Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Zafran sedang bermain golf dengan seorang relasi nya dari Turkey, dan mereka sedang berbincang sesuatu yang terlihat cukup serius.


"Aku hargai tapi aku belum memiliki rencana sejauh itu, aku sedang memikirkan sesuatu yang lebih baik bersama istriku, aku ingin lebih menikmati masa tua ku dengan tenang dan nyaman Emir." Sahut Zafran.


Emir pun tersenyum oenuh rasa kekecewaan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, matahari kian turun dan makan malam akan segera datang.


"Kau mau makan malam di mansion?" Zafran memberikan tawarannya.


"Tidak terimakasih." Kata Emir tersenyum.


Saat itu Zafran memakai baju berkerah putih dengan topi yang membuat Zafran semakin tampan.


Seorang Caddy golf menatap intens tubuh dan wajah Zafran.


"Tuan apa anda akan minum lebih dulu sebelum pulang?"


"Tidak, aku harus segera pulang, istri ku sudah menunggu." Sahut Zafran dan berlenggang pergi.


Mobil Zafran melaju dengan kecepatan yang cukup normal dengan Stark juga duduk di samping sang sopir.


"Nona Evashya bertemu dengan Mike Bacelo siang ini tuan." Kata Stark memberi tahu pada Zafran dengan sedikit menengokkan tubuh dan kepala.


"Kau sudah kehilangan kekuatan Stark? Kenapa mengurus satu tikus saja kau tidak bisa." Ucap Zafran.


"Maafkan saya tuan, ada yang melindunginya." Guman Stark.


"Cari tahu dan bereskan semuanya." Sahut Zafran melihat ke arah jendela.


Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu lama, Zafran sampai di mansion tepat bersamaan dengan anak-anaknya.


Mereka saling menatap.


"Apa kalian tidak menyapa ayah?" Tanya Zafran tersenyum.


Evashya pun tersenyum canggung dan memeluk ayahnya serta Zack juga datang menghadap, mereka masih di halaman Lobby.


"Kalian mandi dan harus makan malam." Ajak Zafran.


Tanpa banyak kata mereka menuruti perintah sang ayah, bahkan saat makan malam pun ruang makan dan meja makan terlihat sangat kaku dan penuh keheningan.

__ADS_1


"Tumben kita makan dengan tidak banyak suara, biasanya kalian sangat berisik." Tanya Zafran meminum jus jeruknya.


Evashya yang kala itu juga sedang minum melirikkan matanya ke arah Zack.


"Aku banyak tugas dan sedikit tertekan." Kata Zack mencari alasan.


"A-Aku juga sedang malas ayah, seharian di sekolah juga banyak sekali pelajaran dan tugas. Aduh... Aku sangat lelah aku harus tidur lebih cepat, untung hari ini tutorku libur." Kata Evashya canggung dan berpamitan.


Setelah Evashya naik Zack pun ikut berpamitan dan juga ikut naik.


"Apa ada sesuatu yang mereka sembunyikan?" Tanya Zafran pada Laura.


"Mungkin saja memang mereka sedang lelah." Sahut Laura tersenyum dan menepuk punggung tangan Zafran dengan lembut.


"Hanya saja perubahan sikap mereka sangat mencolok, mereka terlihat sangat hati-hati dan terlihat takut padaku."


"Apa kau juga sedang lelah sayang?" Tanya Laura.


Zafran pun berfikir sejenak mungkin justru ia yang sedang lelah.


"Baiklah aku istirahat saja. Jangan terlalu lama membereskan ini semua dan cepat naik, temani aku." Peringat Zafran pada Laura dengan mencubit hidung Laura.


"Iya sayang..."


Zafran kemudian berjalan dan menuju balkon menikmati angin malam saat itu.


Laura pun yang sudah menyelesaikan pekerjaannya masuk dan mulai mendekati suaminya, kemudian ia memeluk Zafran dari belakang dan menempelkan kepalanya di punggung Zafran.


"Apa kita pergi saja Zafran, hidup dengan tenang di suatu desa terpencil, hanya ada keluarga kita dan jauh dari hiruk pikik ini." Kata Laura.


"Hm... Aku juga sedang memikirkan itu."


Zafran menaruh gelas whiskey nya dan kemudian mengambil tubuh Laura ke sisi kanan untuk memeluk dan mencium punuk kepala Laura.


"Aku sedang memikirkan kita menjalani hidup yang damai di sebuah rumah kecil yang segar, dengan udara yang sejuk, dan sesekali merawat kebun-kebun kita. Bagaimana apa ide ku bagus?" Tanya Zafran.


"Aku sangat setuju, tapi bagaimana anak-anak."


"Hm... Mereka bisa Home Schooling."


"Tapi jika mereka tak mau?" Tanya Laura.

__ADS_1


"Kita tidak bisa memaksa." Zafran menaikkan kedua bahunya


"Ku pikir semua pengawal di sini akan cukup melindungi mereka, dan kita bisa memantaunya dari rumah kecil kita."


"Aku ingin itu." Kata Laura.


"Baiklah, aku akan mencarikan lahan yang luas dan membuatkan istana kecil untuk mu." Kecup Zafran di kening Laura.


"Drtt... Drrrtt..." Ponsel Zafran bergetar.


Zafran melihat ponselnya dan sebuah pesan pun ia baca.


Raut wajah Zafran menegang dan mengerut.


"Apa ada masalah?" Tanya Laura.


"Sepertinya aku harus lebih cepat mengajari Zack untuk memimpin perusahaan." Sahut Zafran.


"Kenapa?"


"Sudah waktunya Zack menggantikanku, aku sudah cukup lelah dengan semua orang yang selalu saja mengusik hari tenangku bersama istriku." Sahut Zafran tersenyum dan mencium bibir Laura.


Ciuman itu begitu mesra dan cukup lama, mereka saling memagut, hingga tangan Zafran meraba tubuh Laura dengan pelan.


"Drrt... Drrt..."


"Drrt... Drrtt..."


"Drrt... Drrtt.."


Ponsel Zafran terus berbunyi, membuat Zafran pun kesal dan menarik diri dari ciumannya bersama Laura.


"Ya!" Jawab Zafran kesal dengan mengangkat ponselnya.


Sedikit banyak membuat Lauara terhenyak dengan wajah tegang dan wajah kesal Zafran yang bahkan baru pertama kali Laura melihat tekukan-tekukan garis wajah sekesal itu.


"Apa kau tidak bisa membereskannya saja?!" Kesal Zafran.


Kemudian Zafran mencium kening Laura dengan masih menempelkan ponselnya di telinga, memberikan kode bahwa ia pamit sebentar untuk berbicara karena panggilan privasi, kemudian Zafran pergi dengan langkah kaki panjang meninggalkan Laura.


"Ada apa sebenarnya, apa menyangkut Mike atau pekerjaan lain?" Tanya Laura cemas.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2