Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

"Kalian kenapa?!" Tanya Evashya yang keluar dari kamarnya dan menyembulkan kepala.


Zack hanya diam dan memilih pergi sedangkan Isabella masuk ke dalam kamar setelah Evashya mempersilahkannya.


"Jadi, kau tutorku?" Kata Evashya sembari menunjuk Isabella dengan jari telunjuknya sedang tangan satunya sedekap.


Evashya duduk berhadapan dengan Isabella, gadis itu duduk dengan menaruh satu kakinya di atas kakinya yang lain, dengan angkuh Evashya pun berbicara terus terang.


"Aku benar-benar tidak menyukaimu, yang pertama karena kau miskin dan masuk dengan jalur beasiswa, seragammu lusuh, dan semua siswa Hill School pasti akan membicarakanku karena kau menjadi tutorku."


Isabella hanya diam dan mendengar.


"Jangan harap kau bisa betah menjadi tutorku!" Ketus Evashya.


"Kalau kau bisa tunjukkan tanpa tutor bisa meraih peringkat setidaknya 5 besar aku siap pergi."


"Kau mengejekku!" Teriak Evashya sembari melotot dan menyedekapkan tangannya.


"Tidak, aku kasihan padamu Evashya."


"Hah?! Apa? Kau cuma dari kalangan miskin tidak usah sok mengasihani orang, aku akan bilang pada mommy untuk mengganti tutor, kau tidak kompeten!!!"


"Bagaimana jika kita bersaing, siapa yang lebih kompeten aku atau kau. Kita seumuran Evashya, kau memiliki segalanya, lalu kenapa aku yang bahkan tidak memiliki ruang belajar justru bisa 1 tingkat di atasmu, ingat aku siswi akselerasi." Kata Isabella penuh ketenangan dan menahan diri.


"Sekarang kau mau sombong?!"


"Bukan itu, kau memiliki segalanya Evashya, seharusnya jauh lebih pintar daripada aku yang miskin ini."


"Oke! Baiklah akan ku tunjukkan betapa pintarnya aku! Akan ku tunjukkan bahwa aku mampu dan lebih kompeten dari pada kau!" Kata Evashya yang tersulut.


"Aku tidak yakin Evashya, kau terlalu lemah dan wawasan pendidikanmu rendah, aku tidak yakin tutor manapun bisa menghadapi mu, lagi pula aku memperkirakan tahun ini kau akan tinggal kelas." Kata Isabella masih memprovokasi.


"Aku akan tunjukkan kalau ucapanmu salah, dan aku akan tunjukkan bisa 5 besar!" Kata Evashya menggebrak meja dengan telapak tangannya.


Isabella melihat gerakan tangan evashya yang dengan enteng menggebrak meja.


"Kau saja tidak mampu mengendalikan emosimu sendiri bagaimana kau bisa mengendalikan isi pikiran dan sifat mu yang masih manja dan kekanakan, bagaimana kau bisa mengatur dirimu sendiri untuk disiplin belajar." Isabella memainkan pensilnya santai.


"Baiklah ayo kita mulai, tidak usah banyak babibu dan aku akan tunjukkan padamu betapa pintar nya aku!" Evashya marah dan mengambil bukunya, membukannya dengan kasar dan mulai belajar.

__ADS_1


Isabella sedikit menarik mulutnya karena ingin tersenyum, akhirnya Evashya masuk ke dalam jebakan provokasinya dengan sangat mudah dan mengucapkan janjinya sendiri.


Zack mendengar dari balik pintu yang terbuka sedikit, ia pun ikut tersenyum, Zack tidak bisa mengajari Evashya karena tiap kali Evashya merengek kepala nya pusing saat belajar Zack semakin tidak tega dan memilih untuk bermain dengan Evashya. Saling menggoda dan menggelitik dan pada akhirnya Evashya hanya akan tidur di kamar Zack.


Tapi, senyuman Zack tiba-tiba menghilang ketika ia kembali mengingat jika tas yang memiliki Bag Charm ( gantungan tas ) itu berada di apartmen Dax, yang tak lain adalah tas berlogo beasiswa milik Isabella, itulah hipotesis yang ia miliki saat ini.


***


Sedangkan Laura berada di ruangannya, ia sedang sibuk mencari tahu sebenarnya siapa yang bersama Dax saat itu, tak berapa lama ponselnya bergetar dan ia pun mengangkatnya.


"Ya..."


"Halo Laura bisa kita bertemu?" Kata seorang wanita yang berada di sambungan telfonya.


Laura yang awalnya tidak memperhatikan dan asal mengangkat, kemudian melihat layar ponselnya dengan heran, ia melihat nomor tersebut dan menempelkan ponselnya lagi di telinganya.


"Dengan siapa ini?" Tanya Laura.


"Catherina Moon... Nama artisku, nama asliku Catherina Elsa."


"Ow... Pacarnya Zafran." Kata Laura dengan santai.


"Aku sedang sibuk, maaf ku tutup telfonnya..." Kata Laura akan menutup telfon.


"Ada yang harus ku bicarakan Laura, aku mohon."


Laura menghela nafasnya, ia juga pun merasa ada sesuatu yang harus ia tegaskan pada wanita seksi itu, dan pada akhirnya Laura menyanggupi.


"Baiklah, dimana tempatnya..." Tanya Laura.


Setelah itu Laura bergegas menyambar mantel dan tasnya, ia mengendarai mobilnya, melihat suasana jalanan yang cukup padat karena banyak orang yang telah kembali pulang dari bekerja.


Saat itu matahari telah semakin condong dan siap tenggelam, meski sinar ke orange nan masih menyala dan seolah sedang membakar langit, kala itu cuaca sangat cerah.


Laura sampai di sebuah cafe mewah yang berada di tengah kota. Cafe itu sedikit ramai mungkin karena ini akhir pekan.


Terlihat seorang wanita cantik melambaikan tangannya pada Laura, dan Laura pun bisa mengenali wajah artis itu.


"Aku terkesan kau mengetahui siapa aku tanpa melihat foto ku lebih dulu..." Kata Laura.

__ADS_1


"Aku sering melihat fotomu..." Sahut Catherina.


Laura duduk dengan wajah penasaran, ia terkejut dengan penuturan Catherina.


"Aku tidak suka basa-basi atau pun teka-teki, aku paling tidak suka misteri. Langsung saja, waktuku tidak banyak, dan anak-anakku juga harus makan malam." Kata Laura.


Catherina tersenyum dan kemudian menyodorkan sebuah undangan eklusif berwarna keemasan pada Laura, dan sontak membuat Laura terkejut ketika jemari lentiknya membuka undangan tersebut.


"Kau... Dan Luwis?" Kata Laura masih tak percaya.


Catherina tersenyum dan menyesap teh nya. Wanita itu duduk dengan anggun begitu pula Laura.


"Awalnya memang sulit, jujur saja aku sudah lama menyukai Zafran saat kita sama-sama menjalani siswa yang hanya melalui beasiswa. Tapi, akhirnya aku sadar, Zafran tidak akan pernah berpaling dari cinta pertamannya, dan foto mu ketika masih sekolah selalu berada di tas miliknya. Jadi dengan mudah aku mengenalimu, tapi selebihnya hanya feeling, kau memiliki wajah yang tidak jauh berbeda dari saat mudamu."


"Tapi..." Laura masih tidak bisa mengatakan apapun dengan undangan pernikahan itu.


"Mengapa aku menikah dan bisa mengenal Luwis? Pasti itulah yang sekarang ada di benakmu. Awalnya aku marah padamu Laura, mengapa pria yang dekat dengan ku selalu menyebutkan namamu, begitu pun ketika aku bertemu Luwis ketika itu acara jamuan di Canada, memang sudah cukup lama dan kami saling bercerita dan pada akhirnya kami menyinggung nama Zafran dan juga kau. Kami saling terkejut dan di situlah awal mula kami bersama." Kata Catherina.


"Maksudku, baru-baru ini aku dan Luwis..."


"Bertemu di pemakaman bukan?" Sambar Catherina dengan cepat.


Laura mengangguk pelan dan ragu.


"Luwis ingin mengucapkan selamat tinggal dan meminta restu pada ke dua orang tua mu, dia adalah orang yang merasa paling merasa bersalah karena dulu pernah menjadi biang permasalahan kalian. Sebenarnya dia pun belum bisa sepenuhnya terlepas dari bayang-bayang hatinya yang mencintaimu, tapi dia bilang ingin berusaha untuk melupakanmu, dia juga ingin merasakan bahagia dan tentunya dia juga ingin melihatmu dan Zafran bahagia." Kata Catherina menjelaskan.


"Lalu kalian sepakat untuk menikah?" Tanya Laura.


"Ya, kami sepakat untuk mencoba hidup yang baru, katanya dia akan berusaha dan bersungguh-sungguh, kami akan saling support."


"Hmm..." Laura hanya mengangguk-angguk mendengar Catherina menjelaskan semuanya.


"Laura, percayalah hanya kau yang ada di dalam hati Zafran. Jika Zafran mau, sudah dari dulu ia memiliki banyak wanita, namun Zafran tidak ingin terikat dengan mereka karena hanya kaulah yang di cintainya."


"Tapi... Foto-foto kalian..." Laura masih merasa tidak senang dengan ingatannya bahwa ia melihat foto mesra Zafran dengan Catherina.


"Itu hanyalah bentuk kerjasama, dan kami tidak bersentuhan Laura. Kami foto secara terpisah, itu hanya foto editan yang seolah-olah sedang bersama. Kau bisa perhatikan, tangan Zafran berada di dalam saku celananya, dan punggungku juga di edit agar menempel, jika kau tidak percaya aku bisa pertemukan kau pada para staff, editor, dan fotografernya."


Laura masih bimbang, ia memang percaya jika itu foto editan. Namun foto yang sejajar itu terpampang nyata di setiap jalanan, dan setiap kali ingatan itu muncul membuat hatinya berdesir sakit dan sangat tidak nyaman.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2