
Melihat Arsen datang keluarga yang lainnya saling menatap dan khawatir. Tetapi tidak untuk Yolanda pembahasan tentang misi mereka di masa lalu lebih penting dari pada kehadira sang suami. Mereka masih bicara serius tidak memperdulikan kepulangan Arsen. Bapak satu anak itu menatap tajam ke arah Yolanda yang sedang duduk berduaan dengan Tirta.
“Tapia apa kamu yakin dia diterima jadi tentara lagi. Rasanya tidak mungkin negara mau menerima penghianat, kecuali ada orang dalam yang sengaja mengubah indentitasnya," jelas Yolanda dengan tatapan tegas dan wajah serius.
“Itu yang ingin aku selidiki Jo, rekan-rekan kita saat bertugas dulu menyebutkan mereka tidak mengenal. Aku dengar kamu pernah bertugas jadi pasukan intel di kopassus, kamu pasti punya kenalan Jo.”
“Aku tidak bertugas lagi Pak Tirta.”
“Kenapa? Maksudnya kamu tidak jadi paspampres lagi?” tanya lelaki itu kaget.
“Suamiku melarangku untuk kerja lagi, dia ingin aku mengurus putra kami.”
“Sayang sekali, tidak mudah menjadi pasukan paspampres group A. Tapi apa benar kamu menikah dengan pewaris Naika Group.”
Yolanda mengangguk. Naika group pabrik pengolahan minyak kelapa sawit terbesar di Asia, bukan hanya itu saja kekayaan keluarga Arsen ada hotel, resort, restoran yang bernaung dibawah Naika. Arsen juga pemilik perusahaan senjata yang bertempat di Amerika. Dengan kekayaan sebanyak itu Arsen mampu membeli apapun yang ia mau. Itulah sebabnya ia tidak ingin istrinya bekerja.
“Pantas saja dia tidak memperbolehkanmu kerja. Itu artinya perusahaan suamimu yang pemegang tender pemasuk senjata ke tentara kita?”
“Aku dengar begitu,” sahut Yolanda.
“Wah, kamu keren Jo, menikah dengan milioner. Jadi benaran anak tampan tadi putramu?”
“Iya,” sahut Yolanda mengangguk.
“Wah hebat,” puji Tirta.
“Biasa saja, harta tidak akan dibawa mati. Lalu bagaimana dengan orang itu?”
“ Aku berharap dugaanku salah Jo,” ujar pria bertopi hitam itu dengan wajah lesu.
“Apa yang membuatmu begitu khawatir? Mungkin saja mereka orang yang berbeda atau wajahnya yang mirip. Selagi dia tidak mengusik pekerjaanmu,” ujar Yolanda.
Tentara baret merah itu menatap Yolanda dan mengeluarkan kertas dari balik saku jaket. “ Apa kamu ingat berapa orang yang bertugas saat itu?”
__ADS_1
Yolanda mencoba mengingat, “dua puluh lima orang dua puluh dari kalian dan lima bantuan dari kami, termasuk Krisna.”
Ia menunjuk nama-nama di kertas ada banyak yang sudah ia coret dan berkata, “ini yang sudah gugur dari dari kami.”
“Tujuh belas orang?”
“Iya, dalam kurung waktu selama 4 tahun.”
Tirta menduga kalau mantan rekannya yang meninggal ada hubungannya dengan misi yang mereka lakukan empat tahun yang lalu. Saat itu mereka membebaskan sandera yang di tahan spratisme dari kelompok Papua Merdeka. Dalam misi itu mereka menemukan seorang tentara yang membelot bergabung dengan kelompok tersebut. Tirta ingat kalau dia sudah menewaskan tentara yang berhianat itu. Namun beberapa bulan yang lalu ia melihat tentara itu bergabung kembali pada negara dan ia punya pikiran kalau orang tersebut punya tujuan lain. Ia juga menyadari kalau satu persatu rekannya dalam misi tersebut meninggal tidak wajar. Itulah sebabnya ia menemui Yolanda.
“Bagaimana dengan pasukan dari team kamu Jo. Apa mereka masih hidup?”
Joan mengingat Kris, Roky, Prada dan dirinya dan Vivian dari kelima pasukan yang ikut misi penyelamatan hari itu . Hanya Vivian yang sudah meninggal itupun Bruga atasan mereka yang menewaskan rekannya. Sementara Prada berhianat saat misi di Kamboja dan menghilang sampai saat ini.
“Semua masih hidup. Tunggu kita tanya Krisna.” Yolanda menelepon Krisna dan meminta ia ikut bergabung.
Melihat hal itu keluarga Yolanda merasa ada hal besar yang telah terjadi, terlihat dari wajah Yolanda yang sangat menegang.
“Kris, mengatakan kalau dia anggota Kopassus Denjaka. Mereka pernah melakukan misi rahasia sama-sama,” jelas Hugo.
“Kok, kamu gak ikut Bang? Bukannya kalian satu organisasi dulu?” Mitha itu penasaran ia dan Arsen ikut mendekat.
“Empat tahun yang lalu saat misi Papua saya lagi ditugaskan di Lebanon. Yolanda, Krisna, Prada dan Roky yang ikut. Aku merasa telah terjadi hal besar, tidak biasanya Yolanda tegang seperti itu,” tutur Hogo, ia melirk Arsen berharap pria itu menghilangkan kecemburuannya dari Yolanda.
“Ibu sangat khawatir.” Bu Tiani yang sedari tadi khawatir Arsen akan cemburu. Sekarang kekhawatirannya jauh lebih besar. Ia memikirkan keselamatan nyawa anaknya. Wanita itu tahu resiko jadi pasukan mata-mata rahasia.
“Apa kemungkinan indentitas Kak Yolanda diketahui? Kenapa Tirta tahu kalau itu Kakak?” Vania semakin khawatir.
“Indentitas kami tidak diketahui, Hanya saja, dari pasukan lain kadang kami berkenalan saat sama-sama tugas. Tapi itu hanya pasukan tertentu. Komanda mereka dan bagian strategi lainnya kalau kita kenal komunikasi saat bertugas jadi lancar,” tutur Hugo.
Melihat Yolanda menelepon seseorang dengan wajah cemas, kecemburuan Arsen langsung menghilang digantikan rasa takut akan keselamatan nyawa istri. Wajahnya semakin tegang saat Hugo mengatakan kalau Tirta rekan kerja saat melakukan misi rahasia di masa lalu.
‘Aku berharap tidak ada lagi air mata dan kesedihan dalam rumah tanggaku’ ucap Arsen dalam hati, ia menatap putranya yang sudah mulai mengantuk di pangkuannya.
__ADS_1
Yolanda, Krisna dan Tirta masih terlibat pembicaraan serius.
“Kenapa tidak menghubungi Sunu?” tanya Krisna, ia baru ingat kalau pria itu kerap melakukan kerja sama dengan organisasi mereka dulu.
Lagi-lagi Tirta menghela napas berat. “ Dia pensiun dini, tiga bulan yang lalu.”
“Kenapa pensiun dini, bukankah dia baru naik pangkat?” tanya Yolanda.
“Alasan kesehatan. Tapi anehnya saat aku datang ke rumahnya keluarganya mengatakan kalau dia melakukan pengobatan di luar negeri. Bukankah itu aneh menurutmu Jo?” Tirta menatap Yolanda berharap mantan pasukan khusus itu punya jawaban yang jelas atas semua pertanyaan yang menumpuk dalam pikirannya.
“Benarkah? Saat perayaan kemerdekaan beberapa bulan lalu saya melihatnya di istana,” ujar Yolanda mencoba mengingat. Sayangnya ia tidak punya nomor rekan-rekannya dulu ia juga kehilangan kontak orang-orang penting semua itu karena ulah Arsen yang membuang ponselnya ke dala kloset dengan cara mengkambing hitamkan putranya.
“Jo, coba kamu telepon,” usul Tirta.
“Sayangnya aku tidak punya nomornya ponsel lamaku rusak.” sahut Yolanda.
Yolanda meminjam laptop milik Mitha. Sebagai ahli dalam tehnologi ia mencoba mencari data-data tentang pria penghianat yang dilihat Tirta. Ia bahkan bisa meretas data-data tentara ia memasukkan nama tentara penghianat itu, tapi tidak ada. Saat ia mengecek justru di kejutkan dengan munculnya nama dan wajah seseorang yang tidak asing pada mereka dan Krisna. Prada ada dalam nama pasukan tentara.
Mata Krisna melotot saat Yolanda memperlihatknya.
“Apa ada masalah Jo?” tanya Tirta.
“Tidak ada, aku tidak menemukan pria itu dalam data-data pasukan devisi yang kamu sebutkan. Mungkin saya akan mencari tahu lebih dalam lagi.” Yolanda tidak menceritakan tentang Prada. Rekan kerja mereka yang berhianat dulu.
Mereka hampir mati karena penghianatan Prada saat melakukan Misi dulu. Tirta pulang Yolanda berjanji akan mengabarinya kalau ia menemukan sesuatu tentang pria tersebut. Saat ia pergi Yolanda dan Krisna masih duduk mematung di luar.
“Aku tidak ingin si keparat itu mengusik kehidupan kita lagi,” ujar Yolanda.
"Aku yang akan maju duluan menghabisi Prada jika dia mengusik kehidupan kita yang tenang ini," balas Krisna
Bersambung
Bantu vote, like, komen dan berikan hadia juga ya terimakasih
__ADS_1