Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Seperti biasa dan di tempat biasanya, Zack memarkir mobilnya di tepi danau dengan sebuah botol bir berada di tangannya.


Zack mengambil kunci mobilnya dari saku, dan melihat Bag Charm ( Gantungan kunci tas ) milik Isabella yang kini telah menjadi gantungan kunci mobilnya. Boneka salju yang lucu.



"Apa yang ku pikirkan..." Kata Zack meremasnya.


"DASAR KALIAN ANAK-ANAK BRENGSEK!!!"


"KALIAN ANAK-ANAK KONGLOMERAT TIDAK TAHU ATURAN, KALIAN SAMPAH, KALIAN SEMUA BODOH, KALIAN SEMUA HANYA PARASIT!!!" Teriak seseorang yang ada di seberang.


Zack yang sedang duduk di atas kap mobilnya pun terkejut mendengar suara teriakan tersebut, Zack turun dan berjalan pelan, ia mencari darimana asal teriakan itu. Suara yang tidak asing baginya dan sangat familiar.


"KALIAN SEMUA HANYA BISA JADI PARASIT DAN SAMPAH, KALIAN ANAK-ANAK ORANG KAYA YANG BODOH DAN IDIOT!!!" Teriak gadis itu lagi dengan nafas ngos -ngos an.


"SEZI KAU ANAK MANJA, DUNGU, KAU KECENTILAN, DAN KAU FAY, KAU ADALAH IBLIS YANG DILAHIRKAN OLEH DOMBA BODOH!!!"


"GERY... BILLY... KALIAN JUGA IBLIS KALIAN BRENGSEK, KALIAN TIDAK PUNYA MORAL, KALIAN DUNGU, KALIAN OTAK UDANG, KALIAN SEPERTI KOTORAN YANG MENJIJIKKAN!!! DAN UNTUK KAU ZACK WICKLEY!!! JANGAN MERASA PALING TAMPAN DAN BERKUASA!!! ADA YANG LEBIH TAMPAN DARI PADA DIRIMU TAHU!!! JANGAN SOK PINTAR!!!


"AAAARRGGG!!!..... AKU BENCI KALIAN!!!"


"AAAAAARRGGGG!!!.... AKU INGIN MEMBUANG SEMUA SUMPALAN DI HATIKU, AKU BENCI KALIAAAAANN AKU BENCI KALIAANNN SEMUAA!!!"


"Sejak kapan kau ada di sini... Isabella..." Tanya Zack terkejut.


Gadis itu pun bergidik, ia tak kalah terkejut dan menoleh pada suara yang membuat tubuhnya meremang dan sedikit melonjat. Hatinya berdesir ketika melihat wajah tampan Zack dan suara rendah milik Zack yang selalu menghipnotisnya.


"A... Aku..." Isabella pun berlari menuju tempat duduknya yang ada di atas bebatuan, ia memberesi semua cemilan dan botol-botol bir nya.


"A... Aku tidak sengaja melihat sampah ini tergelak di sini dan aku membereskannya." Kata Isabella.


"Sejak kapan kau ada di sini!!!" Teriak Zack.


"A.. Aku... Di sini sejak sore, saat pulang kerja paruh waktu..." Kata Isabella lemah.


Zack menelan ludahnya kasar.


"Lalu siapa yang ada di apartmen paman Dax."


Jantung Dax mulai memompa lebih cepat, ia sudah kelewatan menuduh pamannya bahkan berniat memukulnya.


"Ah... Itu Bag Charm ku... Boneka salju ku..." Kata Isabella yang sedang berjongkok memunguti camilan dan bir sontak berdiri dan ingin meraih kunci mobil itu dari tangan Zack.

__ADS_1


Zack pun mengangkat tinggi-tinggi tangannya. Isabella masih mencoba meraih namun tinggi tubuhnya tidak bisa mencapainya.


"Apa di Hill School ada yang memiliki gantungan kunci ini selain kau?" Tanya Zack.


Isabella pun cemberut.


"Temanku Isyana, kami membelinya sebagai tanda pesahabatan. Tapi dia juga kehilangan Bag Charm nya, aku pun juga kehilangan Bag Charm ku. Kita memang selalu menjadi couple, selalu dalam masalah." Isabella kemudian berjongkok lemah dan menangis.


"Apa dia juga dari jalur beasiswa?" Tanya Zack.


"Ya, dia seperti aku memakai seragam dan atribut yang sama tapi dia hanya sebagai penjaga perpustakaan." Isabella mendongakkan wajahnya, matanya sembab karena terus menangis.


"Astaga..." Zack memukul dahinya dengan kepalan tangannya.


"Sejak kapan kau tahu tempat ini?" Tanya Zack lagi seperti wartawan.


"Aku sudah lama tahu tempat ini, saat sedih aku lebih senang menyendiri di sini." Jawab Isabella.


"Untung kau punya pengendalian diri yang cukup baik dan tidak menenggelamkan diri ke danau." Sahut Zack.


"Aku tidak akan melakukan itu, para pembenciku akan senang jika aku mati, mereka akan membuat pesta besar untuk merayakan kematianku." Isabella menggertakkan giginya membayangkan para komplotan yang selalu membullynya.


"Lalu kenapa kau berteriak dan memaki kami."


Isabella menelan ludahnya, tubuhnya gemetar, apalagi malam itu angin mulai dingin menerpa tubuhnya yang masih memakai seragam sekolah.


Tak berapa lama sebuah jamper pun mendarat di kepala Isabella.


"Pakai itu, bibirmu sudah membiru..."


Isabella meraih Jamper itu dari wajah dan kepalanya, ia mendongakkan pandangannya pada Zack, terlihat Zack kini hanya memakai t-shirt putihnya.


Isabella pun menurut dan memakainya. Setelah jamper itu melekat di tubuhnya, harum parfum yang begitu wangi menyerbak di hidung Isabella dan masuk ke dalam paru-parunya kemudian menyebar keseluruh jatung dan hatinya.


"Astaga..." Gumam Isabella sembari memukul-mukul dadanya dengan tangan mengepal.


Zack dengan cepat menarik pergelangan tangan Isabella.


"Aau... Mau kemana..." Tanya Isabella.


"Mengantarmu pulang, ini sudah malam."


"Tapi..."

__ADS_1


Zack mengarahkan Isabella masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya, kemudian Zack berjalan memutar dan masuk mengemudikan mobilnya.


Di dalam perjalanan mereka hanya diam tanpa ada yang mengatakan sesuatu lebih dulu. Akhirnya Isabella bertanya tentang rasa yang menggelitiki penasarannya.


"Aku tidak tahu, kau menyukai gantungan kunci murahan pinggir jalan. Itu... Mirip dengan Bag Charm milikku yang ku beli di pedagang kaki lima pinggir jalan, lagi pula modelnya juga seperti selera perempuuuaann..." Kata Isabella dengan nada meleyot tidak ingin menyulut kemarahan Zack.


"Aku menemukannya di bawah kursi ku..." Kata Zack.


"Berarti itu punya ku kan...!" Kata Isabella.


Zack memandang Isabella sekilas dengan mengangkat satu alisnya.


"Itu jatuh di lantai tepat di bawah kursiku dan aku yang menemukannya, jadi itu milik siapa sekarang?" Tanya Zack.


"Milikmuu..." Kata Isabella pasrah.


"Kita belok ke arah mana?" Tanya Zack.


"Belok di depan, aku tinggal di panti asuhan."


"Apa?!" Zack terkejut melihat sekilas ke arah Isabella.


"Ya, aku tinggal di panti asuhan, aku sebatang kara, tapi sebentar lagi aku akan pindah, panti asuhan tidak bisa menampungku lagi karena usia ku akan menginjak 17 tahun." Kata Isabella tersenyum.


Zack hanya diam dan kemudian menghentikan mobilnya ketika ia membaca sebuah plakat bertuliskan Panti Asuhan Mariana Montana.


"Terimakasih untuk tumpangannya, dan jangan katakan pada siapapun apalagi pada guru jika aku minum sedikit bir. Aku mengambilnya dari tempat kerjaku. Ku mohon, atau beasiswa ku akan di cabut." Kata Isabella memohon sembari menyatukan telapak tangannya.


"Hm..." Kata Zack.


Isabella pun bersiap turun, berulang kali Isabella mencoba membuka pintu mobil, namun, pintu mobil itu tidak bisa di buka dan melihat ke arah Zack.


"Aku masih mengunci pintu mobilnya." Ujar Zack datar.


Isabella kini beradu pandang dengan Zack, dan mereka hanya saling diam serta saling menatap, namun Isabella seolah terseret pada ketampanan Zack di balik stir kemudinya.


"Ceritakan dulu kenapa kau memaki kami?"


"Kau janji tidak akan ikut membully ku?"


"Aku janji." Zack mengangguk pelan.


"Mereka datang ke tempat kerja paruh waktu ku awalnya tidak ada yang aneh, namun setelah memesan beberapa minuman yang cukup banyak, mereka mengacak-acak semuanya, menumpahkan di lantai dan di meja, yang paling parah mereka merusak beberapa pajangan. Boss pemilik cafe marah dan memakiku, dengan cepat ia memecatku karena aku lah penyebab kerusakan itu, katanya jika karyawan nya tidak memiliki musuh semua hal itu tidak akan terjadi."

__ADS_1


Malam itu Isabella menceritakannya pada Zack, entah kenapa jarak yang sebelumnya terasa sangat jauh di antara mereka kini pun seolah menyempit, membuat Isabella sedikit merasakan kenyamanan hatinya ketika ia bisa menceritakan apa yang ia rasakan ketika perundungan itu terus di tujukan kepadanya, padahal di Hill school bukan hanya dirinya yang masuk melalui jalur beasiswa. Namun, kenapa hanya dia yang selalu menjadi bulan-bulannan.


~bersambung~


__ADS_2