
Arsen tidak lagi menatap istrinya dengan tatapan cemburu, tapi tatapan khawatir, ingatan masa lalu melintas di benaknya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana ia mengobati luka memanjang di tulang rusuk Yolanda saat ia hamil.
‘Tidak, aku tidak akan mengijinkan dia kembali ke sana’ tegas Arsen dalam hati.
Ia ikut keluar dan menghampiri mereka.
“Sayang, kok di luar?”
Mereka berdua menoleh ke arah asal suara, Arsen datang dari belakang.
“Oh iya nih, kami tadi membahas beberapa hal. Apa kamu sudah makan?” tanya Yolanda basah basih
“Belum, aku menunggumu menemaniku makan,” keluhnya sembari perut.
Semenjak mereka kembali jadi pasangan suami istri Arsen tidak akan makan jika Yolanda tidak melayaninya makan. Yolanda myengitkan dahi, tidak percaya kalau Arsen belum makan.
“Benar belum makan?”
Arsen tidak menjawab alih-alih menjawab ia justru mengangkat kedua bahunya, tidak ingin Papi Nathan itu pingsan karena lapar Yolanda menyudahi pembahasan mereka lalu ikut ke dalam rumah.
“Apa ada masalah Nak?” baru tiba depan pintu Mamanya sudah mencercanya dengan pertanyaan.
“Tidak pa-apa Ma, dia hanya ingin memastikan.”
“Bang Hugo mengatakan dia rekan kerja Kakak saat bertugas dulu,” sambung Mitha
Tidak ingin semua keluarga terutama sang suami khawatir akhirnya Yolanda menceritakan semuanya dan ketegangan itu berlanjut dalam rumah.
“Bagaimana kalau apa yang dipikirkan benar Kak?”
“Jangan khawatir mereka tidak akan mengenal wajah kami.” ujar Yolanda ia meyakinkan keluarga.
Hugo dan Krisna tidak ingin terjadi lagi kejadian seperti masa lalu. Keduanya sepakat akan menyelidiki dan menyelesaikan semuanya sebelum pernikahan mereka. Arsen sudah menyerahkan organisasi Paba untuk Krisna. Ia dan Hugo yang memegang organisasi pasukan rahasia tersebut.
*
“Jangan khawatir Jo, aku sudah menghungi Roky. Dia bersedia membantu kita untuk menyelidi,” ujar Hugo.
Yolanda menatap dengan wajah serius. “Dia mau datang ke Jakarta?”
“Iya. Memang kenapa?” Hugo balik bertanya.
__ADS_1
“Aku yang membujuk mereka berdua untuk kembali tapi tidak pernah mau.”
“Pak Sopian dan Roky tidak mau kamu dan Nathan dalam bahaya lagi, itu yang mereka katakan,” tutur Hugo.
Hugo bisa membujuk Sopian dan Roky untuk kembali ke Indonesia, Hugo orang yang paling bisa diandalkan dalam segala hal. Tidak ada yang tahu bagaimana ia membujuk Roky datang.
Kris membentuk pasukan lagi untuk meyelidiki siapa pria yang dimaksud Tirta. Mendengar Sunu pensiun dini rupanya Sopian penasaran. Arsen berterimakasih pada Sopian dan Roky karena mengaja Nathan selam ini, akhirnya ia memberikan perusahaan pasukan rahasia itu lagi pada Sopian.
Pimpinan organisasi itu kembali lagi ke tangan Sopiani yang dulu ia pimpin. Mendengar Sopian mau ikut bergabung Yolanda, Krisna, Hugo dan Roky sangat terharu. Dimata mereka ber empat lelaki itu pimpinan yang cerdas.
“Aku sangat senang mendengarnya, Go,” ujar Yolanda mereka berdua duduk di teras depan.
“Kalau dia dan Kris yang mengelola ‘Paba’ aku rasa akan lebi berjaya lagi. Apa lagi ada pendukung sehebat Pak Arsen,” ujar Hugo.
“Aku berharap dia mau, giliran kamu membujuknya dia mau, padahal saat aku menengajak kembali ke Jakarta dia menolak. Apa yang kamu berikan padanya?” Yolanda menatap Hugo dengan penasaran.
“Jangan melihatku seperti itu Jo, aku sudah bilang dia hanya khawatir samamu dengan Nathan. Dia bilang tidak akan membiarkan hal buruk padamu putramu untuk kedua kalinya, dia bilang kau sudah seperti putrinya sendiri,” tutur Hugo.
“Aku sangat senang. Katakan kapan mereka akan datang. Aku akan minta Arsen menjemput mereka.”
“Sebenarnya Arsen yang menyakinkannya untuk memimpin Paba lagi,” ujar Hugo/
“Arsen ….?” Yolanda menatap Hugo dengan dalam.
“Maksudnya apa sih … Apa kalian menuduh aku selalu membuat keonaran di rumah ini?”
“Bukan begitu, dalam keluarga ini kamulah bintang utamannya.”
“Lalu?” Yolanda menyipitkan kedua matanya.
“Melihat ibu khawatir padamu kami ikut jantungan Jo, bukan hanya ibu malam itu saat Tirta datang mereka berdua ikut tegang,” jelas Krisna
Yolanda terdiam, ia tidak menduga pertemuanya dengan Tirta malam itu akan menumbuhkan kekhawatiran yang sangat dalam bagi Mama dan kedua adinya. Bukan hanya mereka Arsen juga sangat takut Yolanda terluka. Bahkan sang suami menunda menemui adiknya yang hilang demi Yolanda. Lelaki itu melakukan segalanya agar istri tidak dalam bahaya. Mendengar ha itu Yolanda merasa tersentuh. Setelah menidurkan Nathan, ia ingin bicara dengan Arsen. Sejak ada masalah Arsen tidak pernah meninggalkan mereka ia bahan bekerja dri rumah.
*
Yolanda menemui Arsen ke ruang kerjanya. Setelah diketuk beberapa kali ia menyahut.
“Masuk!”
“Apa aku menganggu?”
__ADS_1
Arsen menoleh dengan bibir tersenyum tipis. “Ada apa, Mi?”
“Apa aku boleh bicara sebentar. Tapi kalau masih sibuk tidak apa-apa, nanti saja.”
Arsen menyelidiki wajah Yolanda, jarang istrinya datang ke ruang kerjanya malam-malam seperti itu. Arsen tidak menyia-nyiakan waktu berdua ,kesempatan mereka berduan saat bocah tampan itu sudah tidur.
“Tidak sibuk, hanya memeriksa beberapa file.” Arsen menutup laptop lalu merentangkan telapak tangan meminta Yolanda datang.
“Apa?” tanya ibu satu anak itu dengan polosnya.
“Katanya mau bicara denganku. Kemarilah.”Arsen menepuk paha meminta Yolanda duduk di pangkuanya.
Demi apapun wanita mantan pasukan khusus itu hanya melonggo. Dalam hidupnya ia tidak pernah namanya bermanja-manjaan .
“Kok, dipangku kita bicara di sana saja biar lebih santai.” Yolanda menunjuk sofa di ruangan Arsen.
Melihat sikap malu-malu Yolanda Arsen meraih tangannya dan memaksamua duduk di pangkuannya.
‘Eh, apa ini … a-aku bukan mau ingin seperti ini’ Yolanda gugup dan tubuhnya menegang bagai patung.
“Kamu ngapain malu-malu lagi . Aku ini suami,” bisik Arsen ke kuping Yolanda sengaja ia mendaratkan bibirnya di daun telinga istrinya. “Kita sudah lama tidak melakukannya, terahir saat di apartemenku kira-kira empat bulan yang lalu,” bisik Arsen.
Mendengar itu sontak tubuh Yolanda berreaksi ia ingin berdiri tapi di tahan sama Arsen.
“Aku datang bukan untuk itu,” tolak Yolanda, tubuh itu semakin menegang saat Arsen memeluknya dari belakang meletakkan dagunya di pundak sang istri. Ia bisa merasakan sentuhan kulit wajah Arsen menempel di sebelah pipinya.
“ Aku tahu, tapi bisakah menyelam sambil minum air. Katakan apa yang ingin kamu bicarakan denganku, sayang?”
‘Tadi aku mau bicara apa ya? Kok tiba-tiba aku lupa mau bicara apa?’
Tiba-tiba otak cantik Yolanda lupa mengingat tujuannya mendatangi Arsen di ruang kerjanya. Tetapi yang pasti bukan untuk bermesraan.
Karena Yolanda diam Arsen bertanya lagi sembari memeluknya dengan erat. “Katakan mau bicara apa?”
“Kok, aku jadi lupa,” ujar Yolanda.
Arsen tertawa saat Yolanda lupa tujuannya datang. “Biar aku membuatmu mengingatnya.” Ia mengarahkan tangannya ke bagian depan Yolanda.
"Percayalah malam ini aku tidak akan melepaskanmu," ujar Aresen tersenyum nakal
Bersambung
__ADS_1
Bantu like, komen dan berikan hadiah ya