Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Tugas Istri Melayani Suami


__ADS_3

Melihat Arsen sudah tidur, Yolanda melihat jam pengingat. Ternyata  malam itu jadwal Yolanda menelepon adiknya. Ia kembali menggunakan ponsel baru untuk menelepon sang adik. Kali ini yang mengangkat teleponnya adik bungsunya.


“Kakak … Aku sudah menunggu teleponmu dari tadi. Apa kamu baik-baik saja?”


“Ya, Baik,” sahut Yolanda.


“Kak, aku sudah melakukan pelatihan seperti yang kamu katakan, setelah lulus sekolah aku akan ikut seleksi pertama. Aku, Kakak dan Mama baik-baik saja, jangan khawatir,” ujar adik bungsu Yolanda di ujung telepon.


“Aku sudah mengirim semua yang kamu butuhkan, aku tutup telepon ya.”


“Kakak tidak bisakah kita bicara sebentar lagi? Aku masih ingin mendengar suara kakak, menunggu telepon dari kakak setiap bulan hal yang paling membahagiakan untukku dan Kak Mitha. Walau hanya lima menit itu sangat berhrga untuk kami, Kakak tidak bisakah kamu mengirim fotomu?”


“Tidak bisa Pudan.”


“Pakaian bekas keringatmu juga tidak apa-apa, aku hanya ingin mencium wangi tubuh kakakku. Kami sangat merindukan kakak.”


“Kamu gadis kuat Pudan, kalau kamu tidak kuat tidak akan mampu ikut pelatihan nanti,” ujar Yolanda. Ia memanggil nama adiknya dengan sebutan Pudan. Pudan artinya adik bungsu.


“Kirim baju bekas  Kakak untuk  kami berdua. Tidak bisa melihat wajahmu setidaknya kami bisa mencium bau Kakak” bujuk sang adik.


“Baiklah, aku akan mengirimkan pakaianku dan parfum yang biasa aku pakai.”


“Aku tidak ingat lagi seperti apa wajahmu. Mungkin jika suatu saat kita bertemu di jalan aku tidak akan mengenal Kakak, berikan satu foto Kakak,” bujuk sang adik.


“Tidak bisa, itu untuk kebaikan kita semua,” ujar Yolanda tegas.


Kedua adik perempuan Yolanda sangat merindukan sang kakak, tapi sebesar apapun mereka membujuk untuk Yolanda pulang dan bertemu itu tidak akan berhasil dan tidak akan mungkin. Yolanda mencukupi semua kebutuhan keluarganya dengan baik. Tetapi ia tidak bisa menemui mereka. Yolanda tahu bagaimana rupa dan wajah kedua adiknya  dari akun media sosial masing-masing. Tetapi Mitha dan Elvania tidak pernah tahu bagaimana wajah sang kakak.


Besok pagi Yolanda setelah Arsen berangkat ke kantor . Yolanda juga ijin keluar ke Marina ia menuju apartemen miliknya,  memasukkan dua pakaiannya  miliknya ke dalam boks lalu mengirimnya ke rumah Mamanya


                             **


Kemarahan Arsen dari malam itu, rupanya masih berlanjurt  sampai di kantor.  Dari berangkat dari rumah sampai di kantor ia hanya diam. Kalau biasanya ia akan pamit pada Yolanda sebelum berangkat dan mengusap perut bucitnya, pagi itu ia diam seribu bahasa  tidak bicara sepatah katapun padanya.


Tiba di kantor, Arsen duduk di kursinya dan memijat kening, kali ini Erik datang lagi  berkunjung.


“Kenapa Muka lu ditekuk begitu?” tanya sepupu ia membuka lemari pendingin di ruangan Arsen, membuka dan menegak minuman bersoda.


“Gue pusing  menghadapi sikap keras Yolanda. Gue pikir setelah gue bersikap baik padanya dia akan berubah, ternyata sama saja. Dia mengangapku hanya sebatas suami pajangan,” ucap Arsen curhat panjang lebar.


“Kenapa lu jadilah lemah begitu sih Bro. Untuk menghadapi wanita keras seperti dia lu harus sabar,” ujar Erik.


“Kurang sabar apa lagi Rik, dia hamilpun tidak memberitahuku sama sekali , gue menahan diri tidak marah. Dia tidak pernah mengeluh tentang kehamilannya dia tidak pernah mau cerita sedikitpun tentang hidupnya sampai sekarang,” ujar Arsen.


“Lo mau gua kasih saran, gak?”

__ADS_1


“Apa?”


“Untuk menahlukan wanita seperti Yolanda, lu harus sering memberinya suntikan,” ujar Erik.


“Suntika apa?” tanya Arsen.


“Ah,  kampungan lu, suntikan pakai pisang lu,” ucap Erik kesal.


Arsen  hanya mendengus seperti kuda mendengar usulan sepupunya. Umur mereka berdua sama, karena lahir di bulan yang sama hanya tanggal yang beda. Erik lebih cepat dua hari. Tetapi  Arsen menolak memanggilnya Abang, karena sudah bersahabat dari sejak kecil. Jadilah mereka memangil dengan sebutan ala  anak muda kekinian lu, gue dan bro.


                     *


Arsen pulang dari kantor wajahnya masih terlihat suram.


Ia melepaskan  jas dan melemparkan sembarangan di atas kasur, Yolanda memungut berniat merapikan


“Tidak usah! Biarkan saja seperti itu, itu bukan tugasmu,” ujar Arsen ketus.


“Kamu bilang aku istrimu. Aku melakukannya sebagai istrimu.”


“Jadi apa kamu mengangapku sebagai suamimu?” Asen balik bertanya.


“Iya, karena kontrak pernikahan masih berlangsung.”


“Oh, karena kontrak itu. Kalau begitu lakukan tugasmu sebagai istri  kontrak, temanin aku mandi,” ucap Arsen kesal.


Awalnya Arsen hanya mengatakan dengan asal karena ia tahu Yolanda akan menolak, ternyata wanita yang sedang hami itu setuju. Arsen  tidak main-main masuk ke badtud di kamar mandi dan meminta Yolanda menemaninya mandi. Wanita itu menurutinya karena itu bagian dari tugas. Ia menganti pakaiannya menggunakan kaos berbahan  tipis dan celana pendek masuk ke dalam badtud. Duduk di depan Arsen lelaki itu menatapnya dingin.


“Kamu gosok tubuhku dengan itu,” pintah Arsen menunjuk spon pembersih tubuh di sampingnya badtud


Yolanda melakukannya ia mengosok punggung bagian belakang Arsen, tapi saat mengosok bagian depan tiba-tiba jantung Yolanda  mengulung bagai ombak di tepi pantai, ditambah tatapan mata Arsen yang terus menatap wajahnya. Nyali Yolanda langsung menciut, ia tidak berani menatap maupun membalas tatapan mata Arsen.


“Apa kamu merasa capek selama hamil?” tanya Arsen masih menatap wajahnya.


“Tidak.”


“Tapi kamu keringatan,” ucap Arsen menyentuh kening Yolanda, ia mengusap kening yang berkeringat. Saat telapak tangan itu ingin mengusap bagian hidung tangannya tanpa sengaja menutupi sebagian wajahnya hanya menyisahkan mata. Bayangan  tentang 6 tahun silam melintas kembali di ingatannya.


‘Matanya sama. Apa dia orangnya?’ Mata Arsen menatap dalam ke wajah  Yolanda.


“Apa ada masalah?”


“Berapa usia  kamu sekarang?” tanya Arsen.


“Aku lebih tua dari kamu,” balas Yolanda.

__ADS_1


“Kamu hanya perlu menjawab Yolanda.”


“Aku dua puluh tujuh tahun.”


“Apa kamu pernah menyelamatkanku sebelumnya? Aku bertanya padamu sekali lagi Yolanda … Apa kita pernah bertemu saat aku masih muda?”


“Tidak,” sahut Yolanda tidak mau menatap mata Arsen.


“Kalau kamu bicara ke orang, kamu harus melihat matanya,” ucap  Arsen memegang  wajah  Yolanda dengan kedua tangannya, lagi-lagi Yolanda tidak berani menatap. Arsen menarik tangannya memangku tubuh Yolanda, memaksa wanita hamil itu untuk menatap wajahnya. Yolanda wanita yang keras, ia mampu berusaha keras untuk melawan rasa gugup walau ia tahu kebenarannya. Ia mengumpulkan semua kekuatannya dan menatap wajah tampan lelaki itu dengan berani. Tapi Arsen bisa melihat kalau ia meremas ujung pakaiannya untuk menyembuyikan sesuatu.


“Tugas istri melayani suami, aku ingin kamu melayani suamimu,” pintah Arsen, antara marah, kesal, ingin emosi menyatu jadi satu.


“Tapi bagaimana dengan dia?” tanya Yolanda menunjuk perutnya.


“Dokter mengatakan diatas lima bulan janin sudah aman.” Arsen benar-benar menguji mental Yolanda.


“Baiklah.” Yolanda menunjukkan dirinya wanita kuat, walau hati dan perasaannya brontak. Tetapi sebagai seorang istri yang harus melayani suami ia melakukannya, ia melepaskan  pakaiannya. Arsen awalnya berpikir kalau Yolanda akan menolak tetapi dugaannya salah wanita itu melayani hasratnya di dalam bak mandi. Ia lupa kalau  luka Yolanda  belum kering sepenuhnya.


Setelah selesai satu ronde, lalu ia mandi dan berganti pakaian. Saat berganti pakaian ia baru ingat luka dipinggang Yolanda.


“Sial, aku lupa.” Ia buru-buru keluar menghampiri ke kamar,  wanita itu sedang melepaskan perban.


“Kenapa kamu tidak menolaknya tadi,” ujar Arsen merasa semakin buruk.


“Apa hal seperti itu bisa ditolak?” tanya Yolanda menarik kain kasa yang menempel di lukanya.


“Apa berdarah lagi?” Arsen  mendekat dan ikut membantu Yolanda membersihkan sisa air dalam luka.


‘Wanita yang luar biasa kuat, tidak pernah mengeluh dan tidak menunjukkan rasa sakit, apa dia benar-benar manusia? Apa jangan-jangan robot? Kalau robot tidak mungkin hamil anakku’ Arsen bermolog dalam hati seperti orang bodoh.


Saat tangan Arsen  diatas perut Yolanda sembari membersihkan luka dipinggang, bayi dalam  kandungan Yolanda  bergerak dan menendang tangannya. Lelaki Blasteran itu kaget mata hazel itu melotot menatap Yolanda, ia seolah-olah tidak percaya ada yang bergerak.


“Apa dia  barusan mendang?” tanya Arsen dengan mata melotot, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


“Iya,” sahut Yolanda masih dengan sikapnya yang tenang dan misterius.


“Apa dia sudah bergerak? Maksudku apa dia sudah bisa menendang?” tanya Arsen gugup, tanganya meraba perut Yolanda dengan wajah ceriah, kemarahan malam itu hilang seketika saat bayi dalam kandungan Yolanda menendang tangannya.


“Iya, kata dokter bayi jalan lima bulan tendangan kakinya sudah terasa.  Bisa tolong  tempelkan  perbannya lagi, jika  dia bergerak memutar aku merasa luka ini ikut sakit, terkadang aku berpikir mereka ada du di dalam sana,” ucap Yolanda.


"Kapan terahir kamu kontrol ke dokter? Nanti mari kita lakukan bersama," ujar Arsen.


"Sudah periksa bulan kemarin, tapi tidak mungkin dua. Mungkin tangan dan kakinya sama-sama bergerak," tutur Yolanda.


Arsen melakukannya tapi tatapan matanya masih terus ke perut Yolanda, tendangan bayi  yang mengenai telapak tangannya membuatnya terharu dan emosional ia sangat bahagia. Tetapi Yolanda bersikap biasa saja,  ia berpikir kalau bayi itu bukan miliknya hanya menumpang diperut saja, sesuai perjanjian setelah ia melahirkan anak itu akan diserahkan pada keluarga Arsen dan ia menghilang lagi seperti biasa.

__ADS_1


Bersambung


Bantu like, komen dan berikan hadiah ya agar authornya semakin  bersemangat


__ADS_2