Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
-EPISODE 38-


__ADS_3

Laura tersenyum bahagia dan memilih gaunnya sendiri, ia memilih warna biru muda dipadukan dengan warna dusty pink, warna-warna yang kalem dan lembut, warna kesukaannya.


Gaun itu panjang dan tidak terlalu mengekspose kulitnya dengan angin.


Ketika Laura hendak mengganti gaunnya, Zafran masuk ke dalam ruangan Laura dan seorang petugas yang membantu Laura mengganti pakaian keluar dengan menundukkan kepalanya.


Laura menaikkan alisnya seolah bertanya pada Zafran "Ada apa", dari pantulan kaca. Sedangkan Zafran memeluk Laura dari belakang, mereka beradu pandang melalui kaca. Gaun yang Laura coba sebelumnya belum ia lepas dengan gaun pilihannya.


"Aku tidak bisa berpisah meski hanya sedetik."


Kata Zafran memeluk Laura dari belakang dan mencium punggung leher Laura membuat Laura memejamkan mata dan membuat tubuhnya merinding gadis itu menelan ludahnya.


"Mantra apa yang kau gunakan padaku? Kau membuatku semakin mencintaimu."


Bisik Zafran ke telinga gadis itu, dan membelai halus punggung Laura yang terekspose hingga ke pinggul bawah.


Laura menggigit bibirnya tidak ingin mengeluarkan suara. Zafran kemudian mencium dengan lembut bibir Laura sembari tangan kanan pria itu masih membelai punggung Laura naik dan turun dengan gerakan lembut.


Zafran masih pada posisi memeluk Laura dari belakang, dan Laura harus mendongak, Zafran menundukkan kepala dan punggungnya. Mereka berciuman lembut.


Kemudian Zafran memutar tubuh Laura untuk menghadapnya, ciuman yang lembut berubah menjadi panas dan saling menekan. Laura sedikit mendorong Zafran untuk berhenti, ia kehabisan nafas.


Pria itu kemudian mendongakkan wajah Laura dan mencium mata, hidung dan seluruh wajah Laura dengan lembut dan penuh sensual.


"Zafran..."


Lenguh Laura pelan.


"Aku akan keluar, apa kau sudah menentukan baju mana yang kau sukai?"


Kata Zafran pelan, suaranya serak dan parau pria itu menahan semua gejolak yang ada di dalam tubuhnya.


"Hmm..."


Kata Laura pelan dan seolah juga sedang menahan hasrat nya yang ia pendam sejak lama, gadis itu menggangguk pelan dan malu.


***


Zafran mengajak Laura makan siang di restoran mewah, bangunan gaya eropa yang serba glamour gadis itu melihat menu, namun kemudian menutupnya.


"Aku tidak mengerti."


Kata Laura cemberut.


"Apa kau mau makan di tempat lain? Ada tempat makan yang lebih kau sukai?"


"Apa kau tidak akan marah? Kita sudah duduk di sini, apa tidak memalukan tiba-tiba kita pergi bahkan sebelum kita pesan makanan."


Zafran tertawa dan menggenggam tangan Laura.


"Aku yang menggaji mereka semua sayang, menurutmu apa yang membuat ku harus malu?"


"Kau juga punya restoran seperti ini?"


Laura membelalakan matanya.


"Sangat banyak, tapi untuk yang ini baru beberapa jam yang lalu."


Kata Zafran.

__ADS_1


"Baru beberapa jam yang lalu? Kenapa bisa begitu?"


Laura terkejut.


"Aku menyewa seluruh bangunan restoran ini untuk makan bersamamu, tapi pemilik restoran tahu jika yang menyewa adalah aku, kemudian dia menawarkan restorannya untuk dijual."


Kata Zafran.


"Kenapa?"


Laura penasaran.


"Bisnisnya sedang tidak bagus dan ia juga harus menjual perusahaan-perusahaannya yang lain, kabarnya aset dan saham nya juga sudah tidak bisa lagi di pertahankan."


"Maksudku kenapa kau mau membeli restoran ini, dan kapan, kau bersamaku sepanjang waktu."


Laura mengernyitkan dahinya.


Zafran kembali tersenyum.


"Stark yang mengurusnya, biasanya Edward yang mengurus tapi dia sudah bukan Assisten ku lagi, perusahaannya sudah berkembang pesat, dan kenapa aku membeli restoran ini, walaupun letaknya sebagai restoran tidak strategis dan harga yang di tawarkan cukup tinggi untuk tempat yang tidak terlalu bagus?"


"Itu karena aku mengenal dia orang yang baik dan aku hanya ingin membantunya, lagi pula aku tidak bisa membiarkan lebih banyak orang kehilangan pekerjaan."


"Tidak terlalu bagus? Selera mu setinggi apa Zafran, ini sangat mewah."


"Kemewahan restoran ini sangat jauh dari restoran-restoran milikku..."


Zafran tersenyum


"Baiklah kau ingin makan apa?"


Kata Laura.


Zafran tersenyum, ia tahu Laura sangat pintar tapi ia belum tahu bagaimana Zafran bisa sesukses ini, Laura belum tahu dunia bisnis sangat kejam.


Zafran bukan pria serakah ia selalu menjadi donatur paling banyak di dunia, setiap tahunnya Zafran mendonaturkan uangnya untuk berbagai jenis kegiatan amal, khusus nya untuk para lansia, janda, dan anak yatim piatu bahkan untuk warga konflik perang.


Zafran memesan beberapa makanan, menjelaskan pada Laura daftar menu tersebut, dan Laura memilih makanan yang ia sukai.


Setelah pada hidangan terakhir, Laura memberanikan diri untuk bertanya.


"Ba-bagaimana Gaby..."


Kata Laura.


Zafran diam sejenak dengan raut wajah yang sangat datar.


"Dia di tempat yang tidak akan bisa lagi menyentuhmu."


"Apa kalian masih berhubungan... Maksudku dia bilang kau adalah tunangannya."


"Apa kau percaya dengan mulutnya?"


"Saat itu aku tidak percaya siapapun, bahkan dengan mu, tapi perkataan Gaby bahwa dia adalah tunanganmu sedikit membuat kaki ku lemas, dan dia juga tahu masalah perjanjian kita, tentang penginapanku, katanya kau lah yang memberitahunya."


"Benarkah dia bilang begitu?"


"Ehmh...

__ADS_1


Kata Laura sembari mengangguk.


"Aku akan menyelidikinya dari siapa dia mendapatkan informasi itu..."


"Tapi... Bolehkah aku bertanya lagi..."


Laura ragu-ragu.


"Tanyakan semua yang ada di pikiranmu."


Zafran meraih tangan Laura.


"Berapa kali... Bukan maksudku, berapa banyak dengan Gaby... Maksudku dengan wanita-wanita..."


Laura malu menanyai hal seperti itu.


"Berapa banyak aku berhubungan dengan wanita?"


Zafran mengulangi kalimat Laura yang rancau.


Laura mengangguk.


"Tidak sebanyak yang ada di pikiranmu, dan setiap wanita tidak akan lebih dari 1 kali."


"Kenapa?"


"Entahlah."


Kata Zafran melenguh kan nafasnya.


"Hanya merasa bosan dan memuakkan, ku pikir rasanya akan seperti saat aku menciummu dulu saat remaja, penuh gairah dan berdebar, tapi tidak ada yang bisa membuatku seperti itu, hanya kau yang bisa membangkitkan semuanya."


Zafran mengusap punggung tangan Laura menggunakan ibu jarinya san kemudian mengecupnya.


Laura terdiam.


"Apa semua ini menganggumu, dan kau akan membatalkan semua nya? Apa sekarang kau ingin pergi dariku?"


Wajah Zafran berubah pucat dan menggenggam erat tangan Laura.


"Saat kita berpisah, aku bahkan hampir bunuh diri, aku tahu kau pasti juga merasakan hal sama denganku, tersiksa dengan perasaan kehilangan. Aku akan memaafkanmu untuk masalah itu, tapi aku mohon jangan pernah menemui satu wanita pun setelah ini."


Kata Laura.


"Tidak akan pernah Laura, aku pastikan itu."


Jawab Zafran dengan cepat.


Laura tersenyum dan Zafran kembali merasa lega, setelah beberapa saat yang lalu pria itu sempat menahan nafasnya karena takut Laura berubah pikiran dan pergi meninggalkannya.


Mereka sudah selesai makan siang dan kembali menuju Mansion, sebelum itu Laura sempat meminta ponsel, sebenarnya Zafran sedikit berat, ia takut seseorang akan menghubunginya dan informasi-informasi tidak penting akan mengganggunya namun Laura berjanji tidak akan terpengaruh.


Zafran memberitahukan pada Laura bahwa setelah mereka resmi mengumumkan pertunangan, pasti akan banyak guncangan, dan Zafran meminta pada Laura untuk selalu percaya padanya.


.


.


.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2