
Halo semuanya, kalo kalian bingung siapa itu ALICIA BENYAMIN, dia adalah anak Gaby dan juga Arnold. Kalian Bisa scrool di episode 62 paragraf akhir.
Maaf semuanya baru saya Up lagi novel ini, karena kemarin novel ini sudah saya Ending in baru setelah 2 bulan kemudian saya ON GOING in lagi.
Terimakasih untuk para pembaca setia, dan minggu depan akan diumumkan siapa pemenang Give Away TERJERAT CINTA PRIA MILIARDER.
***
Beberapa hari kemudian...
Para suster dan para dokter sedang sibuk memindahkan seorang pasien yang sedang koma ke ruangan VIP.
Seorang gadis berdiri dan menggenggam tangannya sendiri dengan cemas, setelah pemindahan selesai gadis itu berterimakasih pada mereka.
Isyana duduk di samping ibunya yang sudah terbaring cukup lama di ranjangnya, hingga biaya rumah sakit sangat membengkak dan Isyana harus membayar separuhnya agar mereka dapat melanjutkan perawatan.
Karena pikirannya yang bingung dan tidak tahu harus bagaimana teman dari ibunya memberikannya solusi bagaimana jika ia mencoba untuk melelang keperawannya.
"Ibu... Bagaimana, apa ruangan ini sekarang jauh lebih nyaman dari pada yang kemarin?" Tanya Isyana dengan mengenggam tangan ibunya.
"Ibu tahu? Ada orang baik dan memberikan pekerjaan untuk Isyana sebagai pembantu, tapi ibu tenang saja Isyana tetap menomor satukan sekolah, Isyana adalah anak ibu yang pantang menyerah."
"Ibu... Isyana mohon bukalah mata ibu dan lihatlah Isyana memakai seragam sekolah bangsawan, Isyana di terima dengan peringkat bagus di Hill School sekolah yang selalu ibu impikan untuk Isyana."
Isyana meneteskan air matanya tak sanggup melihat ibunya yang terpasang berbagai alat di tubuhnya hingga selang besar masuk ke dalam mulut ibunya. Monitor detektor jantung berbunyi untuk memantau kestabilan kondisi sang pasien.
Isyana kembali teringat saat dimana ibunya masih sehat dan mereka sedang mengais makanan di tepi jalan trotoal pejalan kaki, tepatnya di depan sebuah cafe. Saat itu tiba-tiba ibunya termenung dan melihat sekolah yang begitu besar. Ibunya berkata bahwa, adalah impiannya Isyana dapat bersekolah di tempat itu.
"Ibu... Isyana mohon, bukalah mata ibu... Hanya ibu yang Isyana punya di dunia ini, lihatlah betapa cantiknya anak ibu memakai seragam kebanggaan Hill School."
Isyana menangis di samping ibunya dan tak berapa lama seorang pengawal mengetuk pintu. Gadis itu mengusap air matanya dan pergi keluar.
"Saya menjemput anda Nona..." Kata sang pengawal.
"Apakah tuan Dax?" Tanya Isyana.
Sang pengawal hanya mengangguk dengan hormat.
__ADS_1
Isyana hanya menurut dan kemudian pergi dari Rumah Sakit menuju apartmen yang paling megah di pertengahan kota. Apartmen yang bangunannya menjulang paling tinggi dan kokoh.
Setelah sampai di Apartmen milik Dax, Isyana duduk di sofa. Gadis itu melepaskan tas nya namun ia masih memakai seragam sekolahnya.
"Dimana tuan Dax?" Kata Isyana pada sang pengawal.
"Tuan Dax sedang rapat, sebentar lagi akan selesai. Saya permisi." Kata sang pengawal dan pergi menggunakan lift.
Melihat apartmen sedang sepi, Isyana mulai bosan hanya duduk saja, gadis itu perlahan berdiri dan melihat ke sekeliling, melihat kitchen melihat ruangan-ruangan lain yang paling dekat dengannya berdiri.
Akhirnya, ada sesuatu yang membuat rasa penasarannya menyeruak. Isyana melihat sebuah foto, tepatnya sebuah figura kecil dengan kaca yang sudah retak.
Dax menggendong 2 orang anak kecil, yang satu mungkin sekitar umur 5 tahun berjenis kelamin laki-laki dan yang satunya mungkin sekitar 3 tahunan dan itu adalah seorang anak perempuan yang sangat menggemaskan. Isyana hanya menebaknya dalam hati dan pikirannya.
Ketika Isyana ingin menyentuh figura kecil yang ada di ruang keluarga itu, tiba-tiba ia terkejut dengan suara yang menyapanya.
"Jangan sentuh itu."
Suara yang cukup rendah dengan intonasi santai, suara itu tidak asing di telinga Isyana. Gadis itu berbalik dan benar saja.
"Tu... Tuan Dax. Maafkan saya." Kata Isyana ketakutan.
"Biar nanti pelayan yang mengurusnya." Sambung Dax lagi.
"Jadi... Apa yang kau lakukan seharian ini." Tanya Dax.
Pria itu berjalan santai mendekati Isyana, ia membuka dasi dan kancing bajunya, kemudian menggulung lengan kemejanya.
"Saya bersekolah dan, saya mengunjungi ibu saya." Kata Isyana menunduk, ia tidak tahan dengan tatapan dan wajah tampan Dax yang memandanginya.
"Hm... Apa kau suka ruangan baru yang ku berikan untuk ibumu? Dokter spesialis terbaik juga akan merawatnya dengan baik."
Dax sudah berdiri di depan Isyana dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menunduk menatap Isyana yang masih canggung di hadapannya.
"Sa... Saya suka." Jawab Isyana terbata.
Tangan Dax perlahan menarik tubuh Isyana untuk mendekat, pria itu merantai Isyana dalam dekapannya. Tubuh kekar, dada bidang, postur tubuh yang tinggi dan juga wajahnya yang tampan membuat Isyana serasa ingin pingsan.
__ADS_1
Jantung Isyana kembali meletup-letup, tubuhnya kembali merasakah getaran yang aneh. Bahkan ia sungguh malu, apakah Dax bisa mendengar hembusan nafas Isyana yang kini terasa sesak dan apakah Dax mendengar debar jantung Isyana yang begitu keras.
Dax kemudian membungkukkan tubuhnya dan mencium telinga Isyana, kemudian menggigit kecil, lidah pria itu sedikit bermain di sana sedangkan tangan kekar milik Dax masih mengunci tubuh Isyana.
"Kau membohongiku, ALICIA BENYAMIN..." Bisik Dax di telinga gadis itu.
Seketika kalimat Dax membuatnya membelalakkan mata, sungguh ia tidak memikirkan sebelumnya bahwa pengaruh dan kekuasaan Dax begitu besar, pria itu bisa saja dengan mudah mencari informasi tentang dirinya.
Isyana pikir itu hanyalah kisah satu malam tentang jual beli keperaawanan yang akan segera berakhir, sehingga ia menggunakan nama pemberian dari ibu sambungnya. Lagi pula ia pikir, nama ISYANA memang namanya sekarang, gadis itu hanya tidak ingin identitasnya yang sebenarnya di ketahui.
"Maa.. Maafkan saya... Sa..Saya tidak bermaksud saya pikir..."
Belum sempat Isyana melanjutkan kalimatnya, Dax meletakkan telunjuknya di ujung bibir mungil itu.
"Aku tidak peduli, namamu Isyana atau Alicia, aku hanya tidak mau kau menipuku lagi. Jangan ada tipuan apapun lagi, mengerti?" Kata Dax menatap mantap dan mengangkat dagu Isyana dengan telunjuknya.
Isyana hanya mengangguk dan menahan ketakutannya. Entah bagaimanapun pria itu berbicara, seolah ada magnet di dalamnya, membuatnya tidak dapat membantah dan hanya menganggukkan kepala. Dax tidak pernah berteriak atau memaki, intonasinya datar, santai namun setiap kalimatnya justru membuat orang merinding dan ketakutan.
"Ganti bajumu dan ikut makan denganku, kamar mu ada di sana." Kata Dax menujuk sebuah ruangan yang tak jauh dari mereka berdiri.
"Ba... Baik tuan."
Isyana masuk di sebuah ruangan yang di tunjukkan oleh Dax, ruangan yang cukup besar, gadis itu masuk dan membuka almari di walk in closet mengambil satu set baju dan setelah selesai gadis itu berjalan menuju ruang makan duduk bersama Dax.
Namun sebelum Isyana duduk, Dax sudah menyambar tangan Isyana untuk duduk di pangkuannya, membuat gadis itu sedikit memekik karena terkejut.
"Sebelum makan aku ingin memberikan sesuatu terlebih dulu..." Kata Dax berbisik di telinga Isyana.
"Ap... Apa itu... Tuan." Kata Isyana gagap.
Dax membuka perlahan kacing blues milik Isyana, dan sebuah gunung menyembul dengan sempurna, tubuh Isyana ramping namun juga cukup berisi.
"Aku ingin memberikan ini..." Dax kemudian menyesap bagian atas salah satu gunung mulus yang sudah menyembul.
Pria itu menyesap perlahan dan memberikan tanda merah di sana. Tangan kekarnya mencengkram pinggul dan punggung Isyana.
Sedangkan Isyana dengan reflek memegang kepala Dax dan mencengkram tengkuk pria itu dengan jari-jarinya, gadis itu melenguh melepaskan ******* yang nyaring di telinga Dax.
__ADS_1
\~bersambung\~