Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Bertemu di Istana.


__ADS_3

Akhirnya dari yang tunggu juga tiba, hari itu Arsen, Erik, Krisna akan  datang ke istana  sebagai tamu undangan dalam  acara pengibaran bendera. Arsen bolak balik mengganti mengamati penampilannya. Karena setiap orang yang datang ke istana wajib menggunakan pakaian adat setiap daerah seperti kebiasaan presiden setiap tahun. Maka Arsen  menggunakan pakaian adat yang simpel, ia memilih pakaian adat Batak jas yang dipadukan dengan penutup kepala. Sementara Kris memilih yang lebih unik  dan banyak pernak-perniknya yakni dari suku Dayak dan Erik dari Papua.


“Ayo cepat keluar Bro, gua uda siap ni,” seru Erik dari lantai bawah, ia menari ala tarian dari timur membuat semua anggota keluarganya tertawa.


“Kris, coba lihat bosmu lagi ngapain,” pinta Marina saat Arsen belum keluar dari kama.


“Baru saya daria atas Bu dia lagi pakai sepatu,” ujar lelaki yang yang menggunakan pakaian Dayak tersebut.


“Sepertinya dia sangat gugup ingin bertemu Yolanda,” ujar Erik.


“Bukan gugup tapi dia marah Pak,” timpal Kris


Erik menggeleng-ngeleng kecil. “Antara benci sama cinta bedanya tipis Kris. Tapi gua berharap dia tidak melakukan hal yang  nekat.”


“Ingatkan Arsen jangan menggunakan emos,bisa-bisa kalian bertiga di usir,” ujar Mami Erik.


Tidak lama kemudian Arsen turun, mata mereka semua terplonggo lelaki tampan itu terlihat seperti orang Batak yang ingin menikah. Setelan jas yang dikenakan Arsen berwarna Crem dan sepatu mengkilap, sementara penutup kepalanya berwarna merah. Mereka semua hanya bisa menatap dengan kagum , tidak ada yang berani protes  dengan penampilannya. Mereka bertiga  bergegas dan pergi.


“Apa lu gugup Bro?” tanya Erik saat Arsen melepaskan penutup kepala dan  beberapa kali menghela napas.


“Iya, gue gak sabar ingin melihatnya  secara langsung,” ujar Arsen.


“Jangan melakukan hal-hal yang bisa merugikan dirimu kelak, istana dipenuhi penjaga yang hebat dan profesional, jika kita sampai diseliki akan berbahaya,” ujar Erik.


“Baiklah guengerti.” Arsen memasang wajah dingin saat Erik menasihatinya, agar jangan membuat masalah yang  bisa merugikan karier Yolanda dan Vani.


                 *


Tiba di istana ternyata mereka duduk dibangku yang paling depan sesuai  undangan yang mereka bawa. Arsen terus saja mengawasi sekeliling . Orang-orang yang duduk di samping mereka semua pejabat istana. Kris bahkan sempat tidak percaya diri saat ia duduk bersebelahan  dengan seorang jenderal. Bahkan ia sangat mengidolakan  lelaki tersebut. Sebelum pria itu naik pangkat devisinya pernah melakukan latihan gabungan dengan anak buah sang jenderal . Saat Erik menoleh ke lapangan ternyata Vania juga ada di sana, adik Yolanda itu tampak sangat cantik dalam balutan seragam loreng yang ia kenakan, ia berada di barisan depan juga.


“Vania ada di sini  juga,” ujar Erik setengah berbisik.

__ADS_1


“Gue tau,” sahut Arsen memasang wajah dingin.


“Apa kamu yakin Vania tidak mengenal kakaknya selama ini?” tanya Erik tidak percaya.


“Itu yang perlu kita lihat nanti,” ujar Arsen.


“Tapi apa benar Lu tidak punya perasaan sedikitpun padanya, Bro?” tanya Erik penasaran.


“Tidak ada.”


“Bukankah lo sempat ingin melamarnya?”


“Jangan membahas itu sekarang,” tegur Arsen dengan raut wajah jengkel.


Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba semua tamu undangan berdiri. Arsen sama Erik baru menyadari saat Kris menyenggol pundak Erik. Mereka bertiga ikut berdiri ternyata Presiden sudah datang. Mata Arsen langsung tertuju pada sosok wanita yang mengawal sang presiden.


‘Akhirnya aku bisa melihatmu secara langsung’ ucap Arsen dalam hati, lehernya sampai sakit karena terus menoleh ke arah belakang di mana pak presiden dan wakilnya duduk.


“So … sudah, jangan melihatnya terus menerus, nanti itu leher, bisa patah,” tegur Erik menggunakan logat bahasa timur.


“Aku tidak sabar lagi ingin melihat wajahnya.”


Akhirnya acara HUT RI selesai.  Presiden turun untuk menyapa para tamu undangan. Tempat Arsen yang  pertama didatangi, sebab mereka duduk dengan para tamu penting. Hal yang ditunggu Arsen akhirnya terjadi, Yolanda berdiri tepat di depannya ia bahkan bisa mencium aroma tubuh Yolanda matanya menatap wajah sang istri, tangannya mengepal kuat menahan gejolak di dadanya. Wanita yang membuatnya menderita selama bertahun-tahun.


Wajah Arsen menegang tatapannya fokus pada wajah Yolanda.  Ingatannya kembali berkelana masa lalu, ingatana itu bagai rol filmm hitam putih yang diputar kembali ke dalam pikirannya. Arsen bahkan menahan napas tidak pernah menduga akan melihat wajah Yolanda. Selama bertahun-tahun ia berpikir  penyebab sang istri meninggal. Ternyata orang yang ia pikir meninggal ada di depannya, bahkan berpura-pura tidak mengenalnya. Saat peresiden menyalam tangan Arsen paspampres wanita sempat mengarahkan lengannya untuk membuat jarak dengan sang presiden.


“Aku menemukanmu,” bisik Arsen tepat di belakang Yolanda.


Wanita itu tidak terpegaruh sedikitpun, ia tetap berjaga dengan wajah siaga.  Bukan hanya Arsen yang melonggo Krisna terpaku menatap kedua rekannya. Rupanya Hugo juga bertugas jadi paspampres bersama Yolanda. Hugo mantan rekan kerja Krisna lelaki itu yang jadi komanda saat mereka melakukan misi ke Kamboja Empat tahun yang lalu.


“Pak Hugo ternyata masih hidup?” Kris masih menatap Hugo, tadinya Kris berpikir kalau Hugo akan akan bersikappura-pura tidak mengena dirinya. Ternyata pria berbadan besar itu menepuk pundaknya sembari berbisik. “Tunggu aku selesai  ganti shif jam 6 sore.” Ia menyelipkan kertas di tangan Kris. Wajah Kris langsung berseri ia berpura-pura duduk supaya orang berpikir kalau Hugo berbisik meminta untuk duduk. Saat ia duduk melihat kertas ternyata nomor ponsel Hugo.

__ADS_1


‘Ternyata Dia masih mau mengenalku’ ucap Kris mengusap ujung matanya.


Erik pintar, ia tahu kalau Arsen masih ingin melihat wajah Yolanda jadi ia mengajak orang nomor satu bicara sebentar dengan begitu Arsen bisa melihat wajah Yolanda lebih lama. Arsen mengambil ponselnya bukannya untuk berfoto dengan presiden ia malah mengambil gambar paspampresnya. Yolanda tetap tenang dan siaga, matanya mengawasi ke sekeliling saat Erik mengajak bicara, ia mengenalkan dirinya sebagai pengusaha UKM.


“Bukankah itu paspampres yang  jadi viral itu,” bisik seorang pria yang tepat duduk di belakang Arsen.


“Iya, yang menolong kecelakaab itu, ya,” ujar orang disebelahnya.


“Iya aslinya cantik bangat ya, vibesnya positipnya keluar saat bertugas,” bisik seorang pria yang ikut mengarahkan ponselnya ke arah Yolanda. Arsen yang mendengar hal itu ingin menarik ponsel yang diarahkan ke istrinya dan ingin menginjak-injak ponsel itu sampai hancur. Tapi ia sadar  berada di istana tidak ingin membuat keributan jadi ia menahan rasa panas dalam hatinya..


“Mbak Yolanda!” teriak seorang Ibu.


Yolanda menoleh, ia tersenyum manis saat namanya dipanggil. Arsen, Kris, Erik langsung melonggo melihat senyum Yolanda bahkan adengan itu digambarkan sebagai slide mention. Wajahnya sangat cantik saat ia tersenyum pada ibu-ibu yang memanggil namanya.


“Mbak Yolanda fotong dong!” teriak seorang anak muda yang duduk di belakang Arsen.


Yolanda tidak menjawab, justru sikapnya  semakin waspada ia menoleh ke ttrbunan para tamu yang datang.


Tiba-tiab lelaki itu berteriak lagi tepat di kuping Arsen, “Pak, foto sama Paspampresnya dong!”


Arsen mengepal tangannya karena merasa terganggu ulah orang dibelakangnya, ia mengepal tangan. Untung Erik menyadari sikap emosional sang sepupu, ia menahan tangan Arsen. Tiba-tiba presiden  berbicara dengan Yolanda. Yolanda mendekat tepat di depan Arsen ia  meminta ponsel lelaki itu, bukannya mengambil gambarnya ia malah mengambil foto  presiden lalu memberikannya pada pria tersebut. Presiden yang menyadari kelakukan paspampres hanya bisa tersenyum kecil lalu pergi.


“Kok, jadi foto presiden sih, aku kan minta foto mbaknya,” protes pria tersebut.


Arsen dan Erik hanya bisa tersenyum puas.


“Jangankan kamu, aku saja tidak diperbolehkan mengambil gambarnya,” gumam Arsen pelan. Ia  menatap Yolanda yang  siaga mengawal presiden, “tapi lihat saja aku akan mendapatkanmu Yolanda, akan aku pastikan itu,” ucap Arsen dengan tatapan tajam


Bersambung


Jangan lupa berikan like, komen dan hadiah ya kakak. Supaya viwersnya naik terus , agar authornya semakin semangat update banyak bab tiap hari terimakasih

__ADS_1


__ADS_2