
Yolanda selamat dalam misi, walau ia terluka, tetapi dua orang tentara gugur dalam tugas dan seorang warga sipil meninggal. Ia mendapat sangsi dari atasan sebab dirinya mengabaikan perintah. Organisasi Yolanda hanya ditugaskan menyelamatkan klien sebab mereka dibayar untuk mengawalnya pulang dengan selamat. Tetapi Yolanda mengabaikan perintah atasannya, ia memilih menyelamatkan lima warga sipil. Ia tidak tega meninggalkan kelima sandera itu begitu saja, itu sebabnya ia mendapatkan sangsi.
“Jo, tawaranku masih berlaku sampai saat ini. Jika kamu bergabung, kamu akan mendapat jaminan masa depan dari negara,” ujar kepala tentara yang sudah memiliki pangkat yang tinggi. Ia mengajak Yolanda bergabung di kesatuannya.
“Terimakasih Pak, saya baik-baik saja.”
“Saya ingin merekrutmu menjadi tentara resmi. Kenapa kamu menolaknya?” ujar pria tersebut.
“Tidak Pak, terimakasih, saya akan tetap bersama organisasi saya,” ujar Yolanda.
Yolanda ditawarin bergabung dengan koppasus karena keahliannya. Yolanda menolak ia orang yang setia dalam bertugas.
“Bisa kita keluar dari rumah sakit ini? Aku tidak ingin Bu Marina dan Pak Arsen nyariin, ini sudah sampir seminggu sejak aku keluar dari rumah,” bisik Yolanda pada Krisna.
“Tenang saja Dan, saya sudah mengabari Bu Marina, luka di tanganmu dan diperutmu lumayan dalam, istrirahatlah beberapa hari lagi, dokter mengatakan masih ada sisa racun ditubuhmu dari ujung panah itu, kalau tidak rutin minum obat, racun itu akan berreaksi, tubuh akan meriang dan mengalami kejang.” jelas Krisna, saat tidak bertugas mereka berdua berteman baik
‘Bukankah Arsen memintaku untuk malam pertama? Ini sudah lebih seminggu, aku berharap dia tidak curiga’ Yolanda membatin.
.
*
Yolanda sudah berhari-hari tidak ada di rumah, membuat penghuni rumah Arsen bertanya-tanya kemana Yolanda pergi.
“Ma, apa ada masalah antara Yolanda dan Arsen kenapa dia tidak pernah serapan bersama?” tanya Alda anak perempuan Marina.
“Tidak ada, sudah serapan saja, jangan ikut campur dengan rumah tangga mereka,” ujar Marina, padahal ia tahu kalau Yolanda terluka saat bertugas.
Setelah serapan pagi Arsen menemui sang nenek di ruang kerjanya. Pria tampan itu masuk setelah mengetuk beberapa kali.
“Sebenarnya dia pergi kemana, Nek?” tanya Arsen penasaran.
“Apa kamu tidak ke kantor?” Marina balik bertanya sebenarnya ia tidak ingin membahas tentang Yolanda saat itu.
“Nanti saya akan pergi, tapi ke mana Yolanda pergi?”
“Arsen, kan, Nenek sudah bilang ada urusan keluarga , saya meminta Krisna mengantar.”
“Kalau begitu berikan nomornya padaku.”
“Nenek tidak punya.”
“Ha?” Arsen kaget, ia semakin bigung dengan sikap Neneknya.
Ia berangkat ke kantor dengan wajah kesal, sebab ia tidak bisa mendapatkan nomor ponsel Yolanda dan Krisna. Di ruangannya tiba-tiba ia teringat dengan tato di badan Yolanda, ia mencarinya di internet tapi tidak menemukan lambang yang sama.
“Ini sudah satu minggu apa dia sengaja menghindar dari tanggung jawabnya?”
__ADS_1
Saat sedang duduk diam, sekretaris mengetuk pintu, setelah diijinkan masuk ia datang membacakan jadwal skedul Arsen.
“Baiklah.” Arsen keluar kali ini ia akan ke pabrik untuk bertemu para karyawan yang berdemo sebab kepala pabrik memotong pendapatan mereka secara sepihak dengan alasan untuk menutupi kerugian gagal produksi.
“Pak apa kita akan mengabari terlebih dulu kalau Bapak mau ke sana?” tanya wanita berambut panjang tersebut.
“Tidak usah, saya ingin melihat sendiri keadaan di sana.”
Tetapi sekretaris Arsen mengabari Marina kalau Arsen akan ke pabrik. Marina sudah berpesan pada sekretaris kalau Arsen keluar harus diberitahu dirinya agar ia bisa mengerahkan pengawalan ketat untuk Arsen. Saat Arsen menuju jalan ke pabrik, ia melihat Yolanda dan Krisna dan tiga rekannya keluar dari sebuah mall. Awalnya ia tidak yakin itu Yolanda sebab style terlihat sangat berkelas dengan rambut digerai sangat berbeda saat ia dirumah.
“Yolanda? Apa yang dia lakukan?’
“Apa ada sesuatu Pak?” tanya supir melihat Arsen bicara sendiri.
“Tolong berhenti.”
Supir penganti Krisna berhenti dipinggir jalan dan melihat Yolanda, Krisna dan dua orang berjalan menuju cafe.
“Jo, kamu butuh pijatan setelah berbaring selama berhari-hari di rumah sakit. Aku bisa melakukannya,” ucap seorang tentara, mereka berempat sedang tidak bertugas.
“Pijatan apa?” tanya Yolanda memasukkan kedua tangannya ke saku jaket kulit yang di pakai, ia selalu terlihat cuek walau digombal sama rekan-rekan dari tentara.
“Pijatan atas bawah kalau kamu mau.” Ia mengoda Yolanda sembari memijit pundak Yolanda dari belakang lalu berjalan santai sebelah tangan pria itu memeluk pinggangnya.
Bercanda seperti itu sudah hal biasa bagi para anggota, saat tidak bertuga. Mereka juga butuh hiburan, karena Yolanda perempuan satu-satunya saat itu, mereka selalu menjahili dan mengodanya, tidak tahu kalau wanita itu sudah menikah. Arsen masih melihat dari dalam mobil. Yolanda dan ke tiga rekanya duduk di sebuah cafe di dekat jalan raya.
“Tidak, bau rumah sakit membuatku pusing,” sahut Yolanda, karena ia habis pemulihan jadi saat duduk rekannya dengan cepat menarik kursi untuknya.
“Silahkan Tuan Putri. Mau pesan apa?” Ia berbisik di belakang kuping Yolanda.
Melihat itu Arsen salah paham, ia berpikir kalau Yolanda berbohong pada neneknya kalau dia bertemu keluarga
“Bertemu keluarga apa? Dia pacaran,” ucap Arsen uring-uringan mulai jealous.
“Pak, kita jalan?”
“Jalan,” ucapnya ketus
Melihat sang istri bersama para pria tampan ternyata membuat hatinya terusik.
*
Besok harinya Yolanda memutuskan pulang ke rumah Arsen, mendengar Yolanda pulang Arsen juga pulang dari kantor lebih cepat, raut wajahnya terlihat sangat kesal. Tiba di rumah ia langsung menuju lantai tiga ke kamar Yolanda.
Ia mengetuk tapi tidak ada jawaban saat ia menekan pegangan pintu, ternyata terkunci dari dalam. Mendengar suara ketukan Yonda buru-buru memasukkan barang-barangnya ke dalam Lanci dan mengunci laci. Saat mengintip dari lubang pintu ternyata Arsen.
“Untuk apa dia datang, bukan harusnya dia di kantor?”
__ADS_1
Yolanda buru-buru mengganti pakaian yang berlengan panjang agar luka di lengan kirinya tidak terlihat, setelah beberapa menit barulah ia buka.
“Lama bangat buka pintu,” protes Arsen, menatap sinis padanya.
‘Wah, ada apa dengan tatapan sinis itu?’ Ia merasa tidak tenang
“Ada apa? Kenapa Pak Arsen datang ke kamarku?”
“Ada apa …? Apa salah kalau aku datang menemuimu?” tanya Arsen marah.
“Oh, tidak aku berpikr ada hal yang penting.” Yolanda masih berdiri dengan gugup, ada banyak hak yang dijaga saat itu, selain tubuhnya yang terluka ia lupa mematikan ponsel rahasianya yang ia masukkan ke dalam laci dan ponsel itu sedang berdering.
‘Sial, ada telepon lagi. Bagaimana kalau ada misi penting?’
“Aku mendengar suara telepon apa kamu tidak mengangkatnya.” Arsen melirik meja. Ponsel pribadi Yolanda ada tergeletak di sana. Tetapi ada suara ponsel lainnya membuatnya semakin curiga.
“Tidak, itu hanya panggilan tidak penting,” ujar Yolanda.
“Sepertinya kamu banyak rahasia, aku baru tahu kalau kamu punya banyak teman laki-laki,” ucap Arsen mulai jelaous.
‘Ah, laki-laki di mana?’ tanya Yolanda dalam hati.
“Oh, mereka hanya teman.”
“Oh, aku baru tahu kalau seorang asisten rumah tangga punya banyak teman tentara.”
Mendengar itu Yolanda baru ingat saat ia keluar dari rumah sakit, tidak ingin salah bicara Yolanda memilih diam. Saat ia diam Arsen lebih marah.
“Kenapa hanya diam?”
“Apa yang ingin kamu dengar.”
“Semuanya Yolanda! Semua.”
“Maaf … tidak ada yang perlu di jelaskan.”
“Oh, begitukah? Bagaimana dengan permintaanku. Ini sudah satu minggu, jangan bilang kalau kamu ingin menundanya juga.”
Yolanda, terjebak dalam kebohongannya sendiri, minggu kemarin ia mengatakan kalau ia halangan. Padahal hari itu ia benaran datang bulan.
‘Apa yang harus aku katakan?’
“Aku belum siap,” sahut Yolanda .
“Kenapa? Kamu berubah pikiran? Apa ada orang lain yang menawarkan uang yang lebih banyak dari yang diberikan keluargaku?” tanya Arsen marah.
Bersambung
__ADS_1
Berikan like, komen dan hadiah ya