Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Lupa Hari Ulang Tahun?


__ADS_3

Setelah Arsen setuju menemukan asal usul kekuarganya, Marina akan  datang secara langsung ke kampung keluarga sang suami. Bukan hanya Marina ia juga mengajak  Bu Tiani. Hari itu Yolanda datang lagi  ke rumah mamanya, ia memang selalu datang ke sana  bersama Nathan apalagi tidak ada Arsen.Saat mereka tiba ternyata di sana sudah ada  Bu Marina.


‘Wah tumben Nyonya besar ini berkunjung ke rumah Mamaku’ Yolanda membatin.


“Nah kebetulan kamu datang Jo,” ucap Bu Marina. Wanita itu masih memanggil Yolanda dengan sebutan Joan nama samaran Yolanda saat jadi pasukan rahasia dulu.


“Iya Bu,  Nathan katanya mau melihat gukguk peliharaan  tantenya,” ujar Yolanda.


Ia terpaksa berbohong ada banyak perasaan yang harus di jaga kalau sudah berkeluarga.  Ia tidak ingin Nenek Arsen berpikir kalau dirinya pilih kasih selalu membawa Nathan ke rumah Mamanya. Yolanda memang jarang datang ke rumah Marina ia akan datang bersama Arsen berkunjung ke sana. Tetapi kalau ke rumah mamanya hampir tiap hari, bahkan sering menginap di rumah mamanya kalau Arsen kerja di luar kota.


“Jo, Nenek mau mengajak Mama kamu ke kampung,” ujar Bu Marina.


“Mama mau ikut?” tanya Yolanda.


“Iya, Nenek Arsen ingin aku menemaninya, itu kan kampungku jadi tahu semua tentang jalan dan adat istiadat di sana,” ujar Bu Tiani.


“Kalau Mama ikut, aku juga ikutlah aku, kan, sekarang sudah pegangguran jadi bebas kemana saja,” ujar Yolanda .


Mendengar Yolanda ingin ikut tentu saja Marina dan Bu Tiani semakin bersemangat.


“Yakin Gres kamu ikut?” tanya Bu Tiani lagi. MamaYolanda dan adik-adiknya memanggilnya dengan panggilann Gres atau Gresia nama panggilan Yolanda sejak masih kecil. Jadi Mami Nathan itu punya banyak nama panggilan dan kadang orang bigung saat memanggil namanya dengan panggilan berbeda-beda ada yang panggil Yolanda, Gresia dan Joan.


“Iya Ma, hitung jalan-jalan sama Nathan.”


“Memang sudah boleh sama Abang?” Vania penasaran.


“Bolelah. Kalian kan kerja semua, biar kami saja yang pergi,” ujar Yolanda mengedipkan mata dan memeluk sang Mama. Kedua adik Yolanda merasa iri karena Yolanda dan Mamanya bebas pergi kemanapun yang mereka mau.


“Aku jadi pengen ikut juga,” ucap dr, Mitha.


“Eh, kamu  baru masuk kerja sudah cuti aja,” tegur sang Mama pada Mitha.


“Tapi apa boleh Kak Gres ikut? Sudah tanya bang Arsen, belum?” goda Vania.


“Gampang, nanti kita tanya  hari ini dia pulang dari Manado,” tutur Yolanda.


*


Malam itu suana rumah Mama Yolanda jadi ramai karena kehadiran Bu Marina di sana

__ADS_1


Hugo, Krisna juga ikut datang. Tidak lama kemudian Erik dan Arsen juga datang. Setelah selesai makan malam mereka membahas mengenai keberangkatan Nenek Arsen ke kampung. Malam itu wajah Arsen terlihat berbeda ia terlihat lelah.


“Apa abang sakit?” tanya Vania saat Arsen beberapa kali  menekan batang hidungnya.


“Mungkin dia hanya kecapean  baru pulang luar kota,” sahut Yolanda menoleh pada suaminya. Arsen kali ini tidak banyak bicara.


“Pak Nathan! Maminya Nathan juga akan ikut katanya pulang kampung,” ujar Bu Tiani melapor pada menantunya, seketika Arsen menoleh ke arah Yolanda  sebab tidak ada pembicaraan diantara mereka kalau Yolanda akan ikut pulang kampung.


“Mendadak , hanya ingin ikut jalan-jalan saja sama Mama dan Nenek. Kami bebas karena pegangguran. Kalian tidak perlu ikut, kalian semua kerja saja, biar kami yang pergi,” ujar Yolanda.


“Saya ikut,” ucap Arsen.


“Sudah kuduga! Kamu akan mengekor kemanapun Mami Nathan pergi” ujar Erik meledek Arsen.


Semua orang di sana menahan tawa, baru saja Marina mengajak Arsen agar ikut pulang kampung. Namun, ia menolak dengan alasan banyak pekerjaan. Mendengar Yolanda ikut mendadak ia ingin ingin ikut juga


“Coba Mami Nathan bilang gak ikut lagi … kamu pasti ikut-ikutan  bilang tidak,” ledek Erik lagi.


“Berisik lu,” sahut Arsen merasa jengkel.


“Kapan Ibu berangkat, kebetulan  saya cuti,” ujar Hugo


Lelaki bertubuh tinggi  tegap itu hanya tersenyum, ternyata benar, ia  mengajukan cuti karena Mitha ingin melihat-lihat  pemandangan di sana sekalian melihat tempat pernikahan yang cocok untuk mereka.


“Kamu jug cuti jugalah,”  bujuk Yolanda melirik Vania yang merasa kepanasan saat mereka pergi semua.


“Aku gak bisa Kak, dua hari lagi kami ada latihan gabungan di Bandung dengan tentara Amerika,” tutur Vania tapi dalam hati tentara wanita itu ia merasa sangat iri.


*


Setelah pulang dari rumah Mamanya Yolanda sudah berpikir kalau Arsen akan memarahinya karena mengambil keputusan tanpa bertanya terlebih dulu dengannya. Dalam mobil mereka masih diam. Nathan dan susternya sudah tertidur di belakang.


“Kamu marah?” tanya Yolanda memulai pembicaraan.


“Marah karena apa?”


“Karena aku mendadak minta ikut pulang ke kampung.”


Arsen mengetu-ngetuk jari-jarinya di setir mobil lalu tersenyum ke arah Yolanda.

__ADS_1


“Aku senang kamu ikut. Jadi aku bisa ikut juga.”


“Benar kamu tidak marah?”


Arsen  memamerkan senyuman menawan pada istrinya dan menyentuh ujung hidung Yolanda. “ Aku tidak marah, aku hanya  merasa lelah saja ada banyak pekerjaan tadi di kantor.”


“Apa kita ngantian menyetir?” Ia menyadari kalau wajah Arsen terlihat pucat.


“Tidak usah,” tolaknya.


Arsen sudah mengerti sikap Arsen, ia akan menyembunyikan penyakit dan rasa sakit dari orang-orang yang dicintainya.


“Pi, minggirkan saja dulu mobilnya, kamu pucat,” ujar Yolanda ia memegang pipi Arse. “Apa kamu merasa sakit?” Yolanda langsung panik  saat menyentuh dahi Arsen yang panas bagai kompor.


“Tidak apa-apa masih kuat.”


“Bukan hanya kamu di sini ada aku dan putramu. Apa kamu ingin kita celaka?,” ujar Yolanda dengan wajah yang benar-benar panik.


“Mami kenapa marah?” Nathan terbangun mendengar suara kepanikan Maminya.


“Maaf sayang , Mami tidak marah, tidur lagi ya,” bujuk Yolanda. Lalu menatap Arsen dengan tatapan menuntut


Mendengar hal itu Arsen tidak lagi menolak, ia berganti posisi dan mengijinkan Yolanda menyetir. Wanita cantik itu langsung membawa Arsen ke rumah sakit. Walau Arsen menolak mengatakan tidak ia tetap membawanya . Saat Arsen dalam pemeriksaan Yolanda terlihat sangat khawatir  dan mijit-mijit ibu jarinya sembari menatap  dokter yang menanggani suaminya. Ia sampai tidak sadar kalau Arsen menatapnya dengan dalam, melihat rasa khawatir di wajah istrinya entah kenapa Arsen merasa sangat bahagia.


‘Ia terlihat lucu jika sedang panik’ Arsen menahan senyum melihat ketegangan di wajah Yolanda.


“Mi, aku tidak apa-apa hanya panas biasa,” ujar Arsen.


“Kenapa tidak bilang dari tadi.”


“Di kantor si kampret  Erik menyiramku dengan satu ember air es,” ucapnya kemudian.


“Kenapa?” Bola mata Yolanda melotot.


“Dia merayakan ulang tahunku dengan caranya yang aneh.”


‘Aaa … ulang tahun? Arsen ulang tahun dan aku lupa? Istri macam  apa aku ini’ ucap Yolanda dengan wajah bersalah


 Bersambung jangan like komen dan berikan hadiah ya terimakasih

__ADS_1


__ADS_2