
Sekeras apapun Yolanda membujuk, lelaki berwajah tampan itu menolak melepaskan borgol di tangannya. Sudah larut malam tapi Arsen belum mau tidur ia masih mengajak Yolanda menceritakan tentang kehidupannya selama empat tahun. Yolanda tidak lagi seperti dulu. Ia mau menceritakan apa yang kira-kira bisa ia ceritakan termasuk saat ia bertugas sebagai tentara perdamaian di Lebanon di bawah naungan PBB. Setelah Yolanda pulih pascah melahirkan ternyata pimpinan elite kopassus merekrut Hugo dan Yolanda. Tetapi dengan sleksi yang sangat ketat dan pelatihan yang sangat berat, Hugo dan Yolanda mampu melewatinya karena mereka berdua sudah melewati pelatihan yang lebih berat dari itu.
Hugo dan Yolanda bahkan terpilih jadi pasukan terbaik lalu mendapat kesempatan mengikuti pendidikan militer selama dua tahun di Australia dan di sana lagi-lagi mereka mengharumkan nama bangsa karena mendapat pringkat prajurit terbaik. Mendapat banyak prestasi akademik menghantar keduanya ke istana menjadi paspampers dan Hugo sebagai kepala paspampres.
“Aku tidak tahan lagi ingin ke kamar mandi,” ujar Yolanda menjepit pangkal pahanya.
“Lakukan saja di sana, aku tidak akan melihat,” ucap Arsen dengan wajah yang masih dingin.
“Astaga Arsen, ini konyol! Bagaimana mungkin aku pipis di panci seperti ini,” ujar Yolanda dengan bola mata membesar.
“Terserah, kalau kamu mau silahkan. Kalau kamu tidak mau, pipis saja di atas tempat tidur,” ucap Arsen, matanya masih sibuk menatap layar ponsel miliknya.
Yolanda belum mau menyerah, ia masih membujuk. Ia meminta Arsen memborgol ke tangannya dan membawanya ke kamar mandi. Arsen memikirkannya permintaan Yolanda, walau mereka berdua sama-sama mengantongi sabuk hitam takewondo tapi Arsen paham Yolanda pasukan tentara elite sudah pasti jauh lebih unggul darinya.
“Baiklah, aku akan melakukannya.” Ia memborgol tangannya sendiri ke tangan Yolanda, lalu mengantongi kunci. Yolanda masuk ke kamar mandi ia membuang ampas dalam perut
“Jangan melihat balikkan tubuhmu,” tegur Yolanda.
Arsen tersenyum, ia tahu kalau Yolanda akan bersikap seperti itu, “Kamu kan masih istriku. Kenapa harus malu,” ujar Arsen.
“Belum pasti, kita hanya istri kontrak dan itu sudah berahir.”
“Bagimu. Tapi bagiku tidak ada kata perpisahan,” ujar Arsen tegas.
__ADS_1
Melihat sikap Yolanda , Arsen tersenyum licik, ia juga membuka resleting celananya, ikut-ikutan ingin membuang ampas. Saat melihat Arsen menarik releting celananya Yolanda panik, ia buru-buru membersikan dirinya dengan menggunakan tissu toilet lalu berdiri buru-buru.
“Apa kamu juga ingin pipis?” tanya Yolanda.
“Hmm,” sahut Arsen dengan deheman.
“Tunggu, tunggu. Aku balik badan dulu baru kamu melepaskan celana.”
Arsen sengaja berlama-lama melepaskan celana, tangan Yolanda yang terborgol dengan tangannya sengaja ia tekan ke perut. Yolanda menahan wajah tegang saat tangannya tidak sengaja bergerak tetapi mengenai benda pusaka milik Arsen. Lelaki tampan itu hanya tersenyum ala devil. Namun Yolanda terdiam seperti patung saat ia menyadari telah membangunkan singa jantan.
Tidak ingin jadi mainan Arsen saat lelaki itu ingin mengunci tangannya kembali di besi peyangga tempat tidur Yolanda merebut. Alhasi pertarunganpun berlangsung. Yolanda membanting tubuh Arsen ke lantai tetapi karena tangan keduanya masih terborgol alahasil tubuh Yolanda ikut terjatuh di atas tubuh Arsen. Keduanya bengek karena tangannya sama-sama sakit bahkan tanga Arsen berdarah karena ditekan besi borgol tersebut.
“Ah, sakit,” ujar Arsen memegang dadanya yang tekan sikut Yolanda, pukulan siku tangan itu membuat Arsen hampir mati karena dadanya sakit. Meringis menahan rasa sakit di dada. Yolanda panik ia memberi pertolongan pertama memberinya CVR. Akhirnya Arsen bernapas normal. Yolanda yang sempat sangat panik perlahan mengusap kening. Lalu keduanya sama-sama duduk dan terdiam.
“Aku sangat merindukanmu, sungguh,” jawab Arsen antara pertanyaan dan wajaban yang diberikan Arsen sungguh tidak nyambung sama sekali. Tetapi mereka justru sama-sama tahu apa arti ucapan Arsen.
“Ayo kita pergi dari sini,” ujar Yolanda mengacuhkan ungkapan perasaan Arsen. Bukan tanpa alasan Yolanda bersikap seperti itu, ia tahu kalau sang adik jatuh cinta pada Arsen. Bahkan Marina nenek Arsen lebih mendukung Vania dari pada dirinya. Yolanda tidak akan mau merusak kebahagian adiknya sekalipun itu melukai perasaannya. Karena bagi Yolanda kedua adiknya hal yang paling berharga dalam hidupnya. Merasa perasaannya dicauhkan Arsen marah, lalu mencekram lengan Yolanda dengan kuat. “Kenapa? Apa kamu merasa aku tidak pantas untukmu?”
“Pak Arsen ak-”
“Behenti memanggilku dengan sebutan Pak, Pak!” ucapnya dengan marah lalu menyumpal mulut Yolanda dengan ciuman menekan tubuh itu ke lantai. Wanita cantik itu tidak terima ia mencoba menolak dengan seluruh kekuatannya. Tetapi Arsen sudah mengetahui tehnik mengalahkan musuh ia mengunci tubuh Yolanda dan menekannya ke bawah. Ciuman ala pemegang sabuk hitam memang sangat berbeda. Pada akhirnya Yolanda mengalah, ia sadar kalau Arsen yang dulu sama sekarang sunguh jauh beebeda. Selain tubuhnya yang semakin berotot Arsen juga menguasai ilmu bela diri dan kemampuan menembak. Yolanda hanya pasrah saat Arsen menikmati bibirnya.
“Aku sudah jauh melampaui kemampuan bela dirimu Yolanda, aku berlatih keras agar bisa mengalahkanmu seperti sekarang ini,” ucap Arsen percaya diri.
__ADS_1
“Baiklah, kamu hebat sekarang. Tapi bisakah kamu menyingkir dari atas tubuhku, kamu sangat berat,” pekik Yolanda.
“Kamu tahu sehebat apapun wanita, tenaga lelaki jauh lebih kuat.”
Arsen tersenyum , lalu ia mengarahkan satu tangannya ke atas laci dan meraih satu tali, lalu melepaskan borgol dari tangannya dan memborgol kedua tangan Yolanda kebelakang ia juga mengikat kedua kakinya dengan seutas tali lalu mengangkatnya ke atas ranjang.
“Kamu masih istriku Yolanda, ingat itu.”
“Aku ingin kamu sama adikku, dia mencintaimu.”
Mendengar hal itu wajah iblis Arsen muncul, ia kesal karena semua orang menjodohannya dengan Vania adik iparnya sendiri. Bahkan Yolanda istri yang ia cintai ikut mejodohkannya. Ia berjalan ke dapur dengan wajah yang masih marah lalu meraih wine dari dalam laci.
“Ini minum biar otakmu cerah dan berhenti menjodohkanku dengan adikmu,” ucap Arsen menyodorkan agur ke bibir Yolanda.
“Aku tidak ingin mabuk, besoka aku bekerja,” tolak Yolanda, tapi Arsen memaksanya dengan cara menyodorkan ke mulut, tanpa pikir panjang Yolanda yang saat itu memang lagi haus menegak sampai habis.
“Baiklah kalau kamu ingin pergi, pergi saja tapi temanin aku minum satu gelas lagi.” Arsen melepaskan borgol di tangan Yolanda, melihat hal itu Yolanda sangat bersemangat ia duduk dan minum satu gelas. Namun detik kemudian Yolanda mulai mabuk.
‘Apa ini jantungku .. dan tubuhku terasa panas’ Yolanda melirik Arsen, lelaki itu terlihat tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa ia memainkan ponselnya dan merekam apa yang terjadi. Lalu ia meletakkan diatas nakas. Sebelumnya ia sudah mengunci pintu agar Yolanda tidak melarikan diri menit kemudian ia mulai melakukan hal-hal yang gila.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya ya Kakak
__ADS_1
Dengan Cara like, komen dan berikan hadiah agar authornya semakin semangat untuk update tiap hari terimakasih