
Dax berlari menuruni tangga marmer yang besar, dengan cepat Dax masuk ke dalam mobil lamborghini nya yang berwarna hitam sedangkan beberapa selang waktu Zack pun masuk ke dalam mobil ferarri nya pula yang berwarna dark drey.
Dax cukup kencang mengendarai mobil, pria itu sangat panik ketika seseorang menelfonnya dan menangis.
Tak berapa lama setelah melewati perjalanan yang cukup padat di jalanan, Dax sampai di depan rumah sakit seorang gadis pun sedang berjongkok menutup matanya.
Dax keluar dan mendatangi gadis itu, sialnya Zack tidak dapat melihat nya karena tertutup tubuh Dax yang cukup besar.
"Benar itu kau Isabella?" Batin Zack lirih.
Zack melihat dari dalam mobilnya, mengamati dengan benar-benar hingga ia tidak berkedip meski sekali. Dax kemudian memapah gadis mungil itu masuk ke dalam Rumah Sakit, terlihat tubuh gadis itu dari belakang dan memakai rok pendek, rambutnya di gulung naik memperlihatkan leher jenjang kecilnya.
"Benar itu adalah kau Isabella..."
Zack melihat tas Hill School yang gadis itu kenakan, tas itu juga memiliki Bag Charm ( gantungan tas ) boneka salju.
Entah kenapa dada nya terasa sesak, Zack memukul kemudi setir dan menyalakan mobilnya, melesat kan mobil dan kembali menuju suatu tempat.
Sedangkan di dalam rumah sakit Dax masih mencoba menenangkan Isyana yang masih menangis.
"Isyana, ibu mu tidak apa-apa, dia akan selamat, aku sudah memilihkan para dokter yang paling baik." Kata Dax menenangkan.
Sesaat yang lalu, kondisi ibu Isyana, Dorothy Aubrey memburuk dan membuat Dorothy yang koma sempat kejang. Isyana pun panik, ia ketakutan dan kemudian menelfon Dax.
"Ibu mu akan baik-baik saja..." Kata Dax menepuk punggung Isyana dengan pelan.
"Sa... Saya takut..." Kata Isyana dengan leher tercekat.
Tak lama kemudian beberapa dokter dan suster yang merawat Dorothy pun keluar. Mereka segera menghadap Dax.
"Nyonya Dorothy sudah aman tuan..." Kata salah satu dokter.
"Nona Isyana bisa masuk kembali untuk melihat ibunya..." Sahut dokter itu lagi.
__ADS_1
Setelah Isyana masuk, Dax tahu ada yang tidak beres melalui ekspresi wajah para Dokter.
"Apa yang sedang kalian sembunyikan." Kata Dax.
"Sepertinya tidak akan bisa lagi tuan, kita harus melepaskan semua alat bantu kehidupan itu." Kata seorang dokter yang lain.
"Jika kalian berani, jangan harap kalian bisa menjadi dokter lagi seumur hidup kalian!" Kata Dax penuh dengan penekanan.
Dax kemudian pergi meninggalkan para dokter yang masih menunduk menyesal, dan masuk ke dalam ruangan perawatan menemani Isyana.
"Dia akan sembuh..." Dax berdiri di samping Isyana.
"Saya tidak menginginkan apapun selain ibu saya sembuh." Kata Isyana sembari menghapus air matanya.
"Kau mau tidur di sini?" Tanya Dax.
"Iya tuan, mungkin saya ingin di sini dulu untuk menemani ibu saya."
"Tapi tuan..."
Dax tidak mendengarkan Isyana dan memilih masuk ke dalam ruangan lain. Ruang perawatan memiliki kamar lain pula untuk tidur saat menunggu pasien. Ruangan mewah eklusif dan VVIP memberikan kenyaman bagi semua penggunanya maka dari itu Rumah Sakit milik Dax mendapatkan penghargaan di bidang pelayanan yang memiliki fasilitas nomor 1.
Setelah di rasa Isyana lebih tenang, dan ibunya pun sudah menunjukkan kondisi yang kembali seperti biasanya, seperti tidur penuh dalam kedamaian. Isyana beranjak pergi untuk merenggangkan pinggang dan bahunya.
Gadis kecil yang telah menempuh banyak luka dan tempaan hidup di peras dan dihujami keadaan yang tidak adil baginya.
Isyana berbaring di samping Dax sedikit menepi di pinggir ranjang. Namun dengan satu kali gerakan dari tangan kekar Dax, tubuh Isyana di tarik mendekat. Dax memeluk Isyana dari belakang dan mencium tengkuk leher Isyana.
"Tidur dan istirahat, besok kau masih harus sekolah." Kata Dax mencium dan menyesap tengkuk Isyana kembali membuat gadis itu sedikit melenguh.
Tangan kekar Dax merangkul tubuh Isyana yang kecil, tepat di kedua gunung kembar Isyana.
Kemudian tangan Isyana yang mungil pun memegang tangan Dax yang merangkulnya.
__ADS_1
"Terimakasih tuan... Untuk semuanya." Kata Isyana lirih.
"Berterimakasihlah dengan benar, dan jaga ini untukku." Kata Dax memegang bagian sensitif Isyana.
Dalam sekejab Isyana sudah terlelap karena seharian ia juga harus bertarung dan berkutat dengan segala pekerjaan di Hill School. Isyana harus menata semua buku-buku yang berserakan saat siswa-siswi Hill School ada yang membaca buku tanpa mengembalikannya lagi di rak.
Apalagi Isyana harus mengecek buku-buku perpustakaan satu- persatu setiap harinya di buku catatan agar tidak ada buku yang hilang.
Dax membelai mesra tubuh Isyana, tangan nya masuk ke dalam 2 gunung milik Isyana. Meremas pelan dan penuh kelembutan. Bagi Dax Isyana adalah candu, bagi Dax aroma Isyana tidak dapat lagi ia bantah telah mengisi semua pikirannya.
Dax pun sudah tenggelam dalam perjanjiannya sendiri, sejak awal Isyana memang sudah menggodanya. Wajah cantik yang polos, tubuh mungil namun berisi, leher jenjang dan bagai boneka. Bagi Dax Isyana memiliki wajah cantik yang sempurna.
Pria itu masih bermain dengan lembut, meremas dan mencium tengkuk Isyana. Sedangkan gadis itu sudah terlelap dalam tidurnya, gadis itu merasa tubuhnya sangat lelah, belum lagi harus bekerja paruh waktu di sebuah restoran sebagai seorang Kitchen Steward atau tukang cuci piring di dapur restoran.
Tanpa sadar Isyana melenguh, namun rasa kantuknya jauh lebih besar, ia merubah posisi tidur nya terlentang membuat Dax semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Pria itu mencium habis Isyana, menyesap bibir gadis itu hingga menekan tubuh Isyana di atas ranjang empuk dengan tubuhnya yang besar.
Dengan cepat Dax mengembalikan pikirannya dan menarik dirinya, ia tahu harus tidur terpisah dengan Isyana jika tidak entah apa yang akan ia lakukan pada Isyana.
****
Zack Wickley memarkir mobil nya di tepi danau yang cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian lalu lalang mobil, ia duduk di atas mobilnya dan meminum sebuah bir yang isudah ada di mobilnya.
Malam dingin dengan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, pertama kalinya Zack memiliki perhatian untuk seorang gadis dan pertama kalinya ia sudah kalah sebelum lebih jauh melangkah.
Terlihat beberapa botol di taruh di samping ia duduk tepat di atas kap mobil depan dan memandangi air danau yang bergerak karena terpaan angin yang sepoi-sepoi.
Entah sejak kapan Zack mulai memperhatikan Isabella, mungkin saat ia menyelamatkan Isabella dari ketakutan ketika di bully oleh teman-temannya. Zack merasa puas ketika ia melindungi Isabella.
Meski Zack tidak pernah menunjukkam keterikatannya, karena Zack bukan tipe remaja yang suka mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran dan hatinya. Zack jauh lebih suka memendam apa yang ia rasakan sendiri.
Namun sikap itu justru menjadi boomerang baginya, menyiksa batinnya sendiri ketika ia tidak bisa mengungkapkannya.
~bersambung~
__ADS_1