
Yolanda memilih tidur untuk menghilangkan rasa sakit dibagian tubuhnya belum lagi luka di tangannya belum sembuh sudah ditambah luka baru smaa Arsen. Sementara di kamar lain Arsen merasa bersalah setelah tahu kalau itu yang pertama untuk Yolanda.
“Harusnya aku tidak melakukannya dengan cara seperti itu,” ucapnya kesal pada diri sendiri.
Setelah mandi, ia ingin menemui Yolanda untuk meminta maaf, tapi ia tidak punya keberanian setelah apa yang sudah ia lakukan . Ia menelepon Erik, menjadikan adik sepupuh tempat curhat.
“Kenapa Bro?”
“Lu pernah tidur sama wanita yang masih perawan?
”Ha? Lu mau pamer habis tidur dengan gadis yang masih perawan , Norak lu.” Erik sampai bagun dari ranjang mendengar pertanyaan konyol Arsen.
“Gak gue serius.”
Mendengar Arsen tidak sedang bercanda Erik duduk di sofa. “Iya Pernah, memang lu gak pernah?” Erik balik bertanya ia merasa lucu mendengar pertanyaan kekanak-kanakan .
“Tidak, gue tipe lelaki yang setia tidak suka ganti-ganti pasangan. Tapi apa mereka memang mengeluarkan darah sebanyak itu?”
“Tunggu, Apa ini untuk istrimu?”
“Iya.” sahut Arsen.
“Dia masih perawan? Oh wanita yang hebat,” puji Erik kaget. Baru beberapa hari kemarin mereka membahas tentang Yolanda dan Arsen menduga-duga kalau Yolanda seperti wanita penyewa rahim, mendengarnya masih perawan kedua sepupuh itu semakin bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya Yolanda.
“Bagaimana?”
“Tapi menurutku tergantung sebesar apa pisang kamu dan bagaimana kamu mempelakukannya. Jika kamu melakukan pemaksaan tanpa pemanasan terlebih dulu, sudah pasti mengeluarkan banyak darah dan dia pasti kesakitan.” Erik malah mengoda Arsen menyebut lelaki tampan sok polos.
“Menyesal gue cerita sama lu,” ucap Arsen sewot.
“Coba samperin Yolanda ke kamarnya dan ajak dia untuk mengobrol, mungkin dia sedang menangis karena kesakitan,” ucap Erik menakut-nakuti Arsen.
*
Setelah melakukan malam pengantin dengan Yolanda, Arsen berubah, tidak lagi membenci Yolanda seperti pertama bertemu. Saat serapan pagi Arsen hanya diam, melihat tidak ada Yolanda di meja makan ia semakin khawatir ia menghampiri Bu Mina ke dapur.
“Bi, tolong buatkan serapan untuk Yolanda.”
“Aa?” Bu Mina dan Darsi langsung melongo.
Selama ini mereka melihat bagaimana Arsen memperlakukan Yolanda dengan kasar dan selalu menghinanya, lalu kenapa dia perduli?
“Kenapa?” tanya Arsen.
“Tidak, Tuan Muda biasanya-”
Bu Mina menyenggol lengan Darsi. “ Baik akan saya buatkan Tuan.”
“Tolong bawakan ke kamarnya,” ujar Arsen.
__ADS_1
Bu Mina membawa ke lantai tiga ke kamar Yolanda, Bu Mina mengetuk kamar Yolanda tidak ada sahutan, ia menggunakan kunci cadangan untuk masuk. Saat ia masuk Yolanda sedang meringkuk di atas ranjang badannya sangat panas.
“Astaga Jo, badanmu panas bangat.”
“Bi aku meriang.”
“Aku akan ambilkan obat.” Wanita itu ingin berdiri tapi Yolanda menahan tangannya.
“Jangan katakan pada siapapun aku sakit Bi, ambilkan saja obat di laci itu.”
Bu Mina menurut, ia membuka laci mengeluarkan kotak obat yang dimaksud Yolanda, memberi minum obat.
“Ini obat apa Jo, banyak amat?”
“Lenganku terluka Bi dan belum sembuh, aku lupa minum obat kemarin.”
Luka karena bujur panah itu belum pulih sepenuhnya dan Yolanda lupa minum obat, membuatt tubuhnya meriang.
“Kamu harus ke dokter,” usul Bu Mina mengarahkan punggung tangannya ke kening Yolanda. “ Oo … badanmu sangat panas Jo.”
“Jangan Bi, tidak boleh, tolong jangan katakan apapun pada Pak Arsen.”
“Baik.”
Saat Bu Mina turun, Asen bertanya tentang kondisi Yolanda.
“Dia baik-baik saja Tuan, jangan khawatir,” ucap Bu Mina tetapi wajahnya menujukkan tidak baik.
“A-itu, sebenarnya dia memintaku jangan mengatakan pada siapapun, badanya panas katanya dia terluka.”
Mendengar kata terluka Arsen jadi panik, ia berpikir Yolanda terluka karena perbuatannya. Ia buru-buru datang ke kamar Yolanda.
Tok! Tok!
“Masuk aja Bi,” sahut Yolanda dan ia masih berbaring.
Saat Arsen masuk Yolanda kaget, ia buru-buru duduk.
“Pak Arsen?”
“Apa kamu sakit?” tanya Arsen berdiri di depan Yolanda.
‘Astaga Bi. Ini memalukan dia pasti berpikir karena hal itu’
“Iya hanya meriang saja.”
“Apa karena aku?” tanya Arsen wajahnya tampan itu berubah jadi suram.
“Bukan karena Pak Arsen, karena sebelumnya aku memang lagi tidak enak badan. Tidak apa-apa lupakan saja. Bapak bisa berangkat kerja, aku minum obat pasti langsung sembuh,” ujar Yolanda ia merasa sangat malu. Karena Arsen berpikir ia sakit karena ulahnya.
__ADS_1
“Aku mabuk karena nenek selalu menekanku untuk melakukannya secepatnya denganmu. Ditambah kamu selalu menolakku, tapi giliran sama pria lain kamu mau berpelukan. Itu yang membuatku merasa tidak adil aku mabuk,” jelas Arsen.
“Pria lain?”
‘Apa dia mematai-mataiku?’ tanya Yolanda .
“Iya, bukankah dokter muda itu sangat tampan.” Arsen mengeluarkan sebuah alat pengintai dari balik jasnya dan menunjukkan pada Yolanda.
‘Kenapa dia bisa mematai-mataiku, tunggu alat yang dipegang Pak Arsen bukankah itu dari perusahaan tehnologi ….?’
Yolanda tertegun menatap Arsen, bukan karena ketampananya, melainkan alat tehnologi yang baru saja diperlihatkan Arsen padanya. Enam tahun yang lalu Yolanda hampir saja mati terbunuh dalam misi untuk menyelidiki pemilik perusahaan senjata bertehlogi tinggi itu. Melihat merek alat yang dipegang Arsen, Yolanda terdiam.
“Kenapa hanya diam? Apa tebakanku benar?”
‘Apa hubungan Pak Arsen dengan perusahaan itu?’
“Yolanda! Apa kamu mendengarku?” Arsen menjentikkan jemarinya di depan wajah Yolanda, lalu duduk di sisi ranjang menempelkan punggung tangannya di kening Yolanda. Terlalu sibuk dengan pikirannya Yolanda tidak menyadari kalau Arsen memegang keningnya, kalau biasanya ia akan berreaksi menghindar atau menampis tangan orang yang mencoba menyentuhnya, kali ini ia hanya diam otaknya memikirkan banyak hal.
“Pak Arsen, boleh aku bertanya?”
“Bertanya tentang apa?” Untuk pertama kalianya keduanya duduk sedekat itu dan bicara santai
“Apa Bapak pernah ke Afrika?”
Arsen kaget, karena Yolanda tahu ia pernah ke Afrika, padahal selama ini tidak ada satu orangpun yang tahu kalau ia pernah ke sana. Hanya Leu Chan yang mengetahuinya.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Tidak hanya bertanya saja.”
“Pernah.”
Arsen tidak ingin membahas lebih dalam, ia mengalihkan pembicaraan dan mengajak Yolanda ke dokter.
“Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?”
Ternyata bukan hanya Yolanda yang punya rahasia di sini, Arsen ternyata menyembunyikan sesuatu yang besar dari Marina dari pengawalnya juga. Yolanda mencoba memikirkan hubungan Arsen dengan pemilik perusahaan senjata bertenologi cangih yang bermarkas di Afrika tersebut.
“Tidak usah, hanya flu biasa.”
“Tapi kamu terluka,” ucap Arsen.
‘Dari mana dia tahu aku terluka? Sejauh mana dia menyelidiku. Apa dia sudah tahu indentitasku?’ Yolanda jadi gelisah.
“Dari mana Bapak tahu aku terluka?”
“Kamu terluka karena aku melakukannya dengan paksa.”
Bersambung
__ADS_1
Tolong berikan like, komen dan berikan hadiah terimakasih