
“Dia seorang tertara ? Kecurigaanku selama ini ternyata benar?” ucap Arsen dengan wajah menegang.
“Saya akan membantu Ibu, saya tenaga medis juga,” jelas Yolanda dengan tenang.
“Baiklah, to-tolong istri saya Pak eh Mbak,” ucap suaminya gugup.
Yolanda memeriksa menggunakan jarinya yang sudah dipakaikan sarung tangan memasukkannya ke jalan lahir bayi.
“Belum melahirkan hanya serangan kepanikan, cobalah istirahat berbaring, buka jas bapak jadikan bantal agar dia rileks,” ujarnya dengan tenang.
Melakukan misi dengan keadaan hamil, itulah resiko pekerjaan yang dipilih Yolanda, menyelamatkan warga sipil yang ditawan ******* di sebuah gedung. Arsen tidak pernah menyadari kalau wanita pilihan neneknya ternyata seorang anggota rahasia.
Mata Arsen belum lepas dari Yolanda, ia melihat lengan itu terluka bahkan belum sempat ia obati, tetapi ia sibuk memikirkan nasip tawanan termasuk nasip suaminya sebagai klien juga. Tidak ada terlihat wajah kesakitan di matanya, bagi wanita bertubuh tinggi itu luka itu sudah hal biasa, selama bergabung dengan pasukan rahasia.
“ Lapor Dan. litf sudah berpungsi, kami sudah menyusuri gedung semua Aman,” lapor bawahannya.
“Pastikan jalan keluar aman.”
“Sudah, Dan.”
“Ok, tunggu aba-aba dari saya, kita akan turun. Pindah Beruang Putih berikan laporan bagian tangga, bagaimana?” tanya Yolanda melalui alat komunikasi.
“Lapor Dan, Tangga darurat terkunci.”
“Segera mundur, tunggu perintah dari saya.” Yolanda sebagai komandan pasukannya mengarahkan semua bawahannya.
“Bagaimana?” tanya Krisna
“Saya memperkirakan mereka masih ada beberapa lagi di gedung ini dan itu berbahaya. Bawa mereka ke ruangan aman,” pinta Yolanda.
Tidak lama kemudian pasukan polisi anti teror datang ke ruangan. Para sandera akhinya diambil alih sama polisianti teror.
“Jangan ada yang keluar dari sini, kita hanya menunggu jembutan. Para penjahat itu masih ada beberapa lagi di gedung ini. Jadi tolong jangan panik, kita akan berusaha membawa semua dari sini keluar dengan selamat. Tolong kerja samanya, sekali lagi jangan ada yang menyalahkan ponsel,” ucap seorang kepala tentara. Yolanda juga ikut memberi arahan sejaga tidak melihat mata suaminya dan tidak mendekati.
“Bagaimana mungkin melakukan pekerjaan berbahaya seperti ini dalam keadaan hamil. Apa nenek tahu kalau Yolanda seorang tentara?” gumam Arsen pelan.
Ia terus menatap Yolanda berharap wanita itu melihatnya. Tetapi Yolanda terlalu sibuk mengurus semuanya. Orang-orang itu tampak semakin ketakutan saat terdengar suara tembakan di lantai bawah di arah tangga. Saat situasi mulai aman Yolanda akan turun ke ruangan pertemuan , ia ingin mengamankan data-data rahasia sebelum bocor pada orang lain, itulah tujuan utamanya datang ke gedung tersebut.
“Awasin mereka. Saya turun,” ujar Yolanda.
“Dan, saya ikut,” ucap Krisna, melihat tangan Yolanda terluka ia merasa kasihan.
__ADS_1
“Ini perintah ada misi lain yang harus saya lakukan sendiri, awasi dia,” bisik Yolanda
“Tidak Dan . Biar saya ikut.”
Yolanda menatap tajam pada Krisna. “Berhenti membantah!”
“Tidak Dan. Siap!” ucap Krisna dengan badan tegap.
Yolanda berjalan meninggalkan ruangan.
“Saya ikut saya menemani kamu,” ucap Arsen.
“Amankan dia,” lirik Yolanda Kris.
Yolanda berjalan, tetapi Arsen brontak dan ia meninju wajah Krisna, “Dia istriku bodoh. Kamu dan dia ternyata tentara. Kamu juga berbohong padaku , urusan antara kamu dan aku nanti kita bicarakan,” ucap Arsen marah.
“Maaf Pak,” ucap Kris merasa bersalah karena berbohong pada Arsen.
Arsen berlari mengikuti Yolanda ke arah lift
“Apa kamu gila?” tanya Arsen dengan wajah menghitam ia ingin berteriak melihat Yolanda ada di sana.
“Tenangkan dirimu, sebelum kita mati di sini,” ucap Yolanda memakai kembali helem dan keselamatanya dan memeriksa kondisi senapan di tangannya.
“Tenanglah Pak Arsen, mereka tidak akan perduli laporanmu. Aku bukan tentara sungguhan yang punya nama, aku hanya tentara bayangan tanpa nama,” ucap Yolanda dengan wajah datar, ia tidak memperdulihan luka lengannya.
Yolanda masuk kedalam lift, membuka satu jaket anti peluruh dari tubuhnya untungnya ia memakai berlapis.
“Ini pakai”
“Aku tidak membutuhkan itu,” ujar Arsen marah, ia bukan lelaki yang lemah, senjata sudah hal biasa baginya. Tetapi ia tidak menduga kalau ia akan mengalami semuai ini bersama istri, yang saat ini sedang hamil.
“Kamu tidak akan bisa mengatakan itu jika peluruh itu menembus jantungmu,” ucap Yolanda ketus.
Arsen mengepal tangannya dengan kuat karena takut, ia takut kalau Yolanda yang tertembak. Benar saja saat mereka keluar dari lift sebuah tembakan menerjang keduanya.
Insting seorang tentara Yolanda lansung memasang tubuhnya melindungi Arsen. Mata lelaki itu melotot panik saat Yolanda menjadikan tubuhnya yang melindungi Arsen.
“Apa kamu gila!!” Arsen melotot marah, ia mencekram kedua pundah istrinya dengan kuat.
“Itu akibatnya jika kamu tidak memakai jaket anti peluruh, kamu klienku jika aku gagal melindungimu kami juga dalam bahaya. Aku dan anggota akan dapat hukuman dan mungkin akan ikut dimusnakan ,” ucap Yolanda.
__ADS_1
“Kamu memikirkan nasip anggotamu. Lalu apa kamu memikirkan nasip dia!” Arsen menunjuk perut Yolanda, pundak lelaki tampan itu naik turun dan matanya memerah melihat Yolanda tidak memperdulikan keselamatan bayi dalam kandungannya.
“Dia akan baik-baik saja, aku punya tugas penting.” Ia berjalan ke ruangan.
Arsen tidak bisa berkata-kata lagi, wajahnya benar-benar menghitam menahan amarah. Ia mengikuti Yolanda ke ruangan pertemuan, alis Arsen berkedut begitu dalam saat wanita hamil itu bisa membuka akses masuk ke sebuah ruangan. Gedung kedutaan itu memilik keamanan yang sangat tinggi. Namun, Yolanda mampu membukanya.
“Kamu bisa mengaksesnya?” tanya Arsen
“Itu salah satu keahlianku. Senjata itu tidak bisa bocor pada orang lain sebelum ada kesepakatan,” ujar Yolanda,
“Kamu bisa melakukannya juga?” Arsen melonggo saat Yolanda bisa meretas data keamanan menteri pertahanan.
‘Astaga orang seperti apa dia sebenarnya’ ucap Arsen membatin saat Yolanda dengan licah mendonwload data ke flashdiks miliknya dan menghapus semua data dari laptop.
“Lapor Pak. Saya mendapatkannya,” ucap Yolanda menekan alat komunikasinya.
“Apa kamu bisa menghapusnya juga, Jo?”
“Siap, Bisa pak!”
Arsen hanya diam melihat sosok wanita di depannya, ia tidak tahu wanita yang selamanya bersamanya ternyata seorang tentara mata-mata dan wanita genius. Melihat Yolanda bisa membuka data keamanan negara ia terdiam, ada banyak hal yang ia pikirkan termasuk nasip data-data rahasia dikamarnya.
‘Apa dia juga sudah mengetahuinya?’ Arsen bertanya dalam hati.
Setelah selesai mendownload data tersebut dan mengamankanhya, tiba-tiba ada suara pintu.
“Kita harus keluar dari sini.” Arsen menarik tangannya ke balik lemari saat seorang berpakaian seragam juga mengincar data tersebut.
“Kamu menekannya,” bisik Yolanda saat Arsen menekan perut Yolanda.
“Bertahanlah dia masih di sana,” bisik Arsen ia sengaja mendekatkan wajahnya menatap Yolanda.
Tidak menemukan apa-apa, pria berseragam itu keluar dengan wajah kesal, tetapi Arsen belum melepaskan tubuh Yolanda. Ia masih mengunci tubuh sang istri dengan tubuhnya, ia menatap wajah Yolanda.
“Dia sudah pergi,” bisik Yolanda.
“Ternyata kamu seorang tentara?” tanya Arsen masih menatap wajah Yolanda, “nanti kita bicarakan lagi yang terpenting kita selamat dari sini.” Arsen merebut satu senjata dari tangan Yolanda.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Bukan hanya kamu yang bisa pegang senjata aku juga bisa. Bukan kamu yang melindungi, tapi aku yang melindungi anakku,” ucapnya marah.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa berikan dukungannya ya untuk karya ini dengan cara like, komen dan berikan hadiah terimakasih.