
Isyana kemudian menceritakan pada Dax kondisi ibunya yang sedang di rawat di rumah sakit karena penyakit kanker yang di deritanya.
"Aku akan membiayai pengobatan ibumu..." Kata Dax.
Isyana terhenyak, kemudian mendongakkan wajahnya pada Dax, pria tampan yang memiliki garis wajah dan rahang yang kuat dan gadis itu menelan ludahnya dengan kasar, dengan cepat Isyana mengagumi sosok Dax yang baik, tampan, dan juga pembawaan pria itu sangat dewasa.
"Ke... Kenapa anda membantu saya?" Tanya Isyana.
"Hmmm..." Dax melengkungkan bibirnya, mencari alasan yang tepat.
"Entahlah, mungkin karena kau mirip dengan keponakanku, dan kau harus berjuang sendirian, sedangkan keponakanku semua yang ia ingin kan selalu terpenuhi."
"Lalu anda menginginkan apa dari saya tuan?" Tanya Isyana, gadis itu tidak akan berfikir naif.
Seorang pebisnis dan apalagi pria kaya raya pasti selalu memiliki sesuatu yang di incarnya hingga pria itu harus merogoh uang yang tidak sedikit. Apalagi pria itu berniat memberikan pengobatan dan perawatan untuk ibunya yang sangat tidak murah.
"Apalagi jika bukan keperawananmu... Kau menawarkan itu dan aku membelinya." Kata Dax menyusuri leher jenjang Isyana dengan telunjuknya.
"Ke... Kenapa tidak sekarang tuan..." Tanya Isyana sembari memejam kan mata, karena sentuhan Dax terus turun.
"Dan aku terlihat sedang berhubungan dengan keponakanku sendiri? Kau masih sangat terlihat seperti anak kecil yang lebih cocok memanggilku dengan sebutan paman."
Dax mengangkat dagu milik Isyana dan menggerakkan ke kiri dan ke kanan, sembari memandang dan mengamati baik-baik wajah Isyana, dengan penilaian Dax yang sangat teliti.
"Ibu mu, akan di tempat kan di ruangan yang terbaik, dengan perawatan kelas satu, jika sampai keperawananmu hilang sebelum aku mengambilnya, kau akan menjadi budak ku untuk selamanya, apa kau menerimanya?"
"Saya mengerti, dan menerimanya!" Kata Isyana dengan mantap tanpa berfikir lebih dulu.
Gadis itu sudah sangat putus asa yang lebih penting dari sekedar keperawanan adalah sang ibu, keluarga satu-satunya yang ia miliki saat ini.
Dax tersenyum puas.
"Jangan coba-coba menipuku atau ibu mu yang akan menerima akibatnya, segala gerak-gerik mu juga akan di awasi."
"Baik tuan, saya mengerti."
Dax mendekatkan tubuhnya pada Isyana dan mengangkat tubuh mungil itu ke dalam pangkuannya, kemudian mengangkat alisnya pada Isyana, mengamati baik-baik wajah yang bersemu merah, wajah polos yang masih suci. Isyana memang memiliki paras yang cantik dengan hidung mancung.
"Te... terima kasih banyak sudah membantu saya." Isyana gugup dengan tatapan Dax.
__ADS_1
Wajah tampan Dax seketika menghentakkan hatinya hingga membuat jantungnya berdebar sangat kencang seperti nuklir yang siap meluncur atau seperti kembang api yang meledak-ledak di langit.
"Dan setiap saat ketika aku memanggilmu kau harus datang, apapun yang sedang kau lakukan, aku tidak peduli."
"Baik tuan, saya mengerti dan akan selalu saya ingat."
"Yang paling penting, jangan pernah mendekati pria manapun." Dax mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka yang mancung saling bersentuhan.
"Sa... Saya mengerti tuan."
"Jika kau ingin berterima kasih pada ku, lakukan dengan benar." Dax menyeringai dan mulai ingin menggoda gadis kecilnya.
Kemudian dengan polosnya Isyana mencium pipi dan dahi Dax, membuat pria itu tertawa, suaranya menggema di seluruh ruangan.
"Kenapa tuan..." Isyana bertanya dengan cemas.
"Tidak apa-apa aku akan tunjukkan padamu bagaimana caranya bermain-main dan sedikit pengenalan tentang pemanasan."
Dax mengangkat tubuh Isyana dan membaringkannya di ranjang besar nya yang mewah.
Malam itu adalah malam dimana pertama kalinya di umur yang belum genap berusia 17tahun, Isyana merasakan sesuatu yang lain. Malam dimana suara-suara indah dan merdu milik Isyana pertama kali menggema di seluruh ruangan Apartmen milik Dax.
Bahkan Isyana sendiri tidak percaya suaranya begitu keras laksana ****** yang tak pernah terjamah oleh siapapun. Seperti ****** yang kekeringan di padang pasir tandus dan seketika mendapat air untuk membasahi kerongkongannya.
Sedangkan Isyana tahu, dirinya sudah tenggelam dalam jurang yang dalam dan tidak akan pernah bisa naik lagi kepermukaan.
Dax tersenyum dalam kepuasan ketika melihat gadis kecilnya terbalut selimut yang menutupi tubuh mungil nya, pria itu kini berdiri di depan jendela besarnya dan menikmati alkohol.
Dax hanya memakai celana panjang dan bertelanjang dada, pria itu benar-benar mengagumi bangunan strategis di tengah kota yang memperlihatkan lampu-lampu di bawah sana.
Bangunan kuat yang kokoh dan megah itu di miliki oleh Dax Kennedy, pria paruh baya berkebangsaan Amerika dan kini pria itu masih menetap di Inggris. Dax memiliki perusahaan kontraktor paling ternama di seluruh dunia.
Apartmen Pierre Tower 6:00 a.m.
Isyana menggeliatkan tubuhnya, merasa sangat tertekan dengan sesuatu yang sungguh berat menimpa tubuhnya. Gadis itu perlahan membuka mata dan terlihat pria berwajah tampan tidur dengan memeluknya.
Mengingat rekaman demi rekaman di otaknya mulai dari dirinya menaiki tangga panggung hingga ia berada dalam dekapan sang penguasa dunia dan pria miliarder yang penuh dengan pesona.
Isyana menggigit kecil bibirnya dan tersenyum, belum pernah ia merasakan perasaan seperti ini, entah ia di beli atau entah ia menjadi simpanan pria dewasa namun yang ia rasakan sekarang adalah ketenangan. Ketenangan bahwa ibunya akan mendapatkan perawatan yang terbaik, dan yang ada di pikiran Isyana adalah taat pada aturan hingga peraturan itu selesai.
__ADS_1
"Apa kau sudah tidak bersekolah?" Tanya Dax kemudian masih memeluk gadis kecilnya.
"Ma... Masih... Saya bersekolah di Hill School." Jawab Isyana malu.
Dax membuka matanya dengan cepat namun tangan kekarnya masih memeluk tubuh gadis mungil itu, dagunya berada di punuk kepala Isyana, sedang wajah Isyana tenggelam di dada bidang milik Dax.
"Bukankah itu sekolah para bangsawan?"
"Ya tuan... Saya mendapatkan beasiswa di sana."
"Itu adalah sekolah Zack dan Evashya juga." Batin Dax.
"Hmmm... Berarti kau siswi berprestasi bisa mendobrak tembok raksasa Hill School bahkan dengan beasiswa."
"Sa... Saya berusaha dengan sangat keras agar mendapatkan beasiswa itu, setiap hari saya mengunjungi perpustakaan umum dan belajar di sana... Maafkan saya tuan, saya harus pulang dan berangkat sekolah."
"Aku akan mengantarmu."
"Tap... Tapi seragam saya masih ada di rumah."
"Selagi kau mandi, pengawal akan mengambilkannya untukmu, berikan alamat rumah mu dan biarkan aku memberikan perintah pada mereka." Dax bangun dan duduk di tepi ranjang, mengambil ponselnya yang berada di meja tak jauh dari ranjang besarnya.
Isyana melihat punggung kekar milik Dax dari belakang, ketika Dax bergerak punggung berotot itu juga ikut bergerak. Isyana kemudian memberitahukan alamat rumahnya dan membuat Dax mengernyitkan dahi.
"Kau tinggal di kawasan kumuh?" Tanya Dax yang menghentikan jarinya untuk mengetik sesuatu di ponselnya.
Isyana mengangguk.
"Bagi saya itu adalah tempat terbaik yang kami miliki, daripada tidur dan hidup di jalanan."
"Mandilah, aku akan mengurus sisanya." Dax kemudian berdiri dan menelfon seseorang.
Sedangkan Isyana beranjak pergi ke kamar mandi mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower. Gadis itu benar-benar tenggelam dalam kemewahan yang Dax suguhkan di apartmen bernuansa modern.
Setelah cukup lama Isyana mandi, gadis itu keluar dengan handuk kimono dan melihat seragam sekolah yang sudah rapi di atas sofa. Namun seragam itu bukan miliknya.
"Tuan... Ini bukan seragam milik saya." Kata Isyana berjalan mendekati Dax.
"Mulai hari ini kau akan menggunakan seragam itu dan tidak akan ada lagi yang mendiskriminasikanmu di sekolah, kau akan memakai seragam yang sama dengan anak-anak lainnya, dan mengenai beasiswa kau tetap bisa mempertahankannya jika kau mau."
__ADS_1
Dax menyeruput kopi panasnya yang beberapa saat lalu seorang pelayan sudah menyiapkan sarapan pagi.
~bersambung~