Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
-EPISODE 71-


__ADS_3

Edward berdiri sembari menelusupkan kedua tangannya di saku celana nya, pria itu memperhatikan Kate yang akan syuting bersama seorang pria yang berperan sebagai Presdir perusahaan ternama. Lokasinya ada di ruang meeting yang tidak akan di gunakan oleh Edward.


Pria yang akan menjadi presdir adalah selebriti terkenal, bernama Leonardo De Capricorn, parasnya sangat tampan bertubuh tinggi, sangat cocok dengan lawan mainnya Kate Mishella.


Kate memerankan seorang wanita yang memiliki suami Presdir namun sikapnya arogan dan gemar berselingkuh, hidupnya hanya tau tentang club malam dan minum-minuman keras.


"Leo kau harus berperan sedang berpelukan dengan sekretarismu, lalu Kate datang dan marah, kau tidak suka dengan kemarahan Kate, kemudian kau menamparnya."


Kata Jeje.


"Baiklah."


Leo mengerti.


Kemudian syuting di mulai. Beberapa menit kemudian tibalah adegan dimana Leo harus memukul Kate, dan semua itu terlihat jelas di depan Edward bagaimana Leo menampar pipi Kate meski tidak menggunakan kekuatannnya, nantinya hal seperti itu bisa di edit.


Edward berjalan dengan mantap, langkah kakinya terlihat begitu lebar karena tinggi tubuhnya, kemudian mencengkram kerah baju Leo dengan kasar. Tatapan nya sangat garang.


"Kenapa denganmu?!!!"


Teriak Leo.


Para kru serta sutradara mengeluh. Edward menjadi canggung dan kemudian melepaskan kerah Leo.


"Pelan kan tamparanmu aku melihatmu menggunakan tenaga."


Kate kebingungan, pasalnya tamparan Leo bahkan tidak membuatnya sakit.


"Edward ini hanya akting..."


Kate menjelaskan.


"Kita istirahat dulu..."


Kata Jeje sang sutradara.


"Ada apa dengan mu?"


Tanya Kate.


Edward mengajak Kate ke ruangan lain, pria itu juga tidak mengerti ada apa dengan dirinya, ia hanya tidak suka Kate memerankan karakter itu.


"Baiklah kau tidak mau menjawabnya..."


Kata Kate berlenggang mengambil air minum kemasan.


Kate memutar tutup botol itu namun kesulitan, Edward mengambil air botol kemasan tersebut dari tangan Kate dan membukanya kemudian menyerahkan kembali pada Kate.


"Terimakasih."


Kata Kate tersenyum.


Edward memandangi leher jenjang Kate yang sedang minum, leher itu naik dan turun dengan gerakan lembut, Kate sedikit mendongak, kemudian bayangan saat malam itu kembali mengelilingi pikiran Edward.


"Apa kau selalu syuting karakter seperti itu?"


Tanya Edward.


"Hmm.. Mungkin karena wajahku memiliki garis protagonis.


Kata Kate sembari mengangguk.


"Apa juga dengan tamparan dan pukulan?"


"Hanya akting saja, tidak benar-benar menggunakan kekuatan."


Kata Kate lagi.


"Tenanglah Edward, aku tidak apa-apa aku tidak sakit."

__ADS_1


Kate menenangkan Edward.


Sentuhan telapak tangan Kate di lengan Edward membuat pria itu menelan ludahnya, dan menarik lengan Kate dalam pelukannya, tangan besar dan kokoh Edward melingkar di pinggul Kate.


"Ap-apa? Ada apa denganmu?"


Kata Kate kebingungan.


"Entahlah ada sesuatu yang aneh denganku."


Kata Edward juga kebingungan, kedua mata mereka beradu pandang.


Edward mendekatkan wajahnya pada Kate, hampir menyentuh bibir wanita itu, namun tiba-tiba Jeje masuk tanpa mengetuk pintu.


"Oh ya tuhan... Aku tidak melihat apapun."


Kata Jeje kembali keluar dan menutup pintu.


"Apa kalian sudah selesai? Syuting akan segera di mulai!!"


Teriak Jeje di luar ruangan.


"Aku harus kembali syuting."


Kata Kate pada Edward dengan suara serak.


Wajah dan bibir mereka saling berdekatan, hampir berciuman.


"Hmm... Aku ada meeting setelah selesai aku akan menemui mu, tunggu aku."


Kata Edward.


Cukup lama mereka dalam posisi itu, masih saling menatap.


Kate tersenyum, bibirnya tertarik ke atas dengan sendirinya. Kemudian perlahan ia melepaskan diri dari pelukan Edward dan pergi dari ruangan itu.


Syuting berlangsung beberapa jam dan hari sudah mulai sore, sekarang mereka berpindah di kantin, syuting di lokasi kantin memilih pada jam karyawan pulang kerja, sehingga tidak mengganggu para karyawan yang sedang makan dan istirahat.


Tanya Jeje.


Kemudian Kate mengangguk.


"Oke baiklah semua bersiap kita akan mulai."


Kata Jeje.


"SIAAPPP.... AND... ACTION!!!"


Kate berjalan masuk dan memeriksa bahan-bahan mentah yang ada di Pantry, kemudian mendengar seorang suara karyawan perempuan memekik lirih dan menangis memohon untuk di lepaskan.


Kate memeriksa bagian belakang dan terkejut melihat suaminya sedang memaksa karyawan nya untuk berciuman, pakaian karyawan itu pun sudah sobek kesana dan kesini.


"Leo!!!"


Teriak Kate.


"Tolong Nyonya..."


Kata pemeran karyawan itu dan berlari sembunyi di belakang Kate.


"Pergilah."


Kata Kate.


"Terimakasih Nyonya."


Kemudian sang pelayan pergi.


"Apa kau masih tidak bisa mengontrol naaafsu mu, bahkan karyawan mu sendiri kau paksa melayanimu!!!"

__ADS_1


Teriak Kate.


"Kau yang membuatku seperti ini, lalu apa kau mau melayaniku?"


Leo tertawa.


"Kita harus bercerai!!!"


Kate pergi dari ruangan Pantry, kini Kate ada di kantin, ia menangis dan menabrak salah satu kursi membuatnya terjatuh dan kemudian berdiri lagi."


Leo menggapai lengan Kate dan menariknya dalam pelukannya.


"Aku adalah suamimu dan sudah sepatutnya kau melayaniku, tapi kau selalu bersikap dingin padaku, sekarang kau justru meminta cerai? Tidak semudah itu!"


Leo kemudian mencium Kate dengan rakus dan dengan kekuatannya.


Tepat saat itu Edward sudah menyelesaikan meetingnya, melihat Kate berciuman dengan Leo, Edward melangkah dengan cepat menyambar lengan Kate secara paksa dan cukup kasar, memisahkan pasangan itu dengan garang dan memukul Leo.


"BUGH!!! BUGH!!!


"Apa masalahmu!!!"


Teriak Leo tidak terima dan membalas Edward.


Mereka berkelahi. Saling berkelahi dan saling berguling.


"ASTAGA YA TUHAN...!!! INI SYUTINGG.. KITA SEDANG SYUTINGGGG... !!!


Jeje berteriak dan mengacak-acak rambutnya kemudian menggigit jaket nya sendiri. Para Kru memisahkan Edward serta Leo yang sedang saling mencengkram kerah baju.



***


Edward kini berada di apartmen milik Kate, hari sudah malam dan Kate sedang mengobati luka yang ada di bibir dan tangan Edward.


Di sepanjang perjalanan sebelum Kate membawa Edward pulang sampai di apartemen, mereka hanya saling diam dan tidak ada yang membuka obrolan.


"Aku tidak ingin terlalu percaya diri, tapi aku hanya ingin memastikan sikap mu padaku, sejujur nya apa kau menyimpan perasaan padaku?"


Tanya Kate lugas.


Kate bukan tipe wanita yang hanya diam, menunggu, dan juga pikirannya tidak sepolos wanita lain. Kate adalah wanita yang frontal dan blak blak an.


"Aku tidak menyukai warna abu-abu, jika hitam katakan hitam dan jika putih katakan itu putih. Edward, melihat sikapmu ini apa kau mencintaiku, katakan saja kau mencintaiku, jika kau..."


"Aku tidak mencintaimu."


Kata Edward tegas.


Keadaan menjadi canggung dan hening.


"Jangan salah paham Kate, hanya karena hubungan malam itu bukan berarti aku mencintaimu, aku hanya ingin melindungimu. Kita sama-sama dewasa dan tahu bahwa malam itu tidak lebih dari sekedar saling membutuhkan."


"Baiklah aku mengerti."


Kata Kate.


"Sudah malam, terimakasih sudah mengobatiku, aku akan pulang."


Edward membawa jas nya dan berlenggang pergi dari apartmen milik Kate.


Setelah Edward pergi, dan pintu sudah berbunyi pertanda pintu sudah terkunci, Kate tertawa namun entah kenapa air matanya mengalir.


.


.


.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2