Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
-EPISODE 59-


__ADS_3

Ditempat yang lain Arnold dan Gaby menjadi tahanan rumah, dan Mansion hanya berisi tentang pertengkaran serta perdebatan yang kian panas.


Saat itu Gaby juga sedang mengandung di usia yang sama dengan Laura. Namun hidup nya tak pernah damai meski hanya sedetik.


Orang tua Arnold yang masih berada di New Zealand merasa sangat kecewa bahwa anaknya menikahi wanita yang tak lebih dari seorang pel*cur dan penghisap harta. Mereka sebagai ketua dewan memecat Arnold sebagai presdir, dan posisi nya di gantikan oleh orang lain yang sudah di tunjuk ayahnya.


"BRAAKK!!!"


Terdengar pintu di tutup dengan sangat keras membuat para pelayan terkejut hingga tubuh mereka berjinjit.


"Biarkan dia mengurung dirinya di dalam kamar, dasar wanita tidak berguna!!! Jangan ada yang berani memberinya makanan atau kalian semua akan ku pecat!!!


Kata Arnold.


"Ta-tapi Nona Gaby sedang hamil tuan..."


Kata seorang kepala pelayan.


"Perset*n!!!"


Umpat Arnold dengan keras.


Di dalam kamar Gaby sangat marah dengan semua sikap Arnold yang tidak pernah menghargainya. Pria itu selalu menyalahkannya dan mengungkit-ungkit masalah tentang masa lalu.


"AAAAARRGHHHH!!!!"


"AAARRGGGHH!!!"


Gaby berteriak-teriak melepaskan semua emosinya, kemudian membanting dan memporak porandakan isi kamarnya.


Membuang lampu yang ada di atas meja, membuang bantal, selimut, membuang semua perlengkapan riasnya, memecahkan guci bahkan memukul kaca dengan kursi.


Gaby menangis meraung dan mengacak-acak rambutnya. Wanita itu sangat tertekan, tersiksa serta depresi. Tangisannya sangat memilukan, suaranya keras dan membuat para pelayan merasa merinding.


"AKU MEMBENCI KALIAN SEMUAA....!!!"


"AKU BENCI KALIAANN!!!"


Gaby berteriak-teriak dan menangis, suaranya menggeram seperti macan betina yang dalam kemarahan.


Arnold berada di ruang kerja, memilih untuk menyendir, ia duduk di kursi dan menyandarkan kepalanya, pria itu menutupi matanya dengan lengannya seolah ingin sejenak menenangkan pikirannya karena merasa sangat lelah.


Terdengar ketukan pintu dan itu adalah Dude.


"Ada apa?"


Kata Arnold.


"Hari ini ada 2 perusahaan lagi yang di nyatakan tutup tuan, karena semua investor menarik pesanan batu bara mereka, tapi tuan Zafran mengakuisisi perusahaan-perusahaan tersebut."


Kata Dude.


"Biarkan saja, aku sudah muak."


Arnold sudah cukup lelah dan malas mendengar kabar perusahaannya perlahan meredup, dan Zafran mengakuisisi perusahaan-perusahaan itu.


"Apa saja yang presdir baru itu kerjakan, dasar sampah!!!"

__ADS_1


"Tuan, sebaiknya kita pergi ke luar negeri setelah masa tahanan anda selesai."


"Masih sangat lama, dan aku sudah sangat muak dengan Gaby."


"Saya akan menyuntik nona Gaby dengan obat penenang."


Kata Dude dan siap pergi.


"Jangan lakukan itu, setidaknya ada nyawa lain yang mewarisi darahku."


Arnold berdiri dan pergi menuju kamarnya sendiri.


Sebagai tahanan rumah Arnold tidak di ijinkan pergi kemana pun, hukuman itu diringankan mengingat Arnold juga telah memberikan kontribusinya pada negara, apalagi orang tua Arnold juga memiliki relasi di pemerintahan.


***


~beberapa bulan kemudian


Bulan demi bulan terus berganti, perut Laura semakin membesar, tidurnya sudah mulai sering tidak nyaman, sebentar-sebentar miring ke kiri dan sebentar sebentar lagi memiringkan tubuhnya ke kanan.


Terkadang juga uring-uringan sendiri, tak jarang Zafran juga menjadi tempat pelampiasan kekesalan Laura.


Tapi Zafran dengan sabar dan telaten menemani istrinya, hingga tak jarang pula ia juga harus begadang, pernah juga sewaktu-waktu Laura menginginkan tidur sendirian di atas ranjang, ia melebarkan kaki dan tangannya, terlentang sesuka hatinya.


Ranjang itu sangat besar tapi ada kalanya Laura merasa sumpek dan risih dengan pelukan Zafran,  yang paling ketara Laura semakin sering kesal dengan Zafran.


Sedikir sedikit marah dengan sikap Zafran yang tidak sesuai keinginannya, pahadal itu hal yang biasa yang sering mereka lakukan.


Hari pemeriksaan rutin tiba, kehamilan Laura sudah menginjak umur 8 bulan.


Zafran membantu Laura untuk berbaring di atas ranjang, sedangkan Leizya mulai memeriksanya.


Dengan perasaan bahagia Zafran menciumi tangan istrinya dan mereka saling memandang satu sama lain, pasangan yang sangat bahagia apalagi sebentar lagi anak mereka akan lahir ke dunia.


"Bisakah kita bicara Zafran..."


Kata Leizya tiba-tiba, sembari memegangi tengkuknya.


Laura mengernyitkan dahinya, ini adalah pertama kalinya Leizya meminta berbicara berdua saja dengan Zafran.


"Tidak apa aku akan tunggu di luar..."


Kata Laura bangun dan Zafran membantu istrinya.


Setelah terlihat Laura pergi neninggalkan ruangan, Leizya kemudan berbicara dengan Zafran.


"Ada sesuatu yang terjadi dengan bayinya.."


Kata Leizya pada Zafran dengan mimik wajah yang sangat menyesal.


"Apa maksudmu..."


Kata Zafran, wajahnya menegang, tiba-tiba nafasnya berlomba dengan detik jam dinding yang berbunyi.


"Bayi nya harus di keluarkan atau tubuh Laura tidak bisa menahannya lagi.."


Bibir Leizya bergetar, tidak mampu mengatakan nya lebih lanjut.

__ADS_1


"Jangan berbelit-belit dan berputar-putar..."


Zafran mulai geram dan tidak sabar, tangannya mengepal di atas meja.


"Obat yang pernah masuk ke dalam tubuh Laura, ternyata masih memberikan efek sampingnya, dan itu muncul pada bayi nya."


"Apa..!!!"


"Perkembangan bayi Laura terlalu pesat, dan sepertinya membuat bayi itu menjadi terlalu aktif, mungkin Laura juga merasakannya, bahwa bayi itu benar-benar tidak berhenti bergerak dan sangat keras gerakannya, dengan tubuh Laura yang kecil... Sedangkan bayi itu semakin membesar... Kurasa kita harus mengeluarkannya sebelum hari persalinan."


Kata Leizya kemudian langsung pada kesimpulannya.


"Apa bayi nya baik-baik saja?"


"Bayinya baik-baik saja, hanya tubuh Laura semakin lemah."


Leizya memperlihatkan foto-foto USG dan rangkuman kesehatan Laura yang semakin menurun.


"Apa ada keluhan lain saat kau bersamannya?"


"Dia hanya selalu berkata bahwa tubuhnya lemas, pusing dan masih muntah, tapi perut nya memang sangat besar, ku pikir itu hal yang wajar."


"Di usinya yang ke delapan bulan seharusnya dia sudah memiliki ***** makan yang lebih dan tidak lagi merasakan mual."


"Aku akan memberitahukan ini pada Laura perlahan, tapi tidak hari ini, berikan aku waktu."


"Hm... Jangan terlalu lama, dan pastikan dia tidak mengalami depresi itu akan membuat bayinya semakin hyperaktif."


Zafran pergi meninggalkan ruangan Leizya, menyadari bahwa pintu tidak di tutup dengan sempurna dan melihat Laura berdiri, pastilah istrinya sudah mendengar semuanya.


"Sayang.."


Zafran terpaku entah harus mengatakan apa pada istrinya.


"Aku sudah mendengarnya... Aku rasa ada sesuatu yang kalian akan tutupi dariku... Karena Dokter Leizya..."


Kata Laura menitikan air matanya, dan menghentikan kalimatnya tidak kuat menahan sakit di dadanya.


Leizya kemudian berdiri menghampiri mereka, dan menenangkan Laura yang berada dalam pelukan Zafran, menangis dan takut.


"Tidak apa-apa Laura, bayi nya sehat, hanya saja jauh lebih aktif, tapi kesehatan tubuhmu terus menurun."


Kata Leizya."


"Aku tidak ingin kehilangan dia..."


Kata Laura menangis di dada Zafran.


"Aku juga tidak akan mengijinkan Tuhan mengambilnya, dokter akan menyelamatkan dia, dan menyelamat kan kau juga. Aku harus tetap memiliki kalian berdua."


Kata Zafran menenangkan istrinya, meski hatinya juga di selimuti kekhawatiran dan ketakutan.


.


.


.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2