Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Kamu Bukan Istriku?


__ADS_3

Ternyata Vania buru-buru berdiri lalu melepaskan jaket dan membersihkan dirinya sendiri , ia tidak membiarkan Arsen membantu. Pramugari cantik itu meiminta maaf dan pergi. Arsen merasa kesal saat ia tidak menemukan petunjuk tentang Yolanda. Tiba diapartemen Arsen sengaja menempatkan Vania di sebelah kamarnya  tujuannya agar ia lebih mudah menyelidiki.


Kali ini mereka ingin menyelidiki siapa Vania sebenarnya Arsen sudah memasang camera di kamar mandi. Saat wanita  itu masuk ke kamar mandi dan melepaskan pakaiannya, Arsen terdiam. Ia memperbesar gambar di ponseltapi tidak bisa melihat dengan jelas karena Vania membelakangi camera. Saat  sedang sabunan shower di kamar mandi tiba-tiba mati.


“Maaf kamar mandi di kamar itu sedang rusak belum diperbaiki, kalau kamu ingin mandi, ke kamar saya saja,” usul Arsen ia menyingkirkan pakaian Vani.


“Apa tidak ada kamar mandi lain Pak?” tanya Vani mengusap  busa sabun di matanya.


“Oh yang lain dipakai. Mari ke kamarku.” Arsen berjalan di depan.


Saat Vani masuk Arsen menarik handuk tersebut, Vania mencoba mempertahankan layaknya tentara terlatih wanita itu melakukan gerakan membela diri. Sementara Arsen sudah bertekat ingin mencari tahu tentang Vania melakukan aksinya ia mencoba melepaskan handuk yang membalut tubuh Vania. Alhasil perkelahianpun terjadi antara dua orang yang sama-sama menguasai jurus bela diri, gerakan tangan yang dilakukan Arsen mampu ditangkis Vania.


“Apa yang ingin Anda lakukan?” tanya Vania mencoba membalas serangan Arsen.


“Aku hanya memastikan sesuatu.” Ia menarik handuk Vania, tetapi wanita itu menahan dengan kedua tangannya.


“Apa yang Bapak coba pastikan?”


“Memastikan kalau kamu istriku.”


Arsen  menarik handuk itu dengan sekali tarikan dan terlepas, Vani yang kehilangan keseimbangan karena lantainya licin, ia kalah lalu bersembunyi di balik sofa.


“Aku sudah bilang kalau saya bukan istrimu.”


Bertahun-tahun Arsen berlatih keras  dan  bisa menguasai jurus bela diri dan ia mampu menguasainya dan mengalahkan Vania. Arsen mendekat dan jongkok dibelakang ingin memastikan tato di leher wanita yang bernama Vania itu. Tapi saat tangannya ingin menyentuh leher wanita itu kembali melakukan perlawanan. Ia menangkap tangan Arsen dan memalikkan tubuh dan menjatuhkan Arsen di lantai. Ia menekannya dari atas ia tidak menyadari kalau ia hanya mengenakan  kain pengaman bagian dada dan kain setiga. Arsen menatapnya dengan diam.


“Tubuhmu indah,” ujar Arsen yang tepat di bawah Vania. Mendengar hal itu dengan cepat ia melepaskan tangannya dan membalikkan tubuh ingin mencari handuk. Saat ia  panik mencari handuk kesempatan lengang itu Arsen gunakan. Ia menangkap tubuh Vania dari belakang dan menahan kedua tangannya. Melihat kalung Liontin yang dileher Vania Arsen tersenyum dengan yakin. Ia membalikkan tubuh Vania dan meraih bibirnya mengercapnya dengan paksa. Tentu saja gadis cantik beriris coklat terang itu  kaget dan memukul Arsen.


“Aku tahu itu kamu,” ujar Arsen tersenyum kecil


“Apa yang bapak lakukan?” tanya Vania kaget.


“Mencium istriku,” jawab Arsen dengan yakin.


“Seperti apa  wanita yang Bapak cari?”


“Jangan berpura-pura lagi, kamu itu mencoba membohongiku.”

__ADS_1


“Tidak, nama saya Vania dan tidak pernah lupa ingatan. Apa yang kamu maksud kakakku Yolanda?”


“Tidak mungkin.” Mata Arsen terhenyak.


Lalu melihat tato dibelakangnya, ia terdiam tidak ada tato di sana.


‘Kenapa tidak ada? Apa benar dia bukan Yolanda?’


“ Apa kamu menghapus tato dibelakang leherrmu?”


“Tidak, saya tidak pernah punya tato. Pak Sunu juga pernah mengatakan kalau saya mirip dengannya, tapi saya tidak tahu seperti apa wajahnya , sudah dua puluh tahun kami tidak pernah bertemu dia.”


Mendengar hal itu Arsen buru-buru melepaskan pelukan, lalu menatap  gadis di depannya. Vania adalah adik bungsu Yolanda. Dia  koswad di kopassus, wajah mereka berdua sangat mirip. Itulah sebabnya Arsen  menduga itu Yolanda, bahkan ia mencium Vania berpikir itu Yolanda. Ternyata yang ia telanjangi dan ia cium adik iparnya sendiri.


“Itu tidak mungkin,” ujar Arsen membalikkan tubuhnya dan melemparkan handuk pada Vania.


“Saya bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya.”


“Tapi Liontin itu?” Arsen melihat kalung di leher Vani.


“Dua tahun yang lalu saat aku masuk pelatihan sebagai anggota kopassus Pak Sunu memberikannya padaku dia mengatakan kalau kakakku ingin aku memakainya.Sejauh mana hubunganmu dengan kakakku?”


“Apa Kak Yolanda Istrimu, seperti yang bapak katakan tadi?” Vania menatap abang iparnya dengan  tatapan serius, karena ia sendiri belum mengenal wajahasli sang kakak.


“Iya, kita sudah menikah dan dia sudah melahirkan anak.”


“Apa? Benarkah Kakakku punya anak.” Vania sangat terharu.


“Pak Sunu tidak  pernah mengatakan padaku kalau dia sudah menikah .”


“Pernikahan kami rahasia dan anak kami sudah meninggal,” tutur Arsen dengan suara kecil.


Wajah ceria Vania seketika menjadi mendung, “Bagaimana dengan kakak kakakku. Apa benar dia sudah tiada?” tanya Vani menatap sang abang ipar.


Mengetahui kalau Vania bukan Yolanda, Arsen merasa sangat kecewa, ia keluar dari apartemen. Untuk membuang rasa kecewa dalam hati ia melarikan diri ke minuman beralkohol


                              **

__ADS_1


Setelah mengetahui identitas Vania, ia menemui Sunu kepala tentara, ia menjelaskan bagaimana Vania bisa jadi tentara. Gadis cantik bermanik coklat terang itu memiliki kemampuan layaknya tentara terlati sebab Yolanda sudah memintanya untuk berlatih keras sebelum ikut pelatihan. Maka saat penerimaan siswa koswad Vania  lulus seleksi dengan muda.


“ Apa benar mereka kakak beradik?” tanya Arsen masih berharap gadis yang ia cium di apartemennya adalah Yolanda.


“Iya Pak Arsen, sikap mereka berdua sangat berbeda walau wajah sama. Vania gadis yang ceria dan mudah senyum, sementara Yolanda wanita yang tegas bahkan tidak pernah senyum,” ujar Sunu.


“Kalau mereka tidak pernah bertemu. Lalu kenapa cara mereka berdua pegang senjata sama?”


“Menurut pengakuan Vania, dari dia masih duduk di bangku SMA Yolanda sudah mengirim vidio latihan tentara, perempuan itu bahkan menguasai semua latihan berat masuk kopassus,” jelas Sunu.


“Apa  benar dia tidak mengenal wajah kakaknya?”


Sunu mengangguk yakin, karena ia tahu kalau Yolanda dan devisinya tidak pernah menunjukkan wajah mereka pada orang luar baik keluarga sendiri. Mereka hanya memperlihatkan wajahnya pada sesama rekan yang bertugas. Yolanda mengirim vidio selama ia latihan, karena wajahnya selalu ditutup Vania tidak tahu kalau orang yang ada dalam vidio tersebut kakaknya sendiri.


“Tapi bagaimana kamu mengenal Yolanda dan Sopian?” tanya Sunu penasaran.


“Keluargaku salah satu klien mereka.”


“Oo, tapi … apa Yolanda memperlihatkan wajahnya padamu, maksudku bagaimana kamu tahu tentang adiknya?”


‘Bukan hanya  kenal dia istriku’ Arsen membatin tetapi ia tidak memberitahu tentang pernikahan mereka.


“Aku jatuh cinta padanya.” Arsen mengaku.


“Oh, begitu … Jadi kamu  berpikir kalau Vania  itu adalah Yolanda?”


“Iya, aku bahkan mencium menelanjanginya,” pungkas Arsen.


“Oh, astaga.” Petinggi tentara itu sampai kaget mendengar anak buahnya dicium sama Arsen.


“Wajah mereka sangat mirip,” tutur Arsen.


“Ya, kamu benar. Bahkan saat penerimaan siswa baru beberapa tahun yang lalu, saya sempat berpikir kalau itu Yolanda. Tapi saya ikut berduka atas kepergian Yolanda. Sopian sudah menceritakan semuanya padaku, itulah alasanku menjaga Vania hingga dia bisa masuk pasukan elite. Yolanda ingin adiknya jadi anggota baret merah. Tapi Vania juga cantik kenapa pak Arsen tidak berusaha mendapatkan adiknya saja,” usul Sunu.


Sunu ingin Arsen bersama Vania, kalau tidak bisa mendapatkan sang kakak adikpun tidak masalah. Marina juga mengungkapkan hal yang sama, saat Arsen menceritakan kalau Yolanda punya adik perempuan . Wanita itu meminta Arsen membawanya ke rumah mereka bahkan mengusulkan untuk  menikahinya, tapi Arsen menolak karena yang ia cintai Yolanda bukan Vania.


Bersambung

__ADS_1


Bantu like , komen, dan berikan hadiah ya agar  aurhornya semakin semangat lagi


__ADS_2