Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Pesta di Kampung


__ADS_3

Hari yang ditunggu akhirnya tiba juga Arsen dan keluarga akan berangkat ke kampung halaman untuk melihat tanah kelahiran kakek Arsen. Bu Marina mempesiapkan  semuanya dengan baik.


“Mama akan berapa lama di kampung.” tanya putrinya menatap Bu Marina.


“Kenapa kamu takut Mama tidak kembali?”


“Mama sudah tua, harus menjaga kesehatan,” nasihat purti keduanya.


“Kalau kamu khawatir harusnya kamu ikut saja.”


Kedua putri Marina tidak ikut, tapi kali Arsen yang memutuskan  ikut ke kampung.


Rombongan Arsen tiba di kampung di sambut dengan penyambutan secara adat.


Nathan begitu anstusia tiba kanpung, ada hal-hal baru yang baru ia lihat  di sana. Berbeda dengan wajah Arsen yang terlihat  tidak bersahabat. Sat ditempatkan di salah satu rumah adat Batak Arsen  seperrinya enggan untuk isirahat di sana. .


“Apa Papi jijik?” tanya Yolanda menyenggol lengan Arsen dengan pundaknya,


“Apa tidak ada hotel di sini? Aku merasa kurang nyaman,” ucapnya sembari mengusap tangan dengan tissu.


“Ini rumah kampung wajar banyak debu Pi.” ucap J Yolanda menahan senyum.


Ia sudah menduga kalau suaminya tidak akan tahan tinggal di kampung waau satu hari. Ia tahu kalau Arsen tidak bisa tinggal  di tempat  itu. Ia masih ingat dulu saat Arsen pertama datang ke rumah Yolanda di kampung. Walu sudah dibersikah berulang-ulang masih tetap merasa enggan untuk  tinggal tetapi ia memaksakan diri demi Yolanda.


“Bisa gak kita tidur di  hotel biarkan Nenek sama ibu di sini.”


“Bagaimana kalau Papi saja yang  menginap di hotel kami di sini.” Yolanda mencoba menawar.


“Tentu saja dia gak mau, sudah kalian sana ke hotel biar Nenek sama Mama di sini,” ujars ang nenek.


Yolanda menatap sang suami dari atasa sampai bawah. “Susah memang menghadapi orang superbersih.”

__ADS_1


“Aku bukanya sombong Mi,  bulu kudukku merinding kalau ada debu,” ujar Arsen lagi-lagi mengusap tangan dengan tissu antiseftik


Tidak ingin suaminya pingsan Yolanda akhirnya mencari hotel terdekat rai kampung halaman kakek Arsen. Acara   berjalan dengan baik, keluarga Arsen akhirnya bertemu dengan keluarga kakeknya. Bahkan bertemu dengan abang sepupu kakeknya. Marina begtu terhari karena bisa menepati janjinnya  menemukan keluarga sang suami. Tapi ada satu kendala saat Marina akan memindahkan makam suaminya ke kampung halamannya anak-anaknya Marina  menolak termasuk Arsen.  Jadi, acara  yang sudah direncanakan Marina ingin mengadaakan tulang belulang suaminya ke monumen keluarganya gagal di lakukan.


“Dapat menemukan keluarga kakekmu dan menemukan asal usul marga di belakang namamu Nenek sudag senang, aku sudah bisa mati dengan tenang karena sudah melakukan semua janjiku pada kakekmu termasuk melihatmu menikah.”


“Aku menolak makam kakek dipindahan bukan tidak sayang Nek.  Aku berpikir panjang ke depannya. Nanti kalau nenek meninggal apa kami harus memakamkan di sini juga? Itu yang kami pikirkan,” jelas Arsen.


Marina mengangguk setuju. “Baiklah saya mengerti, tidak apa-apa, sudah  bisa menemukan monumen keluarga marga kalian sama kakekmu Nenek sudah tenang.”


“Pi, kamu juga harus menjelaskan sama Nathan tentang ini,” ucap Yolanda.


Awalnya Arsen tidak tahu tentang adat dan arti marga yang disematkan di belakang namanya. Namun setelah di jelaskan Bu Tiani dan Mitha ia mengerti, beruntung Arsen punya ibu mertua yang  tahu banyak tentang adat istiadat jadi bisa mengajarinya dengan baik.


Melakukan serangkain adat di kampung, Bu Marina bahkan rela merogoh kocek ratusan juta untuk  perbaikan monumen dan mengadakan pesta ada untuk mereka.


“Kenapa nenek begitu antusias melakuka ini?” tanya Arsen saat mereka ada di hotel.


“Aku ingin kamu  melakukan apa yang aku lakukan ini dengan putramu nanti, ajarin Nathan tengtanga adat istiada leluhurnya. Kalau bukan kita yang mengajarkan sama anak-anak siapa lagi yang akan meneruskan,” tutur Bu Marina.


                 *


Layaknya pesta besar para tamu undangan dan keluarga menari dan manottor untuk  merayakan monumen marga dan sekaligus dimasukkannya ke dalam tulang belulang keluarga(Mangokal holi). Yolanda dan Mitha  begitu antusias   mengikuti semua acara . Namun tidak untuk Hugo dan Arsen mereka sampai tidak mau makan saat melihat kuburan dibonkar dan tulang belulang dikuran dibersihkan dan dibungkus dengan kain putih. Setelah itu akan ditempatkan dalam monumen mereka.


Arsen sampai ingin muntah dan berinding saat pengalian berlangsung,.


“Jangan begitu menurut sepupu kakekmu, itu ibu mertuaku,” ujar Bu Marina.


“Aku ingin muntah lagi,” bisik Arsen sama Yolanda yang berdiri dis amping.


“Jangan di sini. Nanti mereka semua tersinggung.” Yolanda membawanya menjauh dari sana benar saja Arsen muntah.

__ADS_1


“Itulah cara  mereka menghormati orang tuanya dan acara ini sudah lama turun temurun,” jelas Yolanda.


“Maaf, aku belum bisa  melakukannya.”


“Berarti kamu belum jadi orang Batak sesungguhnya.”


“Aku dan Nathan akan belajar pelan-pelan, tapi, aku tidak bisa meneruskannya lagi, aku akan kembali ke hotel.”


Arsen tidak mau kembali ke sana, ia memilih menunggu di hotel bersama Hugo.


Yolanda juga tidak bisa memaksa  karena ia sadar Rasen dan besar di luar megeri , Jadi adat dan tradisi yang coba neneknya tunjukkan padanya belum bisa ia terima . Arsen terlihat tidak bersemangat sama sekali dari mulai mereka datang sampai  puncak acara.


“Apa kamu tidak  lelah Kak, kakiku sduah pegal dari tadi menari,” keluh Mitha memeijit  betis kakinya.


“Aku begitu semengat, saat kita kecil dulu Papa pernah mengajakku ke pesta tidak jauh dari rumah kita. Papa dan aku menari sampai puas,s eolah-olah kami berdua yang punya hajatan. Padahal kami hanya tamu undangan. Mendengar musik ini itu mengingatkanku,” ujar Yolanda.


“Setelah pulang kamu demam,” timpal Bu Tiani.


“Mama mengingatnya?” tanya Yolanda.


“Tentu saja, saat itu Mitha masih kecil dan  Vania masih bayi.”


“Aku masih ingat gaya tarian Papa seperti ini.” Yolanda berdiri dan menirukan gaya tarian andalan papanya.


Bu Tiani tertawa tiba-tiba menangis, ia tidak menduga kalau Yolanda  mengingat semua secara detail tentang papanya. Bu Tiani merasa beruntung karena ia  bisa ikut dalam acara keluarga Arsen karena ia bisa mengobati kerinduan masa lalu. Ini pertama kalinya Bu Tiani bisa ikut pesta adat seteleh kepergian suaminya. Seperti yang sudah di ketahui Bu Tiani  mengalami depresi bahkan mengalami g ganguan jiwa setelah kepergia suaminya.


“Sudah cukup lama Mama tidak pernah ikut pesta,” ujar Bu Tiani.


“Jangan khawatir Ma, kita akan pesta nanti, aku sudah memutuskan tempat pernikahan kita.”


Mendengar itu wajah Bu Tiani lega akhirnya Mitha mengala pada adiknya ia akan menikah di tempat yang dipilih  Vania. Saat sedang mengobrol tiba-tiba Yolanda mual.

__ADS_1


“Gres apa kamu hamil?” tanya Bu Tiani menatap putri sulungnya


Bersambung


__ADS_2