
Setelah Yolanda memutuskan pulang dan memperlihatkan dirinya pada keluarga. Kehidupan ibu dan adiknya berubah sebab Mamanya setiap hari semakin pulih. Bahkan tidak butuh obat penenang lagi saat mau tidur, ia sudah bisa mengingat almarhum suaminya dan mengingat kejadian masa lalu. Walau hal itu terkadang membuatnya menangis. Tetapi sebagai seorang dokter dr. Mitha membiarkan Mamanya mengatasi sendiri kesedihanya. Mitha hanya perlu mengawasinya dan medampingi.
“Apa kamu marah pada Mama?” tanya Tiani .
Mitha menatap wajah sang Mama mencoba arti dari di balik pertanyaa tersebut. “Kenapa Ma?”
“Gara-gara Mama, keluarga Kevin tidak merestui hubungan kalian.”
“Apa Mama melihat pertengkaran kami kemarin?’
Bu Tiani mengangguk, akhirnya Mitha berani membuat pilihan dengan hubungan dengan kekasihnya. Saat keluarga lelaki itu tidak merestui hubungan mereka. Dokter cantik itu memilih memutuskan hubungan. Bagi Mitha tidak ada gunanya menjalin hubungan lama-lama kalau pada akhirnya akan putus. Kata putus dari Mitha tidak diterima oleh Kevin Sanjaya. Dokter muda yang jadi kekasih Mitha selama lima tahun terahir.
“Ma, aku memutuskan megakhiri hubungan kami,” tutur Mitha sembari tidur dipangkuan Mamanya.
“Kenapa? Apa ada yang lain?”
“A- a tidak ada,” sahut Mitha terbata-bata.
“Tidak apa-apa kalau ada yang lebih baik. Pilihan ada ditanganmu dan kamu juga yang akan menjalani rumah tanggamu ke depannya. Mama dan Gres hanya akan merestui,” ucap wanita yang pernah menempuh pendidikan di Jerman tersebut.
Mitha merasa sangat bahagia sebab Mamanya mendukung keputusannya untuk putus dari Kevin. Sebenarnya Mitha berat untuk melepaskan lelaki tersebut karena selama ini Kevinlah yang membantu dan mendukungnya. Tetapi Mitha tidak terima saat semua keluarga Kevin menyebut dirinya memiliki ibu yang gila.
Saat sedang mengobrol, ternyata dr. Kevin datang lagi. Ia memohon agar Mitha tidak memutuskan hubungan mereka.
“Selamat pagi Tan, saya ingin jemput Mitha untuk kerja,” ujar Kevin setelah ia memarkirkan mobilnya di depan rumah Mitha.
“Pagi, bicaralah dengan Mitha. Tante masuk dulu.”
Kevin memperlihatkan ekspresi kaget saat Bu Tiani bicara nomal padanya.
“I-iya Tante,” sahut Kevin masih dengan wajah kaget.
“Apa yang ingin kamu lakukan?”
“Apa Tante sudah sehat?”
“Iya.”
“Kamu gak pernah bilang padaku kalau dia sudah sembuh.”
“Bagaimana mau bilang. Kamu saja takut melihat Mamaku, setiap kali aku ajak main ke rumah kamu selalu memintaku bertemu di cafe , di taman, restauran. Jadi aku pikir tidak perlu menceritakannya karena kamu juga tidak akan perduli.”
“Kok, kamu berbeda belakangan ini. Ada apa?”
“Kevin, aku sudah bilang. Mari kita akhiri sampai di sini. Aku lelah menunggumu bertahun-tahun.”
__ADS_1
“Aku sudah bilang padamu Mitha, berikan aku waktu. Aku akan membujuk orang tuaku, agar kita bisa menikah.”
“Kamu sudah mengatakan itu lima tahun yang lalu. Dokter Kevin dan aku sudah lelah dan memilih menyerah. Tolong mengerti denganku.”
“Lalu bagaimana denganku?”
“Keluargamu sudah memilih wanita yang selevel dengan kamu. Jadi menikahlah dengan wanita pilihan orang tuamu.”
“Aku tidak mau dan tidak akan pernah mau. Aku akan menikah dengan wanita pilihan hatiku bukan pilihan orang tua,” jelas kevin.
“Maaf aku tidak bisa.” Mitha meminta dr. Kevin untuk pulang.
“Apa kamu sudah punya kekasih lain?”
“Iya, lelaki yang mau menerima keluargaku apa adanya.”
“Kamu bohong. Tidak ada lelaki sehebat aku.”
Mendengar ada pria lain, lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu tidak terima. Ia marah dan menyeret tangan Mitha.
“Lepaskan dia!” suara barithon bernada tegas menghentikannya.
Saat kevin menoleh ke belakang seorang pria berbadan tegap menatapnya dengan tajam.
“Siapa kamu?”
“Oh, saya calon suami Mitha,” jawab Hugo dengan berani.
Mitha menutup mulut dengan telapak tangan karena malu, ia menatap Yolanda. Ia tidak tahu kalau Hugo sudah menceritakan semuanya pada Yolanda.
“Jadi benar kamu selingkuh dariku?”
“Bukan selingkuh. Aku yang memintanya meninggalkanmu,” sahut Yolanda.
Wajah Kevin mengeras menahan amarah, ia meninggalkan mereka semua, mengendarai mobilnya menuju rumahnya. Ia meluapkan semua kemarahannya pada kedua orang tuanya yang tidak mau merestui Mitha.
“Apa kalian semua puas?” teriak Kevin.
“Kevin, ada apa pagi-pagi sudah bikin onar.”
“Mami bisa tertawa sekarang. Mitha sudah meninggalkanku dia akan menikah dengan pria yang baru dia kenal. Aku kalah sama pria yang baru satu hari dia kenal. Padahal hubungan kami sudah lima tahun.”
“Mungkin dia bukan jodohmu,” ucap Mami Kevin.
“Kalian yang membuatku tidak berjodoh dengannya. Kalau aku tidak bisa menikah dengan Mitha, maka seumur hidup aku tidak akan pernah menikah,” ucap lelaki bermata cipit itu dengan lantang.
__ADS_1
Semua keluarganya hanya diam melihat kemarahan Kevin, ia terlihat sangat hancur saat wanita yang ia cintai memilih lelaki lain. Tapi semua itu karena ulah keluarganya yang tidak mau menerima Mitha sebagai menantu di rumah karena ia orang miskin.
*
Hugo lelaki yang sanga gentelemen, ia datang saat Yolanda menantang dirinya untuk ikut pulang menemui sang Mama. Tanpa pikir panjang Hugo minta ijin ke atasannya, lalu ikut bersama Yolanda. Kali ini, giliran Bu Tiani yang mengintrogasi calon menantunya.
“Apa kamu yakin dengan anak saya. Kamu tahu, dia anak orang miskin, bahkan tidak punya bapak.”
“Yakin Tante, saya sendiri tidak punya keluarga. Keluarga saya selama ini hanya rekan kerjaku dan Yolanda.”
Mendengar Hugo anak yatim piatu, Bu Tiani langsung. “Kamu yatim piatu?”
“Iya, saya bahkan tidak ingat bagaimana rupa kedua orang tuaku. Saya besar dipanti asuhan,” tutur Hugo.
“Baiklah, saya akan merestui hubungan kalian dengan syarat. Kamu tidak boleh menyakiti hati anak saya.”
“Baik tante.”
Hugo pertama kali dalam hidupnya, merasakan sebuah kebahagian, karena dirinya diterima dan direstui. Hugo langsung pamer pada Kris ia melangkah lebih cepat dari rekannya. Ia bahkan melakukan video call disambungkan panggilan pada Vania dan Kris.
“Apa bang Hugo pulang?”
“Bukan hanya pulang tapi ada ini.” Hugo mengecup punggung tangan Mitha di depan mama mereka.
“Apa?” Kris dan Vania sama-sama melonggo.
“Mama sama Kakak ada di sana?” tanya Vania masih dengan mulut mengaga.
Kris dan Vania sama-sama terpranga sebab pria itu berani mencium tangan Mitha di depan mama Mereka. Ia tidak tahu kalau hubungan mereka sudah direstui.
“Lalu bagaimana dengan Kevin?” tanya Vania kaget.
“Aku sudah menyingkirkannya dan meminta pulang ke pelukan Mamanya.”
“Keren,” puji Vania mengangkat jempol.
“Kami akan pulang ke kampung untuk melihat makam Papa,” ujar Yolanda.
“Pulang kampung!? Aku harus ikut. Aku juga ingin melihat Papa,” ujar Vania.
Kris hanya bisa diam, tidak berani bicara dan tidak tahu mau mengatakan apa di depan keluarga Vania. Padahal Hugo sudah memberi kode tangan agar Kris menyapa Mama Vania, tetapi ia tidak berani buka mulut. Pada akhirnya kesempatan itu hilang begitu saja.
Bersambung.
Jangan lupa berikan dukungan ya Kakak
__ADS_1