Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Evashya menatap Isabella lekat-lekat ketika Isabella sedang menuliskan beberapa soal.


Kemudian Isabella mengambil sebuah ikat rambut di dalam kotak alat tulisnya dan mengikat rambutnya.




Evashya masih melihat dengan mengernyitkan dahi dan matanya, sembari menggigit-gigit pensilnya.


"Dimana aku pernah melihatnya..." Batin Evashya dengan menggigit pensilnya.


Evashya semakin kesal karena ia sering kali melupakan sesuatu, ia masih menyandarkan punggungnya di kursi lucu miliknya yang berwarna pink dan menggigit-gigit pensil sembari tangan satu sedekap dan tangan lainnya bertumpu, memainkan pensilnya.


"Aaarrggg!!!" Kesal Evashya sembari mengacak-acak rambutnya.


Seketika membuat Isabella terlonjak kaget.


"Ada apa..." Tanya Isabella menatap lekat Evashya.


"Aku ingat..." Kata Evashya sedikit melotot pada Isabella.


"Ingat?"


"Iya... Itu kau..." Kata Evashya kemudian.


"Aku? Kenapa?"


"Ah... Maksud ku sudah waktunya pulang, kau tidak pulang?" Tanya Evashya kaku.


"Oh baiklah, ini soal yang kemungkinan besok keluar." Kata Isabella pada Evashya sembari menyerahkan kertas nya.


"Oke." Jawab Evashya tersenyum.


Setelah Isabella mengemasi barangnya dan turun Evashya membuka ponselnya untuk melihat ikat kuncir yang sudah ia ingat.


Sedangkan Isabella berjalan menuruni tangga untuk pulang, namun tak berapa lama Zack menyusulnya dari belakang.


"Zack mau kemana?" Kata Laura yang sedang menyiapkan makan malam.


"Mau pergi sebentar..." Sahut Zack.


"Isabella kau makan malam di sini kan?"


"Terimakasih Nyonya, saya harus segera pulang..."


"Baiklah bawa ini untuk di makan di rumah, Zack kalau searah kau bisa mengantar Isabella pulang?" Kata Laura.


Zack pun sedikit menyeringaikan senyumnya.


"Itulah yang ku tunggu dari mu ibu..."


"Hmm... Mungkin bisa." Jawab Zack.


"Baiklah hati-hati, pastikan Isabella sampai dengan selamat."


Zack tersenyum pada ibunya dan berlenggang pergi di susul Isabella.


Mobil pun melaju sedikit lamban, Zack menikmati perjalanan mereka dimana jalan sudah sedikit lengang, meski begitu dalam perjalanan tidak ada obrolan apapun dari mereka.

__ADS_1


Setelah sampai di depan panti asuhan, Zack kemudian membuka obrolan.


"Jangan lupa besok pagi." Kata Zack mengingatkan.


"Ta... Tapi aku tidak bisa menunggang kuda."


"Tunggu saja di sini aku akan menjemputmu, aku akan mengajari mu bagaimana caranya berkuda."


"Baiklah..."


Mereka hanya saling pandang, dan saling menatap, Isabella tersipu dan wajahnya memerah, sedangkan Zack sedikit merekahkan senyumnya.


"Terimakasih untuk sweater ini..." Kata Isabella pelan.


"Ya..." Sahut Zack pelan pula hampir berbisik.


"A... Aku akan turun..." Kata Isabella.


Mereka masih saling memandang dan menatap satu sama lain.


"Hm..." Jawab Zack sedikit serak.


Isabella pun siap untuk turun namun Zack menarik lengan Isabella, membuat gadis itu kembali menatap Zack. Kali ini wajah mereka jauh lebih dekat.


Zack semakin mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan semakin ingin mendekatkan bibirnya pada Isabella.


Hanya tinggal beberapa inci Zack dapat mencium bibir Isabella namun Isabella secara pelan menarik diri, ia mundur dengan pelan membuat Zack pun juga mengurungkan niatnya dan mengerti ia pun juga tersenyum.


"Sampai jumpa besok pagi..." Kata Isabella dan kemudian keluar dari mobil.


Isabella tersenyum sebelum menutup pintu mobil dan di balas senyuman Zack, yang kemudian Zack memutar mobilnya, menekan gas dan melaju melesat meninggalkan Isabella yang masih berdiri mematung dengan jantung yang berdebar.


"Astaga muka ku pasti merah sekali... Aku malu sekali..." Kata Isabella menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan pergi berlari memasuki gerbang panti.


Sesampainya di Mansion, Evashya sudah menunggu Zack dengan mondar-mandir di halaman. Zack memasukkan kembali mobilnya ke garasi dan memarkir mobilnya berderet dengan mobil lainnya, setelah mematikan mesin Zack keluar sedang Evashya langsung menyusul Zack dengan berlari.


"Kakak... !!!" Teriak Evashya.


"Hm...


"Aku tahu siapa yang menjadi gunjingan di forum grup chat..." Kata Evashya melotot.


"Siapa?" Tanya Zack masih sibuk menutup mobil ferrarinya.


"Isabella..." Bisik Evashya.


Zack pun langsung terkejut melihat Evashya dan melotot.


"Kuncir rambutnya sama seperti yang ada di foto. lihat ini... Sepatu dan tas nya juga dari siswi Hill School jalur beasiswa ada logo nya sendiri, lalu perawakannya juga. Meski dari belakang namun tubuh mereka sangat mirip. Lalu aku ingat Isabella juga memiliki gantungan seperti ini, boneka salju tapi tadi aku lihat gantungan itu sudah tidak ada."


Zack kemudian menyembunyikan kunci mobilnya, lalu memasukkan nya ke dalam saku jamper.


"Jangan terlalu berfikir hal yang tidak berguna..." Kata Zack membelai kepala adiknya.


"Zack...!!!" Kesal Evashya karena merasa hipotesisnya di remehkan dan tisak di tanggapi dengan serius.


Zack pun masuk ke dalam mansion dan masuk ke dalam kamarnya, dan melepaskan jampernya.


"Anehnya, aku ingat ikat kuncir itu sama persis dengan yang aku temukan di kamar mandi paman Dax, saat aku menemukan ikat rambut itu pun aku sudah merasa aku mengenalnya aku tidak asing dengan ikat rambut itu dan foto yang ada di forum itu juga menuju apartmen Pierre Tower milik paman Dax!"

__ADS_1


Zack mulai gelisah dan kemudian mencubit pipi sang adik.


"Kau mau jadi detektif... Hmm...?"


"Zack percayalah padaku..." Rengek Evashya.


"Lalu harus bagaimana..."


"Aku tidak mau tutor ku orang yang seperti itu, aku juga tidak mau Paman Dax bermain dengan tutorku, dia Isabella. Bagaimana bisa Isabella tanpa memiliki rasa malu dan bersikap tenang seperti itu. Jangan-jangan mereka sudah tidur bersama!!!"


Evashya berteriak dan memeluk dirinya sendiri, ia bergirik ngeri, seluruh tubuhnya terasa merinding, lalu melepas sendal bulu nya dan naik ke atas ranjang Zack mengubur dirinya ke dalam selimut tebal berwarna biru navy.


Zack hanya bisa menghela nafas dan membuka selimut itu.


"Keluar dan tidur di kamar mu sendiri..."


Evashya menggelengkan kepala dan cemberut.


Zack pun merebahkan diri dan masuk ke dalam selimut bersama Evashya.


"Dia bukan Isabella..." Kata Zack.


"Benarkah? Kau tahu dari mana itu bukanlah Isabella, semua dugaanku mengarah semuanya pada Isabella." Kata Evashya melotot.


"Mungkin aku tahu siapa orangnya tapi percayalah itu bukan Isabella." Kata Zack.


"Lalu siapa?"


"Kalau sudah pasti aku akan memberitahumu. Tapi percayalah padaku, dia bukan Isabella." Kata Zack memeluk Evashya dan mencium punuk kepala adiknya.


Evashya melenguh membuang nafasnya.


"Belajarlah yang rajin, aku lihat nilai mu juga meningkat semenjak Isabella menjadi tutormu, aku tidak mau adikku tinggal kelas dan membuat semua orang tahu bahwa sebenarnya kau memang bodoh."


"Zaackkk...!!!" Teriak Evashya kemudian duduk di depan Zack.


"Makanya belajar lah serajin mungkin, dan aku tidak akan memanggilmu si bodoh lagi." Zack tertawa.


Evashya pun memukul Zack membuat Jamper yang Zack taruh di atas ranjang tergeletak ke lantai membuat kunci mobil nya terlempar keluar.


Suara kunci yang terlempar membuat Evashya sontak melihat kunci mobil itu dan memiliki gantungan boneka salju mirip dengan punya Isabella, dengan langkah cepat melewati Zack ia pun mengambilnya.


Zack duduk dan dengan cepat mengambil kunci itu dari tangan Evashya.


"Zack..." Kata Evashya hanya berdiri di lantai dengan kaku dan tak percaya.


"Aku membelinya dan memakainya. Itu saja. Banyak yang memiliki gantungan seperti ini, apalagi hanya membelinya di penjual kaki lima."


"Ada inisial nama Isabella di belakang boneka itu." Sahut Evashya.


"Benarkah..."


"Kau dan Isabella?"


"Tidak ada bodoh!!! Aku menemukannya di kelas dan ku pakai itu saja. Jangan berfikir yang tidak-tidak dan jangan menanyakan sesuatu yang aneh, kasihani otak mu ini nanti meletus dan pusing."


Zack mendorong Evashya keluar dari kamarnya dan menutup pintu, kemudian Zack melenguhkan nafas. Sedangkan Evashy masih mematung di depan pintu kamar kakaknya.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2