
"Jangan lupa tinggalin jejak untuk Author ya, agar Author makin semangat. Like, Komen, Dan Vote kalian sangat berarti bagi Author ❤🙏 terimakasih~
***
Hari-hari Laura semakin sibuk, Zafran pun mengerti obsesi Laura tidak bisa di hentikan lagi, pria itu faham sudah cukup lama Laura terkungkung dalam Mansion, dan kini Zafran memberika izin bagi Laura untuk keluar dan mengurus penginapannya yang akan di renovasi namun dengan catatan tidak boleh lebih dari 3 jam.
Laura berfikir, perjalanan pulang dan pergi akan di tempuh selama kurang lebih dua jam, dan ia akan berada di sana kurang dari satu jam, meski hanya sebentar namun itu adalah hal yang luar biasa, Laura berterima kasih pada Zafran tentunya pria itu juga meminta imbalan yang lain setelah memberikan izin keluar pada Laura.
Imbalan yang Zafran maksud adalah, pria itu ingin di pijat saat ia ingin, kapan saja, dan saat itu juga, Zafran pria yang pintar memanipulasi, tentu saja semua hal katanya tentang imbalan "pijitan" akan berakhir seperti yang ia mau.
"Aku akan membuat ruangan khusus, agar kau nyaman melakukan pelayanan pijat memijat."
Kata Zafran menyeringaikan tawanya penuh kepuasan.
"Itu bukan aku yang nyaman tapi kau..."
Kata Laura menunjuk dada bidang suaminya. Laura menggelengkan kepalanya, ia merasa suaminya mulai menjalankan ide-ide gilanya yang buas, mengingat terakhir kali Zafran benar-benar mengeluarkan kekuatannya.
Zafran tertawa melihat Laura pergi berlenggang, ia akan menuju penginapan yang akan di garap oleh kontraktor terkenal dari Amerika, dan saat ini Dax Kennedy sudah menunggu untuk bertemu.
Dax Kennedy memiliki kiprah yang sangat luar biasa, perusahaannya menduduki peringkat pertama di dunia dalam menjalankan bisnis kontraktor.
Laura sangat bersemangat, ia juga sudah membayangkan akan seperti apa penginapannya jika di garap oleh orang ternama.
Laura cukup terkejut Dax mengikuti penawaran tender, untuk sekelas kontraktor ternama yang tidak perlu mengikuti tender, pastilah mereka sudah memiliki banyak proyek-proyek besar mengantri. Namun Laura menepis pikiran ku, staff nya mengatakan bahwa Dax tertarik dengan penginapan tradisional kuno, dia pria yang mencintai sesuatu yang unik.
Mobil terus melaju menerobos terik nya matahari, siang itu sangat cerah tanpa awan sedikitpun, langit terlihat sangat biru dan bersih, dan Laura mulai merasakan hawa dingin pertanda sudah memasuki kawasan puncak, dan saat udara semakin bertambah dingin, seolah ingin membekukan wajah dan tubuhnya, pertanda mereka sudah sampai.
Laura turun dari mobil mewahnya dengan anggun, memakai mantel dan terlihat cantik, serta elegan. Laura melihat sekeliling penginapannya sudah di penuhi alah berat dan segala macam material.
"Aku berharap mereka semua akan merubahnya dengan hati-hati."
Kata Laura memandangi penginapan tua yang menjadi kenangannya.
"Aku sudah memberitahu pada mereka agar memperlakukan penginapan itu dengan lembut."
Kata seorang pria tersenyum, mendemgar kalimat Laura yang baginya menggelitik hatinya, pria itu berjalan mendekat dan membuka kaca mata hitamnya.
Laura mengerutkan keningnya, dan memikirkan sesuatu. Namun sebelum ia melontarkan pertanyaannya, pria itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.
"Dax Kennedy."
Katanya pada Laura, sembari melepas sarung tangan hitamnya.
Laura pun melepas kan sarung tangannya yang berwarna coklat tua, dan mereka bersalaman.
"Aku baru saja ingin memastikan itu..."
Laura tersenyum, angin dingin menyapu wajah dan beberapa helai rambutnya membuat kulit wajahnya terlihat lebih pucat namun bibirnya tetap ranum berwarna pink muda.
Tak butuh waktu lama mereka bisa saling menyetujui pandangan satu sama lain, Dax juga menyukai seni dan ituembuat keduanya saling merasa cocok satu sama lain saat mengobrol.
"Nyonya kita harus pulang."
Kata Abigail, pengawal da sekaligus supir Laura.
"Maafkan aku Dax, tapi suamiku hanya mengijinkanku keluar selama 3 jam. Kita belum sempat membahas pekerjaan, kau bisa mengirimiku e-mail jika ada pertanyaan."
Kata Laura.
"Aku mengerti, jika aku jadi suami mu aku mungkin justru tidak akan membiarkanmu pergi, banyak singa jantan di luar."
Kata Dax bergumam.
__ADS_1
"Hemm?"
Laura bertanya pada Dax apa yang baru saja ia katakan, sembari mengernyitkan alisnya.
"Bukan, aku orang tidak suka membahas pekerjaan melalui e-mail, bisa ku minta nomor ponsel mu saja?"
Katanya mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya bagian dalam.
"Oh tentu. Setiap orang punya cara nya sendiri."
Laura tersenyum dan memberikan nomor ponselnya.
"Nyonya mari..."
Kata Abigail lagi mengingatkan.
Laura tiba di Mansion tepat waktu, terlihat Zack yang sedang bermain dengan para pelayan di halaman memanggilnya "Bu...Bu..." seraya meminta gendong.
"Halo Zack... Apa kau merindukan ibu?"
Tanya Laura saat ia meraih tubuh Zack dan menggendong nya masuk.
"Bu... Buu...Buu..."
Zack memanggil ibu nya lagi.
"Baik lah kau harus bersama Jully lebih dulu, kurasa ayahmu akan segera pulang dari kantor."
Kata Laura pada Zack, ia harus bergegas berganti pakaiannya, agar terkesan sudah berada di Mansion lebih awal.
Laura menaiki tangga marmer mewah yang cukup lebar dan menuju kamarnya, kemudian berganti pakaian kesehariannya, dress biasa sepanjang lutut, pas dengan ukuran tubuhnya.
Ponselnya berbunyi.
Laura melihat sebuah pesan masuk, dan membukannya.
📩 "Aku menghubungimu hanya agar kau menyimpan nomor ku, Dax Kennedy."
Laura membaca tanpa ekspresi apapun di wajahnya, kemudian ia membalasnya.
📨"Aku akan menyimpannya."
Dax kembali memberikan balasan pesannya.
📩 "Sampai ketemu lagi besok pagi."
Namun Laura hanya membukanya dan tidak membalasnya, ia menaruh ponselnya di atas mejanya kembali, tepat di samping tempat tidur, kemudian turun dan menemui Zack.
Laura mengajari Zack cara berjalan, selangkah demi selangak. Anak itu pintar, dan sangat aktif, ceria dan juga menggemaskan.
Beberapa pelayan juga mengamati bagaimana Zack cepat sekali belajar, Zack pintar, mewarisi darah dari ayah dan ibunya.
Saat Zack melangkah satu jengkal dan terjatuh para pelayan yang sedang membersihkan Mansion berteriak bersamaan, dan reflek ingin menolong. Laura melihat nya justru tertawa, mereka semua menyayangi anaknya.
Mobil Limosine datang dengan iring-iringan mobil pengawal.
"Yaya... Yaya..."
Zack memanggil ayahnya.
Laura menggendong anaknya dan menyambut suaminya. Zafran keluar dari mobil nya dan mengecup anak serta istrinya.
__ADS_1
"Aku merindukan kalian."
Kata Zafran.
"Stark mana benda itu."
Tanya Zafran.
Stark kemudian mengeluarkan sebuah mainan robot yang dapat berbunyi dan berjalan. Zack sangat senang melihatnya. Kemudian mereka masuk ke dalam Mansion.
Jully kembali mengajak Zack untuk bermain, sedangkan Laura membantu suaminya mengganti pakaiannya.
"Bagaimana penginapannya."
Tanya Zafran membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Belum mulai di renovasi, hari ini mereka sedang mempersiapkan alat berat dan materialnya."
Jawab Laura yang mengemas pakaian kotor suaminya.
"Jam berapa kau tadi pulang?"
Tanya Zafran lagi.
"Seperti katamu, aku di sana bahkan tidak ada 1jam. Kau bjsa bertanya oada Abigail, Mansion juga memiliki banyak cctv."
Jawab Laura.
"Aku hanya bertanya dan memastikan sayang."
Zafran mengecup punuk kepala Laura.
"Aku akan mandi."
Zafran berlenggang meninggalkan istrinya menuju kamar mandi.
Laura yang siap pergi, langkahnya terhenti ketika tak sengaja tatapan matanya menangkap sesuatu yang aneh dari kemeja Zafran.
"Apa itu?"
Kata Laura penasaran.
Laura maju dan mengambil kembali kemeja Zafran yang berwarna putih dari keranjang pakaian kotor. Mengangkatnya dan melihat sebuah lipstik yang menempel.
"Ah... Mungkin hanya sekretaris wanita yang tidak sengaja menabraknya."
Kata Laura tidak terlalu memikirkannya dan melemparnya kembali ke dalam keranjang.
.
.
.
~bersambung~
__ADS_1