
.
Hugo lelaki yang gentelemen dan berani, melihat dr. Mitha ketakutan setelah
mendengar ancaman Kevin yang mengancam Hugo. Lelaki mantan pasukan khusus itu memutuskan menemui Kevin. Ia sampai ijin sakit ke atasanya agar bisa pulang ke Medan untuk Kevin. Mitha tidak tahu kalau lelaki berbadan tegap itu menemui Kevin.
“Anda siapa?” tanya Mami Kevin, saat ia minta ijin menemui Kevin.
“Saya Hugo Pratama teman Kevin,” ujar Hugo saat tiba di rumah sakit.
“ Tolong katakan padanya, supaya jangan melakukan hal yang gila. Kami sudah dibuat malu sama dia,” ujar wanita berpenampilan modis itu sembari meneliti tubuh Hugo.
“Baik Tante.”
Hugo diperbolehkan masuk, Kevin tidak memperbolehkan siapapun menemuinya.
“Siapa kamu?” tanya Kevin dengan tatapan tajam.
“Apa kamu pantas disebut pria?”
“Apa maksumu.” Kevin yang masih menggunakan gifs di kaki menatap Hugo dengan tajam.
“Bagaimana kamu melindungi Mitha kalau kamu seperti ini.”
Mendengar nama Mitha raut wajah Kevin langsung menegang, ia mentap wajah pria tinggi tegap di depanya. Ia ingat lelaki itu yang mengaku sebagai calon suami Mitha saat ia menyeret tangan Mitha saat itu.
“Aku langsung datang dari Jakarta, saat mendengar kamu ingin membunuhku. Tidak usah menunggu kamu datang ke Jakarta, aku saja yang datang ke sini.”
“Kamu …-”
“Iya, saya calon suami Mitha. Nama saya Hugo Pratama.” Ia dengan berani memperkenalkan diri.
“Bajingan kamu! Keparat! Kamu pikir siapa dirimu.” Kevin bukanya tenang ia malah semakin menggila.
“Hei bung! Apa kamu tidak malu dengan apa yang kamu lakukan? Dirimu saja tidak bisa kamu lindungi Bagaimana kamu melindunginya. Keluargamu selalu menghina dan merendahkan Mitha dan keluarganya . Apa kamu mau wanita yang kamu cintai selalu terluka karena keluargamu. Jangan egois, lima tahun bersamu dengan penuh tekanan saya rasa itu sudah cukup. Saatnya melepaskannya dan membiarkan dia bahagia.”
“Aku bisa membahagiakannya!”
“Apa kamu bisa meninggalkan keluargamu demi dia?”
“Iya aku bisa.”
__ADS_1
“Kalau kamu bisa, kenapa tidak dari dulu kamu lakukan?”
Kevin diam dan berkata, “dia tidak memperbolehkanku melakukannya, dia ingin mendapat restu dari keluargaku,” ucapnya dengan suara pelan.
“Nah, sekarang kalian tidak mendapatkannya makanya dia memilih pergi, Dia tidak ingin kamu membuat pilihan antara dirinya dan keluargamu. Kalau kamu mencintainya harusnya mendoakannya agar bahagia. Kamu sudah tahu dari kecil dia sudah menderita karena merawat Ibu yang sakit tanpa dampingan seorang ayah. Apa kamu ingin dia menderita juga setelah menikah denganmu?”
Kevin terdiam, ia mengusap air matanya dengan kasar. Ia memilihku bukan karena cinta, dia memilihku demi keluarga yang dicintai. Ibunya ingin melihat anak-anaknya menikah. Kamu juga harus melakukan yang sama. Menikahlah dengan level yang sama denganmu agar kedua orang tuamnu senang.”
Hugo lelaki yang sangat keren, ia bisa membungkam Kevin dan keluarganya.
“Apa kamu datang ke sini hanya untuk mengatakan itu?’ tanya Mami Kevin.
“Iya, saya tidak ingin calon istri yang saya nikahi punya beban pikiran.”
“Apa pekerjaanmu?” tanya Mami Kevin dengan sombong.
“Saya tidak sehebat putramu, tetapi saya telah berjanji akan melindunginya dari orang yang menhinanya dan aku sudah berjanji akan membahagiakanya, saya tidak bisa memberikan harta tetapi cinta yang saya punya.”
Tiba-tiba Kakak perempuan Kevin datang ia melihat wajah Hugo, beberapa bulan lalu ia saat minta foto sama presiden Hugo yang membantunya keluar dari kerumunan orang.
“Sepertinya kita pernah bertemu,” ucap wanita berkaca mata itu. “Kamu paspampres kan?”
“Bertugas dengan Yolanda, Kakak dr. Mitha?”
“Iya,” sahut Hugo.
Setelah tahu kalau Hugo seorang tentara, mulut wanita itu langsung diam. Ia tidak banyak bicara lagi.
“Dia paspampres Mi. Apa Yolanda yang menjodohkanmu dengan adiknya?” tanya kakak Kevin.
“ Iya, kira-kita begitulah. Yolanda dan Vania selalu melihat Mitha murung setiap kali habis bertemu dengan Kevin, dia menceritakan kalau wanita yang dipilih Mami Kevin sebagai calon istrinya selalu menghinanya di rumah sakit,” tutur Hugo, ia membeberkan semua kelakuan Mami Kevin di depan suami dan anaknya.
“Mi? Calon istri apa?” tanya sang suami.
“Apa yang mami lakukan selama ini?” Kevin menatap sang Mama.
“Tidak ada.”
“Tante juga datang menemui Mama Mitha ke rumahnya dan meminta Mamanya melarang Mitha mendekatimu.”
“Apa? Bukannya Mami bilang Mami Mitha gila?”
__ADS_1
“Iya dia gila,” ujar wanita itu dengan marah.
“Jadi Kevin … jangan menyalahkan Mitha atas kandasnya hubungan kalian, Mama kamu yang selama ini mengancam dia agar jangan menikah denganmu. Itulah alasan Mitha pergi.”
Kevin langsung diam, akhirnya ia paham semuanya. Rupanya Maminya hanya pura-pura merestui did epannya saja di belakangnya Maminya lain. Kevin merasa nsagt malu setelah Hugo menjelaskan semua.
“Baiklah, aku menyerah. Semoga kamu dan Mitha bahagia. Tapi ingat Mi, aku tidak akan menikah dengan siapapun aku juga akan pergi dari Indonesia kalau kaki ini sudah sembuh,” ujar Kevin dengan wajah sedih.
“Boleh kamu mengucapkan ucapan selamat langsung pada Mithanya sendiri, kalau aku yang menyampaikan dia tidak akan percaya.”
Hugo Memang lelaki yang sagat berani, didepan semua keluarganya ia meminta Kevin menyampaikan salam perpisahan untuk Mitha lalu merekamnya. Dengan berat hati akhirnya Kevin melakukannya. Ia beberapa kali mengusap sudut matanya. Di dalam hatinya yang paling dalam ia tidak rela kekasih hatinya yang ia jaga selama ini menikah dengan pria lain. Tapi demi kebahagian Mitha ia akhirnya merelakannya dengan Hugo.
“Aku berharap kamu bahagia Mit, maaf selalu membuatmu menangis selama kita bersama. Aku mengiklaskanmu menikah dengan pria ini. Kudoakan kamu bahagia,” ujar Kevin.
*
Setelah pulang dari Medan Hugo menunggu Mitha pulang. Karena Mitha tidak lama menganggur pindah ke Jakarta ia langsung dapat pekerjaan. Arsen menelepon direktur salah satu rumah sakit elite di Jakarta dan Mitha bekerja di sana.
Hari itu ia sengaja menunggu di depan rumah sakit. Setelah keluar dari pintu depan Hugo sudah menunggunya di depan sembari melihat pujaan hati berjalan keluar. Mitha belum menyadari kehadiran Hugo sebab dia mengobrol dengan rekannya dokter. Saat menoleh ke depan wajah cantik itu langsung merekah dan tersenyum manis. Hugo hanya membalasnya dengan senyuman kecil, tetapi tatapan matanya penuh cinta.
“Abang sudah lama? Kok gak bilang mau jemput.”
“Kejutan dong. Ayo makan dulu aku lapar.” Hugo mengajaknya untuk makan di sebuah restoran.
Mitha yang belum hapal daerah Ibukota hanya bisa mengkuti kemana Hugo membawanya. Setelah selesai makan, wajah Mitha masih terlihat raut sedih. Hugo akhirnya memperlihatkan rekaman dari ponselnya. Setelah melihat isi video tersebut bola mata Mitha meloto kaget.
“Abang menemuinya langsung?” tanya Mitha dengan mulut menganga.
“Iya, tadi.”
“Haaa!”
“Bagaimana? Apa kamu sudah puas?” tanya Hugo mengusap mulut Mitha dengan Tissu.
“Wah, hebat bangat,” puji Mitha setengah histeris.
“Ayo kita menikah,” ujar Hugo.
Bersambung
Jangan lupa berikan like, komen dan hadiah ya
__ADS_1