
Pagi sudah datang, suara beberapa teralis dan alat medis yang terbuat dari bahan stainless steel yang bergesek atau berbentur membuat Dax terbangun, apalagi sinar matahari menerpa wajahnya dari jendela yang sudah di buka tirainya dan kini hanya memakai tirai putih yang tidak sepenuhnya bisa menghalangi sinar matahari.
Perlahan Dax membuka matanya, samar-samar sudah terlihat Isyana yang berdiri di ujung ranjang pasien Dorothy dan beberapa dokter serta perawat sedang memeriksa Dorothy.
Dax kemudian bangun masih mencoba membuka matanya yang masih sipit, dan mengumpulkan nyawanya.
"Maaf tuan kami membangunkan anda..." Kata salah satu dokter.
"Hm... Tidak apa-apa..." Kata Dax.
Setelah para dokter dan perawat berpamitan, Dax kemudian beranjak dari sofa yang semalaman ia gunakan untuk tidur.
"Kenapa anda tidur di sini tuan..." Tanya Isyana dengan polos.
"Tidak apa-apa. Kau mau berangkat sekolah?" Tanya Dax.
"Iya tuan..."
"Tunggu, aku mandi dulu, nanti ku antar." Kata Dax sembari mengayunkan kakinya menuju kamar mandi.
Setelah cukup lama Dax menyelesaikan ritual mandinya, pria itu kemudian mengantar Isyana untuk sekolah.
Dax berjalan beriringan dengan Isyana dan membelai kepala Isyana pelan, saat pada posisi itu lah tepat di depan mereka seorang wanita elegan dengan paras cantik berdiri di depan mereka.
Isyana sontak melihat ke arah Dax, bermaksud akan menanyakan pada pria itu apakah mengenali wanita yang terlihat terkejut melihat keakraban mereka.
Saat Dax berpaling mengarahkan pandangannya ke depan ia justru tak kalah terkjeut, melihat adik perempuanya berada di rumahsakit miliknya, biasanya Laura akan periksa di rumah sakit milik Zafran atau dokter bisa datang ke mansion dan kini mereka berada di koridor yang sama.
Dax perlahan menarik tangannya dari punuk kepala Isyana, membuat Laura mengarahkan matanya pada gerakan tangan Dax.
"Siapa dia..." Tanya Laura terpaku.
Kaki Laura terasa lemas, sepatu heels tinggi yang Laura pakai pun membuatnya semakin tak bisa bergerak. Laura hanya diam berdiri di tengah koridor dengan mencengkram tas mewahnya di tangan kanan. Pikirannya benar-benar kalut, ketakutannya yang sekarang adalah mengingat perkataan Evashya ketika anak itu menemukan ikat rambut lucu di apartmen milik Dax.
Dax tak bisa berkata apapun, salah tingkah, kaku, panas, berkeringat, dan juga dingin, semua campur aduk menjadi satu.
"Kau bersekolah di Hill School? Sudah siang seharusnya kau cepat bergegas daripada terlambat." Kata Laura berusaha untuk menahan diri dan penuh dengan ketenangan.
Setelah Isyana menundukkam kepala, gadis itu berlari pergi hingga menimbulkam suara hentakan sepatu di koridor tersebut.
__ADS_1
"Kita harus bicara..." Kata Laura.
Akhirnya apartmen Dax lah tempat mereka akan membicarakannya. Dax duduk di sofa sedangkan Laura masih berdiri bersandar di samping meja dimana foto Dax menggendong Zack serta Evashya. Laura menyedekapkan tangan, masih diam dan hanya memandangi Dax tanpa sepatah kata.
"Apa gadis itu hamil?" Tanya Laura tiba-tiba.
Dax kemudian tertawa untuk mencairkan suasana dingin itu.
"Tidak ada apapun Laura, pikiran mu terlalu jauh, dia seperti keponakanku sendiri, seperti Zack dan Evashya. Aku hanya membantu kesembuhan ibunya, dia sebatang kara dan aku bersedia membantu pengobatan ibunya itu saja."
"Kau pikir aku tidak bisa melihat dari matamu ketika kau melihatnya Dax?" Kata Laura pada kakak laki-lakinya dengan penuh keyakinan dan penekanan.
Laura menarik nafas panjang.
"Kau salah sangka Laura, aku hanya membantunya, kau tahu aku selalu teringat masa dimana aku tidak memiliki siapapun dan hanya kau yang aku cari saat itu." Kata Dax berdiri dan mendekati Laura membujuk adik perempuannya yang paling ia sayang.
"Tapi aku melihat kau sangat...."
"Aku juga memperlakukan Evashya seperti itu kan? Bahkan aku dan Evashya juga sering tidur bersama dan berpelukan, kau tidak mencurigaiku?"
"Karena pandangan dan gerakan tanganmu berbeda saat kau menyentuhnya dan saat menyentuh Evashya!" Tekan Laura.
"Sama saja Laura, lagi pula akhir-akhir ini kau terlalu over thinking. Zafran juga bercerita sekarang kau sering sakit kepala. Cobalah lebih rilex dan jangan terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan."
"Ingat, Evashya dan Zack masih sangat membutuhkanmu." Kata Dax.
"Baiklah mungkin aku terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan, aku tadi juga berniat akan periksa dan sudah ada janji dengan Dokter Leizya."
"Suruh Leizya datang ke mansion, apa perlu aku mengantarmu pulang?" Tanya Dax.
"Tidak, aku bisa..." Kata Laura tersenyum.
Kemudian Laura masuk ke dalam lift dan turun dari apartmen. Dax melambaikan tangan dan tersenyum. Setelah lift tertutup dan turun terlihat Dax hanya berkacak pinggang dan melenguhkan nafasnya.
Laura melesat kembali ke Mansion, setelah sampai ia memanggil beberapa orang pengawal untuk melacak dan mencari tahu apa yang sebenarnya Dax lakukan akhir-akhir ini.
Laura tidak begitu saja percaya dengan ucapan Dax, pria itu berubah, sikapnya berubah, Dax paling tidak bisa membohonginya, pandangan matanya ketika mereka saling berbicara sudah menunjukkan ada sesuatu yang sedang Dax sembunyikan.
****
__ADS_1
Hill School...
Isabella membawa beberapa buku dari kelas dan akan mengembalikannya lagi ke perpustakaan, sekarang adalah tugas piketnya, seharusnya ada seorang lagi yang membantunya namun seperti biasa Isabella selalu melakukannya sendirian. Hal itu sudah biasa ia lakukan, ia sudah hafal dengan sifat dan sikap para anak konglomerat kepadanya.
Ketika Isabella membawa beberapa tumpuk buku hingga menjulang tinggi di atas wajahnya, beberapa anak yang sedang mengobrol di koridor menjulurkan kaki mereka dan sontak membuat Isabella terjatuh.
Buku-buku tebal itu pun berhamburan di lantai tepat di depan wajah Isabella yang juga terjatuh, lutut Isabella terluka dan berdarah.
"Kalau jalan pakai mata, stupid..." Ucap Fay tertawa dan bersandar di dinding koridor dengan menyedekapkan tangannya.
Sedangkan seperti biasa gerombolannya yang terdiri dari Sezi dan juga teman-teman lainnya hanya tertawa melihat Isabella jatuh dengan buku-buku berserakan di depannya.
Tak berapa lama Zack datang dari depan, dan Isabella mendongak melihat Zack, namun pria itu hanya melewatinya tanpa sepatah kata. Biasanya Zack akan membantunya ketika ia di bully, namun kali ini Zack justru acuh dan malas. Zack berlenggang pergi tanpa melihat sedikitpun ke arah Isabella yang masih tersungkur di lantai.
Isabella pun menelan ludahnya, ia segera mengemasi buku-bukunya dan mengangkatnya dengan segera untuk di kembalikan ke perpustakaan.
Dengan tertatih karena lututnya yang berdarah Isabella kemudian menaruh buku-buku itu di atas meja seorang gadis yang memakai seragam Hill School dan sedang merangkap catatan daftar buku, tak lain dan tak bukan ia adalah Isyana Aubrey.
"Lelahnya..." Kata Isabella mendenguskan nafasnya. Isabella bernafas dengan terengah.
"Ku rasa ada satu buku yang rusak sampulnya, tadi sempat terjatuh di lantai." Kata Isabella.
"Apa anak-anak itu mengganggumu lagi..." Tanya Isyana mendongakkan wajahnya.
"Hm... Seperti biasa." Isabella hanya tersenyum.
"Astaga, lutut mu berdarah! Tunggu sebentar." Kata Isyana sembari berdiri dan menuju loker.
Isyana mengambil tas nya dan mengeluarkan sekotak P3K, lalu berjongkok dan membalut luka Isabella dengan plester.
"Semoga tidak berbekas di lutut mu." Kata Isyana.
"Aku tidak terlalu memikirkan itu." Isabella mengangkat ujung bibirnya pertanda hal yang wajar dan biasa.
"Dimana gantungan boneka saljun mu " Tanya Isabella meraih tas milik Isyana.
"Ah... Mungkin terjatuh sewaktu aku naik bus tadi." Kata Isyana duduk sembari cemberut.
__ADS_1
~bersambung~