
Setelah pengasuh menjelaskan barulah Arsen merasa lega. Sementara Yolanda masih duduk di tempatnya. Ia hanya mengeleng saat Arsen menuruti semua kemauan Nathan. Setelah tinggal bersama Papinya anak itu bersikap manja. Yolanda datang mendekat.
“Sayang itu untuk orang yang badannya sudah besar,” ujar Yolanda menjelaskan pada Nathan.
“Aku sudah besar Mami, aku juga sudah bisa menjaga Mami,” sahutnya dengan ekspresi mengemaskan. Saat ia ingin marah melihat wajah tampannya batal marah.
“Papi akan membantu kamu naik,” ujar Arsen menginjinkan pundaknya jadi pijakan Nathan.
“Arsen, dia akan terjatuh nanti,” tegur Yolanda, ia belum terbiasa memangil Arsen dengan sebutan ;sayang ataupun papi. Berbeda dengan Arsen yang selalu memanggil istrinya dengan panggilan sayang maupun mami. Bahkan di depan semua keluarga Yolanda dan Arsen bapak satu anak itu selalu memanggil istri tercintanya dengan sebutan sayang. Terlihat jelas kalau Arsen yang terlalu bucin .
“Tidak akan jatuh Mami.” Arsen mengingjinkan Nathan naik meminta pengasuhnya mengawasi. Lalu ia tiba-tiba berbalik badan dan menatap Yolanda dengan tatapan tidak bisa digambarkan, lalu mengendong tubuh Yolanda.
“Eee! Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Yolanda panik.
“Kamu diam di sini.” Arsen mendudukkan Yolanda di kursi berputar, lalu memutarnya dengan keras. Yolanda berteriak karena pusing.
“Kalau kamu masih memanggilku dengan sebutan Pak Arsen, Arsen, Hei, Woi. Aku akan mendorong benda ini sampai besok pagi,” ancam Arsen.
“Aduh kepalaku pusing. Memang apa yang salah dengan panggilan itu. Kamu juga bisa memanggilku dengan sebutan namaku atau apa saja, itu kan hanya nama.”
“Tidak untukkku. Kamu harus memanggilku dengan panggilan sayang mulai sekarang . Kamu mengerti . Kalau tidak aku dorong lagi ne.”
“Ok, baiklah, baiklah SAYANGKU boleh turunkan aku? Kepalaku pusing.”
“Gitu dong.” Arsen mengendong Yolanda untuk turun.
Melihat hal itu Nathan dan pengsuhnya tertawa terkekeh melihat Yolanda berjalan sempoyongan karena pusing.
“Bapak sama anak sama-sama keras kepala,” ucap Yolanda.
*
__ADS_1
Pembicaraan tentang pekerjaan terputus dan perjalanan ke rumah Mama Yolanda masih berlanjut. Tiba di rumah Arsen langsung mengadu pada ibu mertuanya kalau ia tidak setuju Yolanda bekerja. Tentu saja keinginan Arsen mendapat dukungan dari ibu mertuanya. Arsen sangat senang luar biasa saat Bu Tiani dipihaknya. Yolanda tidak akan bisa menolak kalau Mamanya yang minta.
“Gres, apa kata Papi Nathan benar, anakmu masih kecil, masa kamu tega ninggalin dia lagi,” ujar sang Mama. Arsen langsung manguk-manguk dan mengyikan semua perkataan ibu mertua.
“Ma, aku susah payah loh mendapatkan perkerjaan ini.”
“Gres, waktu bersama anak itu tidak bisa diganti dengan uang. Jangan sampai kamu menyesal seperti Mama. Suamimu kaya untuk apa kau kerja,” ujar Mamanya.
“Akan aku pikirkan,” ujar Yolanda masih keberatan.
“Jangan kebanyakan berpikir Gres, lihat anakmu tampan begitu masa kamu gak mau lihat tumbuh kembangnya,” bujuk Mamanya .
Bukan hanya Mamanya yang meminta Yolanda berhenti kerja, Vania juga meminta sang Kakak untuk jadi ibu rumah tangga menikmati hidup dan bersenang-senang.
“Kamu juga akan sibuk mulai sekarang, Hugo dan Krisn sudah sepakat akan mengadakan pernikahan bersama- sama,” ujar sang Mama.
“Ha? Menikah bersama?” Yolan Melonggo menatap Vania dan Mitha bergantian.
“Tenang saja Van, serahkan semua sama Abang,” ucap Arsen sembari mengedipkan mata. Ia berharap dengan alasan itu Yolanda tidak memikirkan akan kembali kerja.
“Ma, memang boleh kakak beradik menikah di hari yang sama. Dalam adat kita tidak boleh kan. Apa nanti keluarga Mama yang di kampung?”
“Ngapain Mama mikiran adat-adat. Mama mikiran kebahagiaan anak-anak Mama. Mereka saja tidak pernah memikirkanku,” ucap sang Mama.
Diacungkan jempol oleh Vania. “Aku suka gaya berpikir Mama.”
Saat sedang mengobrol dengan Mama mertua, ponsel Yolanda berdering lagi dan ia mengangkatnya. Wajahnya terlihat tegang dan menjawab dengan nada tegas. Atasan Yolanda meminta datang besok untuk membuat laporan, dirinya akan bertugas kembali sisa skorsnya akan dihilangkan.
“Baik Pak. Siap Pak,” sahut Yolanda dengan wajah menegang. Arsen yang melihat terlihat tidak senang, hingga muncul ide konyol. Ia memanfaatkan putranya. Setelah Yolanda selesai menelepon ia menjelaskan kalau ia di panggil besok ke kantor. Arsen tetap pada penderiannya menolak Yolanda bertugas Mama dan kedua adiknya juga mendukung Arsen. Saat sedang mengobrol Arsen meminta Nathan mengambil ponsel Maminya. Anak tampan itu melakuka permintaannya ia mengambil ponsel Yolanda yang diletakkan di atas meja. Arsen diam-dia,m membawa ponsel itu keluar lalu menelepon atasan Yolanda ia meminta ijin Yolanda tidak bisa bertugas lagi.
. Vania ternyata menyadari dia menyibukkan sang kakak dengan menunjukkan model-model gaun pengantin yang akan mereka kenakan, Mitha juga ikut-ikutan membantu mereka berkerja sama membantu Arsen.
__ADS_1
Arsen menelepon atasan Yolanda, ia mengatakan dengan tegas kalau Yolanda tidak akan bekerja lagi. Ia menegaska kalau Yolanda memutuskan menjaga anak mereka. Setelah menelepon atasannya Arsen melakukan hal gila. Saat Nathan sedang buang air besar ia meminta Nathan memegang ponsel tersebut ia dengan sengaja menyengol dan masuk ke dalam kloset, lalu ia memanggil Yolanda pura-pura panik.
“Mami, Nathan menjatuhkan ponselmu ke dalam kloset.”
“Ha?” Yolanda berlari melihat ponselnya ada diantara kontoran.
“Ueek. Kenapa bisa?” tanya wanita itu dengan panik. Ia menatap Nathan dengan mata melotot. Vania buru-buru mengendong Nathan, “Maafkan papimu sayang menjadikanmu kambing hitam, dia tidak punya pilihan lain. Mamimu itu keras kepala,” bisik Vania sembari memeluk keponakannya.
“Jangan marah Kak, tadi dia hanya ingin main,” ujar Mitha dengan sengaja Arsen malah menuangkan air yang banyak alhasil ponsel itu hanyut.
“Papi ! ponselku” teriak Yolanda melonggo.
“Sudah bau kotoran, makanya dibiarin saja.”
“Kan masih bisa di cuci dan diservis ada data-data penting di sana!”
Mama dan Mitha memilih keluar dengan bibir senyum-senyum, mereka tahu itu kerjaan Arsen.
“Mi, kalau sudah terkena air begitu sudah pasti rusak. Sudahlah besok kita ganti,” ujar Arsen membujuk Yolanda.
Wanita cantik itu sudah kebahisan kata-kata ia memilih diam .
‘Apa ini kerjaan Arsen. Nathan tidak pernah mau sembarangan pegang barang orang apalagi ponsel, Astaga Arsen sebegitu takutnya kamu kalau aku kerja … kamu sampai menjadikan putramu jadi kambing hitam. Baiklah aku tidak akan kembali ke sana’
Mereka semua duduk dengan diam, bahkan sekelas Arsen tidak berani bicara saat melihat wajah Yolanda yang terlihat kesal. Tiba-tiba Nathan keluar.
“Mami jangan marah. Aku minta maaf,” ucapnya dengan wajah memelas.
Melihat wajah polos Nathan, Yolanda tidak bisa marah, ia hanya bisa menghela napas
Bersambung
__ADS_1
bantu like, komen dan berikan hadiah ya