
Mendengar ucapan Arsen yang merendahkanya Yolanda mengepal tangannya dengan kuat ia menahan amarah . Lukanya masih terasa sakit jadi ia memilih diam.
“Aku hanya meminta waktu.”
“Waktu, waktu! Kenapa kamu menunda pekerjaanku?” bentak Arsen.
“Mungkin bagimu itu hal biasa tapi bagiku itu baru pertama,” ucap Yolanda tanpa sadar.
Lalu suasana tiba-tiba jadi hening. Arsen menatap netra bermanik coklat itu begitu dalam.
“Apkah kamu ini baru pertama?” Ia bertanya kembali untuk memperjalas pengakuan Yolanda.
Yolanda menarik napas dan menutup mata, lalu ia menjawab dengan suara pelan.
“Iya, ini baru pertama untukku.”
“Bukankah kamu sudah biasa menyewakan rahimmu?”
“Tidak pernah,” jawab Yolanda mengalihkan pandangan kearah lain membahas hal pribadi selalu membuatnya tidak nyaman.
“Aku tidak yakin.” Arsen mendekat Yolanda mundur dengan mata mengerjap panik, lalu tubuhnya berhenti karena terhalang tembok kamar. Dengan senyuman licik Arsen memegang dagu Yolanda dan mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. Tubuh wanita bertubuh tinggi itu menegang ia meremas ujung pakaiannya dengan kuat. Saat Arsen mengercap dan mencicipi bibirnya tanpa ijin, ia hanya diam seperti patung dengan napas tertahan. Tiba-tiba ia lupa bagaimana caranya bernapas.
“Bernapaslah, nanti kamu bisa mati jika kamu terus menahannya,” ucap Arsen.
Tanpa sadar Yolanda melakukannya ia menghembuskan napas panjang, melihat hal tersebut Arsen bisa melihat kalau ia memang sangat gugup dan belum berpengalaman.
“Jangan bilang kalau ini juga ciuman pertamamu,” ujar Arsen.
Pipi Yolanda langsung memerah, itu memang ciuman pertama baginya.
“Diammu aku anggap sebagai jawabannya. Bagaimana kalau aku mengajarimu untuk melakukannya,” ujar Arsen meraih dagu Yolanda. Tapi wanita berhidung mancung itu mengalihkan wajahnya, ia menolak Arsen.
‘Kamu menolakku?’
“Baiklah, kapan kamu siap untuk melakukannya? Aku juga ingin punya anak segera, sebenarnya aku tidak usah minta ijin juga bisa, sebab kamu sudah jadi milikku. JIka seorang wanita sudah menikah, maka tubuh dan hidupnya sudah milik suaminya,” ujar Arsen, merasa jengkel sebab Yolanda menolaknya.
Mendengar pengakuan Yolanda, membuat Arsen semakin penasaran, ia tidak sabar menunggu malam pertama dengan Yolanda.
__ADS_1
“Tolong berikan aku waktu beberapa hari lagi,” ujar Yolanda.
Saat itu ia sedang datang bulan setelah beberapa hari ia yakin akan berhenti dan masa sumur untuknya.
“Baiklah, kalau kamu mau seperti itu. Tapi apa aku boleh meminta nomor ponselmu?”
“Maaf tidak bisa, kalau ada sesuatu katakan saja pada Bu Marina.”
“Kenapa aku harus mengatakan tentang rumatangga kita pada Nenek. Aku hanya minta nomormu, nomor ponsel istriku apa itu sulit?”
“Maaf Tidak bisa.”
“Baiklah aku pergi.” Arsen marah dan memanting pintu kamar Yolanda keras, dalam hidup baru kali ini menemukan wanita yang menolak pesona ketampanannya.
Dalam kamarnya ia merasa sangat kesal, sebab Yoladan memperlakukannya sebagai orang asing, padahal ia hanya ingin mengenalnya lebih dekat lagi.
Arsen uring-uringan karena gagal mendapatkan nomor ponsel Yolanda. Ia turun dan menemui Krisna.
“Apa kamu punya nomor Yolanda? Tolong berikan padaku,” ujar Arsen.
“Maaf saya tidak punya.”
“Tidak Pak. Joan tidak suka memberikan nomornya pada orang lain.”
“Siapa Joan?”
“Yolanda dipanggil Joan,” ucap Krisna gugup, melihat itu Arsen memincingkan kedua alisnya, ia menduga kalau Yolanda dan Krisna punya hubungan yang tidak diketahui orang lain.
“Apa kamu berpikir kalau aku orang lain?”
“Ti-tidak pak.” Krisna jadi serba salah.
“Aku suaminya, Bodoh!” ucap Arsen kesal.
“Baik Pak.”
“Baiklah kalau kamu tidak mau memberikan dan tidak mau memberitahukan siapa Yolanda aku akan mencari tau sendiri.”
__ADS_1
Arsen meninggalkan Krisna. Ia kembali ke kamar ia malah semakin kesal, bukan nomor yang ia dapat dari Krisna tetapi rasa kesal, sebab Krisna juga berpikir kalau ia orang lain untuk Yolanda.
*
Ia akhirnya meminta seseorang untuk mematai-matai Yolanda selama duapuluh empat jam, melaporkan padanya semua yang dilakukan Yolanda. Saat Yolanda ingin turun untuk serapan sebuah panggilan masuk ke ponsel pribadinya.
“Jo, kami menemukan sekolah anak itu, datanglah ke sini temui dia.”
“Benarkah? Bakilah aku segera datang tapi lu temanin aku sana. Apa aku perlu membawa sesuatu?” tanya Yolanda pada rekannya.
“Ok, aku akan ijin sebentar sama komandanku, aku akan menjemputmu. Tapi Jo … Ibunya bilang anak itu trauma sama tentara sebab yang mengantar jenazah ayahnya ke rumah anggota kami,” ujar Tentara yang ikut bertugas sama Yolanda saat itu.
“Lalu?” Yolanda bigung.
“Jangan katakan kalau kita tentara, aku akan ganti pakaian nanti dan kamu … harus berdandan cantik agar dia tidak tahu kalau kamu juga tentara.”
“Baiklah.” Yolanda menuruti.
Yolanda ingin menemui Anak dari korban meninggal saat di Papua. Yolanda meminta ijin pada Marina, ia keluar setelah Arsen berangkat ke kantor. Tapi Yolanda tidak tahu kalau Arsen sudah menyewa seseorang untuk mengikutinya. Sebelu keluar ia meminta bantuan Darsi merias wajahnya, Darsi asisten rumah tangga di rumah Arsen. Yolanda keluar dari rumah, tentara yang dilihat Arsen saat itu menjemput Yolanda menggunakan motor besar menunggu di sebuah perepatan jalan.
“Jo, Kamu sangat cantik.” goda Yuhda saat menjemput Yolanda.
“Kamu yang bilang harus cantik, ya udah aku cantik.”
“Tapi kamu cantik bangat, aku semakin terpesona,” timpal rekannya yang lain.
“Berisik!” Yolanda tidak terusik sedikitpun walau digoda sama rekan-rekannya.
Pria bayaran Arsen merekam semua lalu melapor padanya.
Arsen tertawa mendengus saat melihat Yolana keluar bersama pria, saat melihat penampilan Yolanda, untuk sesaat ia terdiam. Ini pertama kalinya ia melihat Yolanda memakai riasan wajah. Kalau biasanya di rumah penampilannya selalu kampungan kaos omplong longgar rambut digulung dan wajahnya kusam, tapi kali ini ia sangat cantik setelah berdandan penampilannya bikin pangling, Arsen semaki yakin kalau Yolanda menyembunyikan banyak hal padanya. Setelah melihat penampilan Yolanda ia akhirnya paham Yolanda hanya berpura-pura jadi pembantu .
“Jadi selama di rumah kamu sengaja berpenampilan jelek untuk menipuku. Baiklah mari kita lihat sampai kapan kamu bisa terus berbohong,” ujar Arsen.
Namun,seketika raut wajahnya langsung berubah lebih marah, saat Yolanda memeluk seorang lelaki berpakaian dokter, mereka terlihat sangat akrap dan tertawa bersama.
“Kenapa saat aku ingin menciummu kamu menolakku. Tapi untuk pria lain yang bukan suamimu kamu berdandan cantik, dia bahkan memeluk dan memegang tanganmu kamu tidak menolaknya.” Arsen kesal melempar Ipad di tangannya saat melihat istrinya bersama pria-pria tampan.
__ADS_1
Bersambung