
Hugo mampu mengatasi masalah antara Kevin dengan Mitha. Kevin tidak lagi menghubungi Mitha setelah tau semua perbuatan mamanya.
“Wah, damagenya mantan anggota pasukan khusus memang beda ya,” ujar Vania.
“Pak Hugo memang dari dulu selalu bisa diandalkan. Makanya dia dan Yolanda yang jadi komandan kami dulu,” ujar Krisna.
“Lalu kapan kita seperti itu,” ujar Vania.
“Seperti apa maksudnya?” tanya Kris di ujung telepon.
“Kapan melamar aku,” tantang Vania malu-malu.
Yolanda, Arsen, Erik dan Krisna masih pergi bersama. Setelah hampir dua minggu mereka pulang tanpa mengabari.
“Kapan melamar?” Kris sengaja memperbesar volume suaranya agar Yolanda mendengar. Arsen dan Yolanda tersenyum.
“Iya, Kak Mitha sudah dilamar di depan Mama, sudah dipakai cincin kemarin . Aku kapan.” Vania merasa iri.
“Bilang sekarang,” bisik Arsen, di sambut tawa Erik dan Yolanda.
“Bagaimana kalau sekarang?”
“Bohong!” ujar Vania dengan bibir cemberut.
Arsen meminta mobil mereka berhenti toko perhiasan. Lalu mereka turun dan memilih satu cincin untuk melamar Vania.
“Kamu mau lamaran yang seperti apa?” tanya Kris menggoda Vania.
“Aku gak usah yang mewah-mewah biasa saja, gak papa.”
“Oke.”
“Aku akan datang menjemputmu.”
“Bercanda aja,” ujar Vania mendengus.
“Sekarang kamu dan Ibu ganti baju.”
Vania berpikir Krisna hanya bercanda, berpikir masih di Amerika, ia tidak mau .
“Malas,” sahut Vania kesal.
“Ayo cepat. Kalau kamu tidak percaya buka pintu.”
“Canda ya …,” ujar Vania sembari berjalan ke arah pintu, lalu menekan grendel pintu .
Supir Arsen sudah menunggu di depan.
“Mbak Vania, saya diminta Pak Arsen menjemput Mbak, sama Ibu. Ibu Yolanda meminta pakaian ini.” Supir menyodorkan bag berisi gaun untuk dipakai Vania dan Bu Tiani. Tidak lama kemudian Yolanda menelelpon.
“Untuk apa ini, Kak?”
__ADS_1
“Kamu ingat kan Mama hari ini ulang tahun, ayo kita rayakan.”
“Oh. baik Kak.”
“Mari saya akan antar,” ujar supir.
Vania dan Bu Tiani berganti pakaian dan dibawa ke sebuah hotel. Wanita berparas cantik itu berpikir itu kejutan untuk sang Mama.
Tapi tiba di sebuah ruangan. Matanya melonggo ada banyak orang di sana dan ruangan itu didekorasi bak di negeri dogeng di tambah efek asap-asap putih. Tangan Vania gemetar menahan gugup ia berjalan ke depan panggung mengikuti arahan petugas. Namun ia tidak bisa melihat sebab ada asap yang menghalangi pandangannya.
Tiba di depan matanya melonggo saat Krisna ada di depan, ia terlihat gagah dalam balutan jas berwarna biru. Terlihat seperti pangeran yang menunggu sang putri. Krisna tersenyum manis sembari memegang buket bunga dan cincin.
“AA! Apa ini?”
Vania gugup ia malu menutup wajah dengan telapan tangan, ternyata bukan hanya Krisna yang ada di sana . Di dekat panggung ada, Yolanda, Arsen, Erik, Mitha dan Hugo
“Vania, mau kah kamu menikah denganku?” Krisna menyodorkan kotak cincin dan buket bunga.
Suara teriakan riuh terdengar di dalam ruangan. Arsen tidak tangung-tangung membuat lamaran Krisna berkesan, ia bahkan mengundang beberapa teman Vania dan atasan Vania.
Bukannya diterima Vania malah ketawa-ketawa menahan malu. Terkejut, bahagia, malu dan terharu itulah yang terjadi.
“Tadi katanya untuk Mama,” ucap Vania masih tersipu malu-malu.
“Ei terima. Bukannya kamu tadi yang minta dilamar,” tegur Yolanda.
“Kak, sebenarnya aku tadi hanya bercanda, Maksudku aku … tidak menduga akan benaran datang.”
Dengan sikap malu-malu Vania menerima lamaran romantis ala Krisna.
“Astaga, aku malu. Tapi aku mau,” ucapnya lagi.
Mereka semua tertawa melihat tingkah Vania yang malu-malu tapi mau, wajahnya benar-benar bahagia saat Arsen dan Yolanda mewujudkan lamaran impiannya. Mitha bercerita kalau Vania itu ingin dilamar seperti di flim-flim yang pernah ia tonton. Maka Yolanda dan Arsen mempersiapkann semuanya. Sebelum mereka terbang ia sudah meminta Hugo dan Mitha membantu. Maka jadilah lamaran romantis untuk si bungsu.
“Astaga ini kayak di flim-flim,” ujar Mitha melihat hadiah yang dibawah anak buah Arsen.
“ Bukankah ini lamaran yang kamu impikan , Bungsu?” tanya Yolanda.
“Kok, Kakak tau?”
Ia menatap Mitha, Lalu mengkilitik sang Kakak. “Kakak kasih tau ya, dasar.”
Yolanda mendekat dan memeluk kedua adiknya. “Aku sangat bahagia bisa melihat kalian.” Yolanda mengecup pipi kedua adiknya. Bu Tiani terlihat sangat terharu melihat ketiga putrinya tumbuh jadi gadis yang cantik dan sukses tanpa campur tangannya. Terkadang Ibu mereka merasa bersalah karena tidak bisa mendampingi mereka layaknya seorang ibu.
“Mama.” Yolanda menarik tangannya dan memeluknya dengan erat. “Selamat ulang tahun ya Mama, terimakasih sudah sehat.”
“Apa Mama ulang tahun hari ini?” tanya Bu Tiani. Wanita itu bahkan sudah lupa kapan tanggal lahirnya sendiri.
“Iya Mama ulang tahun.” Vania dan Mitha juga ikut memeluk. Yolanda menjentikkan tangannya kue besar didorong ke depan Mamanya. Bu Tiani sangat terharu ia menangis tersedu-sedu .
“Mama jangan menangis.” Mata Yolanda langsung berkaca-kaca saat melihat Mamanya menangis.
__ADS_1
“Mama terharu sayang.”
“Selamat ulang tahun Bu.” Arsen juga memeluk sang ibu mertua di susul kedua calon menantunya.
“Mama tidak bisa berkata-kata, tapi aku sangat bahagia.”
“Ketiga calon menantumu yang mempersiapkan ini,” ucap Yolanda.
“Dua! Saya sudah menantu bukan calon lagi,” ralat Arsen. Disambut tawa dari Mitha dan Vania.
“Baiklah Pak Menantu. Bisa nyalakan lilinnya,” ujar Yolanda menatap Arsen.
“Baiklah ISTRIKU,” balas Arsen dengan menekan kata istri.
Awalnya acara itu memang persiapakan untuk Mamanya yang hari itu ulang tahun. Namun saat perjalanan pulang ke Jakarta. Vania minta dilamar sama Kris . Jadi Arsen meminta menambah konsep romantis dengan menambah efek asap dan memperbanyak hiasan bunga. Jadilah acara lamaran impian Vania.
“Potongan kue pertama untuk putriku terayang Gres.” Bu Tiani menyuapi Yolanda, di susul Arsen sang menantu lalu kedua putrinya dan calon menantu.
“Bu, tadi minta apa doanya?” tanya Hugo.
“Minta sama Tuhan agar ketiga putriku dan pasangannya bahagia dan segera melihat cucuku.”
Arsen melirik Yolanda, sebagai pemegang kunci gerbang keinginan. Wanita tanguh itu yang selalu pusat perhatian semua orang. Sejujurnya walau umurnya jauh dari kedua adiknya . Namun, damagenya sebagai wanita cantik lebih terpancar. Sorot matanya yang tajam jadi pesona tersendiri baginya. Apalagi kalau ia sudah tertawa, seluruh wajahnya seakan-akan ikut tertawa.
Arsen selalu mencuri pandang pada istrinya, apalagi saat bercekrama dan bercanda dengan kedua adiknya dan ibunya ia akan tertawa lepas, melihat hal itu Arsen ikut tersenyum.
‘Dia sangat cantik kalau sudah tertawa’ Arsen membatin, ia memainkan minuman di gelasnya
Tiba-tiba Erik berdiri di samping Arsen . “Biasa aja kali melihatnya tidak usah sampai ngeces begitu,” ledek sang sepupu.
“Berisik Lu,” balas Arsen tapi tatapan matanya masih tertuju pada ketiga kakak beradik itu.
“Wajah Yolanda dan kedua adiknya hampir sama. Aku berhap tidak salah mengandeng nanti,” canda Hugo sembari mengangkat gelas wine di tangannya.
“Eih, jangan sampai.” Arsen langsung menenteng tangan Yolanda.
Disambut gelak tawa dari mereka semua, dari semua orang dirinya yang tukang cemburu.
“Apaan?” tanya Yolanda , saat ketiga lelaki itu menarik pasangan masing-masing.
Wajah ketiganga bigung dan saling melihat.
“Berhubung wajah kalian bertiga mirip jadi kami tidak ingin salah mengandeng,” ujar Hugo.
Bu Tiani tertawa terkekeh melihat kelakuan ketiga menantunya.” Ini buat Ibu dari saya,” ujar Arsen memberikan kotak kayu.
“Oh, terimakasih Pak Nathan,” ucap Bu Tiani.
Mendengar namanya dipanggil Pak Nathan ia ingin menangis, karena sampai saat itu ia belum pernah melihat putranya yang bernama Nathan itu.
Bersambung
__ADS_1
Bantu like, komen dan berikan hadiah terimakasih