Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Dia Pasukan Baret Merah


__ADS_3

Selama hampir empat tahun Arsen dilanda rasa bersalah karena kehilangan Yolanda, ia bahkan menyalahkan dirinya atas meninggal istri dan anaknya. Andaikan saja saat itu mendengar perkataaan Nenek aku tidak akan kehilangan putraku. Andaiakns saat itu aku mendengar nasihat Yolanda aku juga tidak akan kehilangan dirinya’ itulah kata-kata penyesalan yang terniang-niang di kepala Arsen empat tahun setelah kabar meninggalnya Yolanda. Ia lebih banyak menghabiskan waktu bekerja dan berlatih bela diri. Bahkan memutuskan tinggal di Amerika. Tapi kali ini saat melihat wanita yang mirip Yolanda jadi tentara, ia bahkan rela membanun kerja sama dengan tentara tujuannya mencari tahu tentang Yolanda.


Belum sempat bertanya dengan wanita tersebut, ia sudah keluar dan digantikan pasukan lain untuk mengawal Arsen. Saat dirinya berusaha melupakan masa lalunya ternyata sosok yang diyakini Yolanda ada di depan matanya.


Beberapa hari kemudian rasa penasarannya semakin memuncak, ia rela mempertunjukkan kecangihan senjata buatannya di depan para petinggi tentara. Saat Arsen dan para petinggi tentara sedang menyaksikan uji coba senjata. Mata Arsen kembali melotot wanita yang mirip Yolanda itu ternyata bergabung dengan kopasus atau pasukan baret merah. Kopassus salah satu pasukan terbaik di negara ini,  tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana pelatihannya sangat keras bahkan melewati batas normal manusia.


‘Yolanda apa dia sekarang jadi kopasus?’ Arsen masih terus menatap sosok pasukan wanita tersebut. Saat uji menembak, cara memegang senapan  ditangannya Arsen yakin kalau itu Yolanda.


“Apa dia seorang wanita?” tanya Arsen saat Yolanda menunjukkan  kemampuanya dalam menembak di depan petinggi tentara dan polri.


“Iya, dia salah satu pasukan terbaik kami, Ini hari pertama dia bertugas baru pulang dari Turkey,” ujar Sunu petinggi tentara yang duduk bersama Arsen.


‘Baru bertugas hari ini? Jadi yang bertugas mengawalku hari itu bukan dia?’ Arsen semakin bigung.


“Apa boleh saya bertemu dengannya? Saya ingin mengajarinya secara langsung tentang tehnologi baru buatan kami.”


“Baik.”


Besok harinya wanita yang bernama Vania itu diutus ke kantor Arsen, lelaki itu tidak sabar lagi menunggu di ruangannya.


“Pak Arsen tentara yang ingin melihat senjata itu sudah datang,” lapor asisten Arsen.


“Suruh dia ke ruangan saya.” Arsen  menahan napas gugup.


Tidak lama kemudian seorang wanita cantik  datang menemuinya, Arsen terdiam saat melihat wanita yang menggunakan seragam loreng itu. Wajah dan matanya sama persis Arsen sangat yakin kalau itu Yolanda yang berpura-pura tidak mengenalnya.


“Selamat pagi Pak Arsen, saya diminya Pak Sunu untuk datang ke kantor Bapak,” ucapnya suaranya bahkan  sama.


‘Apa benar dia masih hidup? Apakah benar ini Yolanda? Tolong katakan kalau kamu benar-benar ini’ ucap Arsen dengan dada terasa sesak. Rasa rindu dan rasa bersalah bertahun-tahun sangat terobati saat melihat wanita tersebut.


“Pak Arsen!” panggil wanita itu dengan lembut.


“Siapa nama kamu?”


“Saya Vania Pak,  sebelumnya kita sudah pernah bertemu di bandara.”


“Iya saya ingat. Tapi apa kamu tidak mengingatku?” tanya Arsen sedikit memaksa.

__ADS_1


“Maaf Pak Arsen, saya belum  bertemu Bapak sebelumnya. Apa orang yang bapak cari saat itu sudah ketemu?” tanya Vania dengan sopan.


Arsen terus  menatap wajahnya berharap wanita itu hanya berpura-pura tidak mengenalnya dan ia berharap kalau orang tersebut adalah Yolanda.


“Tidak dan aku berharap itu adalah kamu.”


“Saya?” tanya Vania dengan bigung, ia benar-benar tidak mengenal Arsen.


“Iya, aku yakin kalau kamu orang yang aku cari.”


“Kenapa?”


“Wajah kalian sangat sama.”


Arsen mendekat dan melihat mata Vania dari jarak yang sangat dekat, ia  berharap menemukan sesuatu dalam pandangannya. Tapi Vania sama sekali tidak gentar, ia membalas tatapan lelaki tampan itu dengan tenang ia sangat percaya diri.


‘Kenapa dia tidak grogi? Kalau dia memang Yolanda pasti sudah gugup saat aku melakukan itu’ Arsen membatin.


“Ada apa Pak?”


“Apa kamu yakin tidak mengingatku? Cobalah untuk jujur padaku.” Arsen masih berharap Vania mengenal dirinya.


“Apa kamu sudah menikah?” tanya Arsen.


“Belum Pak, tapi calon  suami ada.”


Mendengar hal itu Arsen  berusaha mencari tahu tentangnya. Ia tidak menunjukkan senjata baru itu pada Yolanda ia meminta wanita itu untuk datang lagi besok. Vania yang tidak tahu apa-apa ia tidak menolak, ia kembali pulang mengendari mobil.


                       *


Demi  menyelidiki tentara wanita yang bernama Vania Arsen akhirnya  setuju menjalin kerja sama dengan Sunu. Perusahaan Senjata milik Arsen akan pemasok utama  bagian persenjataan bagi tentara dan polri.


“Saya setuju dengan syarat … berikan  informasi tentang wanita yang bernama Vania,” ujar Arsen.


“Vania?” Kedua pejabat itu saling melihat.


“Iya, saya ingin dia yang bertanggung jawab untuk semua senjata saya.”

__ADS_1


“Baik.”


“Besok pagi saya ingin wanita itu ikut dengan saya ke Amerika.”


Sunu sangat tertarik dengan senjata buatan perusahaan Arsen, kualitasnya dan harga bagus. Agar kerja sama itu berjalan baik dengan peruhaan Arsen mereka menuruti permintaan Arsen untuk mengajak Vania ke Amerika untuk melihat pembuatan senjata pesanan Sunu.


                        *


Vania   menunggu Arsen di bandara, karena ia diperintahkan untuk ikut melihat produksi senjata yang dipesan. Kali ini Arsen sengaja meminta Krisna untuk ikut, ia ingin melihat reaksi mantan rekan Yolanda itu saat melihat orang yang sama dengan Yolanda. Akhirnya mereka bertemu dengan Vani Saat  tiba, Krisna melongo melihat orang yang sangat mirip dengan Yolanda.


“Bagaimana?” tanya Arsen.


“Apakah itu Yolanda?” Krisna balik bertanya setengah berbisik.


“Itu yang perlu kita selidiki.”


“Selamat pagi Pak Arsen , saya ditugaskan sama Pak Sunu untuk ikut sama bapak.”


“Ini Krisna orang yang akan membantumu melihat pembuatan senjata nanti,” ujar Arsen.


“Halo Pak.” Ia menyodorkan tangan menyalam Krisna.


“Baiklah, mari.”


Tatapan Vania  tenang tidak ada ekpresi terkejut saat melihat Krisna, ia juga tersenyum tulus, melihat sikap tenang itu mereka berdua jadi ragu kalau itu adalah Yolanda. Karena Yolanda tidak pernah tersenyum pada orang lain yang tidak ia kenal.


Mereka berjalam dari jalur khusus menuju jet pribadi Arsen, Krisna terus mengawasi gerak-gerik Vania. Wajah mereka mirip tetapi sikap dan krakter keduanya sangat berbeda. Tiba di dalam pesawat  Yolanda duduk dengan tenang, ia melihat dari jendela sesekali tersenyum dan mengarahkan camera ponsel mengambil gambar dari jendela pesawat. Vania memiliki sikap yang ceria.


“Yolanda tidak pernah melakukan itu,” gumam Krisna mereka berdua masih mengawasi Vania.


“Sikap mereka berdua sedikit berbeda, tapi aku yakin kalau dia Yolanda,” balas Arsen setengah berbisik.


“Ada satu cara membuktikannya, tapi ini sedikit berisiko.”


“Apa katakan saja,” Arsen menatap dengan penasaran.


“Setiap anggota akan memiliki tato nomor seri dibelakang kepala dibawah rambut dia memiliki  nomor seri 03.”

__ADS_1


“Aku akan melakukannya.” Saat pramugari menyodorkan minum untuk Vani Arsen menyengol mengenai pakaian bagian belakang Arsen buru-buru menarik tissu untuk  membantu tumpahan, saat rambutnya diangkat ternyata.


 Bantu like komend an berikan hadiah ya, agar viwers naik terimakasih


__ADS_2