Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Pertemuan Anak dan Bapak


__ADS_3

Hari pertemuan keluarga Yolanda sedang berlangsung di rumah Arsen. Sementara Yolanda menjemput putranya. Dari sejak Yolanda berangkat Arsen tidak tega, ia selalu berpikir kalau Yolanda tidak pulang. Arsen menelepon sang istri untuk ke sekian kalinya.


“Kamu lagi apa?” tanya Arsen.


Yolanda menghembuskan napas kasar dari bibirnya sembari mengusap dada untuk tetap sabar dan tenang. “Kami akan datang persiapan saja semuanya. Apa kamu meminum obatmu?” tanya Yolanda mulai menunjukkan perhatianya pada sang suami.


“Sudah, bagaimana keadaanya?”


“Dia baik, tapi Pak Sopian menolak pulang.”


“Kenapa tidak memperbolehkanku ikut, padahal aku ingin melihatnya dan berterimakasih sudah menjaga putraku.”


“Aku tidak ingin kamu capek. Dokter mengatakan kalau kamu tidak bisa lelah. Besok pagi kami akan pulang .”


“Jam berapa?”


“Pak Arsen, kamu sudah bertanya lima kali untuk pertanyaan yang sama, tenanglah aku tidak akan meninggalkanmu lagi,” janji Yolanda menyakinkan Arsen.


“Baiklah, malam ini aku tidak akan bisa tidur, aku tidak sabar lagi,” ujar Arsen.


Yolanda  tidak mengajak mereka ke tempat  tinggal Sopian dan putranya, mereka tidak ingin ada orang lain mengetahui tempat tinggal mereka. Itulah alasan Yolanda tidak mengajak siapapun dari keluarganya sebaliknya ia malah mengajak putri Sopian berharap Sopian mau pulang. Tetapi lelaki itu menolak.  Yolanda dan putranya akan terbang dari bandara Stockholm Swedia ke Jakarta


          *


Jakarta.


Di rumah Arsen sedang berlangsung pertemuan dua keluarga.  Wajah Arsen semakin menegang, ia berpikir kalau Yolanda tidak kan pulang, ia bolak balik mengecek ponsel.


“Kris! Apa ada kabar dari Pak Burhan?” tanya Arsen untuk ke sekian kalinya, padahal baru lima menit yang lalu ia menanyakan hal yang sama.


“Mereka masih terbang Pak.”


“Kabarin pihak bandara untuk menyiapkan landasan untuk Burhan.”


“Sudah saya lakukan dari tadi Pak,” sahut Kris.


Melihat kecemasan di wajah Krisna dan Arsen Hugo mendatangi mereka.”Ada apa?”


“Aku merasa  kedatanga mereka terlalu lama.”

__ADS_1


“Bersabarlah, Roky mengabariku mereka sudah berangkat.”


Bu Tiani dan Bu Marina terlihat sedang mengobrol serius. Wajah Bu Marina terlihat tegang sesekali menunduk tidak berani menatap wajah Bu Tiani. Untuk pertama kalinya wanita itu menundukkan kepala saat berhadapan lawan bicara. Biasanya Bu Marina  selalu bersikap tegas pada siapapun. Ia selalu mengangkat kepala dengan percaya diri. Sikap sang nenek yang terlihat takut mengundang perhatian Erik .


“Gue penasaran apa kira-kira yang dilakukan Nenek di masa lalu pada keluarga Yolanda. Melihatnya  ketakutan seperti membuatku penasaran,” ujar Erik.


“Tidak perlu penasaran. Memang lo tidak tau kalau nenek itu di panggil killer di jamannya.”


“Maksudnya membunuh orang?” Erik menatap Arsen dengan tatapan memburu.


“Sudah lupakan.”


Arsen tidak ingin membahas  Neneknya, sebab otaknya sudah dipenuhi  pikiran tentang istrinya.


Mendengar kata killer otak Erik berputar membayangkan  neneknya membantai s emua orang lalu ia tertawa terbahak-bahak. Imanijasi Erik yang terlalu  tinggi membuatnya bergelidik sendiri.


“Lo  benaran nenek kita tukang jagal orang?” Ia bertanya lagi.


“Bukan membunuh secara langsung tapi membunuh  krakter orang dan membunuh kebahagian orang-orang di sekitarnya,” tutur Arsen.


“Kamu benar. Nenek juga tidak  memperbolehkan anak-anaknya menjauh darinya. Itulah sebabnya Mami selalu tinggal bersama Nenek dari semenjak menikah. Hanya lo yang berani membantah Nenek.” Erik memuji sepupu


Erik menepuk pundak Arsen yang terlihat seperti orang kekasih yang menunggu pasangan kencan. “Ada apa?”


“Gue merasa hari ini lebih panjang dari biasanya,” ujar Asen.


“Kamu gugup? “ Arsen hanya mengangguk


                   *


Setelah berjam-jam menunggu.


Saat sedang mengobrol terdengar suara helikopter. Mereka semua berlari ke halaman depan berdiri menunggu dengan wajah tegang. Tidak lama kemudian  Yolanda turun mengendong anak kecil . Mata semua orang menatap dengan tegang sekaligus penasaran, setelah helikopter itu pergi barulah Yolanda berjalan ke arah mereka.  Arsen berjalan  ke arah mereka dengan gugup. Yolanda menurunkan Nathan dari gendonganya lalu ia berbisik pada Nathan dengan bahasa Ingris.


“Apa kamu rindu, Papi?”


Nathan hanya menjawab dengan anggukan kepala.


“Pergilah itu Papimu di depan. Kamu harus memeluknya dengan erat agar dia tidak pergi lagi.”

__ADS_1


Selama ini  mereka semua mengajarkan pada Nathan kalau papinya pergi bekerja. Sopian dan Roky bahkan  mengedit sebuah video seolah-olah itu Arsen. Ia mengatakan pada putranya kalau ia  jadi anak penurut mereka akan  bertemu. Sopian   merasa bersalah karena Arsen kehilanga putranya, ia gagal menjaga anak tersebut. Itulah sebabnya ia menjaga Nathan dengan baik, berharap Arsen dan Yolanda berserta putranya bisa  bersama.Benar saja Nathan berlari dan berteriak.


“Papi!” Ia berlari dan  memeluk Arsen dengan erat.


Mata Arsen melotot dengan panik, ia menangis haru  memeluk putranya, semua orang ikut terharu melihat pertemuan ayah dan anak tersebut. Bukan hanya Arsen yang menangis semua keluarga yang ada di sana ikut terharu. Mereka tidak menduga kalau Nathan yang tak pernah melihat sosok ayahnya dari sejak lahir akan mengenali Arsen.


“Kenapa dia bisa mengenal Bang Arsen?” tanya Mitha mengusap air matanya.


“Sopian, Roky dan aku selalu menunjukkan foto Arsen. Roky mengedit  video seolah-olah Arsen membuat pesan untuknya,” tutur Hugo.


“Apa kamu mengenal pria ini?” tanya Erik mengoda keponakan.


“Iya dia Papiku,” ucapnya dengan yakin.


“Wow!” Erik kaget dengan mulut menganga. “Kok dia bisa kenal. Apa kalian sudah bertemu?” tanya Erik.


Arsen memeluknya  dengan erat lagi dan menciumi pipinya berkali-kali, ia akhirnya tidak bisa membendung airnya menangis   meluapkan rasa bahagianya. Nathan menatap wajah Arsen dengan bigung karena Arsen terus  memeluknya.


Mitha dan Vania tidak mau ketinggalan . ” Apa kamu mengenalku?” tanya Vania .


Awalnya ia ragu dan menatap Maminya, Yolanda mengangguk memberi ijin.


“Mami,” panggil dengan lembut.


“Iya dia aunty adik Mami,” ujar Yolanda.


“Aunty Vania dan aunty Mitha,” sahutnya lagi.


Mendengar itu Vania dan Mitha melompat histeris, mereka tidak menyangkan kalau keponakannyaa akan mengenal mereka berdua juga.


“Papi kenapa menangis?” tanya Nathan menatap wajah Arsen. Ia menyentuh wajah Papinya dengan tangan mungilnya. Tidak bisa terbantahkan kalau mereka berdua bapak dan anak . Bola mata keduanya sama.


Wajah tampan Nathan membuat semua orang  terpesona, kulitnya putih bersih, bibirnya merah dan hidungnya mancung perpaduan kecantikan Yolanda dan wajah tampan Arsen.


“Aku sangat bahagia  melihatmu di sini jagoan,” ucap Arsen menatap wajah putranya, bisa menyentuh wajah Nathan seperti itu mengingatkannya pada kembarannya yang meninggal. Mungkin jika anak itu hidup wajah mereka akan sama. Memikirkan hal itu Bu Marina kembali menangis bayangan bocah malang itu melintas  di wajah Bu Marina. Tapi Arsen belum sempat melihatnya.


'Selamat datang di Indonesia Nathan'


Bersambung

__ADS_1


Bantu like, komen dan berikan hadiah ya terimakasih


__ADS_2