
Arsen baru pulang dari Jerman setelah lebih dari tiga bulan ia di sana, saat tiba ia tidak melihat Yolanda lagi. Tapi tidak berani bertanya pada para pelayan karena mereka akan bergosip seperti lebah jika Arsen bertanya tentang istrinya. Ia datang ke kamar Yolanda tapi tidak ada di sana, bahkan kamar itu masih sama seperti saat ia tinggalkan dua bulan yang lalu. Ia sudah menduga-duga kalau sang istri tidak pulang selama ia tidak ada. Ia berjalan ke balkon tanaman dalam pot kering.
‘Apa kamu tidak pernah pulang ke rumah ini?’ Arsen menuangkan air ke dalam pot bunga milik Yolanda bahkan bunga-bunga hias itu sudah kering terlalu lama tidak disiram.
“Sebenarnya apa yang dia kerjakan? Kenapa dia selalu pergi dari rumah?” tanya Arsen
Tidak ingin mati penasaran , ia menemui Marina neneknya.
“Nek, sebenarnya kemana Yolandai? Maksudku siapa sebenarnya Yolanda?”
“Kenapa kamu harus tertarik dengan kehidupan wanita itu?” tanya Marina.
“Aku hanya ingin tahu karena dia istriku. Apa selama aku tidak ada, dia juga tidak di rumah?”
“Oh, Nenek lupa memberitahu kamu, sebenarnya dia sudah hamil,” ucap Marina santai.
“Apa? Kenapa aku tidak diberitahu?”
“Kamu kan di Jerman. Lagian, bukannya kamu bilang … kamu tidak perduli?”
“Aku kan suaminya Nek. Aku berhak tau,” protes Arsen.
“Kamu sudah melakukan tugas dengan baik. Kamu bebas.”
“Maksudnya?” Arsen terlihat bigung.
Saat mengetahui dirinya hamil, Yolanda sudah memberitahukan Marina, hanya saja saat itu ia belum bisa pulang ke rumah karena ada pekerjaan yang mereka selesaikan, Sopian sangat marah saat tahu kalau Prada salah satu pasukan terbaiknya telah berhianat. Bahkan hampir menghancurkan nama baik organisasi mereka dan hampir membunuh rekannya sendiri. Jadi saat itu Yolanda masih berada di Yordania menemani Sopian dalam melakukan hubungan kerja sama dalam latihan antara pasukan.
Malam itu Arsen kembali terlibat adu pendapat dengan sang nenek.
“Kamu boleh pacaran sama siapa saja yang kamu mau. Yolanda menikah dengan kamu hanya ingin melahirkan anak, setelah dia melahirkan dia juga akan pergi dan kalian berpisah,” jelas Marina.
“Apa? Kenapa seperti itu?” tanya Arsen dengan wajah menegang, lagi-lagi neneknya membuat keputusan tanpa melibatkan dirinya.
“Bukannya kamu senang? Kamu kan selama ini tidak pernah suka dengan Yolanda.”
“Tapi harusnya Nenek jelaskan semuanya sebelum kami menikah,”protes lelaki tampan itu dengan marah.
“Nenek sudah menjelaskan sama kamu Arsen,” ujar Marina.
“Nenek hanya mengatakan kami menikah untuk mendapatkana anak, tidak ada kata berpisah. Nenek menjadikan pernikahanku dan hidupku seperti mainan,” pungkas Arsen meninggalkan ruangan Marina.
“Ada apa dengannya apa dia jatuh cinta pada Yolanda?” tanya Marina mendengus.
Keluar dari ruangan neneknya ia menemui Bu Mina untuk meminta nomor Yolanda, tapi wanita paruh baya itu tidak memilikinya. Bu Menceritakan kalau Yolanda sudah hampir dua bulan tidak pernah pulang ke rumah.
*
Satu Bulan kemudian
Saat sedang berdiri di dekat kolam ikan. Yolanda akhinya pulang juga, kali ini wanita yang berprofesi sebagai pasukan ksusus itu menenteng tas rangsel besar layaknya seorang tentara yang baru pulang bertugas. Ia melihat Arsen bediri di taman. Namun ia tidak menyapa, ia bergegas menuju kamar pribadinya dan mengunci pintu, lalu menyembunyikan semua barang bawaanya ke dalam lemari, ternyata ia sedang terluka Prada ingin menghabisi Sopian saat mereka perjalanan pulang tadi, sebagai bawahan ia terpaksa adu duel dengan matan rekannya. Prada hanya mengincar Sopian tapi Yolanda menahan pisau dan melukai pinggang hampir saja pisau bermata runcing itu menusuk perut Yolanda.
__ADS_1
Yolanda masuk ke kamar mandi membersihkan luka dipinggang. Belum sempat mengobati lukanya suara ketukan pintu terdengar, ia hanya menutup lukanya dengan kain.
“Apa yang dia inginkan lagi?” tanya Yolanda, bergegas membuka pintu.
Arsen sudah berdiri di depan pintu, menatap wajah Yolanda dengan tatapan penyelidikan.
“Apa ada yang penting, Pak?”
“Boleh aku masuk?”
“Oh, tentu.”
Duduk di sofa mata lelaki itu masih menatap perut Yolanda.
“Apa benar kamu hamil?” Yolanda terdiam sejenak, sebelum menjawab pertanyaan Arsen.
“Iya.”
“Lalu kamu dari mana saja selama ini? Sebenarnya apa yang kalian rahasiakan dariku?” tanya Arsen .
“Kalau bapak ingin bertanya tentang pernikahan, sebaiknya tanyakan saja sama Bu Marina, beliau yang mengatur semuanya.”
“Sebenarnya kamu siapa ? Kenapa kamu mau menikah dan melahirkan anak untuk keluarga kami. Kamu sangat misterius.”
“Aku pikir Bu Marina sudah menceritakan semua itu sama bapak sebelum kita menikah, jadi bukan tugas saya untuk menjelaskan itu.”
“Maksudnya kamu menikah lalu melahirkan anak dan kita berpisah. Apa benar seperti itu?” tanya Arsen masih belum percaya.
“Kami … maksudnya?”
“Ya, perjanjian dengan Bu Marina.”
“Apa kamu punya hati? Kamu melahirkan anak, lalu akan meninggalkannya?”
Nyonya Marina tidak menjelaskan pada Arsen kalau pernikahan mereka hanya kontrak. Setelah Yolanda melahirkan anak mereka akan berpisah. Selama ini Arsen berpikir kalau Yolanda akan menjadi istrinya selamanya.
Yolanda diam, sudah lama wanita itu membuang hatinya dan perasaan, ia berjuang hidup dengan keras hingga melupakan cinta.
“Jangan bertanya tentang hati padaku Pak Arsen. Aku memang tidak punya hati.”
“Bagaimana kamu setega itu?”
“ Aku tidak membutuhkan itu. Tugasku hanya melahirkan anak untuk keluarga ini hanya itu,” tutur Yolanda.
“Apa kamu tega menjual darah dagingmu demi uang?” tanya Arsen dengan wajah mengras.
“Aku tidak menjual, aku memberikannya pada ayah dan keluarganya dan kamu bisa mencari ibu yang layak untuknya,” ujar Yolanda dengan wajah datar.
“Aku belum mengerti kenapa kamu melakukan ini. Apa karena uang?”
“Kamu tidak perlu mengerti dan tidak perlu tahu tentang hidupku. Kamu hanya perlu mengetahui tentang bayi yang aku kandung. Aku sangat lelah, ingin istirahat. Kalau ada yang ingin Bapak tanyakan , lakukan itu pada Bu Marina bukan untukku,” ujar Yolanda. Ia mengusir suaminya dari kamar.
__ADS_1
“Apa kamu layak disebut seorang Ibu?”
“Aku bukan Ibunya dia milikmu dan istrimu nantinya. Tugasku hanya hamil dan melahirkan, anggap saja aku mesin.”
“Aku belum bisa mengerti Yolanda … tadinya aku pikir kamu wanita malam, tapi malam pemgantin itu menepis semua tuduhanku. Kamu bahkan belum disentuh pria. Lalu kenapa kamu menjual anakmu jika kamu bisa jadi ibunya.”
“Itu bukan kesepakatan kami.”
“Berhenti mengatakan kesepakatan Yolanda, aku hanya tahu kamu istriku dan sedang mengandung anakku. Persetan dengan kesepakatan yang kamu lakukan.”
“Kenapa sekarang kamu jadi protes? Dulu kamu tidak keberatan,” ujar Yolanda.
“Nenek tidak pernah mengatakan kalau kita akan berpisah setelah kamu melahirkan,” ujar Arsen.
“Kita bersama atau berpisah tidak akan ada yang berubah Pak Arsen. Kamu tidak ada perasaan padaku, jadi untuk apa kamu keberatan kita berpisah justru dengan kita berpisah kamu bisa bersama Joy dan memulai rumah tangga yang baru bersama anakmu nanti.
“Apa kamu mengenal Joy?” tanya Arsen .
‘Mati aku’ kenapa aku menyebut namanya tadi’
“Bu Marina yang mengatakannya padaku,” ucap Yolanda.
“Lalu apa kamu tega menyerahka darah dagingmu begitu saja pada orang lain?”
“Iya.” Yolanda merasa sangat lelah, ia duduk memijit keningnya, kalau wanita hamil pada umumnya sudah duduk santai saat sedang hamil. Tapi tidak bagi Yolanda, ia bahkan masih melakukan tugasnya sebagai mata-mata saat sedang hamil bahkan perut hamilnya nyaris ditusuk oleh musuh.
“Jangan lakukan itu. Aku tidak akan bertanya lagi apa pekerjaanmu dan siapa kamu. Aku hanya tau kamu istriku. Aku akan membayar tiga kali lipat yang diberikan Nenek padamu, tetaplah tinggal di sini dan jaga anak kita.”
“Aku tidak bisa pak Arsen.”
“Kenapa tidak bisa? Apa bayarannya kurang? Akan aku tambahkan sebutkan saja nominalnya.”
“Ini bukan tentang uang semata Pak Arsen!” teriak Yolanda marah.
“Lalua apa? Aku bisa melakukannya?”
“Bisa kamu menghidupkan ayahku kembali? Bisakah kamu membunuh semua orang yang membunuh ayahku? Bisakah kamu menghukum mereka yang menghancurkan keluargaku!” teriak Yolanda keceplosan ia gampang emosi sejak ia mulai hamil.
“Apa?” Arsen terdiam.
Akhirnya Arsen mengerti alasan Yolanda melakukan semua itu, tujuannya untuk membalas kematian ayahnya. Mereka berdua punya kesamaan Arsen sampai saat itu masih memendam rasa ia juga mencari pembunuh orang tuanya .
“Apa kamu juga ingin menangkap pembunuh ayahmu?” tanya Arsen.
“Lupakan saja. Kamu membuat tenagaku terkuras,” ucap Yolanda mengusap perutnya, ia merasa krap perut setelah marah-marah.
“Aku akan membantumu, jika itu yang kamu inginkan,” ujar Arsen.
“Lupakan saja Pak Arsen, kamu tidak akan bisa melakukannya. Kamu sendiri dalam bahaya.
“Dari mana kamu tahu kalau aku dalam bahaya? Siapa kamu sebenarnya? Aku yakin seratus persen kamu bukan asisten rumah tangga.”
__ADS_1
Bersambung