
Kemarahan Arsen dari malam itu, rupanya masih berlanjurt sampai di kantor. Dari berangkat dari rumah sampai di kantor ia hanya diam, kalau biasanya pamit pada Yolanda sebelum berangkat dan mengusap perut sang istri, pagi itu ia diam seribu bahasa tidak bicara padanya. Saat duduk di kursinya dan memijat kening, kali ini Erik datang lagi ke kantor.
“Kenapa Muka lu ditekuk begitu?” tanya sepupu ia membuka lemari pendingin di ruang Arsen membuka penutup minuman kaleng tersebut dan menegak minuman bersoda.
“Gue pusing dengan menghadapi sikap keras Yolanda. Gue pikir setelah gue bersikap baik padanya dia akan berubah, ternyata sama saja. Dia mengangapku hanya sebatas suami pajangan,” ucap Arsen curhat.
“Kenapa lu jadilah lemah begitu sih Bro. Untuk menghadapi wanita keras seperti dia lu harus sabar,” ujar Erik.
“Kurang sabar apa lagi Rik, dia hamilpun tidak memberitahuku sama sekali , gue menahan diri tidak marah. Dia tidak pernah mengeluh tentang kehamilannya dia tidak pernah mau cerita sedikitpun tentang hidupnya sampai sekarang,” ujar Arsen.
“Lo mau gua kasih saran gak?”
“Apa?”
“Untuk menahlukan wanita seperti Yolanda, lu harus sering memberinya suntikan,” ujar Erik.
“Suntika apa?” tanya Arsen.
“Ah, lu gak peka, suntikan pakai pisang lu,” ucap Erik kesal.
Arsen hanya mendengus seperti kuda mendengar usulan sepupunya. Umur mereka berdua sama, karena lahir di bulan yang sama hanya tanggal yang beda. Erik lebih cepat dua hari. Tetapi Arsen menolak memanggilnya Abang, karena sudah bersahabat dari sejak kecil. Jadilah mereka memangil dengan sebutan ala anak muda kekinian lu, gue dan bro.
*
Arsen pulang dari kantor wajahnya masih terlihat suram.
Ia melepaskan jas dan melemparkan sembarangan di atas kasur, Yolanda memungut berniat merapikan
“Tidak usah! Biarkan saja seperti itu, itu bukan tugasmu,” ujar Arsen ketus.
“Kamu bilang aku istrimu. Aku melakukannya sebagai istrimu.”
“Jadi apa kamu mengangapku sebagai suamimu?” Asen balik bertanya.
“Iya, karena kontrak pernikahan masih berlangsung.”
__ADS_1
“Oh, karena kontrak itu. Kalau begitu lakukan tugasmu sebagai istri kontrak, temanin aku mandi,” ucap Arsen kesal.
“Baik.”
Awalnya Arsen hanya mengatakan dengan asal karena ia tahu Yolanda akan menolak, ternyata wanita yang sedang hami itu setuju. Arsen tidak main-main masuk ke badtud di kamar mandi dan meminta Yolanda menemaninya mandi. Wanita itu menurutinya karena itu bagian dari tugas. Ia mengganti pakaiannya menggunakan kaos berbahan tipis dan celana pendek masuk ke dalam badhtud. Duduk di depan Arsen. Lelaki itu menatapnya dingin.
“Kamu gosok tubuhku dengan itu,” pintah Arsen menunjuk spon pembersih tubuh di sampingnya badhtud
Yolanda melakukannya ia mengosok punggung bagian belakang Arsen, tapi saat mengosok bagian depan tiba-tiba jantung Yolanda mengulung bagai ombak di tepi pantai, ditambah tatapan mata Arsen yang terus menatap wajahnya. Nyali Yolanda langsung menciut, ia tidak berani menatap maupun membalas tatapan mata Arsen.
“Apa kamu merasa capek selama hamil?” tanya Arsen masih menatap wajahnya.
“Tidak.”
“Tapi kamu keringatan,” ucap Arsen menyentuh kening Yolanda, ia mengusap kening yang berkeringat. Saat telapak tangan itu ingin mengusap bagian hidung tangannya tanpa sengaja menutupi sebagian wajahnya hanya menyisahkan mata. Bayangan tentang 6 tahun silam melintas kembali di ingatannya.
‘Matanya sama. Apa dia orangnya?’ Mata Arsen menatap dalam ke wajah Yolanda.
“Apa ada masalah?”
“Aku lebih tua dari kamu,” balas Yolanda.
“Kamu hanya perlu menjawab Yolanda.”
“Aku dua puluh tujuh tahun.”
“Apa kamu pernah menyelamatkanku sebelumnya? Aku bertanya padamu sekali lagi Yolanda … Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Tidak,” sahut Yolanda tidak mau menatap mata Arsen.
“Kalau kamu bicara ke orang, kamu harus melihat matanya,” ucap Arsen memegang wajah Yolanda dengan kedua tangannya, lagi-lagi Yolanda tidak berani menatap. Arsen menarik tangannya memangku tubuh Yolanda memaksa wanita hamil itu untuk menatap wajahnya. Yolanda wanita yang keras ia mampu menyembunyikan walau ia tahu kebenarannya. Ia mengumpulkan semua kekuatannya dan menatap wajah tampan lelaki itu dengan berani. Tapi Arsen bisa melihat kalau ia meremas ujung pakaiannya untuk menyembuyikan rasa gugup.
“Tugas istri melayani suami, aku ingin kamu melayani suamimu,” pintah Arsen, antara marah, kesal, ingin emosi bercampur jadi satu.
“Tapi bagaimana dengan dia?” tanya Yolanda menunjuk perutnya.
__ADS_1
“Dokter mengatakan diatas lima bulan janin sudah aman.” Arsen benar-benar menguji mental Yolanda.
“Baiklah.” Yolanda menunjukkan dirinya wanita kuat, walau hati dan perasaannya brontak. Tetapi sebagai seorang istri yang harus melayani suami ia melakukannya, ia melepaskan pakaiannya. Arsen awalnya berpikir kalau Yolanda akan menolak tetapi dugaannya salah wanita itu melayani hasratnya di dalam bak mandi. Ia lupa kalau luka Yolanda belum kering sepenuhnya.
Setelah selesai satu ronde, lalu ia mandi dan berganti pakaian, tiba-tiba ia ingat luka dipinggang Yolanda.
“Sial, aku lupa.” Ia buru-buru keluar menghampiri ke kamar, wanita itu sedang melepaskan perban.
“Kenapa kamu tidak menolaknya tadi,” ujar Arsen merasa bersalah.
“Apa hal seperti itu bisa ditolak?” tanya Yolanda menarik kain kasa yang menempel di lukanya.
“Apa berdarah lagi?” Arsen mendekat dan ikut membantu Yolanda membersihkan sisa air dalam luka.
‘Wanita yang luar biasa kuat, tidak pernah mengeluh dan tidak menunjukkan rasa sakit, apa dia benar-benar manusia? Apa jangan-jangan robot? Kalau robot tidak mungkin hamil anakku’ Arsen bermolog dalam hati seperti orang bodoh.
Saat tangan Arsen diatas perut Yolanda sembari membersihkan luka dipinggang, tiba-tiba bayi dalam kandungan Yolanda bergerak dan menendang tangannya. Lelaki Blasteran itu kaget, mata hazel itu melotot menatap Yolanda, ia seolah-olah tidak percaya ada yang bergerak .
“Apa dia barusan mendang?” tanya Arsen dengan mata melotot, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“Iya,” sahut Yolanda masih dengan sikapnya yang tenang dan misterius.
“Apa dia sudah bergerak? Maksudku apa dia sudah bisa menendang?” tanya Arsen gugup, tanganya meraba perut Yolanda dengan wajah ceriah. Kemarahan malam itu hilang seketika saat bayi dalam kandungan Yolanda menendang tangannya.
“Iya, kata dokter bayi jalan lima bulan tendangan kakinya sudah terasa. Bisa tolong tempelkan perbannya lagi, jika dia bergerak memutar aku merasa luka ini ikut sakit. Terkadang aku berpikir mereka ada dua orang di dalam,” ucap Yolanda.
“Apa kamu sudah ke dokterr?” tanya Arsen, ia masih mengusap-usap gundukan perut Yolanda.
“Sudah, tapi mereka tidak mungkin dua, mungkin tangan dan kaki sama-sama bergerak,” ujar Yolanda.
Arsen melakukannya tapi tatapan matanya masih terus ke perut Yolanda, tendangan bayi yang mengenai telapak tangannya membuatnya terharu dan emosional ia sangat bahagia. Tetapi Yolanda bersikap biasa saja, ia berpikir kalau bayi itu bukan miliknya hanya menumpang diperut saja, sesuai perjanjian setelah ia melahirkan anak itu akan diserahkan pada keluarga Arsen dan ia menghilang lagi seperti biasa.
Bersambung.
Jangan lupa berikan like, komen dan berikan hadiah ya kakak agar authornya semakin semangat, terimakasih
__ADS_1