
Asen hanya diam sembari menahan tawa, saat Yolanda mulai bertingkah konyol, dengan senang hati ia mulai melepaskan pakaiannya satu demi satu.
“Apa yang kamu berikan padaku? Ayo ngaku,” ucapnya sembari menunjuk hidung Arsen.
“Aku tidak memberikan apa-apa, aku hanya mengajakmu minum,” jawab Arsen dengan tenang.
“Kamu tidak tahu kalau aku tidak bisa minum anggur. Anggur merah adalah musuh terbesarku, mereka selalu membuatku tidak waras. Apa kamu tidak tau itu?” tanya Yolanda mulai mengoceh seperti burung beo, ia bahkan melakukan tarian seksi membuat Arsen tertawa terpingkal-pingkal. Yolanda keluar dari sifat aslinya
Krisna ternyata sudah menceritakan rahasia besar Yolanda, ia tidak bisa minum namanya alkohol terutama wine. Kalau ia minum maka ia akan melakukan hal yang gila dan mengungkapkan semua rahasia.
“Aku mencintaimu Yolanda,” ujar Arsen ia ingin tahu perasaan Yolanda yang sebenarnya.
Yolanda tertawa renyah lalu ia memegang wajah Arsen dengan kedua tangannya dan menciumi wajah Arsen berulang-ulang . “Aku juga mencintaimu dari dulu sampai sekarang, tapi aku tidak bisa bersamamu karena Nenekmu tidak suka denganku. Adikku juga mencintaimu kebahagian adikku kebahagianku.”
“Aku tidak mau dengan adikmu, aku ingin tetap dengan istriku,” ujar Arsen meraih leher Yolanda dan mencium bibir Yolanda dengan lembut. Saat Yolanda mabuk ia sangat jinak.
“Apa kamu juga merindukanku?” tanya Yolanda menatap wajah Arsen dengan mata sendunya. Saat Yolanda mabuk Arsen bisa melihat kepolosan di dalam tatapan matanya tidak seperti biasanya yang selalu menatap tajam.
“Sangat,” ucap Arsen membawa Yolanda ke atas ranjang tidak lupa ia mengarahkan posisi peonselnya juga.
“Kita mau apa?” tanya Yolanda.
“Kita akan mengobati rindu yang sudah lama terpendam,” Arsen mengercercap bibir itu kembali. Yolanda melakukan hal-hal yang gila tapi akhirnya jatuh kepelukan Arsen juga. Lelaki tampan itu tersenyum sangat bahagia saat Yolanda tepar setelah meraungi ombak hasrat bersamanya. Yolanda tertidur pulas di samping Arsen saat satu malam mereka habiskan melepaskan hasrat yang sudah lama terpendam
*
Yolanda terbangun saat harum bawang goreng menyerbu indra penciumannya, ia terbangun tapi kesadarannya belum pulih. Kepalanya sangat berat, bukan hanya kepala yang sakit, ia juga merasakan bagian bawahnya teras ngilu.
“Aduh apa yang terjadi?” Ia menoleh kanan-kanan kiri, ruangan itu terasa sangat asing. Yolanda mencoba mengingat dimanakah keberadaan raganya saat ini. Tetapi otaknya seolah-olah mogok kerja. Sekeras apapun ia berpikir otaknya tidak mau bekerja untuk mengingat apa yang terjadi tadi malam. Saat ia menoleh tubuhnya dibawah balutan badcover tubuh itu benar-benar naked tidak ada sehelai benangpun menempel di tubuhnya.
“Astaga apa yang sudah aku lakukan?” tanya Yolanda panik, ia mencoba berdiri tetapi kepalanya sangat berat dan ia memutuskan untuk menunggu sebentar . Tapi saat ia dirundung kebingungan Arsen muncul dari pintu.
“Selamat pagi Sayang,” sapanya lembut.
Tetapi Yolanda masih mematung sembari mencoba mencerna makna panggilan sayang diucapkan Arsen.
__ADS_1
‘Sayang? Apa kami melakukannya?”
“Apa yang terjadi kepalaku sangat sakit,” keluh Yolanda memegangi kepala.
“Cepat mandi kita akan serapan,” pintah Arsen.
“Apa tadi malam kita melakukannya?” tanya Yolanda menahan napas menunggu jawaban dari Arsen.
“Apa itu sesuatu yang salah? Kamu kan istriku,” jawab Arsen.
“Jadi benar?” Suara Yolanda mengebu seolah-olah tidak yakin dengan apa yang ia dengar.
“Kamu terlalu banyak minum,” jelas Arsen.
Tiba-tiba Yolanda meraih bantal dan melemparnya pada Arsen sembari mengumpat, bukannya marah Arsen malah menikmati kemarahan Yolanda, ia memungut bantal dari lantai dan meletakkanya kembali di atas tempat tidur.
“Kamu sangat nakal saat mabuk,” ucapnya mengoda Yolanda.
“Aku sudah bilang tadi malam, aku tidak bisa minum, tapi kamu memaksa memasukkan ke mulutku.”
“Tapi aku akui wine membuatmu sedikit jinak,” tambah Arsen lagi.
‘Astaga apa benar aku senakal itu tadi malam? Bagaimana kalau aku hamil? Aku tidak pakai pengaman lagi’ Yolanda merasa khawatir.
Saat melirik jam dinding Yolanda kembali panik setengah mati, karena ia akan bertugas pagi itu, mereka akan mengawal presiden dalam peresmian jalan tol yang baru selesai. Karena berhungan langung dengan masayarakat jadi dibutuhkan pasukan paspampres yang lebih banyak dari biasanya.
“Cari apa?” tanya Arsen melihat Yolanda melirik kanan kiri, ia mencari pakaiannya yang berserak di lanti. Dengan nakalnya Arsen mengeser pakaiannya Yolan menggunakan kaki.
“Pakaianku. Aku akan bekerja.” ujar Yolanda.
“Aku sudah meminta ijin kamu tidak bisa masuk kerja karena mengalami kecelakaan motor.”
“Apa?” Yolanda kaget setengah mampus sebab Arsen mendapatkan nomor Hugo, “ da-darimana kamu mendapatkan nomornya, dia paling tidak suka orang lain tahu nomornya,” ujar Yolanda sangat tahu tentang rekan kerjanya.
“Aku meminta dari Kris, tenang saja Kris juga suah bertemu dengan lelaki sangar itu,”ujar Arsen, ternyata ia sangat tidak suka melihat kedekatan sang istri dengan rekan kerjanya.
__ADS_1
“Lalau apa yang kamu katakan?” Kali ini raut wajah Yolanda jauh lebih tegang.
Melihat wajah Yolanda yang menegang Arsen gemas, ia semakin mengerjai istrinya, “ aku bilang padanya kalau kita mabuk dan bangun kesiangan.”
Bola mata beriris coklat terang itu melotot panik. “Kamu gila!” pekik Yolanda dengan volume suara meninggi. Arsen merasa diatas angin karena mampu membuat istrinya emosi jiwa, kalau dulu wanita cantik itu akan diam dan mengunci semua dalam hatinya, tetapi kali ia sedikit terbuka walau tidak semuanya. Arsen membuka lemari dan menyodorkan handuk badrobes padanya sembari mengedipkna mata dan berkata. “Sana mandi biar badanmu segar.”
Yolanda mendengus kesal sambil menarik handuk itu dari tangan Arsen. “Apa maksudnya memangng aku bau,” dumalnya lalu mengenduskan hidungnya ke badannya sendiri, baunya bercampur dengan bau tubuh Arsen.
“Ueek ini bau badan kamu.” keluh Yolanda.
“Pokoknya tadi malam kamu benar-benar menggila,” ledek Arsen lagi ia menunjukkan ponselnya. Wajah Yolanda memerah bagai udang rebus. Dengan mata melotot ia berkata pada Arsen. “Apa kamu merekamnya?”
Dengan sikap santai Arsen mengangguk dan mengedipkan sebela mata padanya
“Untuk apa?” Yolanda bertanya sambil berdiri melilitkan selimut di tubuhnya yang naked.
Arsen tersenyum kecil, “untuk kenang-kenangan jika kamu menghialng lagi.”
Yolanda mendekat dan ingin merebut, perkelahian pun terjadi kedua suami istri yang sama-sama jago bela diri itu mencoba saling mengalahkan . Tapi Yolanda akhirnya kalah telak sebab seprai yang ia gunakan membungkus tubuhnya terlepas membuat Arsen semakin mengerjainya. Ia merebut seprai dan menonton tubuh Yolanda yang polos . Pasukan pengawal presiden itu kesal lalu dengan tangan sigap ia menarik handuk yang diberikan Arsen tadi dan menutupi tubuh polosnya.
“Apa kamu tidak mau mandi? Atau aku akan memandikanmu?” goda Arsen lagi.
“Kamu membuatku kesal.” Yolanda mengarahkan tendangan kakinya ke dengkul Arsen. Tetapi lelaki bertubuh atletis itu menangkis tendangan Yolanda, ia malah membalikkan tubuhnya gerakannya sangat cepat dan mengunci tubuh Yolanda dan memeluknya dari belakang, ia mengarahkan bibirnya di belakang kuping Yolanda meniup daun telinganya. Belakang kuping salah satu titik hasrat wanita alhasil tubuhnya bergelidik dan mengeliat bagai orang kedinginan.
Arsen tersenyum puas mengerjai istrinya. Hari ini sudah sangat lama impikan dari dulu melihat sikap tertutup Yolanda ia sudah berapa kali bermimpi ingin memberinya pelajaran dan kali ia mendapat kesempatan melakukannya.
“Apa yang kamu lakukan Kamu membuatku bergelidig.” Yolanda mencoba menyembunyikan telingan dengan pundaknya. Lalu tangannya terus mencoba melawan. Melihat Yolanda masih terus melakukan penolakan padanya , ia kembali meraih borgol lalu memborgol kedua tangannya ke belakang lagi.
“Lagi?Kamu gila! Aku mandi lepaskan borgolnya” teriak Yolanda setengah prustasi, ia tidak pernah menduga kalau Arsen mengetahui semua kelemahannya dan mampu membuatnya tidak berdaya.
“Kalau tadi malam kamu yang menguasai permaianan pagi ini gantian sayang. Aku yang akan mengendalikan permainan kita,” ucap Arsen, niat mengajak Yolanda mandi batal, tergantikan dengan permainan hasrat.
“Apa yang ingin kamu lakukan lagi?” ujar Yolanda dengan tatapan mata tegas.
“Kita mau mulai dengan bibir merah ini.” Arsen mendorong tubuh Yolanda duduk di sofa lalu ia mencuri ciuman lagi. Ia menahan kedua kaki Yolanda dengan kakinya dan menikmati bibir lalu turun ke leher . Ia tidak memperdulikan penolakan Yolanda. Lelah menolak wanita cantik itu akhirnya mengijinkannya. Arsen kembali tersenyum penuh kemenangan. Arsen benar-benar memberi Yolanda pelajaran karena membohonginya selama Empat tahun. Arsen melakukannya beberapa ronde dari malam, pagi sampai siang. Yolanda tidak bisa berkutik dibuatnya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa, berikan, like, komen dan hadiah ya Kakak agar authornya semakin semangat, terimakasih