Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Beberapa hari Laura masih sibuk mencari tutor untuk Evashya. Beberapa tutor pun sudah Laura wawancara, namun masih tidak ada yang bisa membuatnya tertarik dengan pengajuan diri mereka.


Setelah mewawancarai seorang tutor wanita paruh baya, Laura melenguhkan nafasnya.


"Evashya akan bosan jika memiliki tutor yang kaku dan pasti akan terus-terusan merengek meminta ganti tutor." Kata Laura menyandarkan punggungnya di kursi dan memutar-mutarnya perlahan.


Tak berapa lama, wanita itu berdiri dan menyambar mantelnya, kemudian memasukkan ponsel serta beberapa barang lain ke dalam tasnya dan keluar dengan mobilnya.


Beberapa menit berlalu Laura menempuh perjalanan dengan santai, kemudian ia menekan beberapa nomor dimana ponsel sudah terkoneksi dengan mobilnya.


"Ya, halo Mr.Smith, saya Laura istri dari Zafran Volkofrich, bisa saya bertemu dengan anda sebentar?" Tanya Laura.


"Ta, hari ini..." Sahut Laura lagi.


Mereka saling mengobrol di telepon dan akhirnya terjadilah kesepakatan untuk bertemu, Laura cukup puas dan tak kurang dari satu jam sampailah ia di depan Hill School. Laura memarkir mobilnya dan masuk menuju gedung sekolah, berjalan dengan anggun menuju ruangan Mr.Smith yang menjabat sebagai dewan sekolah.


Entah mengapa, kali ini Laura benar-benar bangga memiliki suami yang mempunyai pengaruh besar, ia bisa menggunakan nama suaminya di keadaan-keadaan seperti ini.


Laura masuk ke dalam ruangan dewan sekolah yang cukup mewah, dan seorang pria yang duduk di kursi kebesarannya tersenyum menyambut kedatangan Laura.


"Selamat siang Mr.Smith." Sapa Laura dan duduk dengan hati-hati.


"Selamat siang Nyonya, anda sangat cantik, betapa beruntungnya tuan Zafran memiliki istri seperti anda." Puji Smith tanpa memalingkan pandangannya.


"Terimakasih, tapi anda terlalu memuji..." Laura tersenyum.


"Jadi, apa yang bisa saya bantu untuk anda."


"Begini, saya ingin mengadukan bagaimana seorang guru yang seharusnya memberikan pengajaran dan pendidikan atau contoh yang baik untuk pertumbuhan dan mental seorang pelajar, namun justru meminum bir nya di depan anak didiknya sendiri."


"Siapa yang anda maksud nyonya..."


"Guru seni anda, Mr.Mike Bacelo yang sudah dengan sengaja minum di cafe bersama anak saya dan bermain dadu, serta saya tidak suka dengan cara pandanganya pada anak saya."

__ADS_1


"Hmm.... Begitu..." Smith manggut-manggut.


"Saya tidak melarangnya untuk minum, sah dan wajar, namun dia melakukan itu di depan anak saya apalagi anak saya sudah berani berbohong pada ibunya, saya tahu, saya pernah muda dan menjadi pelajar, tapi saya tidak mau Evashya memilih jalan sebagai pelajar atau anak yang memboikot. Maka dari itu saya memilih memasukkan anak saya ke sekolah ini yang memiliki citra terbaik."


"Saya akan memberikan sanksi kedisiplinan dengan tegas pada Mr.Mike Nyonya, anda tenang saja, Evashya akan menjadi siswi terbaik."


"Terimakasih Mr.Smith, saya merasa tenang saat anda mengatakan itu."


"Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya Smith lagi.


Beberapa menit Laura terdiam, dan memikirkan sesuatu.


"Bisakah jika seorang siswa di sini bekerja sambilan untuk menjadi tutor?" Tanya Laura tiba-tiba.


"Saya tidak yakin dengan hal itu... Kita tahu bagaimana latar belakang siswa-siswi di sini, mereka dari keluarga yang memiliki kekayaan di atas rata-rata. Tapi, saya juga tidak terlalu menyutujui ketika seorang siswa bekerja sambilan, tapi terkadang sisi lainnya siswa yang mau bekerja sambilan bisa lebih faham tentang realita hidup dan melatih serta mengasah kemandirian mereka dengan catatan tidak menganggu pelajaran sekolahnya."


"Saya melihat beberapa di sini masuk dengan jalur beasiswa, dan saat datang ke sini saya sempat melihat mereka memakai pin penerima beasiswa di dadanya. Maaf sebelumnya, seragam mereka lusuh dan harus memakai pin khusus apa itu bukan suatu tindak diskriminasi?" Tanya Laura.


Smith melenguhkan nafas dan menyandarkan punggungnya lagi.


"Namun menurut saya itu tetap tidak relevan dan tidak mencerminkan moral yang bagus Mr.Smith apalagi siswa-siswi memiliki emosional yang belum bisa di kontrol, apa anda yakin mereka para penerima beasiswa tidak mendapat bullying atau semacam diskriminasi dari siswa-siswi di sini yang notabene dari latar belakang sosial yang terpandang?"


"Anda bisa mengajukan rapat wali Nyonya jika memiliki saran atau usulan, jika usulan anda di terima oleh para wali saya dengan senang hati bisa merubah peraturan yang anda usulkan."


Laura seketika terhenyak bagaimana bisa sekolah yang memiliki akreditasi A dan peringkat favorit serta memiliki alumni-alumni para raja dan bangsawan justru memiliki tatanan kelola seperti ini.


"Mungkin saya tidak perlu mengajukan rapat, saya hanya perlu bergerak sendiri." Kata Laura.


"Terima kasih untuk waktu anda Mr.Smith." Sambung Laura lagi dan meninggalkan ruangan tersebut.


Sedangkan Smith hanya menelan ludah nya kasar melihat Laura yang pergi dengan ketidakpuasan, apalagi wajah Laura yang kesal dengan jawaban Smith.


Laura berjalan dan melihat sekelompok siswa yang menerima beasiswa sedang berkumpul. Setiap seminggu sekali di jam-jam tertentu para siswa penerima beasiswa harus berkumpul dan mendapat arahan secara khusus dari guru pembimbing.

__ADS_1


Laura menghitung ada 5 siswa yang mendapat beasiswa. Namun ia juga tidak secara penuh tahu betul berapa total mereka.


Kemudian Laura berlenggang pergi dan akan menuju parkiran mobilnya.


"Mommy...!"


Suara yang sangat di kenali oleh telinga Laura, dan wanita itu dengan cepat berbalik serta mengembangkan senyumannya.


"Mommy sedang apa di sini..." Tanya Evashya memeluk ibunya.


"Mengurus sesuatu, kenapa kau tidak berada di kelas?"


"Shya sedang rolling class... Sekarang mau ke ruang lukis." Jawab Evashya.


"Baiklah cepat ke sana... Ibu juga harus pulang."


"Bye Mommy...! Teriak Evashya melambaikan tangan dan berlari menuju ruang lukis.


Laura membalas lambaian tangan Evashya dan pergi. Sebelum pulang ke Mansion Laura menyempatkan untuk mampir ke suatu tempat terlebih dahulu. Mobilnya melesat cepat menerjang jalanan dan kemudian menuju sebuah pemakaman umum.


Laura berjalan menuju makan kedua orang tuanya. Menyapa dan menggosok nisan bertuliskan nama kedua orang tuanya, sembari tersenyum dengan kelegaan.


"Kami sangat bahagia, terimakasih untuk restu kalian... Akhir pekan aku akan membawa cucu-cucu kalian ke sini." Kata Laura.


Sesaat kemudian, tepat di belakang Laura tiba-tiba berdiri seorang pria yang memiliki tubuh tegap, ia melirik menggunakan ekor matanya dan mendongakkan kepala, siapa yang berdiri berada di belakang punggungnya.


"Luwis..." Suara Laura rendah dan sangat pelan hingga tenggelam dalam tenggorokannya.


"Bagaimana kabarmu, Laura." Sahut Luwis dengan senyuman mengembang dan menyembunyikan kedua tangannya ke dalam saku mantel besar nya.


"Kita bertemu di sini..." Sahut Luwis lagi.


Luwis yang sudah sangat lama meninggalkan Inggris kini kembali lagi.

__ADS_1


\~bersambung\~


__ADS_2