
Nafas Isabella semakin menderu saat lengan Zack semakin mengikatnya erat dalam tubuh dan dada Zack.
Kuda yang berjalan perlahan pun membuat getaran-getaran aneh di dalam tubuh Isabella. Apalagi saat itu Isabella menguncir rambutnya dan lehernya benar-benar terekspose tepat di depan wajah Zack.
2 remaja yang saling berdekatan, dimana mereka sedang berada di umur yang menggebu dan bergejolak.
Zack semakin memdekatkan wajahnya di telinga Isabella, tanpa sadar Zack terbawa arus kecantikan dan aroma tubuh wangi Isabella.
"Zack..." Bisik lirih Isabella.
Tangan Zack bergerak menyentuh tangan Isabella yang juga memegang tali kuda. Kini tangan Zack sempurna menggenggam tangan Isabella.
Zack memgarahkan bibirnya tepat di bibir Isabella, dan saat itu Isabella tidak bisa menolaknya, bahwa Zack memiliki daya tarik yang sangat luar biasa.
Zack akhirnya mencium bibir Isabella, sedangkan Isabella tidak menolaknya.
Zack terus melumaat bibir Isabella dengan lembut, selembut mungkin, tangannya meremas dan menggenggam tangan Isabella yang masih mencengkram tali kuda.
"Jadilah pacarku..." Bisik Zack kemudian di telinga Isabella.
Dengan wajah memerah dan malu-malu, dan senyuman yang mengembang, Isabella menggangguk pelan.
Bagi Isabella pernyataan cinta Zack sangat sopan dan romantis, Zack bisa saja menciumnya saat mereka ada di dalam mobil malam itu, namun ketika Isabella tidak siap dan tidak mau, Zack tidak memaksanya.
Dan sekarang, Zack justru menyatakan perasaannya saat mereka berkuda. Bagi Isabella, itu pengalaman baru yang sangat mengesankan, membuatnya berbunga-bunga dan sangat gembira.
Bagaimana mungkin, Zack yang angkuh dan tanpa senyuman sedikitpun saat berada di sekolah berubah menjadi si Zack yang romantis dan penuh kelembutan. Zack yang memiliki sikap manis dan memperlakukannya dengan hangat.
Apalagi Isabella melihat aksi hero Zack yang seperti koboy untuk menyelamatkannya. Dan inilah pangeran berkuda sang putri. dan ini juga lah pangeran khayalan Isabella yang menjadi kenyataan.
Zack pun tersenyum puas, ketika pernyataannya di terima.
Ketika Zack menikmati hari liburnya bersama Isabella yang kini telah menjadi kekasihnya di sisi lain Evashya sedang menggoreskan kuasnya di kanvas dengan pandangan melamun membuat lukisan itu entah menjadi model abstrak yang bagaimana.
Evashya duduk di taman yang bersih dan terawat, di bawah atap yang meneduhkan dan bunga rambat yang indah lalu di sisi lain air kolam renang yang jernih memantulkan sinar matahari yang sudah terik.
"Kau melukis apa Evashya." Tanya Laura pada anaknya.
Evashya pun tersentak dan melihat lukisannya sudah tak beraturan.
"Ah Mommy mengagetkanku..."
"Kau mau melukis atau mau melamun?"
"Apa sebaiknya Mommy mengganti tutor ku saja?" Kata Evashya tiba-tiba.
"Kenapa?" Tanya Laura dan duduk di samping anak gadisnya.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya saja Shya kurang nyaman."
"Tapi nilai mu melonjak drastis Evashya, membuat ibu bangga dan terharu." Senyuman Laura merekah.
"Tapi... Shya..."
"Hm?" Laura siap mendengar.
"Seperti nya Zack ada hubungan aneh dengan Isabella." Sahut Evashya berbisik.
"Zack kakakmu?" Tawa Laura pun membuat Evashya keheranan.
"Kau lihat Kakak mu Evashya... Dia terlalu sibuk dengan buku-bukunya dan selalu memiliki obsesi berlebihan tentang poin akselerasinya, ia selalu ingin menjadi yang terbaik, dan dia menyukai Isabella? Begitu maksudmu?"
Laura masih tertawa.
"Mommy....!!!" Kesal Evashya.
"Baiklah-baiklah... Mmm... Ibu rasa tidak mungkin, Zack mungkin lebih suka dengan gadis pintar... Oh tidak, Isabella juga gadis pintar, lalu mungkin Zack menyukai gadis cantik berambut panjang... Mmm Isabella juga memiliki itu. Lalu.... Mungkin Zack akan menyukai gadis dari keluarga yang sama seperti dirinya." Kata Laura tersenyum.
"Apa Mommy tidak akan setuju jika Zack bersama Isabella?"
"Mmm... Entahlah, Ibu tidak terlalu memikirkan itu, karena sejauh ini Zack tidak memikirkan itu dan tidak menunjukkan ia sedang tertarik pada seorang gadis."
Evashya pun nampak sedih.
"Tenang saja sayang, Zack akan tetap menjadi kakak mu yang sangat menyayangimu..." Kata Laura mengecup punuk kepala Evashya dan berlalu pergi.
Laura pun mendatangi mereka.
"Ada apa?" Tanya Laura.
Zafran serta Stark hanya saling pandang dan Stark pun undur diri.
"Tidak ada sayang." Zafran menepuk punggung istrinya pelan.
"Tapi..." Laura merasa ada sesuatu yang Zafran sembunyikan darinya dan itu pasti sesuatu yang sangat penting.
"Tidak ada sayang..."
"Katakan Zafran atau aku akan sangat marah, kita tidak sedang menjadi pasangan yang baru saja berpacaran, kita sudah memiliki 2 orang anak dan kita mengarungi semua ini tidak sebentar, lalu kau pikir aku bisa tertipu dari raut wajah cemas mu!" Teriak Laura.
Kemudian Zafran membawa istrinya ke kamar untuk membicarakan apa yang membuat Zafran cemas, dan di depan Laura kini terdapat beberapa dokumen.
"Buka dan bacalah sendiri." Kata Zafran menyandarkan punggungnya dan memijit kepala.
Laura membuka dokumen-dokumen tersebut, tak lupa ada foto-foto juga di sana, dengan seksama dan hati-hati Laura menelusuri kata demi kata yang ada di dalam dokument tersebut.
__ADS_1
Akhirnya matanya tertuju pada sebuah nama yang bahkan menyebutkannya saja Laura tidak pernah mau. GABY MIRANDA.
Laura seketika lemas, apalagi ia melihat foto-foto kakaknya yang sering bersama dengan siswi Hill School yang tak lain adalah ISYANA AUBREY atau nama kecilnya adalah ALICIA BENYAMIN, memakai nama sang ayah ARNOLD BENYAMIN.
"Lelucon apa ini?" Kata Laura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menyangga kepalanya dengan sikunya.
Zafran meraih bahu istrinya dan memijitnya pelan, agar istrinya tenang.
"Aku harus menemui Dax!" Kata Laura berdiri dan emosi.
"Tenang dulu sayang."
"Tenang? Kau menyuruhku tenang? Sedangkan kakakku bercinta dengan seorang gadis belia, dan dia adalah anak dari wanita jalangg itu!" Teriak Laura.
"Sayang, kita harus mengatur strategi... Jangan gegabah." Kata Zafran.
"Tapi..." Laura gelisah dan kemudian ia menangis.
"Lihat aku..."Zafran merengkuh wajah istrinya dan mengarahkan nya untuk menatap wajahnya.
"Semua akan baik-baik saja, aku akan mencoba berbicara dengan Dax."
"Aku akan memukulnya dan memarahinya, dia dan gadis di bawah umur? Oh astaga.... Yang benar saja Dax!!!" Geram Laura hingga menggertakkan giginya.
Zafran memeluk Laura dan menenangkannya, mengelus lembut rambut istrinya dan menciumnya.
"Aku akan mengurusnya..." Kata Zafran.
"Secepatnya?"
"Secepatnya sayang."
"Janji?"
"Aku janji dan aku pastikan itu."
Laura memeluk Zafran dan berharap suaminya bisa menyelesaikan masalah itu tanpa harus membuat semuanya memanas.
Laura merasa sangat trauma dengan semua yang pernah ia alami dan yang pasti ia tidak ingin kehidupan mereka terjamah oleh Gaby meski itu adalah anaknya sekalipun, Laura tidak mentolerir apapun yang berhubungan dengan Gaby.
Berbeda dengan Zafran, ia harus memikirkan cara apa yang harus ia gunakan, karena strategi apapun akan ia jalankan nantinya akan tetap menjadi pedang bermata dua baginya.
"Aku akan pergi dan mengurus ini bersama Stark." Kata Zafran kemudian meraih wajah istrinya kembali dan menatapnya.
Laura mengangguk pelan dan percaya pada suaminya.
"Aku percaya padamu dan berikan aku kabar baik."
__ADS_1
Zafran mengecup kening serta bibir Laura dan pergi meninggalkan istrinya yang masih bergidik ngeri ketika ia membaca nama Gaby. Laura pun kembali duduk dan kembali membaca dokumen-dokumen itu dimana kali ini ia membaca profil Isyana Aubrey.
~bersambung~