
Yolanda dan yang lainnya masih duduk di ruangan tengah, mendengar banyak kisah dari Mama mereka.
Bu Tiani, berjalan ke kamar bekas kamar mereka dulu. Di sanalah suaminya menyimpan barang-barang miliknya. Ia membawa koper berdebu itu ke depan mereka, setelah debunya dibersihkan koper itu dibuka. Semua barang-barang lama milik Papa Yolanda masih ada, walau sebagian buku sudah dimakan rayap. Wanita itu menemukan foto lama di mana Yolanda kecil dan Arsen kecil berdiri depan orang tua mereka, terlihat juga anak perempuan berwajah cantik kembaran Arsen.
“Ini foto kalian berdua.” Bu Tiani meyodorkan foto lama ke depan Arsen.
Wajah Arsen semakin menegang ia memegang foto dan menatap Yolanda. “Bukannya kamu bilang umurmu lebih tua dariku tiga tahun,” protes Arsen.
“Kata siapa? Kamu jusru duluan lahir dari Yolanda,” ucap Mama Yolanda.
“Lalu kenapa kamu berbohong?”
“Pak Sopian menambah umurku di KTP,” ujar Yolanda membela diri.
“Itu artinya aku sudah mengenal Yolanda saat kami masih kecil?” tanya Arsen semakin penasaran.
“Wah, kalian berdua sudah ditakdirkan bersama, lihat ini.” Erik memperlihatkan foto Arsen dan Yolanda saat difoto berdua, “ternyata dari kecil wajahmu sudah ngesalin ya,” ujar Erik bercanda.
“Iya, Arsen dari kecil tidak banyak bicara, bahkan dia tidak mau berteman dengan sembarangan orang,” ujar Bu Tiani.
“Sombong dia memang dari kecil,” timpal Erik.
“Tidak sombong dia orangnya tidak banyak bicara dan tidak mau berteman dengan orang yang benar-benar tidak dia kenal,” bela Bu Tiani.
Arsen hanya diam, semua dalam foto itu tidak satupun ia ingat.Dalam album lama itu terlihat Arsen kecil dengan wajah datarnya sementara Yolanda dan Alice adik kembar Arsen tertawa lebar.
“Iya, mungkin kalian berdua sudah lupa. Kita pernah tinggal satu atap, setelah itu Mami Papimu pindah ke Amerika dan kami tetap di Jerman. Apa kamu tidak mengingat sedikitpun tentang adik kembarmu? Mungkin sekarang dia sudah punya anak.” tutur Bu Tiani.
“Aku tidak ingat sama sekali, tapi aku beberapa kali bermimpi bersama anak perempuan dengan ramput dikepang dua,” ujar Arsen mencoba mengingat mimpi yang sering ia alami.
“Adikmu jarang dikepang, dia justru lebih tomboi yang kepang itu Gres,” tutur Bu Tiani memperlihatkan foto mereka.
“Gres kamu juga tidak ingat tentang Alice?” tanya Bu Tiani menatap Yolanda.
Ternyata Yolanda juga kehilangan sebagian ingatan masa kecilnya. Kehilangan orang tua menumbuhkan trauma berat untuk Yolanda dan Arsen
__ADS_1
Arsen melihat foto kedua orang tuanya dan mencoba mengingat masa keci, memaksa otaknya terus berpikir, tetapi hal buruk yang terjadi. Arsen memegang dadanya. Semua orang panik.
“Penyakitnya kambuh lagi, kita harus membawanya ke dokter sebelum bertambah parah.” ujar Erik.
“Dia sakit apa?” Mitha begegas menolong.
“Dia mengalami peradangan hati,” ujar Kris, membuka tas dan mengeluarkan peralatan medis.
Erik dan Krisna sudah menduga kalau ia akan pingsan seperti saat itu, itulah sebabnya sudah mempersiapkan semua peralatan dan obat-obat ke dalam tas. Beruntung di sana ada dua tenaga medis yang sudah berpengalaman. Mitha dan Yolanda, mereka berdua dengan sigap memberi pertolongan.
“Sudah berapa lama?’ tanya Yolanda menatap Erik.
Lelaki itu menghela napas , ia sangat takut melihat sang sepupu pingsan. Sudah empat tahun, ia terluka saat kamu dibawa waktu itu,
Kejadian empat tahun lalu saat di Jerman melintas di benak Yolanda, saat itu mereka sedang duduk di sofa sembari bercerita banyak hal. Tiba-tiba orang suruhan Bruga datang, tanpa peringatan mereka memberi tembak dan pukulan di bagian dada Arsen.
“Aku mengingatnya,” sahut Yolanda, degan sikap buru-buru kedua kaka beradik itu memberi Arsen petolongan.
“Sebenarnya jadwal kontro Pak Arsen bulan ini Jo, tapi dia menolak,” ujar Kris.
“Karena Yolanda menolak untuk rujuk Bu, dia jadi depresi,” ujar Erik.
Situasi semakin menghwatirkan karen badan Arsen tiba-tiba panas. Tidak ingin terjadi hal buruk , mereka memutuskan membawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap. Erik dengan sigap mengendong sepupunya dipunggung dan berlari menuju mobil.
*
Saat tiba di rumah sakit wajah mereka semua begitu khawatir karena Arsen tak kunjung sadar. Dokter memutuskan merujuk ke rumah sakit tempat Arsen biasa kontrol. Tetapi lelaki itu biasa kontrol di Amerika.
“Kami akan langsung membawa ke Amerika, saya sudah meminta pilot untuk datang,” ujar Erik.
“Saya akan meminta teman untuk membawa Arsen naik helikopter menuju bandara,” usul Hugo.
Mereka semua bekerja sama, setelah mengurus semua . Yolanda akhirnya mengantar sang suami untuk kontrol. Sementara Hugo, Vania pulang ke Jakarta karena mereka masih akan bertugas. Sementara Mitha dan Mamanya masih tinggal di kampung. Rupanya Mitha sudah mengudurkan diri dari rumah sakit tempat ia bekerja, supaya jangan bertemu dengan Kevin lagi.
*
__ADS_1
Dari bandara jet pribadi Arsen sudah menunggu dan seorang dokter yang akan mendampingi Arsen saat perjalanan. Lelaki tampan itu masih belum sadarkan diri. Membuat semua orang semakin panik.
“Apa dia pernah seperti ini sebelumnya?” tanya Yolanda.
Erik mengangguk. “Saat dia mendengar kamu ada di sebuah organisasi di Prancis dia ikut bergabung. Saat latihan dia pernah jatuh dari tebing dan dadanya terbentur batu itu juga yang membuat dia semakin parah. Dia sudah mengalami hal yang paling dalam hidupnya demi mencari kamu Yolanda. Tolong jangan sakiti dia lagi,” ujar Erik.
“Apa Bu Marina tidak mengetahuinya?”
“Tidak, dia menyembunyikan penyakitnya dari semua orang , termasuk dari kami dan Kris. Kalau saat itu dia tidak pingsan saat kami minum, aku juga tidak akan megetahuii kalau dia sudah sakit separah ini,” tutur Erik.
Seketika hati Yolanda menjadi lunak saat mendengar penyakit dan penderitaan Arsen selama ini. Ia juga tidak tahu kalau Arsen sudah pernah bertemu dengannya saat masih kecil. Yolanda duduk di samping ranjang ia mengengam telapak tangan Arsen.
“Kamu harus bangun dan sehat. Bukankah kamu ingin bertemu putramu?”ucap Yolanda.
Tidak tidur satu malam membuat Erik, Krisna mengantuk dan tidur. Yolanda juga merasa sanghat mengantuk. Melihat ada cela disamping ranjang Arsen ia merebahkan tubuhnya dan tidur di sana. Saat ia tidur Arsen terbangun, melihat Yolada tidur di sampingnya, ia hanya menatapnya dengan diam.
“Aku akan berjuang demi bisa melihat putraku, jangankhawatir,” ucap Arsen sembari menyisihkan anak rambut yang menutupi kening Yolanda.
Melihat Arsen sudah siuman dokter mendekat. “Pak Arsen su-”
“Sttt … tidak apa-apa.” Lalu mengeser badannya lalu tidur menyamping menatap wajah Yolanda yang sedang tertidur pulas. Dengan posisi tidur menyamping menghadap ke arahnya. Dengan lembut ia mengusap wajah Yolanda dengan punggung tangannya. “Jangan khawatir aku akan sehat demi anak kita dan kamu.”
Tanpa memperdulikan dokter dan pramugari yang ada di sana Arsem mendekatkan wajahnya dan mengercap bibir Yolanda dengan lembut. Merasa ada yang menyentuh, Yolanda membuka mata lalu terdiam melihat wajah Arsen tepat di depannya tanpa berjarak, bahkan hidung mancung itu menyentuh ujung hidungnya.
“Syukurlah kamu sudah siuman aku sangat khawatir,” ujar Yolanda.
“Aku mencintaimU Yolanda.”
“Nanti kita bicara cinta, cinta. Aku ingin kamu sembuh,” ucap Yolanda ingin bangun, tapi ditahan oleh Arsen.
“Kamu sudah berjanji akan tetap bersaku , maka jangan pernah pergi lagi dariku. Kalau kamu meninggalkanku lagi aku akan menyerah untuk hidup.”
Bersambung
JANGAN LUPA BERIKAN LIKE, KOMEN YA . BACA JUGA KARYA BARUKU " GARA-GARA KONTEN BEGU GANJANG" TERIMAKASIH
__ADS_1