
Saat suasan ruangan kamar sedang dingin dan menvcekam tiba-tiba saja, pintu kamar pun terbuka dengan cukup keras.
"BRAAKK!!!"
Suara pintu yang terpental membuat Laura dan Zafran terperanjat dan menoleh pada arah suara itu.
"Mommy jahat!!!" Teriak Evashya sembari menghapus air matanya.
"Hey ada apa ini?" Zafran berdiri dan menghampiri Evashya membelai lembut rambut anaknya.
"Mommy benar-benar mengadu pada Smith si hidung besar itu kan!!!" Teriak Evashya.
Laura masih duduk tenang dan menyedekapkan tangan memandangi putrinya dan menunggu hingga putrinya meluapkan segala amarahnya.
"Mommy jahat, di grup chat seni lukis semua membicarakan jika Mike Bacelo akan di pindahkan ke sekolah lain!" Nafas Evashya naik dan turun.
"Kenapa mommy melakukannya!!!" Teriak Evashya lagi.
Zafran hanya berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam celana, melihat anak perempuannya berteriak-teriak.
"Memang seharusnya seperti itu, aku senang." Kata Laura menaikkan kedua bahunya dan menyedekapkan tangan.
"Apa kesalahannya!!!" Teriak Evashya.
"Kamu masih tidak sadar apa kesalahannya? Apa seperti itu guru yang kau mau?!" Kata Laura menekan kalimatnya.
"Ya, aku suka dengan guru seperti dia, memangnya mommy tidak pernah muda ya!!!" Teriak Evashya dan pergi meninggalkan kamar besar milik orang tuanya.
Melihat itu Zafran hanya melirik istrinya dan melihat Evashya yang pergi keluar dengan berlari dan menangis, gadis itu kemudian marah, mengunci diri dan mengurung dirinya di dalam kamar.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Kata Laura pada Zafran.
"Tidak ada, hanya saja kau terlalu keras pada Evashya." Kata Zafran.
"Ya, meski aku juga tidak menyukai nya, namun jangan terlalu terang-terangan menyingkirkan Mike, itu akan melukai perasaannya." Sambung Zafran lagi.
Mendengar pernyataan suaminya, Laura kemudian mencibir dan tertawa ketus.
"Kau tahu apa tentang menjaga perasaan?" Kata Laura berdiri dan mendatangi suaminya.
"Aku sudah katakan, semua itu hanya hubungan kerja sama sayang."
"Daripada kau mengomentari cara ku, kenapa tidak kau saja yang membereskannya. Oh... Aku lupa, kau sedang sibuk dengan seorang wanita masa lalumu." Tutur Laura dengan tajam.
"Sayang, tidak kah kau juga baru saja bertemu dengan pria masa lalu mu?" Kata Zafran memahan lengan Laura ketika istrinya hendak pergi.
Laura kemudian menoleh dan melihat ke arah suaminya.
"Kau masih saja memata mataiku?" Laura tertawa tak percaya, ia merasa sangat kecewa.
Zafran hanya diam dan menelan ludahnya.
"Bahkan jika foto-foto itu di hapus, namun tetap saja kau tidak akan bisa menghapusnya di dalam otak ku, semua pose-pose itu sudah terekam di sini, dan di sini." Kata Laura menunjuk pelipis nya dan dadanya dengan kuat memakai telunjuk jarinya.
__ADS_1
Laura kemudian pergi meninggalkan Mansion mengendarai mobil nya menuju ke sebuah cafe, sedangkan Zafran hanya menarik dan membuang nafasnya, berdiri mematung dan menyesali kecerobohannya. Pria itu harus membereskan masalah itu sebelum laura semakin murka dan keluarganya semakin tidak kondusif, karena hanya Laura dan anak-anaknya lah tonggak kebahagiaannya.
Cafe Baruna Sky...
Mobil melju dengan cepat, Laura menekan gas dengan perasaan marah, ia akan menemui seseorang yang telah menghubunginya. Setelah tiba di sebuah cafe yang cukup mewah, seorang gadis cantik berambut panjang sudah duduk di sana.
Laura berjlana dengan anggun dan penuh ketenangan, ia tidak ingin memperlihatkan guratan wajah marah, meski hatinya kini sedang kesal. Laura pun datang mendekati meja tersebut, dan melepaskan kacamatanya kemudian duduk di depan gadis itu.
"Halo..." Sapa Laura ramah dengan seulas senyuman mengembang di bibirnya.
Wajah cantik, perilaku anggun, pakaiannya yang mewah dan sangat stylis membuat Isabella pun langsung merasakan aura kewibaan Laura. Wanita anggun yang ramah dan berkelas. Isabella membalas dengan senyuman dan anggukan sembari berdiri dan kembali duduk ketika Laura sudah duduk.
"Jadi kau siswi akselerasi itu, yang selalu meraih peringkat 1dari kategori beasiswa dan meraih rangking umum 3 besar berturut-turut di Hill school ?" Tanya Laura pada seorang gadis berambut panjang dan berwajah cantik yang sekarang duduk di hadapannya.
Beberapa jam yang lalu Laura di hubungi seorang gadis yang mengaku namanya Isabella dan bersekolah di Hill School.
Isabella sendiri melihat laman iklan di situs online saat ia sedang bekerja paruh waktu dan masih ingin mencari tambahan pekerjaan, ia pun mengajukan lamarannya. memang laura sengaja memasang iklan dimana-mana karena laura ingin mencari tutor yang terbaik dan menurutnya cocok mengajari Evashya.
Sekarang mereka saling bertatap muka di sebuah cafe dekat dari sekolah Hill School. Cafe yang juga tempat Isabella bekerja paruh waktu.
"Benar Nyonya, saya Isabella Kayl, saya masuk Hill School melalui jalur beasiswa."
"Baiklah, kau juga sebentar lagi akan lulus sama seperti putraku Zack. Kau mengenalnya?" Tanya Laura sembari menyeruput green tea hangat di hadapannya dengan elegan.
"Saya.... Hanya tahu, tidak mengenalnya, maksud saya Zack adalah siswa dengan peringkat 1 berturut-turut dan selalu menjadi icon sekolah, dia juga selalu muncul di halaman pertama majalah sekolah jadi, menurut saya tidak mungkin jika ada siswa yang tidak mengenal siapa Zack." Kata Isabella dengan sopan
Laura hanya mengangguk.
"Lalau apa pelajaranmu tidak akan terganggu jika kau bekerja paruh waktu bahkan tidak hanya 1 pekerjaan." Tanya Laura.
"Kapan kau bisa memulainya?" Tanya Laura.
"Apa saya di terima?" Isabella mengangkat wajahnya tak percaya.
"Ya... Kau diterima." Laura tersenyum, ia percaya pada kesungguhan Isabella.
"Kapan saja saya bisa Nyonya..." Kata Isabella.
"Baiklah besok sepulang sekolah kau naik mobil bersama Zack dan Evashya, aku akan memberitahu mereka, atau kau bisa berikan jadwalmu jadi kita bisa membuat jadwalnya, jika kau bisa mengajari Evashya malam hari itu juga boleh terserah kau saja...."
"Ba... Baik nyonya. Terimakasih."
Kemudian Laura bersiap pergi lalu Isabella pun berdiri dan sedikit membungkuk memberikan hormatnya, tanda terimakasih.
"Terimakasih Nyonya, saya berjanji akan melakukan yang terbaik."
"Aku percaya." Laura tersenyum dan pergi meninggalkan Isabella, ia memakai kacamata hitamnya dan mengendarai mobil mewah yang terparkir tepat di depan cafe.
Sedangkan Isabella berdecak senang, apalagi gaji yang akan ia peroleh tidak main-main.
"Evashya... Semoga kita bisa bekerja sama." Kata Isabella penuh harap.
Laura kemudian hendak kembali ke mansion, ia melanjukan mobilnya cukup kencang dan berhenti di traffic light, namun pandangan matanya tertuju pada mobil yang tidak asing baginya. Mobil yang ia kenal betul. Laura tergelitik untuk mengikutinya, sebenarnya ia juga ingin berbincang dengannya.
__ADS_1
Mobil Sport berwarna hitam di depan Laura pun melaju diikuti oleh Laura pelan di belakang. Niat hati ingin pulang pun kandas dan sekarang laura memilih menjadi penguntit.
Tak berapa lama mobil itu ternyata menuju ke sebuah rumah sakit.
"Untuk apa Dax ke rumah sakit?" Kata Laura lirih.
Meskipun Rumah Sakit tersebut di miliki oleh Dax namun tetap aneh bagi Laura saat dax mengajak seorang gadis di bawah umur masuk ke dalam rumah sakit dengan bergandengan tangan.Laura masih mengamati di dalam mobilnya.
Tak berapa lama Dax pun keluar dan membukakan pintu mobil untuk seorang gadis yang seumuran dengan Evashya.
"Astaga!!! Siapa gadis itu..." Kata Laura lagi.
Dax berjalan cepat dan menggandeng tangan gadis tersebut, membuat Laura pun semakin penasaran kemudian ia berniat keluar dari mobil dan membuntutinya.
"Kenapa mereka bergandengan tangan..." Tanya Laura dalam hatinya.
Laura cukup tertatih saat itu karena ia memakai heels yang cukup tinggi, dan sialnya pada saat mereka berbelok Laura kehilangan jejak mereka.
"Aku sangat yakin mereka belok ke sini..." Kata Laura lirih.
"Atau masuk ke ruangan ini?" Kata Laura lagi ragu.
"Tapi... Ini ruangan untuk kandungan... Astaga, apakah merekaa....?" laura tak yakin dengan hipotesanya dan memilih untuk tidak memikirkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada kakak laki-lakinya.
"Tapi, aku yakin tetap ada sesuatu yang tidak beres..."Gumam Laura.
Akhirnya karena kehilangan mereka Laura pun memilih untuk kembali ke Mansion.
Sedangkan di dalam sebuah ruangan yang cukup sempit tepatnya ruangan penyimpanan barang-barang seperti kursi roda Dax dan Isyana sedang bersembunyi. Dax mendesahkan nafasnya, ketika ia tahu bahwa adik perempuannya sudah pergi meninggalkan tempat itu, namun tangannya masih memeluk Isyana sangat erat untuk menempel pada tubuhnya.
"Tuan... Kenapa kita harus bersembunyi..." Tanya Isyana.
"Ssst... Tidak ada... Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru..." Kata Dax berbohong.
"Apa?" Kata Isyana berbisik juga.
Dax mengeratkan pelukannya dan membuat dada Isyana menempel pada dada Dax, membuat Isyana terkejut.
"Tuan... Jangan di sini... Ini rumah sakit..." Kata Isyana.
"Ku rasa justru itu lah yang membuatnya akan semakin menyenangkan...." Seringai Dax mengembang.
Pria itu mengangkat tubuh mungil Isyana agar kaki gadis itu berpijak di kaki Dax dan pria itu menunduk kan kepalanya untuk mencium Isyana.
Sebuah tangan kekar pun menyibak rok pendek milik Isyana dan telunjuk Dax mulai bergerilya di antara paha Isyana membuat gadis itu membusungkan dadanya merapatkan tubuhnya pada Dax dan mulai mendesah.
Dax memang sudah mulai gila, pikirannya hanya di penuhi oleh aroma tubuh Isyana, pria itu merasa tidak rela jika berpisah meski hanya sejenak dengan Isyana.
"Tu... Tuann... Kita harus menjenguk ibu ku..." Suara dan kalimat Isyana terbata sembari merasakan kenikmatan saat jari Dax mulai aktif.
"Hmm... Sebentar lagi... Kau mau kehilangan momentnya?" Bisik Dax.
Benar saja Isyana pun tidak rela, jika Dax menghentikan permainan kecil itu. Dax membuatnya kecanduan, Dax telah membuat pikiran dan tubuh Isyana terus dan terus menginginkannya.
__ADS_1
~bersambung~