya karena alasan itu, dan berfoto dengan pose panas seperti itu. Secara garis besarnya adalah kalian masih saling terikat dengan masa lalu dan saling cocok merasa di lingkup dan lingkaran yang sama. Apa ada yang salah dari ucapanku?" Kata Laura sembari mengangkat bahu dan alisnya.


Zafran memilih diam, ia tidak ingin semakin menyulut amarah Laura karena kecemburuan istrinya.


Melihat suaminya hanya diam, Laura pun naik ke atas dan meninggalkan Zafran, pria itu juga melihat anak-anaknya sedang memandangi pertengkarannya dengan Laura dari atas.


Tak berapa lama Stark pun datang.


"Nyonya Laura baru saja bertemu dengan tuan Luwis di pemakaman dan mengobrol." Kata Stark sembari memberikan ponselnya untuk menunjukkan foto.


Zafran melihat foto Laura yang duduk di samping Luwis, sesaat tangan kuat itu meremas ponsel tersebut namun, kemudian ia menyerahkan kembali pada Stark dengan malas.


"Biarkan saja." Zafran menaruh tangannya ke dalam saku celana dan naik ke kamar menyusul istri nya. Pria itu tidak ingin menambah perdebatan dengan sang istri.

__ADS_1


Sesampainya Zafran di kamar, pria itu hanya duduk dan memandangi Laura yang sedang fokus menatap layar laptopnya, seolah tidak memperdulikan kehadiran dirinya, Laura sedang sibuk mencermati informasi-informasi data tentang seseorang.


~bersambung~


__ADS_2