
Yolanda senang saat atasannya mencabut sangsi itu darinya, ia bahkan diijinkan bertemu putri seorang korban yang tewas saat mereka ditembak *******. Bukan hanya bertemu putri dari korban meninggal, Yolanda juga bertemu dokter tampan yang ia selamatkan dari sekapan para penjahat itu.
“Apa aku bisa meminta nomormu?” tanya dokter muda itu menatap wajah Yolanda.
“Aku tidak bisa, itu menyalahi profesiku. Sebenarnya saat bertugas klien tidak bisa melihat wajah kami. Namun, karena saat itu kita hampir mati, itulah sebabnya aku melepaskan penutup wajah,” ujar Yolanda.
“Apa kamu tentara rahasia?” tanya dokter.
“Harusnya rahasia, tapi atasanku terlalu baik dia memperbolehkanku bertemu kamu dan anak itu,” ucap Yolanda.
Ia menceritakan profesinya sebagai pasukan rahasia, Yolanda tidak mengaku kalau mereka dari Organisasi swasta. Dokter muda itu akhinya paham, ia memberikan kartu namanya untuk Yolanda ia berjanji akan membalas kebaikan Yolanda yang sudah menyelamatkan hidupnya sampai dapat sangsi.
“Jika suatu saat kamu dalam kesulitan atau butuh bantuan, telepon saja aku, aku siap membantu. Oh ayah juga seorang tentara,” bisik lelaki itu lagi.
“Baik Dokter, aku akan meningatnya,” ujar Yolanda lalu memasukkan kartu namanya ke dalam saku celana.
*
Yolanda pulang ke rumah, setelah mandi dan berganti pakaian ia turun ke dapur merasa perutnya lapar, ternyata Arsen sudah menunggunya dari sejak siang.
“Jo, Tuan Muda menunggumu di ruang kerjanya, dia memintamu membawa ini,” ucap Minah saat tiba di dapur.
“Aku belum makan malam Bi, bawa saja,” tolak Yolanda.
“Apa kamu ingin dia marah? Kamu belum tahu kalau dia sudah marah. Rumah ini bisa gempa kalau itu terjadi. Tadi aku dengar dia bertengkar dengan Nyonya .”
Mendengar itu Yolanda membawa kopi pesanan Arsen ke ruang kerjanya. Ia mengetuk pintu dengan tenang.
“Masuk!”
“Saya membawa kopi untu Bapak.”
“Kunci pintunya.”
‘Untuk apa kuci pintu apa ada misi rahasia?’ Melihat kemarahan di wajah Arsen ia mengunci tanpa protes, lalu berjalan menuju meja kerja, ternyata diatas meja ada gambar dirinya bersama dokter yang ditemui tadi siang, di sana ada botol alkoho yang sudah kosong. Setelah bertengkar dengan Neneknya Arsen melampiaskan kemarahannya dengan minum. Ia marah pada sang nenek karena menginjinkan Yolanda keluar rumah dengan bebas tanpa melibatkan dirinya
“Ini Kopinya Pak.” Yolanda meletakkan kopi diatas meja, tapi, tiba-tiba Arsen menarik tangan dan duduk dipangkuannya, wanita cantik itu panik dan mencoba berdiri tapi ditahan sama Arsen.
“Apa yang ingin kamu lakukan?”
“Duduklah.” Ia membuka laci dan mengeluarkan lipstik berwarna merah dan mengoleskan ke bibir Yolanda.
“Untuk apa?” tanya Yolanda bigung.
“Aku juga ingin melihatmu tampil cantik, bukan hanya mereka.”
__ADS_1
‘Maksudnya apa?’ Yolanda tidak tahu kalau Arsen marah karena cemburu.
“Lalu apa?” Yolanda ingin bangun, tapi ditahan oleh Arsen.
“Aku juga Meminta hakku sebagai suami.”
“A-apa? Sekarang?” tanya Yolanda panik setengah mati.
“Iya, apa ada masalah?”
“A-aku-”
“Diamlah.” Arsen membungkam mulutnya dengan ciuman, lalu melepaskan kancing piyama tidur yang dipakai Yolanda, ia ingin menolak tapi Arsen menatapnya dengan tajam.
“Jangan menolakku lagi. Kamu istriku aku berhak, jika kamu mau protes berteriaklah agar satu rumah ini bangun dan datang ke kamar ini,” ujar Arsen membuat Yolanda tidak berani berkutik. Jika ia menolak melayani Arsen artinya ia mengabaikan tugasnya.
“Ta-tapi aku-”
Yolanda bisa saja melumpuhkan Arsen dengan kemampuan bela diri yang dimiliki. Tetapi sekali lagi Yolanda adalah istri di sini. Selagi kontrak masih berjalan apapun yang terjadi ia harus melakukannya.
“Diam dan nikmati saja apa yang aku berikan,” ucap Arsen megangkat Yolanda ke atas meja kerjanya, wajah wanita itu merah karena malu saat Arsen berhasil melepaskan pakaianhya hanya menyisahkan kain pengaman bagian dada. Bahkan Arsen menghiraukan luka di lengan Yolanda.
“Pa-pak Arsen. A-aku-”
“Tapi buka seperti ini. Maksudku bukan diatas meja ini,” tolak Yolan dengan wajah merah
“Tidak apa-apa, aku ingin gaya seperti ini saja. Aku ingin menikmati setiap lengkuhan tubuhmu.”
“Apa kamu mabuk?”
“Tidak.”
‘Sial, apa begini orang melakukan malam pertama. Ta-tapi buku yang aku baca mengatakan lampu dimatikan dan dilakukan diatas ranjang. Ini … kenapa diata meja?’ Yolanda panik setengah mati saat Arsen menyapu semua barang-barang di atas meja lalu mendudukkannya Yolanda disana melujuti pakaiannya satu persatu.
“Pak Arsen mari kita lakukan diranjang di kamarmu,” bujuk Yolanda jantungnya berdetak sangat hebat saat Arsen mendaratkan bibirnya diperut rata Yolanda.
“Tidak, aku ingin di sini.”
Setelah memberinya banyak sentuhan, Arsen melepaskan kain bagian bawahnya.
“Tolong jangan di sini,” tolak Yolanda lagi.
Tapi Antara marah cemburu menyatu jadi satu, ia tidak mendengarkan apapun yang dikatakan Yolanda.
“Diatas ranjang dan diatas meja … rasanya akan tetap sama Yolanda, jadilah anak penurut,” ucap Arsen setengah mabuk.
__ADS_1
Yolanda baru kali ini merasa buntu, otaknya terasa berhenti berputar. Ia hanya bisa diam dengan tubuh menegang bagai patung saat Arsen berhasil melepaskan pakaiannya.
‘Sial, apa harus seperti ini? Ini memalukan’Yolanda mencekrak sisi meja saat Arsen menghujaminya dengan banyak kecupan, bahkan membuka mata ia tidak berani.
“Pak Arsen aku-”
Belum selesai menuntaskan kalimatnya Arsen sudah membungkam mulut Yolanda lagi dengan kissing yang mengebu, melepaskan kemeja berwarna toska itu dari tubuhnya. Arsen memiliki dada yang sangat bidang dan berotot. Dengan napas yang terengah-engah Arsen melepaskan pangutan bibirnya dari Yolanda menatap wajah sang istri dengan tatapan sendu, seakan-akan ia ingin mengatakan padanya kalau ia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
“Aku akan menuntaskannya.” Arsen mengangkat kedua kaki Yolanda keatas meja.
“Tunggu, tunggu, kita perlu bicara.” Yolanda mencoba duduk dan memegang kedua pundak Arsen. Ia berusaha membujuk Arsen supaya jangan melakukannya dengan buru-buru.
Tapi terlambat, lelaki berwajah rupawan itu sudah membuka kedua kaki dan memasukkannya tanpa aba-aba. Saat benda tumpul itu dipaksa masuk, Yolanda menjerit kesakitan ia memeluk leher dan mencakar seluruh tubuhnya menahan sakit.
“Auh sakiiit.” ucapnya merintih dan membekap mulutnya dengan tangan, ia malu kalau mulutnya mengeluarkan jeritan. Ia mencoba menolak dengan cara mendorong tubuh Arsen, tapi gerakan sedikit saja mmbuatnya kesakitan, ia hanya bisa memeluk leher dan mengigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dibawah sana.
“Aaah! Sakit,” gumamnya lagi. Ia tidak pernah menduga akan sesakit itu untuk melakukan malam pengantin.
Dasar segar menodai meja kerja Arsen, ia belum berhenti, masih terus mendorong miliknya, memberi hentakan ke tubuh Yolanda, setelah beberapa menit berada dalam siksaan akhirnya Arsen mengerang panjang dan tubuhnya menegang, benda miliknya berkedut dan mengeluarkan lahar panas. Ia berhenti dan tubuh keduanya berandikan keringat. Arsen berhenti dan diam, Yolanda masih memeluk leher Arsen dengan erat menandakan kalau ia kesakitan. Kesadaran Arsen sepertinya sedikit pulih setelah hasratnya terlapiaskan. Ia mengarahkan tangannya ke bawah paha sebab ada cairan yang mengalir, saat ia melihat ada darah segar di telapak tangannya.
‘Jadi benar ini yang pertama kalinya?’
“Apa aku menyakitimu?” tanya Arsen.
“Tolong diam sebenatr lagi ini sangat sakit,” ucap Yolanda, ia menangis dengan diam, sebagai seorang wanita biasa sebenarnya ia marasa sangat sedih sebab kehilangan mahkotanya sebab tuntututan tugas. Arsen bisa merasakan punggungnya basah karena air mata Yolanda.
‘Apa aku melakukan kesalahan?’ Arsen membatin.
“Apa perlu kita ke dokter?” tanya Arsen setelah bebera detik masih berdiri dengan tubuh masih menyatu dan Yolanda masih memeluk lehernya.
“Tidak usah.” Ia mendorong tubuh Arsen, lalu turun dari atas meja, buru-buru memungut pakaiannya, masuk kekamar mandi. Semetara Arsen diam seperti patung melihat cairan merah di atas meja dan dibagian senjatanya, ia merasa seperti orang bodoh karena melakukannya dengan cara pemaksaan.
“Apa dia tadi kesakitan?” tanya Arsen pelan,
Yolanda keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap, ia juga membasuh wajahnya supaya tidak ketahuan ia menangis.
“Aku masuk ke kamarku,” ucap Yolanda, di depan Arsen ia terlihat biasa saja dan berjalan normal.
Tapi sampai di kamarnya ia mengunci dan meringis kesakitan memegang bagian intinya.
“Sial … apa memang sesakit ini,” ucapnya sembari berjalan ngakang, rasa sakit dibagian intinya sampai membuat meriang, ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang .
Bersambung
Jangan lupa berikan dukungan ya dengan cara like , komen dan berikan hadiah.
__ADS_1