Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Berhasil Keluar


__ADS_3

Sementara Yolanda masih jadi tawanan suaminya disalah satu apartemennya. Bahkan tangannya masih terbelenggu oleh jeratan borgol.


“Baiklah, kita sudah satu hari satu malam bersama. Bisa lepaskan borgo ini?” bujuk Yoland.


“Tidak, kamu akan tetap seperti itu sayang, sampai kamu menerimaku jadi suamimu,” ancam Arsen dengan tatapan santai.


“Baiklah.”


“Baiklah apa maksudnya?” Arsen  masih belum bergeming tatapan matanya masih tertuju ke layar ponsel.


“Aku setuju menerimamu kembali,” ujar Yolanda.


Arsen tidak mau terperdaya, ia tahu Yolanda melakukan itu hanya keadaan terpaksa, walau wanita cantik itu merayu dan membujuknya ia enggan melepaskan borgol di tangannya.


“Kamu menjadikanku seperti tawanana bukan sebagai istri,” protes Yolanda.


Arsen hanya mengangkat bahunya dan berkata, “anggap saja istri tawanan.”


“Kalau aku tidak masuk kerja selama dua hari aku akan mendapat Sp.”


Arsen berlum terusik dengan ucapan Yolanda, ia masih duduk santai di depan televisi matanya sesekali membalas pesan di ponselnya, ia terlihat saling berkirim pesan dengan seseorang .


“Itu yang aku harapkan Yolanda. Aku ingin kamu dipecat, lalu tinggal bersamaku jadi Nyonya besar di rumah kami.”


“Aku tidak suka jadi nyonya rumah, aku lebih suka bertugas.”


“Kalau begitu mulai sekarang kamu harus suka,”


Yolanda menundukkan kepalanya dengan prustasi, “kamu jadi tukang paksa sekarang.”


                   *


Dua hari berlalu dengan cepat. Arsen  sangat bersemangat saat ada Yolanda bersama, ia benar-benar memberi pelajaran pada istrinya di ranjang. Yolanda benar-benar kewalahan dibuatnya. Arsen akan tertawa nakal saat Yolanda kelelahan melayaninya.


“Kamu sepertinya harus rajin olahraga Bu Paspampres,” ucap Arsen bangkit dari ranjang meliha Yolanda yang bermandikan keringat.


“Bodoh, kamu membuatku capek. Apa kamu tidak merasa bosan?” protes Yolanda saat Arsen melakukan seperti minum obat tiga kali dalam sehari.


“Tidak.” sahut Arsen  berdiri di bawah guyuran shower.


“Sekali sehari apa tidak cukup?”

__ADS_1


“Tidak,” sahut Arsen lagi, ia menarik tangan Yolanda meminta istrinya mandi bersama.


Yolanda selalu kalah berdebat dengan Arsen, ia  membiarkan tangan Arsen mengosok punggungnya. Awal pertama melakukan, ia tidak nyaman , namun setelah berhari-hari tinggal bersama dan selalu mandi bersama ia akhirnya biasa. Bahkan menggunakan pakaian Arsen selama di sana.


“Mari kita pulang ke kampungmu,” ajak Arsen seteleh mereka selesai mandi.


“Kamu tidak akan nyaman.”


“Kenapa?”


“Karena Mamaku mengalami ganguan jiwa,” ujar Yolanda.


Arsen terdiam, Yolanda pernah bercerita kalau Mamanya sakit karena Papa mereka meninggal di depan matanya, tetapi ia tidak tahu kalau istri dari pamannya mengalami depresi.


“Apa Vani tidak pernah cerita padamu?” tanya Yolanda.


“Hubungan kami tidak sedekat yang kamu pikirkan Yolanda, jangan menyangkutkan dengan hubungan kita.”


“Kondisi Mama tidak akan membuatmu nyaman di rumah kami.”


Arsen bisa melihat kesedihan di wajah Yolanda saat menceritakan kondisi Mamanya dan keluarganya.  Yolanda mulai terbuka dan mau menceritakan tentang hubungannya dengan papanya.


“Papaku lelaki yang sangat tampan,” ujar Yolanda.


Mendengar ada banyak foto Papanya di Album keluarga Arsen, wajah Yolanda sangat senang. Arsen membawa boks dan membuka di depan Yolanda. Yolanda terkejut karena Arsen menyimpan foto mereka saat ada di Jerman dulu, saat hamil dulu.


“Kamu mengambil fotoku saat itu?”


“Iya, aku tahu kamu  tidak suka  difoto maka aku mengambil diam-diam. Bahkan aku sengaja menyembunyikan ponsel untuk merekam momen saat kita bersama.”


“Kamu sangat cantik saat hamil,” ucap Arsen memperlihatkan  sebuah foto saat  ia mandi terlihat sangat jelas perutnya yang bucit. Yolanda mengambil foto dan mengusap perut bucitnya dalam foto.


“Ini foto Tulang,” tunjuk Arsen. Saat Arsen memanggil Papa Yolanda dengan sebutan tulang ia tersenyum, merasa lucu.


“Wajah mereka sangat mirip dengan kakek.”


“Apa kamu tahu lambang ini?” Arsen menunjukkan sebuah gambar.


“Sepertinya aku pernah melihat. Oh ini tato di leher orang yang meminta Papa dibakar hari itu.”


“Aku sudah menyelidikinya. Mereka sebuah organisasi yang ada di Medan.”

__ADS_1


Yolada diam, jauh sebelum Arsen menyelidikinya ternyata ia sudah terlebih menemukannya. Bahkan Yolanda sudah mendatangi rumah ke empat orang tersebut. Sayang mereka sudah tua, dua diantaranya bahkan sudah meninggal dunia. Saat Yolanda bertanya siapa yang meminta mereka menghabisi Papanya. Dari pengakuannya mereka dibayar seseorang yang memiliki kekuasan dipemerintahan. Itulah alasan Yolanda akhinya mau  jadi abdi negara.


“Kamu sudah menemukannya?” tanya Arsen is menatap wajah Yolanda dengan penasaran.


“Hmmm,” sahut Yolanda.


“Wah, lagi-lagi aku kalah cepat dari kamu ternyata kamu sudah menemui mereka,” ujar Arsen.


“Tadinya aku ingin membakar mereka sama seperti yang dilakukan pada Papa. Ternyata dia sudah sakit-sakittan bahkan tidak berdaya lagi, dua diantara mereka sudah meninggal dunia.”


Sekali lagi Arsen angkat jempol pada Yolanda, ia  bisa melakukan semuanya bahkan bisa melewati masa sulit itu sendirian. Arsen masih penasaran kenapa Yolanda tidak mau menemuinya selama bertahun-tahun. Kalau ia tidak bertemu dengan Vania saat itu mungkin selamanya Yolanda tidak akan menemuinya.


“Tapi sebenarnyaa apa alasanmu tidak mau bertemu denganku?” tanya Arsen lagi. Ia tidak percaya kalau hanya alasan  kontrak habis.


Yolanda terlihat berpikir keras memberi jawaban yang pas agar Arsen tidak mencercanya dengan pertanyaan itu lagi.


“Ingin melupakan masa lalu.”


“Hanya itu?” Arsen tidak puas dengan jawaban Yolanda, ia ingin marah tapi Lelaki tampan itu menahan diri.


Arsen tidak memborgol tangannya lagi, tetapi ia menggunakan sidik jarinya jadi pasword pintu, jadi Yolanda tidak bisa keluar tanpa  mengunakan sidik jari darinya. Yolanda bahkan tidak diperbolehkan memegang ponsel miliknya. Wanita berparas cantik itu sebenarnya gelisah karena sudah berhari-hari tidak masuk kerja. Tetapi ia bersikap tenang sembari berpikir keras bagaimana keluar dari sana, tanpa saling menyakiti secara fisik.


“Bagaimana kalau aku memasak malam untuk kita,” ucap Yolanda.


“Apa kamu yakin  bisa?”


“Tentu.”


“Ok.”


Arsen setuju, ia tidak tahu kalau wanita genius itu sudah merencanakana sesuatu yang bisa melepaskannya  dirinya dari Arsen. Saat memasak Yolanda memasukan sesuatu ke dalam makanan Arsen. Setelah selesai makan, Arsen merasa sangat ngantuk dan tertidur. Ternyata Yolanda meracik  bumbu dapur dan beberapa obat untuk membuat Arsen tertidur.


“Maaf, aku harus pergi.” Yolanda memapah tubuh Arsen ke pintu lalu mengarahkan ibu jarinya, setelah pintu terbuka Yolanda membantu suaminya ke atas tempat tidur, tidak lupa ia juga membersihkan dapur dan bekas makan dan meninggalkan pesan diatas kertas lalu ia keluar menggunakan mobil Arsen.


[Maaf, aku terpaksa membuatmu tidur, aku  harus keluar ada janji yang harus aku tempati. Aku pinjam mobilmu] tulis Yolanda, sebelum pergi ia memdekati ranjang


“Arsen, Bukannya aku tidak mau bersamamu. Alasanku menjauh darimu semua karena Nenekmu. Dia yang memintaku menjauhimu bahkan kematian Papaku ada hubungannya dengan Nenekmu,” ucap Yolanda.


Yolanda pasukan yang sudah terlatih, bahkan hanya mengabungkan beberapa jenis bumbu dapur   bisa menciptakan obat tidur. Ia berhasil melarikan diri dari suaminya.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa berikan like, komen dan berikan hadiah ya terimakasih


__ADS_2