Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
-EPISODE 61-


__ADS_3

"Jangan lupa tinggalin jejak untuk Author ya, agar Author makin semangat. Like, Komen, Dan Vote kalian sangat berarti bagi Author ❤🙏 terimakasih~


***


Sudah cukup lama bayi Laura berada di dalam inkubator karena kelahiran prematurnya, para dokter masih terus mengobservasi.


Sedangkan keadaan Laura sudah kembali pulih, ia sudah bisa berjalan dan mandi sendiri. Bukan hal yang aneh untuk pelayanan dan perawatan kelas atas. Semua dilakukan cepat dan sembuh dengan cepat.


Laura berdiri di depan cermin kamar mandi yang cukup luas dan mewah, Zafran berjalan dan berdiri di samping istrinya, ia menaruh gelas berisi pasta gigi dan sikat gigi miliknya, pria itu sudah selesai cuci muka.


"Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?"


Tanya Zafran melihat istrinya merenung.


Laura yang selesai mandi masih memakai pakaian dalam, sesaat sebelum memakai pakaian pasien lagi, ia melihat bekas jahitan yang terlihat di depan cermin.


"Apa kau baik-baik saja melihat ku seperti ini? Aku pasti terlihat jelek? Apa kau tidak akan terganggu dengan bekasnya?"


Tanya Laura dan menunjuk bekas jahitanyang ada di perutnya.


"Jangan berfikir yang tidak-tidak."


Zafran memeluk tubuh mungil istrinya.


"Kau tetap yang paling cantik dan satu-satu nya wanita dalam hidupku."


"Aku hanya takut jika kau..."


Mimik Laura muram, ia melepaskan pelukan Zafran.


"Jangan berfikir sesuatu yang tidak akan pernah terjadi."


Zafran menjitak kecil dahi Laura dengan telunjuk dan ibu jarinya.


"Aaww..."


Pekik Laura sembari memegangi dahinya.


"Dokter di sini sangat ahli, bekas jahitan itu akan memudar dengan seiringnya waktu, karena semua di lakukan dengan metode modern dan hanya akan terlihat samar-samar, tapi jika kau masih tidak nyaman aku akan menghubungi para dokter untuk melakukan perawatan guna menghilangkan bekasnya."


Zafran membelai kepala Laura dengan lembut.


"Jika kau tidak masalah ini juga tidak akan menjadi masalah untukku."


Laura memeluk tubuh besar suaminya, dan Zafran juga mengecup lembut kepala Laura.


Pada akhirnya para dokter pun mengijinkan Laura beserta anak mereka pulang, karena perkembangan bayi nya sangat signifikan, bahkan untuk bayi yang tergolong lahir prematur tubuhnya tidak terlalu kecil, gerakannya pun aktif, bayi itu sangat sehat.


Kepulangan Zafran, dan Laura serta bayi laki-laki mereka di sambut suka cita dan riuh para pelayan yang ikut bahagia.


Kate datang menyambut dengan beberapa tumpukan kado yang sudah di tata seperti gunung menjulang tinggi.


"Semua ini dari mereka."


Kata Kate dan memeluk Laura.


"Aku sangat lega kau bisa pulang dan berkumpul dengan kami."


Kate menangis sesenggukan di bahu Laura.


"Terima kasih Kate sudah menjadi sahabat ku."

__ADS_1


Laura juga mengusap air mata nya dan mereka berjalan memasuki Mansion.


Zafran serta Laura mengumumkan kelahiran anak mereka pada para pelayan.


"Laura melahirkan seorang anak laki-laki dan akan ku beri nama Zack Wickley Volkofrich. Aku harap kalian semua senantiasa menjaga tuan muda, dan ikut serta dalam mendidiknya agar menjadi anak yang baik, serta kelak menjadi pria yang tangguh, berprinsip, tegas dan juga berwibawa."


Zafran mengakhiri kalimatnya dengan mengecup anaknya yang berada dalam gendongannya dan juga kening istrinya.


Sedangkan para pelayan serta pengawal bertepuk tangan dan saling memberi selamat.


***


Hari demi hari Zafran lalui dengan menjaga Zack. Minggu demi minggu Zafran membantu Laura untuk mengurus segala keperluan anaknya, meski ada pelayan dan baby sitter namun mereka memutuskan ingin menjaga Zack secara mandiri.


Mereka berjanji setelah Zack lahir, akan memberikan ikatan yang hangat di dalam keluarga, karena kisah masa lalu dari masing-masing orang tuanya yang kelam.


Zafran dan Laura secara bergantian menjaga Zack, membuat susu, mengganti popok, mengajak bermain, dan bernyanyi. Ketika Laura lelah dan mengantuk Zafran akan menggantikan tugasnya.


Suatu pagi, bahkan matahari belum menyembul Zack tiba-tiba menangis saat Laura sedang mandi. Zafran yang mendengar segera bangun dari ranjang, berjalan menuju kamar Zack melalui pintu penghubung yang terbuka dan mendekati Baby Bed Rail Safety (Tempat tidur bayi dengan pagar pengaman ).


Zafran mengecek pampers putranya, masih kering. Lalu membuat susu namun Zack tidak mau, dan justru semakin keras menangis.


Zafran berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang Zack menangis dan tidak mau berhenti."


Kata Zafran berteriak di depan kamar mandi, kemudian berjalan ke kamar anaknya lagi mengawasi Zack dari pintu penghubung.


"Buatkan dia susu Zafran, mungkin dia lapar."


Teriak Laura yang baru saja mengguyur tubuhnya, teriakannya hanya terdengar samar-samar.


"Sudah tapi dia masih menangis, tidak mau minum susu."


"Mungkin dia bosan, kau bisa menyanyikan sebuah lagu."


Teriak Laura lagi yang sedang menyabuni tubuhnya.


"Aku? Bernyanyi?"


Zafran mengatakannya pelan pada dirinya sendiri sembari menunjuk hidungnya dengan jarinya dan mengernyitkan dahi, sudut bibirnya juga terangkat.


Kemudian Zafran mendekati Zack yang masih menangis.


"Apa kau mau ayah menyanyi kan sebuah lagu?"


Tanya Zafran pada Zack yang masih menangis.


"Baiklah-baiklah ayah akan menyanyi."


"Ehem... "


"Are you sleeping, are you sleeping?..."


"Brother John, Brother John?..."


"Morning bells are ringing, morning bells are ringing..."


"Ding Ding Dong, Ding Ding Dong..."


Zafran bernyanyi sangat pelan dan malu-malu, sambil memperhatikan ke kanan dan ke kiri, seolah khawatir jika ada yang memperhatikannya, suara Zafran terdengar aneh saat bernyanyi, sedangkan suara tangisan Zack semakin keras.

__ADS_1


Kemudian Zafran bernyanyi lagi, mencoba lebih mengeraskan suaranya, perlahan hatinya sedikit merasa nyaman, hingga berulang kali Zafran terus mencoba agar suaranya tidak bergetar dan gemetar.


"Baiklah ayah akan menggendongmu sambil bernyanyi, apa begitu kau akan berhenti menangis?"


Zafran menggendong putranya dan berdiri di balkon kamar milik Zack. Menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan kaku dan sembari bernyanyi cukup keras. Zafran sudah lebih percaya diri dengan suara nya.


"Are you sleeping, are you sleeping?..."


"Brother John, Brother John?..."


"Morning bells are ringing, morning bells are ringing..."


"Ding Ding Dong, Ding Ding Dong..."


Kini Zafran sudah berani mengeluarkan suara nyanyiannya dan suara itu tidak lagi menggeliat atau melengking, atau seperti berbisik. Laura memandangi suaminya dan menyandarkan bahu nya di pintu, menyedekapkan tangan dan tersenyum geli melihat pinggul Zafran yang bergoyang kaku.


"Apa kau suka nyanyian ayah? Cepat sekali... Kau sudah tidur lagi."


Zafran gemas melihat anaknya sudah terlelap, kemudian pria itu berbalik dan menaruh nya kembali ke dalam bed bayi.


"Apa kau lelah?"


Tanya Laura, melihat Zafran merenggang kan punggung nya, dan melemaskan otot-otot tubuh dengan sedikit gerakan senam.


"Aku harus berhati-hati menyentuhnya, menahan segala kekuatanku, pijat aku sebentar sayang."


Kata Zafran berjalan melewati istrinya dan masuk ke dalam kamar mereka, pria itu membuka t-shirt nya dan melemparkan nya sembarang, terlihat otot-otot nya yang kencang.


Zafran tengkurap dan Laura duduk di atas punggung Zafran, memijat bahu suaminya.


"Apakah nyaman?"


Tanya Laura.


"Hmm... Nyaman sekali."


Suara Zafran sedikit serak.


Laura terus memijat Zafran, pria itu menikmati pijitan Laura.


"Istriku pintar memijat."


Kata Zafran sembari menutup mata.








.


.


.

__ADS_1


~bersambung


__ADS_2