
Mendengar itu Yolanda bernapas legah, ia sempat berpikir kalau Arsen mengetahui tentang luka saat ia melakukan misi penyelamatan sandera saat di Papua.
“Bukan karena itu Pak jangan khawatir, aku bisa mengatasinya. Tolong keluar aku mau istrirahat.”
“Biarkan aku merawatmu.”
Walau Arsen sudah menikah dengannya tapi Yolanda tidak pernah menganggapnya sebagai suami melainkan klien.
“Biarkan Bu Mina yang membantuku Pak.”
Setelah beberapa hari Arsen datang ke kamar Yolanda lagi.
“Sepertinya Bapak ingin membicarakan hal yang penting lagi,” ujar Yolanda.
“Begini, aku tidak tahu siapa kamu dan dari man asal-usul kamu. Jadi wajar untukku butuh waktu dan wajar untukku menyelidikimu selama ini.”
“Baiklah aku bisa menerima hal itu Pak jangan khawatir,” ucap Yolanda melintas dari depan Arsen dan duduk di samping suaminya. Lelaki itu dapat menangkap bau tubuh dari Yolanda bukan bau keringat tetapi bau parfum mahal yang pernah ia cium .
’Dimana aku pernah mencium bau wangi ini, rasa sangat familiar’ ucap Arsen. Ia mencoba menyatukan partikel-pertikel dalam otaknya. Namun belum berhasil mendapatkan jawaban.
“Apa Bapak tidak apa-apa?” tanya Yolanda mengarahkan telapak tangan ke wajah Arsen.
“Oh, apa?” tanya Arsen kaget. Tetapi matanya kembali dibuat terpana dengan body seksi Yolanda mengingatkannya pada malam pertama mereka.
‘Apa lukanya sudah pulih?’ Arsen tidak berani bertanya.
“Kalau tidak ada yang ingin bapak bicarakan bapak boleh keluar saya ingin mandi, badanku lengket,” ujar Yolanda, sejak malam pertama itu mereka jarang bertemu lagi. Karena Yolanda baru pulang tugas dari luar daerah juga.
Ia berjalan dari depan Arsen meraih ponselnya dan menjawap pangilan masuk.
“Ok, atur saja. Siap.” Arsen masih menatapnya. Dari gaya ia menerima telepon dan gaya bicaranya pada teman-temanya ia yakin wanita yang ia nikahi punya banyak rahasia.
“Siapa kamu sebenarnya? Kenapa sangat sulit mengetahui siapa dirimu Yolanda, semakin kamu menjauhiku semakin aku penasaran,” ucap Arsen,
__ADS_1
“Aku wanita yang kamu nikahi beberapa bulan lalu. Memang siapa lagi?”
“Oh, Bu Marina mengatakan padaku, kamu ke Kanada untuk menikahi kekasihmu aku berharap berjalan dengan baik,” ucap Yolanda.
“Aku sudah membatalkannya. Tapi … Yolanda, Maaf,” ucap Arsen.
“Untuk apa?”
“Untuk malam itu.”
“Tidak apa-apa, mudah-mudahan benih itu tumbuh subur di rahim ini, agar keluarga ini ada penerus kalian. “Tapi apa aku sudah boleh mandi?” tanya Yolanda ia melirik pintu meminta suaminya keluar .
“Baiklah, Aku keluar kamu mandi saja.”
“Yolanda masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam, setelah beberapa menit di dalam kamar mandi ia berpikir kalau suaminya sudah keluar. Ia keluar dengan melilitkan handuk di dadanya dan membukus kepalanya dengan handuk kecil. Tetapi saat ia keluar, ia terkejut ternyata Arsen masih duduk di sofa netra pria itu mengawasi tubuh Yolanda dari atas sampai ke bawah.
‘Jangan mengharapkan lagi,apa yang kamu lakukan saat itu, sudah cukup untuk misi mencetak anak’ Yolanda membatin.
“Bapak bukanya keluar?”
“Mau bicara apa?”
“Aku ingin mengajakmu makan malam,” ucap Arsen. Ia merasa bersalah karena malam itu memperlakukan Yolanda dengan buruk, jadi ingin meminta maaf dan mengajaknya makan malam.
“Oh, sayang sekali aku sudah punya janji, ingin menghadiri tujuh bulanan seorang teman, ini mau jalan ke sana,” ucap Yolanda.
Ia masuk ke kamar mandi, ia mengenakan dress mini di atas lutut, ia sangat cantik. Arsen hanya diam menatap penampilan istrinya . Sepertinya lelaki itu sudah menyadari kalau Yolanda bukan asisten rumah tangga biasa seperti yang ia pikirkan selama ini.
“Aku mau pergi, Bapak tidak akan menungguku di sini’ kan?”
“Baiklah” Arsen keluar.
Meninggalkan kamar Yolanda, wanita itu duduk lagi, ia menyiapkan perlengkapan ternyata ia bukan menghadiri acara tujuh bulanan, ia ingin melakukan misi di sebuah acara yang diselengarakan seorang pejabat tetapi di saat itu jugalah diadakan sebuah transaksi besar bahkan pesta itu hanya bisa di hadiri orang yang memiliki buku undangan. Tujuan keduanya sebenarnya sama. Arsen juga ingin mengajak Yolanda ke acara tersebut. Karena Yolanda menolak Arsen datang dengan skretarisnya.
__ADS_1
Namun di tengah pesta saat ia mengobrol dengan beberapa para pejabat matanya melotot melihat seseorang yang mirip dengan istrinya, untung Krisna memperingatkan Yolanda , ia buru-buru menghindar dari pandangan Arsen.
Arsen mengikuti dan mencari sosok yang ia yakini Yolanda, tetapi tidak menemukanya , Wanita yang bertugas sebagai pasukan khususus itu sedang melakukan misi . Tidak lama kemudian ia berganti pakain, mengganti mini dreas itu dengan celana dan kaos dipadukan dengan jaket anti peluru, sebuah penutup wajah ia menenteng senjata jenis mic cover naik ke atas gedung mencari posisi untuk membidik target,
Yolanda mendapat tugas untuk menghabisi seorang laki-laki yang memiliki sebuah flashdisk saat acara sedang berlansung.
Diuus!
Senapan laras panjang itu sudah dipasang peredam suara, jadi tidak mengeluarkan suara letusan, tapi menimbulkan bidikan yang mematikan sasarannya tepat di jantung.
Lelaki berjas putih itu tumbang tepat di samping Arsen.
Mata Arsen sempat menoleh ke jendela melihat sosok sniper di sana.
Tepat dari gedung sebelah Yolanda membidik targetnya tepat di jantung dan iapun tewas seketika. Tidak lama kemudian Krisna bergegas menghampiri target. Saat itu ia bertugas sebagai supir untuk Arsen, menghampiri lelaki yang tertembak dan berpura-pura memberi pertolongan padahal ia merogoh kantung jas dan mengambil flashdiks yang jadi incaran mereka. Bahkan tidak ada yang tahu kalau ia tertembak senjata yang digunakan Yolanda sebuah senjata khusus di mana peluruh yang ditembakkan bisa menutup luka secara otomatis dan tidak mengeluarkan noda darah. Orang mengira kalau lelaki itu jatuh karena terkena serangan jantung. Jadi, saat ia tertembak tidak ada kepanikan, supir lelaki itu membawa ke rumah sakit berpikir majikannya hanya pingsan ia tidak tahu kalau ia sudah tewas. Tapi Arsen sepertinya tahu kalau ia ditembak tapi tidak ingin ikut campur.
‘Dia menggunakan senjata cangih. Siapa dia?’ Arsen berjalan ke jendela dan melihat ke gedung di depannya. Yolanda buru-buru menghindar sebelum Arsen melihat.
Yolanda, keluar dari gedung mengenakan topi dan kacamata hitam serta masker, ia menenteng tas yang isinya senjata. Tidak diduga mereka bertemu di parkiran, ia bersikap tenang dan melintas di depan Arsen. Namun bau parfum milik Yolanda lagi-lagi menarik perhatian Arsen.
‘Bukankah itu bau parfum Yolanda? Apakah itu Yolanda?’
Saat wanita itu berjalan , tiba-tiba Arsen menghentikannya.
“Tunggu!” Yolanda diam dan mematung, ia sudah sempat takut ketahuan.
Untungnya Krisna cepat menyadari kalau rekannya dalam masalah. Ia berlari menghampiri Arsen dan sekretarisnya.
“Pak, kita harus cepat pergi dari sini. Nyonya meminta untuk pulang cepat,” ujar Krisna, membuat alasan. Kesempatan itu dimanfaatkan Yolanda pergi d an mengendrai motor. Lalu ia meninggalkan gedung mengendarai motor dukati berwarna hitam.
Saat dilampu merah, rupanya mereka bertemu lagi, Yolanda menyadari mobil yang berhenti di sebelahnya mobil Arsen, jadi ia tidak membuka helem. Namum rambut panjang itu lagi-lagi mengudang perhatian Arsen. Ia membuka kaca mobil dan menatap Yolanda dan motornya. Sebelum Arsen menyadari kalau itu adalah dirinya, wanita itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan mobil Arsen jauh di belakang. Tiba di rumah Arsen buru-buru turun untuk menemui Yolanda.
Apakah Arsen akan mengetahui identitas Yolanda sebagai seorang agent rahasia?
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa bantu like komen dan berikan hadiah ya