
Zafran tidak pernah menduga bahwa semua dalang dari musibah yang ia dan Laura alami adalah Arnold Benyamin, pengusaha batu bara dari Asia.
Hal yang wajar jika Arnold sakit hati pada Zafran, saat Arnold benar-benar mengagumi Laura dan pria itu juga pasti memiliki niat untuk memperistri Laura, hingga saat ini pun Arnold masih terobsesi dengan Laura.
"Bahkan sahabatku sendiri, dengan berani mencintai istriku, dan menyimpan foto-fotonya, apalagi orang lain."
Kata Zafran memeluk istrinya yang sedang tidur.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Zafran beberapa kali, sangat pelan, Zafran mengerutkan alisnya.
"Apa ada yang sedang main-main denganku!"
Kata Zafran kesal.
Zafran kemudian bangun perlahan dari ranjang, tidak ingin membuat istrinya terbangun, kemudian membuka pintu kamarnya.
"Astaga! Stark kau mengejutkanku, kenapa kau mengetuk pintu pelan sekali, dan berulang-ulang."
Zafran jengkel kemudian menutup pintu.
"Saya takut membangunkan Nona Laura tuan."
Kata Stark.
"Apa kau kelelawar, ini sudah hampir pagi... Kau tidak tidur?"
"Tidur tapi hanya sebentar."
Jawab Stark.
"Katakan."
"Arnold tidak main-main, pengawal mereka menemukan orang tua anda."
Kata Stark.
"Apa! Untuk apa mereka melakukan itu!"
Kata Zafran tak mengerti.
"Apa yang akan mereka lakukan dengan para orang tua itu."
Zafran sangat membenci orang tua nya, bagaimana dengan teganya mereka membuang Zafran yang masih sangat kecil, saat itu Zafran harus berjuang sendirian di jalanan, tempat yang asing baginya, ketakutan tanpa mengenal satu orang pun, kelaparan, kedinginan saat malam dan hujan datang, meminta, dan mengemis, semua itu masih terekam jelas di benaknya.
Bahkan luka yang tiap kali ia terima, pukulan-pukulan dari anak-anak yang jauh lebih besar darinya masih sangat terasa.
"Mereka tidak memiliki perasaan."
Kata Zafran geram, yang bahkan membayangkan wajah kedua orang tuanya saja pria itu malas.
Zafran masih berada di ruang kerjanya bersama Stark, matahari sudah mulai terik, tiba-tiba pintu di buka dan itu adalah Laura, kemudian Stark pergi dengan membawa beberapa dokumen dari Zafran dan berpamitan pada Laura.
"Apa semalaman kau tidak tidur?"
Tanya Laura.
"Kemarilah."
Zafran sedikit tersenyum menggunakan isyarat tangannya agar Laura mendekat. Kemudian Zafran mendudukkan Laura di atas pahanya.
"Aku harus mengurus sesuatu, maafkan aku, membuatmu tidur sendirian."
Kata Zafran memeluk perut Laura.
"Zafran, apa boleh jika aku mengurus penginapan, aku ingin memperbaikinya, dan membukanya lagi."
Pinta Laura.
"Hmm... Akan ku pikirkan dulu, okey?"
Zafran mengecup bibir Laura.
"Kenapa harus di pikirkan dulu? Aku sangat bosan dan ingin melakukan sesuatu."
Protes Laura.
"Kau bisa melukis, olahraga, atau berkebun, dan bisa juga kau memasak misalnya dengan para pelayan membuat sesuatu yang kau sukai."
"Bukan seperti itu, aku ingin berinteraksi dengan dunia luar, lagi pula dari awal aku ingin menghidupkan lagi penginapan itu."
Kata Laura memaksa.
__ADS_1
Zafran hanya diam dan memandang Laura, ia masih berfikir. Laura masih memainkan alis dan matanya untuk bertanya dan mendesak Zafran.
"Kita mainkan permainan kecil dan aku akan mengabulkannya."
Kata Zafran mengalihkan pembicaraan mereka, berharap Laura bisa melupakannya.
"Permainan kecil?"
Tanya Laura.
"Hem..."
Jawab Zafran lembut.
"Permainan seperti apa?"
"Saat ku bilang cinta kau sebut namaku, saat ku sebut namaku kau bilang cinta, saat ku sebut namamu kau harus menciumku.
Kata Zafran asal menyebutkan permainan, pria itu tidak tahu lagi, bagaimana agar bisa mengalihkan pikiran Laura yang ingin mengurus penginapannya lagi.
"Permainan yang kekanakan sekali."
Sahut Laura.
"Kalau kau tidak mau tidak apa-apa... Tapi kau harus patuh dan tetap di rumah."
Kata Zafran.
"Baiklah-baiklah aku mau... Ayo kita mulai."
"Baiklah, tapi saat kau salah menyebut kan kata atau melakukan sesuatu, kau harus melepas satu helai pakaianmu."
Kata Zafran tersenyum dan menjaili istrinya.
"Aku pasti kalah, aku tidak pernah menang dengan segala permainan melawanmu..."
"Kau masih boleh mundur sayang..."
Kata Zafran mengejek.
"Aku tidak takut, kata Laura mantap dan percaya diri."
"Baiklah, jangan menyesal."
Permainan di mulai, Laura masih duduk di atas pangkuan Zafran, hampir beberapa menit mereka bermain, saling tertawa dan saling menggoda satu sama lain, beberapa menit kemudian Laura kalah, ia harus rela melepaskan pakaiannya, dan akhirnya Laura membuka dressnya sedangkan Zafran masih berpakaian utuh.
"Sebentar, sepertinya permainan ini ada yang aneh Zafran."
Kata Laura berfikir.
"Apa menurut mu yang aneh?"
"Kenapa hanya aku yang salah, kenapa hanya aku yang jawab dan melakukannya, kenapa hanya aku yang membuka baju?"
Zafran tertawa, bahwa Laura menyadarinya.
"Dari dulu kau selalu memanipulasi, mengakali ku.."
Laura memukul Zafran dengan pelan, kemudian tangan Zafran memegang pergelangan tangan Laura.
"Aku akan membuka bajuku, biar kita impas."
Kata Zafran kemudian membuka kemeja nya.
Dress Laura sudah teronggrok di lantai, dan kemeja Zafran juga telah di buka.
"Apa kau mau melanjutkan permainannya?"
Tanya Zafran.
"Permainan tidak masuk akal."
Laura cemberut.
"Aku akan mengabulkan permintaanmu jika kau mau melakukan sesuatu..."
Kata Zafran.
"Apa..."
Kata Laura masih cemberut.
__ADS_1
"Cium aku."
Zafran tersenyum.
"Hanya itu?"
Tanya Laura meyakinkan Zafran.
"Hmm..."
Zafran menggangguk sembari tersenyum.
Kemudian Laura mencium bibir Zafran, pria itu menikmatinya, dan mulai mengambil alih, Zafran memeluk Laura yang kini hanya memakai pakaian dalam.
Gerakan mereka semakin panas dan liar, suami istri itu saling tenggelam dan memejamkan mata, saling menikmati sentuhan, dan saling memeluk. Laura yang masih duduk di atas pangkuan Zafran mengalungkan tangannya di leher Zafran, ******* Laura membuat Zafran semakin liar.
Ketika mereka akan melakukannya, terdengar suara pintu ruangan di ketuk dan Stark menekan kotak suara penghubung ruangan kemudian Zafran menekan tombol telfonnya.
"Tuan maaf mengganggu, ada tuan Edward ingin bertemu."
Kata Stark.
Zafran mengambil dress milik istrinya yang tergeletak di lantai tak jauh dari jangkauan tangannya, dan dengan cepat Laura memakai pakaiannya, Laura bersiap beranjak dari pangkuan Zafran namun pria itu menahannya.
"Suruh dia masuk."
Kata Zafran dari saluran telfonnya.
Edward kemudian masuk dan Stark pergi. Laura tertunduk dan berbisik pada Zafran.
"Kenapa kau menahanku, aku ingin ke kamarku."
Bisik Laura di telinga Zafran, ia masih duduk di atas paha suaminya.
"Kenapa kau berbisik di rumah mu sendiri?"
Kata Zafran datar.
"Kembalikan ponsel ku Zafran aku membutuhkannya."
Kata Edward sembari melirik pada Laura.
Zafran melengkungkan mulutnya, dan berfikir.
"Aku belum menghapus foto-foto istriku yang ada di ponselmu."
Kata Zafran datar dan memeluk istrinya yang tertunduk.
Laura terkejut, ia mengerutkan alis dan keningnya.
"Foto-fotoku? Edward? untuk apa dia memyimpan fotoku, dan kapan dia mendapatkannya?"
Kata Laura dalam hatinya.
Edward melirik Laura yang terlihat seksi, dress yang Laura kenakan sedikit menyelip dan memperlihatkan paha mulus itu, Zafran sadar dan kemudian menutupi tubuh istrinya dengan kemejanya.
"Kau boleh kembali ke kamar sayang."
Kata Zafran lembut.
Laura pergi dengan berlari dan menundukkan kepala, ia memakai kemeja Zafran untuk menutupi tubuhnya, meski Laura sudah memakai dressnya namun pakaiannya cukup berantakan.
"Apa yang dia pikirkan!!!"
Laura geram dan kesal pada sikap suaminya.
"Dia benar-benar membuatku malu setengah mati!!!"
Laura meracau kasar dan mengumpat, para pelayan yang sedang sibuk bersih-bersih terkejut dengan Laura yang tiba-tiba melintas dengan kemarahannya.
Laura masuk ke dalam kamar dan membanting pintu tersebut, membuat para pelayan tersentak, kemudian ia melempar pakaian Zafran ke atas lantai dengan kesal. Nafasnya terengah, dan ia tidak bisa melupakan kejadian yang baru saja ia alami, dia sangat marah pada Zafran.
"Kekanakan sekali!!!"
.
.
.
~bersambung~
__ADS_1