
Setelah duduk di dalam mobil, Yolanda kaget melihat Marina yang duduk didepannya. Ia memberi kode mata untuk Yolanda. Arsen tidak menyadari sebab ia sibuk melihat layar ponselnya, saat Yolanda berdiri dan turun, Arsen mendongak karena bau parfum yang ia cium di tangga tadi sama persis dari orang yang baru turun. Ia mengarahkan kepalanya untuk melihat sosok pemilik bau parfum itu. Tapi Krisna dengan cepat menghalangi pandangannya, ia juga pura-pura menoleh ke arah pintu mobil, Arsen hanya melihat sekilas bagian belakang Yolanda.
‘Siapa dia sebenarnya?’ ia bertanya dalam hati.
Dari enam tahun yang lalu, Arsen sudah mencari pemilik bau parfum tersebut, itu sangat berarti baginya.
‘Apa itu hanya kebetulan atau itu memang dia?’ ia tidak bisa melihat sebab mobil sudah ditutup dan melaju pergi.
Krisna terpaksa membawa Nonya Marina pulang menggunakan mobil Van tersebut agar keduanya aman.
Tiba di rumah Arsen masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam. Arsen menarik sebuah koper dari bawah ranjang, membuka koper menggunakan sebuah alat komunikasi khusus untuk menghubungi rekannya.
“Halo,” sahut seseorang di ujung telepon.
“Saya ingin kamu menyelidiki seseorang untuk Le.”
“Siapa? Laki-laki apa wanita?”
“Gadis pemilik kalung itu.”
Lelaki yang bernama Leu Chen itu terdiam sejenak, sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Apa kamu masih mencarinya? Ini sudah enam tahun berlalu.”
“Kali ini aku bertemu seseorang dengan wangi yang sama.”
“Sen, didunia ini ada banyak jenis parfum yang sama, jangan cepat menyimpulkan.”
“Itu sebebnya saya memintamu menyelidiki untukku. Saya yakin kalau dia orangnya.”
__ADS_1
“Baik katakan dimana posisi kamu melihat atu bertemu dia.”
Arsen menceritakan semua tentang kejadian hari itu, dari saat bertemu Yolanda di tangga, melihatnya disebrang gedung sebagai sniper dan sempat masuk ke dalam mobil yang sama dengannya. Tapi ia tidak sempat melihat wajahnya secara langsung.
“Sen, ada banyak tentara wanita di ngera ini. Kalau tanpa identitas yang jelas akan sulit menemukannya.”
“Itu tugas kamu Le, lakukan dengan baik. Ingat, jangan sampai nenekku tau tentang semua ini.” Arsen menutup telepon
*
Satu bulan lebih sudah ia menjadi menantu di rumah besar itu, walau hanya status, karena Arsen masih belum bisa menerimannya sebagai istri . Tetapi tidak mengapa dengan Yolanda, ia justru merasa lebih tenang.
Arsen jarang bertemu belakangan ini, setelah bertemu dengan Arsen di tangga kantor. Yolanda sengaja menghindar .
Hari itu sang sepupu datang ke kantor dan menceramahinya.
“Dia jarang di rumah,” kilah Arsen, ia masih sibuk membolak-balikkan file di tangannya.
“Usaha dong Bro, ajak Dinner, liburan, shooping,” ucap sang sepupu.
“Jangankan mengajak Dinner dia bahkan selalu menghindari setiap kali bertemu dan kami jarang bicara.”
“Ucapan gue benar kan? Gue yakin dia bukan asisten rumah tangga. Mungkin dia seorang model atau atlet. Soalnya dia selalu olahraga setiap pagi dan bodynya bro bikin para pria panas dingin. Pikiranku jadi liar setiap kali melihatnya lari pagi berkeringat. Coba sesekali kamu ke taman komplek dia akan ada di sana ,” ujar Erik.
“Gue gak tertarik mengutit wanita,” ucap Arsen acuh.
“Lu akan berubah pikiran saat dia melepaskan pakaiannya, Bro,” goda Erik.
Membuat kuping sepupunya jadi panas. “Sudah. Sana pulang!” Arsen melemparkan gulungan kertas ke arah Erik, ia kesal juga saat Erik menjadikan sang istri jadi ajang fantasinya. Erik tertawa terkekeh saat melihat Arsen marah.
__ADS_1
Di kantor Arsen memikirkan perkataan sepupunya. Erik memintanya menanam benih di rahim Yolanda. Karena pusing ia memilih pulang ke rumah untuk bicara dengan Yolanda
Saat mobil itu tiba di rumah, ia berjalan ke lantai tiga untuk menemui Yolanda, di depan pintu ia menarik napas beberapa kali sebelum mengetuk. Namun, saat diketuk beberapa kali tidak ada sahutan. Arsen mendorong pintu dan masuk ke kamar, ternyata wanita itu lagi melakukan senam jumba di balkon kamarnya. Gerakakan yang lihai dan body goal dan penampilanya sempat membuat Arsen tertegun. Ia memakai pakain olah raga berbentuk minset dan celana pendek shot memperlihatnya seluruh bentuk tubuhnya.
‘Apa yang dikatakan Erik benar, Body Yolanda atletis
Siapa kamu sebenarnya?’ tanya Arsen saat melihat tubuh istrinya dan gerakannya yang profesional.
Gerakan senam yang biasa di lakukan orang yang sering mengikuti kelas senam, perut Yolanda memiliki body atletis dengan tinggi badan 177 cm. Profesinya sebagai tentara menuntutnya sering fitnes. Ia mematikan musik lalu menarik handuk mengusap wajahnya lalu melepaskan ikatan kepala. Rambutnya diberi warna pirang, Yolanda terlihat seperti model pakaian senam. Selama bekerja di rumah Arsen, ia selalu menggulung rambutnya untuk menyamarkan penampilannya, kali ini Arsen melihat semuanya dan penasaran siapa sebenarnya Yolanda.
Yolanda terkejut saat Arsen ada di kamarnya, sedang menatap penampilannya. Alih-laih menutupi rasa terkejutnya ia pura-pura tebatuk bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
“Ada apa Pak? Apa Bapak mau bicara denganku?” lalu ia menutup tubuhnya kembali dengan memakai kaos oblong longar seperti kebiasaanya di rumah.
“Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?” tanya Arsen.
“Tidak ada.”
“Aku tidak percaya. Kenapa kamu selalu berpenampilan seperti gembel di rumah ini, aslinya kamu tidak seperti.”
“Tidak semua yang dilihat mata kebenaran Pak Arsen, ada saatnya seseorang berpenampilan seperti itu demi seuatu hal, makanya jangan menilai seseorang dari covernya saja,” ucap Yolanda menegak air dalam gelas itu hanya beberapa tegukan, Apa yang dilihat membuatnya Arsen sedikit bigung. Belum lagi saat ia duduk di sofa matanya melirik jam tangan yang tergeletak di atas nakas di samping ranjang. Sebuah jam tangan merek terkenal bahkan tidak sembarangan orang bisa memilikinya.
Mata Arsen semakin liar meneliti semua isi kamar istrinya. Yolanda sadar akan hal itu, tetapi ia bersikap tenang.
“Aku memutuskan untuk melakukan malam pertama malam ini. Kamu boleh memilih tempatnya,” ucap Arsen
Bersambung.
Jangan lupa memberikan dukungan dengan cara like vote dan berikan hadiah ya, terimakasih.
__ADS_1