
Yolanda masih diam dan tidak berani membalikkan badan.
“Pak Arsen! Saya mencari Bapak.” Krisna datang dengan cepat setelah mendapat laporan kalau Yolanda akan kesana. Ia menyelamatkan Yolanda dalam situasi sulit.
Kesempatan itu juga yang dimanfaatkan Yolanda keluar dari tangga, ia membuka pintu dan masuk ke lantai tiga.
“Kris, siapa wanita yang tadi?”
Krisna pura-pura tidak menyadari, “oh, mungkin bagian teknisi Pak.”
“Saya sepertinya mengenalnya. Apa kamu tidak melihat wajahnya tadi?”
“Tidak Pak.” Krisna berbohong.
“Ada apa mencari saya? Acara akan segera dimulai, Bapak di minta ke aula pertemuan. Apa bapak merasa gugup makanya berdiri di sini?”
“Tidak, hanya ingin turun menggunakan tangga.”
Diaula kantor seluruh karyawan dan jajaran perusahaan sudah berkumpul, mereka ingin melihat Ceo bau perusahaan. Marina dan beberapa kolega dan pemegang saham duduk dibangku barisan paling depan. Hari itu berketepatan ulang tahun perusahaan dan sekaligus acara penyerahan jabatan pada Arsen. Yolanda sudah tiba disebuah gedung dan mengarahkan teleskop senapan ke sekitar gedung. Ia mengarahkan teleskop kedepan tepat saat Arsen naik ke vodium untuk memberikan sambutan. Ditegah pidatonya tanpa sengaja ia melihat kearah jendela kaca ruangan, ia melihat sosok sniper yang mengawasinya.
‘Siapa dia? Apa dia suruhan Nenek apa musuh?’ Namun Marina mengangguk memberi kode agar dirinya jangan takut.
Di sebrang jalan Yolanda bisa melihat wajah tampan Arsen dengan sangat jelas, awalnya ia hanya mengarahkan teleskop senapan laras panjang itu ke sekitar tubuh Arsen, tiba-tiba ia mengarahkan tepat ke wajah Arsen. Yolanda tertegun, ia baru menyadari kalau Arsen memiliki paras yang sangat tampan.
“Sayang dia sangat sombong,” gumam Yolanda pelan, ia membuang napas dari mulut sesekali ia melepaskan pandangan dari teleskop untuk menetralkan pandangan matanya.
“Dan, apa kamu masih di sana?” tanya Krisna.
“Ya, saya melihatmu dengan jelas, situasi aman. Tapi siapa sosok lelaki yang dipintu masuk dari tadi dia terlihat gelisah, tetap waspada,” ujar Yolanda.
Krisna menyelidiki laki-laki yang berseragam sekuriti di depannya, ia melihat pakaian yang digunakan tampak kekecilan dan salah satu kancing depan terlepas.
‘Ada yang tidak beres’
“Lapor Dan.”
“Ya Katakan.”
“Saya mencurigai secuti, seragam yang dia gunakan bukan miliknya.”
Yolanda langsung posisi siaga, menyisir semua area dengan teleskop senapan jenis Sako TRG 43. Salah satu Senapan Sniper Paling Mematikan di Dunia
“Amankan Pak Arsen dan Bu Marina. Beruang putih putar balik menuju kantor Pak Arsen.” Perintah Yolanda pada teamnya.
Anak buah Yolanda putar balik menuju gedung, Krisna dan dua rekannya bertindak cepat. Krisna menghampiri Arsen dan menyodorkan ponsel seolah-olah ada telepon penting, Arsen dan Marina mengerti kode yang diberikan para pengawal mereka. Arsen tidak panik agar orang dalam ruangan itu tidak curiga. Ia menyudahi pidato pertamanya dan menyerahkan pada MC untuk melanjutkan acara . Ia keluar ari gedung dengan tenang seolah-olah menerima panggilan penting.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Kita harus keluar dari segera Pak, para pendemo bayaran sedang menuju kemari, mereka berencana,” jelas Krisna.
Yolan dengan cepat meminta rekannya untuk memblokade jalan. Ia membuka tas tanselnya dan mengeluarkan laptop mini, ia sengaja mengacaukan lampu merah untuk mengulur waktu, agar lalu lintas macet dan pendemo bayaran itu tidak bisa tiba tepat waktu.
“Kris, minta Ibu Marina untuk membubarkan acara dan segera tutup area gedung.”
“Baik Dan.”
Krisna menyampaikan apa yang dikatakan Yolanda, wanita itu dengan cepat memerintahkan bawahannya untuk menyudahi acara. Beruntung acara penobatan Arsen sudah selesai, hanya tinggal acara hiburan dan game untuk para karyawan.
“Kris, kita tidak punya waktu. Saya punya ide,” ucap Yolanda, ia memberi usul untuk menyembunyikan semua karyawan yang hadir dalam sebuah ruangan tertutup.
“Baik.” ucap Krisna.
“Dan mobil pendemo sudah menuju kantor,” lapor bawahan Yolanda.
“Baik.”
*
Setelah semua orang dan kendaraan diamankan, ditutup dan dipasang portal penghalang. Marina juga dengan cepat meminta bantuan teman yang seorang kepala polisi. Saat mobil pendemo bayaran itu tiba. Polisi meminta mereka pulang sebab gedung sudah kosong dan acara sudah juga selesai dan gedung ditutup. Seorang pewakilan dari pendemo tidak percaya ia berjalan menuju gedung perkantoran tidak ada orang lagi di sana.
Setelah dihalau polisi untuk putar balik mereka pulang dengan sia-sia. Sepuluh menit kemudian semua orang keluar dan buru-buru pulang. Ide Yolanda berhasil dengan meminta mereka bersembunyi di sebuah ruangan dan kendaraan dijauhkan dari gedung kantor. Ide cemerlang Yolanda membuat Marina semakin percaya padanya tidak ada masalah saat penobatan Arsen sebagai pemimpin perusahaan. Kris dan dua rekannya sudah menangkap ketiga orang penyusup itu.
“Kris, apa kamu mendapatkannya?”
“Apa mereka mengaku?”
“Siap Dan belum.”
“Ok, amankan Pak Arsen dulu. Sayang akan membuat mereka mengaku,” ujar Yolanda.
Krisna dan kedua rekannya menangkap penjahat yang berpura-pura jadi securiti gedung itu, mereka mengintrogasi tetapi tidak mau mengaku.
“Kalau Komandan kami yang sampai turun tangan maka tamat riwayatmu hari ini,” ujar salah seorang dari mereka.
“Dia wanita yang menakutkan kalau sudah maraj,” ucap salah seorang. Ketiga penjahat itu belum mau mengaku siapa yang memerintahkan mereka untuk membuat keributan.
Yolanda akhirnya turun tangan, saat tiba di dalam ruangan mereka bertiga sudah babak belur dihajar, tapi tetap tidak mau mengaku. Yolanda datang ia melepaskan jaket dan kaca mata.
“Dan.” Dua orang rekan Krisna menyapa Yolanda dengan hormat, wanita tegas itu hanya menganguk. Ia membuka tas ransel miliknya lalu mengeluarkan mata kail, sebuah batu hitam mirip arang dan cairan bening dalam botol kecil. Lalu duduk di depan ketiga penjahat itu.
“Saya tidak akan banyak bicara saya paling malas untuk bicara panjang lebar. Kalau kamu mengaku silahkan. Kalau tidak tidak apa-apa juga,” ucap Yolanda.
Ia memegang mata pancing dan mengikat ujungnya dengan benang, hanya melihat begitu saja ketiganya sudah ketakutan. Ternyata mata kail itu cara penyiksaan ala mata-mata. Jika musuh tidak mengaku maka mata kail yang sudah diberi benang tersebut akan dimasukkan paksa ke dalam mulut dan dipaksa ditelan setelah kail masuk ke dalam perut ujung benang akan ditarik dari luar. Maka saat ujung menang ditarik maka mata kail akan tersangkut di dalam perut saat ia ditarik akan merobek bagian perut mengalami luka dalam tubuh sementara tubuh bagian luar tidak terluka.
“Baik, saya akan mengaku,” ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Katakan,” ucap Yolanda ia memasukkan batu hitam itu ke dalam gelas seketika air dalam gelas membeku dan mengumpal.
“Kami diminta seseorang untuk menghancurkan penobatan Pak Arsen,” ucapnya.
“Katakan siapa?” tanya Yolanda masih dengan sikapnya yang tenang.
“Kami tidak tahu.”
“Apa kamu mengenal benda ini?”
Mereka bertiga menggeleng tidak tahu.
“Kalau saya memasukkan ini ke dalam mulut kalian bertiga, darah dalam tubuhmu akan membeku dalam hitungan menit kamu akan kejang-kejang dan jantungmu berhenti berdetak. Lalu beberapa menit kemudian kamu akan meledak dan hancur. Yolanda memegang batu dan memegang dagu salah satu dari mereka ingin memasukan benda itu ke mulut.
“Burhan! Namanya Burhan,” ucap lelaki bertato akhirnya mengaku.
Yolanda mengemaskan barang-barang berbahaya itu kedalam kotak dan memasukkannya ke dalam tas rangselnya, ia tidak mengatakan apa-apa hanya itu saja. Ia bergegas.
“Berikan mereka ke pihak berwenang, biarkan polisi yang mengurusnya,” ucap Yolanda.
“Baik Dan.”
Kedua bawahan Yolanda melepaskan ikatan dari tangan dan menyeret ke mereka ke polisi
“Saya menemukan dalangnya, namanya Burhan,” ucap Yolanda menghubungi Krisna.
“Baik Dan.”
“Bu, saya mendapat namanya dari Bu Yolanda,” bisik Krisna pada Nyonya Marina.
“Apa mereka bertiga sudah mengaku?” tanya Marina.
“Kalau Yolanda yang melakukannya pasti mengaku Bu, namanya Burhan.”
“APA?” Marina kaget, lelaki yang dipanggil Burhan itu saat acara berlangsung ia ada bersama Marina , bahkan didepan Marina ia mendukung Arsen. Ternyata ia musuh dalam selimut.
“Nenek tidak apa-apa?’
“Burhan pelakunya.”
Arsen diam, dari awal ia sudah curiga dengan sikap munafik lelaki tersebut.
“Batalkan proyek kerja sama dengan Burhan,” ucap Marina menelepon asistennya.
Untuk mengamankan Arsen dan Marina, Krisna terpaksa membawa keduanya ke dalam mobil Van . Mobil yang ditumpangi Yolanda saat datang. Saat mereka semua naik dan Arsen duduk disamping Krisna. Tiba-tiba Yolanda datang dan duduk disamping Krisna juga, ia tidak menyadari kalau Arsen akan duduk dimobil yang sama dengannya. Marina dan Krisna sama-sama kaget dengan bola mata membesar memutar memberi kode padanya.
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa berikan dukungan ya Kakak dengan cara like, komen dan berikan hadiah juga terimakasih