
Zafran berada di ruang bawah tanah Mansion lamanya, pria itu melihat ibu kandungnya dengan tatapan miris.
Hatinya memang masih sangatlah sakit, namun ada perasaan yang tidak tega melihat keadaan orang tua itu.
Pria itu sedikit melunak karena melihat Laura yang selalu berusaha dengan keras bagaimana perjuangannya ketika hamil.
Setiap pagi Laura harus bolak balik ke kamar mandi karena muntah, dan tidak ***** makan, serta tubuhnya merasa tidak nyaman.
"Pindahkan dia ke atas."
Kata Zafran.
"Tapi tuan..."
Stark ragu.
"Setidaknya aku akan mengingat bagaimana dia sudah melahirkanku."
Zafran menepuk bahu Stark pelan.
Zafran kemudian menaiki tangga marmer yang berada di ruang bawah tanah. Meski di sebut ruang bawah tanah namun bangunan itu masih memiliki arsitektur yang cukup mewah. Setiap ruangan kedap suara. Para pengawal menundukkan kepala saat Zafran meninggalkan tempat itu.
"Antar dia naik."
Kata Stark pada pengawal lain.
"Baik tuan."
Jawab mereka.
Tak berapa lama Martinez sadar dari pingsannya, dan melihat sudah berada di atas ranjang yang mewah, kepalanya terasa sangat sakit.
"Dimana ini?"
Kata nya.
"Di Mansion milikku."
Jawab Zafran yang berdiri di ambang pintu, dengan tangan berada di dalam saku celananya, pria itu menyandarkan punggung besarnya
"Nak..."
Kata Martinez.
"Ayahmu..."
Wanita itu menangis.
"Aku sudah katakan pada mu saat itu untuk berhenti."
Kata Zafran dingin.
"Kau masih sangat tamak dan rakus, seperti dulu."
Martinez menundukkan kepalanya.
"Bagaimana uang-uang ku yang berserakan di lantai."
Kata Martinez memelototkan matanya pada Zafran.
"Memuakkan."
Kata Zafran lirih dan pergi meninggalkan ibunya.
Zafran berada di ruang kerjanya, seperti biasa Stark berdiri di depan meja Zafran.
"Sepertinya Arnold merencanakan agar aku merasa iba pada Martinez dan membawanya masuk ke dalam Mansion."
"Saya juga berfikir seperti itu tuan, tapi tindakannya membunuh Antony menurut saya..."
__ADS_1
"Apa dia sudah di makamkan?"
Tanya Zafran.
"Informasi yang saya terima, keamanan hotel telah menyerahkan jasad nya pada pihak berwenang dan mereka sudah mengkremasinya, sedang negara perancis tidak mempermasalahkannya, mengingat Antony juga buronan atas tindak pencabul*n gadis di bawah umur."
Zafran menekan pelipis matanya.
"Apa anda sakit tuan..."
Kata Stark cemas.
"Akhir-akhir ini anda tidak cukup tidur bahkan beberapa hari lalu anda tidak tidur sama sekali."
"Hm... Aku sedikit lelah."
Kata Zafran.
"Anda harus pulang dan beristirahat tuan, jangan sampai anda sakit, Nona Laura juga sedang mengandung, anda harus menjaga kesehatan."
Stark menuang air putih ke dalam gelas yang ada di atas meja Zafran, dan kemudian mengambil beberapa vitamin di almari dan di berikan pada Zafran.
"Aku akan meminum ini dan pulang, kau jaga Martinez."
Kata Zafran.
"Baik tuan."
Zafran kemudian pergi meninggalkan Mansion tanpa pengawalan, Zafran memejamkan matanya, menyandarkan kepala pada kursi mobilnya dan menyedekapkan tangannya. Pria itu cukup di buat lelah dengan ulah Arnold yang merepotkan.
Sedangkan di Mansion Laura yang sudah terbangun, tiba-tiba ingin sekali memakan acar dan asinan, semua pelayan sibuk menyiapkannya, namun bukan Laura jika hanya duduk dan menunggu.
Laura tidak bisa hanya duduk, ia juga ingin ikut membuatnya, agar rasa acar dan asinan itu seperti yang ia inginkan. Saat Laura akan mencicipinya dengan menggunakan cawan kecil tiba-tiba tangannya terasa licin, membuat cawan tersebut jatuh dan pecah. Semua pelayan terkejut.
"Nona jangan bergerak, biarkan kami yang membersihkannya terlebih dulu."
"Nona jangan sampai terluka, atau tuan Zafran akan memarahai kami."
"Astaga kenapa kalian sangat takut pada Zafran, jika suamiku memarahi kalian aku yang akan membela kalian."
Laura tertawa.
"Tuan Zafran tidak pernah sebahagia ini Nona, tuan juga sangat jarang datang ke sini, saat tuan membawa anda pulang, kami semua merasa bahagia karena saat itulah kami melihat senyuman tuan Zafran."
Kata seorang kepala pelayan dengan ekspresi sedih.
"Apa dulu Zafran selalu murung?"
Tanya Laura yang kemudian duduk di kursi, duduk di tengah-tengah dapur yang memiliki meja marmer cukup besar.
"Ya, tuan Zafran juga jarang datang kesini dan selalu pergi berbisnis, wajahnya dingin, dan seram."
Kata Jully seorang kepala pelayan.
Laura hanya diam, tiba-tiba saja Laura merasa rindu dan ingin bertemu dengan Zafran, Laura ingin memeluk suaminya.
"Aku akan membawa acar dan asinan ini ke kamar."
Kata Laura murung.
"Mood ku cepat sekali berubah, sejenak lalu aku bersemangat, sekarang aku merasa kesepian."
Laura menaiki tangga dengan hati-hati dan melenguhkan nafasnya.
Di perjalanan pulang menuju Mansion utama, mobil Zafran melaju dengan cukup kencang, pria itu masih memejamkan matanya. Vitamin yang Stark berikan cukup efektif membuatnya merasa tenang dan ingin tidur.
Pria itu ingin segera bertemu dengan istri dan anak yang masih di dalam perut Laura. Zafran belum sempet membelai perut istrinya dan mencium nya. Ketika Zafran setengah sadar antara terjaga dan tertidur dengan membayangkan wajah istrinya...
Zafran kembali ke Mansion utama tanpa pengawalan.
__ADS_1
"BRAAKKK!!!"
"BRAAKKK!!!"
Zafran masih di tengah perjalanan, tiba-tiba mobilnya di tabrak dengan sangat keras membuat mobil tersebut terpental dan berguling.
"BRAAKKK!!!"
"BRAAKK!!!"
Mobil itu rusak, dan mengeluarkan asap. Posisinya terbalik. Zafran kesulitan keluar dari mobil, sang sopir sudah tidak sadarkan diri, banyak darah di sekujur tubuhnya. Zafran berusaha sangat keras membuka pintu mobil.
Kepala Zafran terluka, darah meleleh dari pelipisnya turun menuju rahangnya, sedang kakinya tidak dapat di gerakkan karena terhimpit oleh mobil yang ringsek.
"Ya Tuhan..."
Rintih Zafran.
Dengan susah payah Zafran masih berusaha membuka pintu, namun nihil pintu itu macet. Sedangkan mobil sudah mulai memercikkan api.
Terlihat seseorang dengan langkah kaki santai mendekat, sepatu yang khas dan tidak asing bagi Zafran, terlihat pria itu memantikkan rokoknya dan menyulutkan api.
"Bedeb*h."
Umpat Zafran.
"Aku ingin menikmati pemandangan ini, melihat wajah putus asa mu dan ketakutanmu pada kematian."
Arnold melirik percikan-percikan api yang ada di mesin mobil, sedang darah segar juga mengalir di kepala Zafran.
"Aku tidak takut pada kematian."
Suara Zafran bergetar, menahan emosinya yang tidak dapat ia luapkan.
"Aku sudah membayangkan menyentuh kulit lembut Laura, dia akan menjadi milikku..."
kata Arnold.
"Bermimpilah dasar keparat!!!"
Zafran berteriak, mendorong-dorong pintu dengan kuat dan menarik kaki nya sekuat mungkin agar bisa bebas.
"Aku sudah menyiapkan obat yang sama seperti kemarin dengan dosis yang lebih tinggi, aku akan membuat Laura melupakanmu dan membencimu."
Arnold masih memprovokasi Zafran.
"Jangan sekali-kali kau berani menyentuhnya!!! Atau kau akan menyesal!!!"
Teriak Zafran.
"Yaahh... Teruslah berteriak dan memaki. Kau bisa melihatnya dari alam baka bagaimana aku mencumb..u istrimu, tenang saja aku yang akan menggantikanmu menjaganya, percayalah."
Arnold kemudian tertawa dan pergi meninggalkan Zafran yang masih berusaha melepaskan diri dari mobil.
"TAAARRR!!!!"
Terdengar percikan yang semakin parah, dan merambat pada mesin yang terkena tumpahan bensin.
Zafran membelalakkan matanya saat mengetahui bensin sudah tumpah dimana-mana.
"HAISSSH!!!"
Zafran mencoba meraih alat pelacaknya yang ada di saku, untuk memanggil para pengawal-pengawalnya, namun ruang yang sempit membuatnya sangat kesulitan.
.
.
.
__ADS_1
~bersambung~