Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

PENGUMUMAN


MAAF SEMUANYA JIKA SAYA TIDAK UP NOVEL "TERJERAT CINTA PRIA MILIARDER" BERARTI SAYA SEDANG UP NOVEL SAYA YANG SATUNYA "TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS".


SAYA UPDET SELANG SELING.



*****


Sekolah hari ini membuat Evashya tidak semangat apalagi Mike Bacelo guru lukisnya telah pergi dengan mengemasi semua barang-barang nya di kantor.


Mike Bacelo di pindah kan ke sekolah lain, sedangkan kini guru lukis yang baru adalah seorang wanita.


Evashya berjalan malas dan masuk ke dalam mobil, ia juga sedang merasa kesal karena ibunya menyuruh seorang siswi lain yang menjadi tutornya dan akan pergi bersama dengan mereka. Sedangkan Zack juga sudah duduk di depan, di samping sopir.


"Siapa sih yang jadi tutor Shya... Lelet sekali!" Gerutu Evashya.


Zack hanya diam dan memainkan ponselnya, dimana grup chat mereka sedang di penuhi gosip tak sedap tentang seorang siswi di Hill School.


"Kau tidak membuka ponselmu?" Kata Zack.


"Kenapa?" Tanya Evashya dengan mulut cemberut.


"Forum sedang ramai. Lihatlah sendiri." Suruh Zack.


Kemudian Evashya membuka ponsel iphone 12 nya yang memiliki gantungan boneka berwana Pink dan limited edition disneyland.


"Astaga!!!" Evashya terbelalak dan membuka mulutnya selebar mungkin namun dengan cepat menutup mulutnya.


"Benarkah ini salah satu siswi Hill School?" Tanya Evashya.


Tak berapa lama pun kaca jendela mobil di ketuk oleh seorang gadis berambut panjang. Evashya menurunkan kaca jendelanya, tatapan mata dan wajahnya mengkerut, ia heran kenapa siswi beasiswa mengetuk jendela kaca mobilnya.


"Halo, saya Isabella dan yang akan menjadi tutor...."


Belum sempat Isabella menjelaskan dan melanjutkan kalimatnya, Evashya langsung menutup jendela kaca mobilnya menekan tombol dan kaca itu pun naik.


"Jalan!!!" Kata Evashya.


Zack pun juga terkejut, ternyata Isabella yang akan menjadi tutor Evashya.


Mobil pun melaju dan Isabella panik, ia menepuk-nepuk kaca mobil dengan telapak tangan dan mengejar sembari berlari.


"Evashya... Evashya...!!!" Teriak Isabella.


Gadis itu berlari sambil menepuk-nepuk kaca mobil.


Namun mobil tetap berjalan dan tak mau berhenti. Isabella menyerah dan hanya berdiri mematung, ia menarik nafas dan menghembuskannya berulang kali, ia kelelahan, apalagi matahari sangat terik hari itu.

__ADS_1


Setelah mobil cukup jauh tiba-tiba saja mobil tersebut berhenti, telihat Evashya membuka kaca jendela mobil dan mengeluarkan kepalanya.


"Cepat naik atau aku berubah pikiran lagi!!!" Teriak Evashya kemudian ia memasukkan kepalanya dan menutup kembali kaca jendelanya mobilnya.


Isabella pun bergegas mengayunkan kakinya, gadis itu berlari tergopoh menuju mobil mewah yang menunggunya. Isabella masuk dan duduk di samping Evashya.


"Terimakasih." Kata Isabella dengan nafas ngos-ngosan.


Evashya tak menjawab dan justru memasang wajah tidak suka.


Sedangkan Zack hanya melihat Isabella melalui pantulan cermin kemudi.


Perjalanan menuju Mansion pun di lalui dengan suasana canggung untuk Isabella, karena Zack dan Evashya hanya diam dan tidak ada yang mau berbicara.


Setelah sampai di Mansion, Evashya dengan cepat turun dan hendak masuk, di susul Zack yang berjalan santai menuju ibunya yang sudah menunggu di halaman.


"Evashya kau tidak menyapa ibu?" Tanya Laura.


Evashya tidak merespon dan tetap berlenggang pergi.


"Dia kesal, kenapa ibu tidak memberitahunya jika yang menjadi tutornya adalah siswi Hill School dari jalur beasiswa." Tanya Zack yang juga sedikit menhela nafas.


Isabella meremas tas nya, ia merasa tidak enak dan merasa bahwa mungkin ini juga ide yang buruk.


"Apa masalahnya dengan siswi yang masuk melalui jalur beasiswa?" Tanya Laura.


"Sudahlah, Ibu tidak akan tahu apapun." Kata Zack dan berlenggang pergi juga.


Kemudian Laura memilih untuk menyambut Isabella, dengan senyuman mengembang dan mengajak Isabella untuk masuk membicarakan jadwalnya menjadi tutor Evashya.


Mereka duduk di sebuah ruangan dimana jendela besar yang menjulang tinggi memperlihatkan taman yang begitu banyak bunga bermekaran. Bunga yang selalu Laura rawat. Isabella sudah memberikan jadwal kegiatannya yang ia tulis dan rangkum pada Laura. Serta sudah memberikan jadwal hari dan jam kapan ia menjadi tutor Evashya.


"Sebelum menjadi tutor anakku, sebaiknya aku lebih mengenalmu dulu. Apa boleh aku mengajukan pertanyaan?" Tanya Laura.


"Boleh Nyonya silahkan."


Laura memikirkan sesuatu yang ia harus tanyakan, mereka tersekat meja bundar yang di atasnya telah terhidang teh mewah serta camilan-camilan.


"Apa kau punya ibu?" Kata Laura sedikit ragu.


"Maksud ku adalah, kau belajar, sekolah, dan bekerja di 2 pekerjaan sekaligus. Bagaimana dengan keluargamu?" Tanya Laura lagi.


"Saya yatim piatu nyonya..." Jawab Isabella dengan tersenyum penuh ketegaran.


"Lalu..." Tanya Laura lagi ingin lebih menelisik.


"Saya hidup di panti asuhan, dan sebentar lagi saya harus pindah karena umur saya sudah 17 tahun." Kata Isabella.


"Kenapa?" Tanya Laura.

__ADS_1


"Yayasan tidak mampu menampung anak yang usianya lebih dari 16 tahun, saat usia 17 tahun mereka dianggap sudah mampu membiyayai diri sendiri dan bertanggung jawab pada diri sendiri, maka dari itu saya sedang mengumpulkan uang untuk menyewa sebuah apartmen sederhana, saya sudah menemukannya." Kata Isabella.


"Dimana?"


"Apartmen Louvin." Kata Isabella.


"Bukankah apartmen itu bagian dari slum area, dan akan di lakukan pembersihan di sana?"


•Slum Area = pemukiman yang kurang layak.


"Saya .. Tidak tahu Nyonya jika akan di lakukan pemberisihan." Kata Isabella.


"Baiklah sekarang aku tahu kondisimu, kau bisa menjadi tutor Evashya dan mulai mengajarinya." Kata Laura tersenyum.


"Baik Nyonya..."


"Kamarnya ada di lantai atas tanya saja pada para pelayan..." Kata Laura.


Isabella berjalan dengan pelan, sembari melihat-lihat rumah yang begitu besar dan mewah bak istana, tangga marmer yang sangat besar dan juga semua perobatan mahal yang terpajang.


Isabella berjalan menuju kamar Evashya dan di koridor ia bertemu dengan Zack, pandangan matanya pun menunduk, ia juga menelan ludahnya.


Zack memang tampan, ia memiliki paras yang bisa membuat semua gadis remaja seketika terhipnotis, mereka akan reflek melongo dan tanpa berkedip memandangi Zack, dan Isabella memilih untuk menundukkan mata dan kepalanya.


Zack berjalan dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, saat itu ia sengaja menutupi jalan Isabella.


Ke kiri dan ke kanan Isabella menghindati Zack, namun dengan sengaja Zack juga mengikuti Isabella. Gadis itu pun mendongak memandang Zack.


"Maaf..." Kata Isabella.


Zack kemudian melihat gantungan kunci yang ada di tas Isabella.


"Kau beli dimana gantungan kunci itu?" Tanya Zack.


"A... Aku beli di pinggir jalan." Kata Isabella.


"Hmm..." Kemudian Zack membuka jalan memiring kan tubuhnya dan memberikan jalan untuk Isabella.


Setelah Isabella pergi Zack yakin ia melihat tas Hill School yang memiliki logo siswi beasiswa dan juga gantungan kunci itu saat di apartmen pamannya.


"Apa itu kau Isabella..." Kata Zack lirih.


"Tunggu..." Zack berbalik mengejar Isabella dengan langkah panjang.


Isabella menoleh dan Zack sudah berada di belakangnya, mereka saling berhadapan di tengah koridor.


"Aku ingin sekali bertanya pada mu Isabella, apa itu kau yang berada di apartmen pamanku." Kata Zack dalam hati namun ia tidak sanggup mengucapkannya, meski kalimat itu sudah berada di ujung lidahnya.


__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2