
PENGUMUMAN :
NAMA-NAMA DI BAWAH INI ADALAH PEMENANG GIVE AWAY PODIUM MINGGU KEMARIN. MASING-MASING MENDAPATKAN LINGERIE. HARUS DI PAKAI. 😊👍.
BERCANDA, MASING-MASING DAPAT PULSA 25RIBU. 👍😊. SEMOGA BERMANFAAT.
****
Laura datang membawakan secangkir teh hangat untuk suaminya yang berada di dalam ruang kerja.
Akhir-akhir ini Zafran sedang sibuk dengan proyek baru nya dan harus selesai sebelum acara liburan yang ia janjikan pada keluarganya.
"Sayang, bisa kah kau menolongku." Kata Laura sembari menaruh teh itu di atas meja.
"Hm? Istri ku meminta tolong?" Tanya Zafran mengerutkan dahinya.
Zafran pun menarik tangan istrinya untuk duduk di atas pangkuannya, dan Laura pun menurut, kemudian Laura melingkarkan tangannya di leher Zafran.
"Aku ingin kau mencari tahu tentang seseorang." Kata Laura.
"Siapa? Kau di ganggu seorang pria?"
Laura menggeleng.
"Lalu?"
"Seorang siswi Hill School." Sahut Laura.
Zafran masih tak mengerti dan memeluk pinggang istrinya sembari menyandarkan punggung di kursi kulitnya.
Laura pun mengeluarkan foto dari kantongnya.
"Aku melihat mereka berada di rumah sakit yang sama."
Laura mendapatkan foto tersebut dari pengawalnya.
"Aku takut... Mereka memiliki hubungan khusus dan siswi itu hamil lalu menuntut Dax. Kau tahu, Dax adalah pria baik, dia belum pernah jatuh cinta sebelumnya."
Zafran kemudian melihat foto tersebut.
"Kau yakin sayang mereka memiliki hubungan? Maksud ku mungkin saja Dax hanya..."
"Zafran... Ku mohon." Sela Laura.
"Baiklah... Tidak ada yang bisa membuat ku menolak semua permintaanmu." Kata Zafran.
Laura pun tersenyum penuh kepuasan dan memeluk suaminya.
"Apa aku akan mendapat hadiah?"
"Jika itu yang kau inginkan..." Sahut Laura sembari mengangkat kedua bahunya seolah berserah diri.
__ADS_1
Zafran pun mencium bibir istrinya dan perlahan membuka gaun tidur yang Laura kenakan, hingga akhirnya mereka saling memeluk dan saling menekan. Sampai pada eksekusi Laura mendominasi permainan dan ia masih pada posisi di atas.
Laura semakin liar dan semakin cepat memompa dirinya di atas Zafran, ia menggigit bibir dan melengkungkan tubuhnya, sampailah Laura pada pelepasan pertamanya. Kemudian Zafran menyingkirkan cangkir teh nya dan membaringkan tubuh Laura di atas meja, Zafran siap pada posisinya. Suara-suara mereka menggema di ruangan kerja Zafran.
Zack yang tidak bisa tidur, melihat kondisi dan situasi mansion, ia merasa gelisah dan cemas, merasa telah membuat kekacauan dan kesalahpahaman ia pun keluar mengemudikan mobilnya menerjang angin malam, menekan gas dalam-dalam dan membuat mobil itu melaju cukup kencang.
Zack tahu harus meluruskan semua kekacauan itu sebelum kesalahpahaman semakin luas dan melebar kemana-mana, dan harus berbicara dengan pamannya. Setelah sampai Zack langsung menuju ke apartmen dan lift pun tidak di kunci.
Zack masuk dan terlihat pamannya sedang duduk di sofa dengan laptopnya.
"Paman..."
"Hay Zack..." Dax masih sibuk melihat laptop dan kemudian menutupnya.
"Apa kau sudah tenang..." Dax berdiri dan mengambil 2 botol bir di dalam kulkas berukuran cukup besar.
Melihat Zack datang sendiri dan memberikan salam Dax tahu, keponakannya sudah jauh lebih tenang dari pada saat kemarin ketika Zack ingin mengajaknya berkelahi.
"Thanks Paman..." Zack menerima bir itu.
"Paman, maafkan aku, waktu itu aku tidak bermaksud ingin memukul, tapi amarahku yang lebih mendominasi bekerja di dalam kepala... Aku sungguh menyesal."
"Lalu apa kau sudah siap untuk bercerita..." Dax tersenyum.
"Sebenarnya aku salah mengira, orang yang berada di apartmen paman bukanlah orang yang ku maksud..."
Dax meminum bir nya kemudian mengernyitkan dahi.
"Dia memang Isyana, bisa dikatakan dia petugas perpustakaan Hill School." Kata Dax canggung.
Melihat pamannya merasa tidak nyaman dan canggung, Zack tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu.
"Besok pagi aku akan berkuda..." Kata Zack.
"Besok akan paman temani..."
"Tidak paman, besok aku sudah janji dengan temanku."
"Seorang gadis?" Tanya Dax.
"Ya... Dia adalah yang ku maksud, dia dan Isyana berteman, dan Isyana juga baru beberapa jam yang lalu mengenalku. Jadi ku pikir ini hanya kesalahpahamanku saja Paman, maafkan aku sudah bertindak kasar padamu."
"Tidak apa-apa... Kau masih muda, masih naik dan turun mengontrol emosi."
"Baiklah, aku harus pulang. Ibu dan Ayah akan marah saat mereka tahu aku pergi pada jam malam."
"Berhati-hatilah."
Zack berdiri dan diantar pamannya hingga lift terbuka.
"Selamat malam paman, jaga kesehatanmu."
"Kau juga..."
__ADS_1
Setelah kepergian Zack, kini perasaan Dax antara lega dan kemudian tersenyum namun juga ada perasaan bersalah ketika ia membentak Isyana, yang bahkan Isyana sendiri pasti tidak mengerti kenapa dirinya bertindak seperti itu.
Dax kemudian mengambil kunci mobilnya bersiap untuk pergi, namun ketika ia turun di lobby terlihat Isyana hanya berdiri di halaman depan Apartmennya.
Tanpa sadar Dax tersenyum melihat Isyana, dan mendatanginya.
"Kenapa hanya di sana..."
Isyana terkejut mendengar suara Dax.
"Saya..."
"Ini sudah malam, kenapa berkeliaran seperti ini."
"Saya, hanya berniat bersiap diri di sini jika nanti anda menghubungi saya, jadi anda tidak akan menunggu dan saya tidak akan membutuhkan waktu yang lama, maksud saya agar anda tidak menunggu saya terlalu lama, mu.. mungkin saya salah jadi saya akan pulang."
Dax menggapai tangan Isyana dan mengajaknya masuk ke dalam apartmen tanpa sepatah kata.
"Tuan..."
"Sudah malam, dan aku sedang malas keluar, di luar berbahaya banyak brandalan." Kata Dax dengan membawa Isyana masuk ke dalam lift.
Pintu lift pun menutup, mereka hanya berdiri dan saling diam, Dax menunggu lift naik yang seolah begitu lama serta hening baginnya sedangkan Isyana hanya diam menundukkan kepalanya sembari memainkan sepatunya.
Dax melihat dari pantulan stainless dinding lift dan dengan cepat menundukkan kepalanya, kemudian mengangkat wajah Isyana.
Dax mencium rakus bibir Isyana, mendesaknya hingga menempel pada dinding lift.
Isyana pun membalas ciuman Dax dan merangkulkan tangannya ke dalam punggung Dax, dan tak berapa lama pintu lift terbuka.
Dax mengarahkan Isyana berjalan masuk, masih mencium dan memeluk tubuh Isyana, hingga akhirnya mereka terjatuh di atas sofa.
Dax membuka kancing baju Isyana perlahan, membuat gadis itu melenguh pasrah.
Tak bisa di pungkiri Isyana sudah terjerat dan terjatuh dalam semua sentuhan Dax, Isyana sudah merasakan hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ketakutan dan hal tabu baginya kini justru sebagai suatu kecanduan tersendiri.
Dax pun juga begitu, seolah Isyana baginya adalah heroin yang harus ia konsumsi lebih dan lebih, tanpa Isyana tubuhnya terasa menggigil dan kesepian, ia harus menghirup harum tubuh dan aroma wangi khas milik Isyana.
"Maafkan aku Isyana..." Bisik Dax di telinga Isyana.
Dax masih menimpa tubuh Isyana, dan menekan tubuh Isyana di atas sofa.
Suara Isyana melenguh dan menderu ketika Dax mulai mencium 2 gunung kembar yang telah menyembul naik.
"Aku merindukanmu, dan aku menyerah untuk itu..."
Dax masih mencium Isyana dengan liar, sedangkan gadis itu melingkarkan tangan di kepala Dax meremas sejadinya dan melingkarkan kakinya di punggung besar Dax.
Semua sentuhan dan ciuman Dax membuat Isyana mendesis.
Isyana hanya diam dan pasrah, ia menerima dan menikmati semua sentuhan itu. Dax tidak bisa lagi memungkirinya, bahkan mungkin saja perasaannya pada Isyana makin berkembang dan tidak akan melepaskan gadis itu.
~bersambung~
__ADS_1